
Di rumah sakit
Air mata Renata terus mengalir bak banjir bandang. Keegoisannya membawa duka yang mendalam saat melihat kondisi kakek yang mengenaskan. Menyesal, itu yang ingin ia katakan, namun suaranya tertahan di tenggorokan yang terasa sempit. Dari balik pintu kaca transparan itu semua keluarga terus berdoa, tak hanya Renata, Gina juga tak henti-hentinya meneteskan air mata.
Tubuh ringkih yang dipenuhi dengan alat medis membuatnya tak kuasa untuk berdiri, keduanya saling memeluk di kursi besi yang masih terasa sangat dingin.
Langit hampir terang, namun suasana hati Renata dan Gina tetap saja gelap. Tak menyangka semua akan menjadi seperti ini.
"Sayang, kamu minum ini dulu, biar badan kamu hangat."
Bagas datang membawa dua teh manis untuk Gina dan Renata.
"Aku nggak mau minum sebelum kakek membuka mata," jawab Renata dengan berat.
"Re, kakek pasti akan membuka mata, dia akan sembuh, kasihan anak kamu," timpal Derya yang juga ada di samping Gina.
"Ini semua salahku, seandainya kemarin aku memaafkannya, pasti kejadiannya tidak akan seperti ini. Dari kapan kakek tidak tidak sadarkan diri?"
"Sehari semalam, Kak. Dari awal masuk rumah sakit kakek sudah pingsan, dan sampai sekarang belum bangun.
"Jangan menyalahkan diri Nona. Sebelum bertemu Nona, beliau memang sudah sakit," jelas Akio.
Tangisan Renata sedikit reda setelah mendengarkan penjelasan itu.
Aaawwww
Tiba-tiba saja Renata meringis. Mencengkram perutnya yang terasa nyeri.
Bagas panik dan duduk di samping sang istri lalu memeluk tubuhnya, ikut memegang perut Renata yang masih rata.
"Kenapa, Sayang?" tanya Bagas.
Renata menggeleng menahan rasa sakit yang mulai menjalar.
Derya pun tak kalah panik, ia menarik tangan dokter yang melintas untuk memeriksa Renata.
Dokter itu menyarankan supaya Renata dibawa ke ruang rawat. Melihat rintihannya, pasti ada hal yang serius pada janinnya.
Tak menunggu waktu lagi, Bagas mengikuti saran dokter untuk membawa istrinya pada dokter Kandungan.
Kenapa cobaan datang bertubi-tubi.
Bagas terus menggenggam erat tangan dingin Renata. Sedikitpun tak ingin meninggalkan sang istri yang kini terguncang berkali-kali.
__ADS_1
Setelah beberapa menit melakukan pemeriksaan, Dokter cantik yang ada di seberang brankar itu membuka kacamata.
Bagas menghampirinya, penasaran dengan keadaan istrinya. "Bagaimana keadaan istri saya, Dok?" tanya Bagas antusias.
"Bayi Anda masih bisa diselamatkan, tapi saya harap Nyonya Renata harus berhati-hati. Karena sekali lagi kejadian seperti ini, kemungkinan besar janin Anda tidak bisa bertahan. Nyonya harus makan yang teratur juga bergizi, dan banyak istirahat. Saya tahu, pasti Nyonya sedih memikirkan Kakek Liam, tapi janin nya juga penting."
Bagaimana aku bisa tenang, sedangkan kakekku diambang kematian. itu semua salahku.
Terus menyalahkan diri sendiri atas kejadian yang menimpa kakek Liam.
"Baik, Dok," jawab Bagas singkat.
Setelah dokter itu menghilang bersamaan pintu yang tertutup, Bagas menghampiri Renata. Mengusap keningnya. Menatap matanya yang sembab. mencium pipi berulang kali.
"Yakinlah, kalau kakek akan baik-baik saja."
"Tapi aku takut, Mas. Aku takut kakek tidak mau membuka mata, aku takut kakek tidak mau melihatku lagi."
"Aku yakin kakek akan sembuh, dia akan menimang anak kita," ucap Bagas menenangkan, meskipun ia sendiri juga tak yakin itu terjadi.
Akio datang ke ruangan Renata, seperti pesan yang disampaikan kakek Liam sebelum sakit, ia harus menjaga Renata sepenuh hati. Meskipun berulang kali dibuat jengkel ibu hamil itu, Akio tetap patuh menjalankan tugasnya dengan telaten.
