
Renata menangis di pelukan Bagas. Membenamkan wajahnya di dada bidang sang kekasih. Terharu, bahagia, semua campur aduk memenuhi dadanya hingga ingin berteriak bangga. Tak pernah menyangka jika dirinya akan menjadi juara satu dalam perlombaan itu. Mimpinya kini telah tercapai.
Dalam sekejap dunia mengalihkan keadaan. Renata sudah dikenal sebagai pelukis hebat. Takdir benar-benar mengubahnya menjadi orang yang sukses. Di mana semua orang tidak akan lagi berani menginjak dan merendahkannya seperti yang lalu.
Bukan sekedar gambar yang cantik dan menarik. Akan tetapi, arti dari semuanya mencakup tentang sejarah lama yang bisa menjadi contoh dalam sebuah perjuangan hidup.
"Tolong beri waktu sebentar saja," ucap Bagas pada beberapa wartawan yang sudah berdesak-desakan ingin wawancara. Merengkuh tubuh Renata. Menghalangi mereka yang terus menarik baju gadis itu.
Punggung Renata masih bergetar hebat. Kebahagiaannya saat ini tak bisa diungkapkan dengan kata. Rasa terima kasih dan syukur hanya bisa ia pendam untuk sementara waktu.
"Sayang, semua sudah menunggu, nanti nangisnya di lanjut di kamar saja sambil memandangi piala dan uangmu," goda Bagas yang membuat semua orang bergelak tawa.
Renata mendongak, menatap kedua bola mata Bagas dengan tatapan sendu.
Bagas mengusap air mata yang membasahi pipi Renata lalu mengecup pucuk kepalanya dengan lembut. Satu tangannya membelai rambut yang terurai panjang.
"Bicara lah pada mereka, aku akan menunggumu di luar." Masih merengkuh tubuh Renata dengan erat.
Renata menggeleng. Baginya saat ini Bagas harus mendampinginya di depan orang banyak. Menjadi tiang untuk dirinya, yang tidak pernah dilakukan pria manapun.
"Lho, kok gitu?" Bagas tak heran lagi dengan sikap manja Renata.
"Mas harus menemaniku. Apa yang aku dapat, semua juga berkat kamu dan Ibu. Anggap saja mas mewakili kedua orang tuaku seperti waktu aku SMA dulu."
Bagas menoyor jidat Renata pelan tanda kasih sayang dan menggiringnya duduk di samping kakek Liam.
Di depan banyak orang, Renata mengungkapkan isi hatinya saat ini. Tak ada yang ia tutupi lagi. Memberi beberapa ide pada mereka yang terkadang masih tidak percaya diri dengan hasil karya nya sendiri.
Hadiah utama sudah diterima, ada juga beberapa juri dan pengusaha yang memberikan hadiah tambahan, baik berupa uang tunai maupun sesuatu yang dapat dikenang seumur hidup.
Lukisan yang menang sudah menjadi milik pihak gallery, yaitu kakek Liam. Ia pun tak segan-segan memberikan hadiah besar untuk Renata sebagai harga lukisan itu sendiri.
__ADS_1
"Selamat, Re. Kamu memang berbakat, tetaplah rendah hati dan terus belajar. Asah terus apa yang kamu bisa. Jangan berhenti sebelum kamu mencapai titik tertinggi sekali pun."
Renata mencium punggung tangan kakek Liam yang sudah keriput. Wajah tuanya selalu mengingatkan pada sang ayah, entah dari mana, Renata seperti melihat sosok ayahnya di sana.
"Pasti, Kek. Aku tidak akan berhenti sampai disini, perjuanganku masih panjang. Aku harus membuat kedua orang tuaku dan orang di sekelilingku lebih bangga lagi."
Gina melipat kedua tangannya, di antara mereka yang bahagia hanya Gina yang nampak merengut saat Renata dan Bagas tampil mesra di depan umum.
"Kalau begitu kami permisi, Kek. Kasihan Renata dari semalam nggak tidur," ucap Bagas.
Seketika pipi Renata merona mendengar ucapan Bagas yang memalukan.
"Jangan lupa, nanti malam makan di rumah, ajak Derya juga."
