
Meluluhkan hati seorang Renata tak semudah membalikkan telapak tangan. Butuh perjuangan yang ekstra dan kesabaran. Semua yang dilakukan Bagas membuahkan hasil, satu minggu berlalu semenjak kejadian di mall, kini mereka sudah sah menjadi pasangan suami istri.
Pernikahan yang dilakukan dua jam lalu itu berjalan dengan lancar, kini wajah kedua mempelai terpancar kebahagiaan. Acara resepsi yang awalnya hanya mengundang seribu orang itu bertambah dua kali lipat karena kakek Liam.
Renata memakai gaun berwarna putih berlengan panjang juga menutup seluruh lehernya. sekilas gaun itu mengeluarkan cahaya saat di bawah sinar lampu. Mewah dan elegan, terdapat beberapa berlian di bagian dada. Didesain langsung oleh desainer Jepang yang sudah ahli. Renata nampak cantik bak princess dari negeri dongeng, siapapun yang memandang langsung terpana dengan penampilannya yang sangat luar biasa.
Bagas memakai setelan yang juga senada, ratu dan raja sehari itu terus menampilkan senyum yang menawan saat beberapa tamu datang mengucapkan selamat.
Tak sembarang orang yang bisa langsung berinteraksi dengan Renata. Mereka perlu dua kali pemeriksaan demi keselamatan sang pengantin.
Bagas menggandeng tangan Renata. Membelah tamu yang hadir memadati ruangan, ternyata tak hanya baju yang mewah, pelaminan yang menjulur panjang itu pun sangat indah dengan satu kursi panjang di tengahnya. Saking mewahnya, semua yang ada di tempat itu terus menjadi pusat perhatian.
"Apa kamu bahagia?" tanya Bagas berbisik.
Jantung Renata berdegup kencang. Ini seperti sebuah mimpi baginya, tak pernah menyangka di hari yang bahagia ini ia mendapat kejutan dari orang-orang tercinta.
"Tidak ada yang membuat aku bahagia selain kehadiran kamu," balas Renata ikut berbisik. Wajahnya sedikit merona saat Bagas terus menatap wajahnya dari samping.
Pengantin duduk berdampingan. Seperti pada umumnya, MC mulai membacakan rangkaian acara resepsi yang akan digelar. Tak semua orang bisa mengambil gambar Renata. Mereka pun harus dipastikan keamanannya.
Diantara mereka antusias menikmati pesta meriah itu. Sementara Gina masih saja menekuk wajahnya. Belum ikhlas dengan kenyataan yang kini berbanding balik. Bukan lagi seperti dulu. Sekarang Renata adalah kakaknya yang harus ia hormati dan sayangi layaknya saudara kandung.
"Gina, kamu ngapain di sini, kenapa nggak ikut kakek Liam?" Derya datang menghampiri dan duduk di sisinya, dari ribuan tamu, hanya pria itu yang Gina kenal.
"Kamu mau menghinaku karena aku bukan cucu kandung kakek?" ucap Gina kesal. Suaranya sedikit lantang menembus alunan musik yang menggema.
Derya mengangkat kedua bahunya dan tersenyum kecil. Tak menyangka Gina akan semarah itu dengan pertanyaannya. Ia memang sudah tahu jika Renata lah yang cucu kandung kakek Liam, tapi ia tak bermaksud menyinggung Gina.
"Maaf, bukan maksudku__"
Ucapan Derya terpotong saat Gina menggebrak meja.
Brakkkk
Beberapa orang yang duduk di kursi sebelah menoleh, menatap Gina dan Derya bergantian.
"Kamu bisa diam, nggak? Atau aku panggil pengawal untuk mengusirmu dari sini," pekik Gina tanpa rasa takut.
__ADS_1
Derya mengatupkan kedua bibirnya menahan tawa. Ternyata Gina masih tetap sama seperti dulu, ketus dan berkuasa.
Derya mengambil minuman dari nampan pelayan yang melintas di depannya.
Cegeluk Cegeluk Cegeluk
Gina melirik sekilas ke arah jakung Derya yang naik turun lalu menatap wajah pria itu, jika dilihat dengan intens Derya pun tak kalah tampan dari Bagas.
