
Renata keluar dari kamarnya. Menatap pintu kamar Bagas yang tertutup rapat. Pasti pria itu belum pulang. Keputusan yang diambil sudah bulat. Namun, ada sesuatu yang menjanggal dalam hati. Sekarang Renata bukan orang yang diam saja saat diterpa masalah, meskipun menerima semua, tetap harus diluruskan, begitulah pedomannya.
"Apa kamu yakin mau menemui kakek Liam? Dia orang yang terpandang. Bagaimana kalau anak buahnya menyakiti kamu?" tanya Derya yang baru saja menghampiri Renata atas panggilannya.
"Apa kamu akan diam saja jika mereka berbuat seperti itu?" Nada menyindir, meremehkan keberanian Derya yang pasti kalah jika berkelahi.
Bulu halus Derya berdiri, mengingat tubuh para bodyguard Kakek Liam yang berotot besi membuatnya mati kutu. Ia selalu bertarung, namun dalam urusan otak, bukan tenaga.
"Ti….tidak, aku akan bantu kamu," jawab Derya terputus-putus menahan rasa takut yang menyeruak.
Renata menepuk pundak Derya dan tertawa.
"Jangan takut, aku tidak akan berbuat macam-macam, aku hanya ingin pamit saja."
Derya bernapas lega mendengar penjelasan Renata yang terakhir.
Mobil berhenti di depan rumah kakek Liam. Seperti malam sebelumnya, di sana hanya ada penjaga yang menjalankan tugas. Berkeliling di area depan, samping, dan belakang, memastikan keamanan rumah sang majikan.
Renata turun lalu berjalan, dengan berani melewati beberapa pengawal yang mematung di depan pintu.
"Apa kakek Liam ada di rumah?" Derya yang bertanya. Renata mengikutinya dari belakang.
"Silahkan, Tuan. Beliau ada di ruang tengah."
Derya langsung mengantar Renata ke tempat yang ditunjukkan pembantu. Meskipun dadanya terus deg-degan tak karuan, kembang kempis menampung rasa takut, ia tetap harus menemani Renata.
"Selamat malam, Re. Silahkan duduk! Tumben kamu ke sini bersama Derya, Bagas ke mana?" tanya Kakek Liam melepas kacamata.
Renata menoleh, mengedipkan mata ke arah Derya, memberi kode pria itu untuk keluar.
"Permisi, Kek."
Setelah Derya menghilang di balik pintu depan, Renata duduk di depan kakek Liam.
"Sepertinya mas Bagas pergi dengan Gina. Bukankah kakek yang menyuruhnya?" tanya Renata menyindir, pasalnya ia melihat sendiri jika Bagas keluar setelah senja meredup.
Kakek Liam tertawa renyah. Baru kali ini ia berhadapan dengan seorang gadis seperti Renata. Keberaniannya luar biasa dan patut diacungi jempol.
"Ternyata kamu tak hanya cerdas dalam melukis, anak muda. Tapi juga masalah pribadi. Baguslah, aku tidak perlu basa-basi lagi, semua ini memang aku yang menyuruh, karena aku mau cucuku bahagia."
__ADS_1
Tanpa rasa takut sedikit pun, Renata mendongakkan kepalanya. Memasang wajah tegas dan penuh dengan keberanian, bak robot yang dijalankan mesin.
"Maaf, Kek. Bukan aku lancang, tapi apa yang Kakek lakukan itu salah. Cinta akan kembali pada sang pemilik. Sekeras apapun Kakek berusaha memisahkan, dan dengan cara bagaimanapun memaksa, hati tetap lembut. Dia tidak akan goyah dan tetap mencari arah tujuan. Ingat! Kakek sudah menghancurkan satu kebahagiaan orang lain demi cucu Kakek. Suatu saat nanti Kakek akan paham apa itu cinta. Aku tidak takut kehilangan mas Bagas. Hanya takut di akhir hidup Kakek dihantui rasa bersalah karena ini semua. Kehilangan itu sangat menyakitkan."
Renata tak sanggup melanjutkan ucapannya. Bayangan kedua orang tuanya kembali hadir, seakan menghentikannya untuk berbicara lebih.
Kakek Liam geram. Raut wajahnya menunjukkan amarah yang memuncak, pria yang sudah tua itu beranjak dan bertepuk tangan dua kali.
Dua orang bertubuh kekar datang dan mematung di belakang Renata. Dia adalah Akio dan Daiki, orang kepercayaan kakek Liam.
