Bukan Sebatas Impian

Bukan Sebatas Impian
Putus


__ADS_3

Renata melenguh. Menutup matanya dengan kedua telapak tangan. Merasakan silau sinar mentari yang menerpa wajahnya. Menggeliat, merenggangkan ototnya yang terasa kaku akibat tidur di tempat yang sempit.


"Jam berapa ini?" tanyanya dengan mata yang masih terpejam. Samar-samar Renata mendengar suara musik dari arah depan. 


Tak ada jawaban. Renata perlahan membuka mata dan menatap sekelilingnya. 


"Di mana ini?" Membenarkan posisi duduknya, menoleh ke kanan kiri. Ruangan yang sangat kecil dan dipenuhi dengan jok. 


"Ini mobil mas Derya, lalu kemana dia?" Masih berbicara sendiri. 


Setelah keluar dari hotel, Renata terus menumpahkan air matanya hingga ketiduran karena kelelahan. 


Renata membuka pintu mobil, menatap ke arah beberapa orang yang berlalu lalang menikmati indahnya pemandangan bunga sakura. 


Dari kejauhan, lambaian tangan menghentikan mata Renata. Sosok Derya berjalan ke arahnya dengan satu buket bunga di tangannya. 


"Kamu sudah bangun?" tanya Derya seraya menyodorkan bunga di depan Renata. 


"Ini untuk siapa? Kenapa kamu tidak bangunin aku?" tanya Renata memanyunkan bibirnya. 


Bunga sakura diterima, Renata menghirup dalam-dalam aroma khas yang  menenangkan jiwa. Seharian penuh dadanya sesak terhimpit rasa cemburu. 


"Selamat, ini hadiah untuk kamu karena sudah mengalahkan ku. Aku menunggumu di galeri selanjutnya." Derya menantang Renata yang semakin imut dengan rambutnya yang acak-acakan. 


Renata tersenyum lalu mengucapkan terima kasih kembali. 


"Re, jangan bertengkar lagi dengan Bagas. Aku tidak mau orang lain memanfaatkan situasi ini."


Entah, Renata harus apa, ucapan Derya kali ini langsung merasuk ke relung hati, bagaikan seorang Kakak yang memberi petuah kepada adiknya. 


"Tapi mas Bagas egois, dia lebih memilih orang lain daripada aku." 


Derya berdiri di samping Renata. Mereka menatap ke arah yang sama. 


Derya menceritakan awal pemunculan konfliknya dengan Bagas, satu persatu membongkar apa yang terpendam. 


Sebagai seorang kakak yang melihat adiknya terluka, pasti tidak akan tega. Namun, kali ini Derya mulai sadar, bahwa cinta memang tak bisa dipaksakan. Seperti Melinda dan Bagas yang akhirnya putus juga meskipun saling mencintai. 


"Nanti aku akan bicarakan lagi dengan mas Bagas. Sekarang kita balik yuk, siapa tahu mas Bagas sudah pulang." 

__ADS_1


Di hotel


"Kamu ke mana sih, Re?"


Bagas mondar-mandir di kamar Renata. Sesekali melihat jam yang melingkar di tangannya, terkadang juga membuka pintu menatap pintu lift, berharap Renata segera  datang. Ponselnya pun tak bisa dihubungi membuat Bagas khawatir, ingin menghubungi Derya, namun egonya masih terlalu tinggi, gengsi jika harus berbaik hati lebih dulu. 


Suara tawa renyah menghiasi telinga Bagas. Pintu sedikit terbuka hingga suara perbincangan pun menyelusup masuk. 


Pintu terbuka lebar


Renata menghentikan langkahnya menatap Bagas yang mematung di samping ranjang. 


"Ngapain mas di sini?" tanya Renata penasaran, wajahnya datar bak batu bata yang baru kering. 


Renata melewati tubuh tegap tinggi itu, meletakan bunganya dan melepas sepatu serta tasnya. Kembali menghampiri Bagas dan menatap manik mata yang berwarna coklat terang. 


"Mas sudah dari tadi?" tanya Renata untuk yang kedua kali. 


Banyak yang ingin Bagas pertanyakan. Namun, ia masih membisu dan lebih fokus pada mata Renata yang masih sedikit sembab. 


"Dari mana saja kamu dan Derya?" tanya Bagas tanpa ekspresi. 


Renata duduk ditepi ranjang, ia meraih tangan Bagas dan mengurai kepalannya.