"Ngapain lihat-lihat, naksir?"
Seketika Gina mengalihkan pandangannya ke arah depan, tepatnya di pelaminan, di mana Renata dan Bagas saling memamerkan kemesraan.
Kenapa harus Renata yang ada di sana.
Gina menjerit dalam hati, kesal dengan pernikahan itu. Masih belum bisa menerima semua ini.
Acara demi acara pun berlangsung dengan meriah, tepuk tangan semua tamu adalah simbol restu mereka untuk sang pengantin. Kini tiba acara dansa yang pasti akan dilakukan semua orang secara berpasangan.
Jerry yang merasa jomlo, memilih berada di tempat yang paling pojok. Namun, dewa keberuntungan tak berpihak padanya. Seorang wanita cantik memakai gaun berwarna pastel dengan rambut dicepol itu tersenyum renyah menghampirinya, membuat Jerry salah tingkah.
Jerry menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Tidak mungkin ia mengatakan yang sebenarnya yang akan membuatnya lebih malu.
"Nungguin temen," jawabnya seraya melihat jam yang melingkar di tangannya.
Wanita itu tertawa lepas melihat tingkah Jerry yang semakin aneh.
"Acara sudah satu jam lebih, mana ada tamu yang belum datang, jangan ngaco."
Gila, kenapa pak Bagas undang dia, sih, gerutu Jerry dalam hati.
Otaknya sudah muter-muter dari Sabang sampai Merauke, namun masih saja tak menemukan cara untuk menghindar dari wanita itu.
"Ra, bisa nggak kamu pergi dari sini," ucap Jerry menegaskan.
Ya, wanita itu adalah Andara, mantan pacar Jerry.
Andara menggeleng tanpa suara.
__ADS_1
"Tapi kamu gangguin aku," pekik Jerry. Namun itu tak membuat Andara menyerah, ia keukeuh berdiri di depan Jerry.
"Aku mau dansa sama kamu, aku mau kamu mengingat semua yang pernah terjadi diantara kita. Kasih aku kesempatan sekali saja." Andara mengucapkan dengan suara pelan. Wajahnya nampak memelas dan memohon pada Jerry.
Apa dia bisa memegang ucapannya.
Ada rasa iba di hati Jerry. Dari lubuk hati terdalam, rasa cinta untuk Andara masih terselip, namun rasa kecewa pun mengalahkan segalanya.
"Baiklah, kita dansa, tapi bukan berarti kita balikan."
Seketika Andara berhamburan memeluk Jerry dengan erat sebelum mereka membaur dengan tamu yang lain.
Berbeda dengan Jerry dan Andara yang kini sudah menikmati alunan musik di bawah lampu remang, Derya masih malu-malu mengutarakan ajakannya. Ia terus menatap Gina yang pura-pura sibuk dengan ponsel di tangannya.
"Na, dansa yuk!" ajak Derya mengulurkan tangannya di depan Gina.
"Nggak sudi aku dansa sama kamu."
Gina menolak mentah-mentah ajakan Derya. Untuk saat ini tidak ada yang bisa membuat hatinya tenang selain pergi dari pesta itu.
Derya beranjak menghampiri wanita cantik yang nampak sendirian. Dalam hitungan menit, mereka langsung naik ke panggung Dansa.
Gina yang menyadari itu pun langsung berjalan menuju pintu. Ia benar-benar meninggalkan pesta yang dipastikan masih dua jam lagi.
Niat ingin membuat Gina jengkel malah kacau, Derya terkejut saat tak melihat sosok Gina di tempat. Terpaksa ia kembali turun.
"Maaf, kita tidak bisa melanjutkan dansa, saya harus pergi." Tanpa menunggu jawaban, Derya membelah tamu dan keluar. Di depan gedung pesta, Derya berlari ke sana ke mari mencari keberadaan Gina.
"Gina…" teriak Derya untuk yang kesekian kali.
Bugh
Sebuah hantaman mendarat di punggung Derya. Meskipun sedikit keras, namun benda yang digunakan sangat empuk.
Aaawww
Derya meringis mengelus punggungnya yang sedikit ngilu.
__ADS_1