"Kalian seret dia keluar!" Menunjuk Renata yang masih duduk. "Jangan sekali-kali izinkan dia masuk ke sini!" titah Kakek Liam dengan lantang.
Derya yang mendengar ucapan itu berlari masuk menghampiri Renata yang sudah ditarik paksa oleh bodyguard.
"Ada apa ini?" tanya Derya tak tahu masalahnya.
Tidak ada yang menjawab. Renata terus mencengkal tangannya mencoba lepas. Namun, tenaganya yang sangat kecil tak mampu mengalahkan dua orang yang sangat kuat.
Derya pun tak bisa mencegah, ia hanya mengikuti langkah Renata dari belakang.
"Pergi kamu! Jangan sampai kami berbuat lebih dari ini," bentak Akio menjalankan perintah, mendorong tubuh Renata hingga jatuh tersungkur.
"Re, sebaiknya kita pulang. Jangan cari masalah dengan kakek Liam, aku takut Kamu kenapa-napa."
Derya berbicara pelan, ada guratan gelisah yang memenuhi wajahnya saat melihat perlakuan pengawal kakek Liam yang sangat kejam.
"Tenang aja, Mas. Aku tidak akan kenapa-napa. Sekarang kita pulang."
Renata menuruti permintaan Derya. Ia tidak mau jika pria itu terlibat dengan masalahnya.
Setibanya di mobil, Renata memegang tangan Derya yang mulai sibuk dengan setirnya.
"Aku ingin pulang besok. Apa kamu mau membantuku?" tanya Renata penuh harap.
Derya mengangguk. Sebab, ia sudah memesan dua tiket untuk dirinya dan Renata sebelum diminta.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Seperti yang dikatakan Derya, Renata pulang dengan penerbangan pertama.
__ADS_1
Matahari belum terbit. Namun, Renata sudah siap keluar dari hotel, menunggu panggilan dari Derya yang belum juga muncul.
Renata menarik koper dan menghampiri kamar Bagas yang masih tertutup rapat.
"Kamu tidak berniat menghentikan ku, ternyata pekerjaan memang lebih penting daripada aku."
Renata mengangkat tanganya ke arah pintu. Ingin mengetuk, namun ragu, akhirnya ia menggenggam kembali dan menurunkannya. Tidak mau mengganggu Bagas yang mungkin masih tidur.
"Kamu sudah siap?" tanya Derya dari belakang mengejutkan Renata yang sedikit melamun.
"Sudah," jawab Renata berat.
Beberapa langkah menuju lift, Renata menoleh, menatap pintu kamar Bagas.
Ternyata cintamu masih rapuh dan mudah tergoyahkan. Selamat berbahagia, jika Gina adalah wanita yang kamu cintai, aku ikhlas.
Di Lantai dasar, Renata menemui Akemi, pria yang paling akrab selama dirinya di hotel. Setelah itu menemui seorang wanita cantik yang juga akrab dengan Bagas.
"Yakin mau ninggalin Bagas? Bagaimana kalau dia kecantol dengan gadis sini?" canda Akemi, ia tidak tahu jika hubungan mereka sudah kandas.
"Jodoh tidak akan kemana," jawab Renata santai kemudian meninggalkan hotel bersama Derya.
Banyak rencana yang dirancang Renata. Pulang membawa sebuah keberhasilan adalah kebanggaan yang utama baginya. Mungkin dengan berbagai hadiah, ia bisa membeli apapun yang diinginkan, termasuk tempat tinggal.
"Mas, nanti bantu aku cari apartemen, aku mau tinggal sendiri," pinta Renata sambil membuka ponselnya.
"Untuk pekerjaan, bagaimana?" tanya Derya, memasukkan koper milik Renata ke dalam bagasi.
"Aku mau buka usaha cafe yang unik. Di dalamnya penuh dengan lukisan ala Renata Nicholas. Nanti aku share di sosial media untuk mencari pelanggan."
"Wow…."
Derya kagum, itu bukan sekedar unik, tapi sepertinya langka, sebagai orang yang malang melintang di dunia bisnis, baru kali ini mendengar usaha yang cemerlang untuk kalangan pemuda.
"Satu lagi," imbuh Renata antusias.
"Apa?" tanya Derya semakin penasaran.
"Aku juga mau buka galeri seperti punya kamu dan mas Bagas."
__ADS_1
Derya mengangkat kedua jempolnya setuju.