"Mas, aku ingin pulang, tujuanku ke sini mengikuti lomba, kan. Sekarang sudah selesai, aku kangen sama ibu," pinta Renata mengiba. 


"Tidak bisa, kakek menyuruhku bekerja di perusahaannya untuk beberapa hari, Setelah semuanya normal, baru kita pulang."


Bagas menolak tanpa alih-alih. Seakan perasaan Renata tak penting baginya. 


"Mas, apa kamu tidak merasa aneh dengan kakek Liam? Renata tak bisa memendam kecurigaannya lagi, "Maksud aku, sepertinya dia berusaha untuk memisahkan kita dan membuatmu lebih dekat dengan Gina."


Bagas mengernyitkan dahi. Menyunggingkan bibirnya. Melepaskan tangan Renata yang dari tadi menggenggam nya. 


"Jangan berlebihan, itu cuma pikiran kamu saja. Aku dan kakek hanya membahas tentang pekerjaan."


Renata berdiri hingga keduanya saling tatap. 


"Tapi disana ada Gina, kan? Kamu ketemu dengan dia? Dan aku yakin kalian juga saling berbicara."

__ADS_1


"Gina itu cucu kakek Liam. Pasti dia ada di rumahnya," bantah Bagas tak mau kalah.


Renata mendengus, dengan cara apa lagi menjelaskan pada Bagas. Akankah hubungan yang baru dimulai harus terurai dan putus hanya karena sebuah masalah yang disebabkan orang lain? 


"Tapi aku tidak ingin kamu bertemu dia lagi, Mas," pinta Renata serius. 


"Aku membiarkan kamu keluar dengan Derya, bahkan aku juga diam saat Derya mencium kamu."


Renata menggeleng dan merengkuh tubuh kekar Bagas. Namun, seketika Bagas mendorong tubuh mungil Renata hingga terhempas di atas ranjang. 


"Mencium, apa maksud kamu?" ulang Renata. Ingin sebuah penjelasan dengan tuduhan yang tak pernah ia lakukan. 


Bagas mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan beberapa foto pada Renata. 


"Lihat, bukankah ini ciuman? Ini pelukan. Sekarang kamu tidak bisa mengelak lagi, ternyata kamu tidak sepolos yang kukira."


Bagas terlihat sinis, wajahnya yang penuh kasih sayang lenyap seketika. Kini hanya ada Bagas yang diburu amarah. Tidak ada belas kasihan lagi pada Renata yang sudah berderai air mata. 


"Aku tidak sengaja bertemu mas Derya di supermarket, dan dia tidak menciumku," ucap Renata jujur. 


Sepertinya setan sudah melingkar memutari tubuh Bagas sehingga pria itu tidak percaya lagi dengan omongan Renata. 


Bagas membalikkan tubuhnya dan berjalan menuju pintu, namun langkahnya berhenti saat Renata memanggilnya. 


"Mas, aku akan tetap pulang, dengan atau tanpa kamu." 


Bagas menoleh, "Silakan, kalau kamu pergi tanpa aku, itu artinya kamu ingin berpisah dariku. Calon istri pasti akan mendukung pasangannya dalam keadaan apapun, termasuk pekerjaan. Tapi nyatanya, kamu hanya memikirkan dirimu sendiri."


Renata menundukkan kepalanya. Menatap cincin berlian yang tersemat di jari manisnya. 


Perlahan ia melepasnya dan menghampiri Bagas. Mengusap air matanya. 


"Terserah apa kata kamu. Sepertinya kita memang harus introspeksi diri. Aku tidak akan melarangmu terlalu dekat dengan wanita lain, itu hak kamu. Mungkin, aku memang tidak pantas untuk kamu. Seorang cleaning service harusnya tahu diri dan tidak bermimpi menjadi istri seorang CEO."


Entah kenapa, dada Bagas terasa nyeri mendengar ucapan Renata yang menohok. Renata meraih tangan sang kekasih dan menengadahkannya. Meletakkan cincin di telapak tangan pria itu. 


"Aku tidak bisa menjadi wanita seperti yang kamu inginkan. Aku ingin diperjuangkan dengan sepenuh hati. Terima kasih karena selama ini kamu sudah membantuku meraih mimpi. menyinari hatiku yang gelap gulita."


Bagas termangu, sekujur tubuh terasa kaku. Darahnya membeku dan tak bisa berbuat apa-apa.

__ADS_1


Selamat tinggal mas Bagas. Aku akan selalu mengenangmu sebagai orang baik yang pernah hadir dalam hidupku.


__ADS_2