Bagas tersenyum kecut. Setelah mengucapkan selamat, ia tak melihat musuhnya itu, bahkan semenjak pertikaian masalah pribadi, Bagas tak pernah bicara lagi zelain urusan bisnis yang masih terikat.
"Baik, Kek," jawab Bagas pada akhirnya, karena ia tak mau menunjukkan permusuhannya dengan Derya di depan kakek Liam.
Lambaian tangan mengiringi saat Renata masuk ke sebuah mobil mewah. Suasana galeri kian sepi seiring dengan kepergian Renata dan Bagas juga finalis lainnya.
"Akio, simpan lukisan ini, pasang dengan bingkai emas yang paling mahal, letakkan di samping lukisan Reno!" titah Kakek Liam pada sang bodyguard.
"Baik, Tuan."
Pria yang bertubuh kekar itu mengangkat lukisan milik Renata dan membawanya pergi.
Dadanya kembali bergejolak. Meskipun terus menepisnya, tetap saja jika berada di dekat Renata selalu mengingatkan pada putra dan menantunya yang menghilang tanpa kabar.
"Mondi, kamu cari tahu lagi tentang Reno dan Naomi, untuk kali ini aku tidak ingin gagal."
"Baik, Tuan.
__ADS_1
Satu lagi pria yang bertubuh kekar juga pergi meninggalkan galeri dengan mengemban tugas yang bertahun-tahun tak terpecahkan. Kini di galeri itu tinggal Gina dan Kakek Liam.
Mungkin ini kesempatan ku untuk bilang ke kakek, ucap Gina dalam hati.
"Kek…"
Gina memijat bahu ripuh kakek Liam.
Matanya menatap kakek Liam dengan penuh permintaan.
"Kenapa? Apa kamu ingin membeli sesuatu?" tanya kakek Liam langsung ke inti. Merawatnya dari kecil membuat kakek Liam paham dengan sifat Gina, termasuk semua keinginannya.
"Kek, aku menyukai mas Bagas."
Kakek Liam mengerutkan alisnya tak mengerti, bukankah Gina juga tahu kalau Bagas adalah calon suami Renata. Kenapa harus milik orang lain yang ia minta. Bahkan Gina bisa memilih pria yang lebih tampan dan kaya. Kenapa harus Bagas?
Tertawa Renyah, mengarahkan matanya ke depan panggung yang masih berdiri kokoh.
"Kakek Bisa membelikan apa saja yang kamu inginkan, tapi kakek tidak bisa memberikan Bagas padamu. Dia itu calon suami Renata, dan sepertinya mereka saling mencintai," ujar Kakek Liam menjelaskan.
Semenjak Renata dan Bagas datang, hidup kakek yang nampak abu kini menjadi berwarna dan tak mungkin tega memisahkan dua insan yang saling mencintai.
"Bisa," sergah Gina ketus. "Kakek berkuasa dan punya banyak uang. Kakek bisa melakukan apa saja termasuk memisahkan mereka."
Kakek Liam membius bibirnya. Uang, selama ini kakek Liam menggunakan uang untuk bisa mendapatkan apa yang diinginkan. Kekuasaan yang ia miliki membuat semua orang jera jika berhadapan dengannya, bahkan laki-laki yang pernah menyakiti Gina pun kini menderita karena dirinya.
"Apa kamu sangat mencintai Bagas?" tanya kakek Liam.
Gina mengangguk, "Sejak pertama kali bertemu, aku langsung jatuh cinta padanya. Kek, anggap saja itu keinginanku yang terakhir, setelah ini aku tidak akan meminta apapun dari kakek," ucap Gina dengan nada memelas.
Rasa sayang pada Renata seketika lenyap saat menyangkut tentang Gina. Gadis yang dianggap cucu itu lebih penting dalam hidupnya daripada siapapun, bahkan apapun yang diminta Gina selalu terpenuhi dalam hitungan detik.
__ADS_1
Maafkan kakek, Re. Demi kebahagiaan Gina, terpaksa kakek akan memisahkan kamu dan Bagas.
Terdengar sangat keji, itulah yang sering dilakukan kakek Liam dulu. Di balik sikapnya yang terkadang menunjukkan kasih sayang, ia juga bisa menghempaskan dengan cara yang kejam dan tidak berperasaan.