"Apa Nona ingin bertemu Tuan Liam?" tanya Akio.
Akio mengangguk berat. Sebab, dirinya sendiri yang berinisiatif melakukan itu. Kekuatan cinta yang tulus, terkadang adalah obat segala-galanya. Dari kemarin semua dokter sudah dikerahkan, namun tak ada perubahan sedikitpun membuat hati Akio mendesak untuk mempertemukan Renata dan Kakek Liam.
Renata turun dengan pelan lalu duduk di kursi roda yang dibawa Akio.
Masih dengan pengawasan beberapa dokter, Renata masuk ke ruangan kakek Liam bersama dengan Bagas.
Semoga ada harapan.
Bunyi monitor menggema sangat mengerikan. Dada Kakek Liam pun terlihat kembang kempis seakan kesulitan bernapas. Bagas menghentikan kursinya di sisi brankar.
Aku tidak boleh bersedih, kakek membutuhkanku.
Renata mengelus lengan kakek Liam, sesekali menatap mata sang kakek yang tertutup rapat.
"Kek, cepat bangun, aku sudah memaafkan kakek," ucap Renata dengan bibir bergetar.
Ia menahan air mata yang sudah memberontak.
"Apa kakke tidak ingin melihat cicit kakek nanti saat lahir. Maafkan aku, bukan maksud aku marah, aku hanya butuh waktu."
__ADS_1
Ruangan itu adalah momok yang sangat memilukan. Tak hanya sekali Bagas berada di ruangan seperti ini, dulu sebelum papanya meninggal, Bagas pun pernah terpuruk, seakan trauma jika ada keluarganya lagi yang masuk ke sana.
"Jika kakek sembuh, aku dan Renata akan tinggal di rumah kakek, kami akan selalu ada untuk kakek."
Bagas ikut berbisik di telinga kakek Liam. Ia tahu bagaimana hancurnya Renata saat ini. Sebab ia pun pernah berada di posisi itu.
Hening
Renata terus mencium punggung tangan kakek Liam. Meskipun waktu jenguk sudah habis, ia tak ingin keluar dari tempat itu.
"Maaf, Dok. Beri waktu lima menit lagi, nanti kami akan keluar," pinta Bagas mengiba, dan akhirnya dikabulkan sang dokter
Renata berdiri, menggeser tubuhnya tetap berada di samping kepala kakek Liam. Ia melihat ada tetesan cairan bening yang membasahi pelipis sang kakek.
"Kalau kakek mendengar suaraku, bangunlah! Atau aku tidak mau bertemu kakek untuk selamanya." Renata sedikit membentak, berharap ancaman itu memebuat kakek Liam jera.
Waktu sudah hampir habis, seperti janjinya, Bagas pun mengajak Renata keluar dari sana, namun gadis itu tetap kekeh.
"Tapi kita harus mengikuti prosedur, Sayang," bujuk Bagas dengan lembut.
Hampir saja memutar tubuh, Renata melihat ada pergerakan kecil di jari kakek Liam.
"Mas, kakek sadar," ujar Renata kegirangan.
Bagas tersenyum, semakin lama, pergerakan itu merambat hingga telapak tangan kakek Liam terbuka.
Renata mencium pipi kakek Liam. "Bangunlah, Kek! Aku ada di sini."
Perlahan kakek Liam membuka mata. Bibirnya pun menganga seakan ingin mengeluarkan sebuah kata.
"Jangan bicara dulu, Kek," ucap Renata.
Tangan lemah sang kakek bergerak menyentuh tangan Renata.
"Aku sudah memaafkan kakek, aku sayang kakek, cepat sembuh," ucap Renata masih terbata.
Kakek Liam mengedipkan mata, kode jika ia pun ingin pergi dari tempat itu dan kembali berkumpul dengan sang cucu.
Terima kasih Tuhan, Engkau masih mempertemukan hamba dengan cucu hamba.
Kakek Liam hanya bisa mengucap dalam hati. Meskipun tubuhnya masih lemah, seluruh kesadarannya sudah hampir pulih.
Dokter berhamburan masuk memeriksa kakek Liam.
__ADS_1
Senyum terbit di bibir Renata dan Gina.