Bukan Sebatas Impian

Bukan Sebatas Impian
Setuju


__ADS_3

Akhirnya, semua berpihak padaku. Aku tidak menyangka mendapatkan kasih sayang dari semua orang di sekelilingku. Bahkan mereka yang pernah merendahkanku, kini menghormatiku. 


Tak hanya dengan Gina, Renata pun berdamai dengan Karin dan Bibi. Tidak ada alasan untuk membenci mereka. Semua sudah berubah, takdir seakan mengutuk Karin. Menjungkir balikkan kehidupan dengan kejam. 


Setelah pulang dari rumah bibi, Renata dan Bagas pulang ke rumah Bu Amara. Seperti janjinya, mereka akan menginap beberapa malam di sana sebelum tinggal bersama kakek. 


"Bagaimana kalau nanti mama tidak setuju?" Bagas membuka pintu kamarnya. Mempersilakan sang permaisuri masuk. 


Mata Renata menyusuri desain kamar Bagas yang nampak indah dan berbeda. Jika dulu sangat identik dengan tipe pria, kini kamar itu di cat warna pink, sprei dan gorden pun berwarna pink yang membuat mata terpana. Ada lukisan indah aliran romantisme yang terpajang tepat di dinding atas ranjang. Memanjakan mata saat berbaring. 


"Nanti kita bicarakan lagi, dan aku yakin mama pasti setuju." Bagas meyakinkan Renata untuk tidak memikirkan hal yang sepele. 


"Mas, kenapa kamar kamu beda?" tanya Renata mendekati Bagas yang duduk di tepi ranjang. 


Bagas tersenyum, meraih tubuh Renata hingga duduk di pangkuannya. 


"Sekarang kan ada kamu, dan aku pikir istriku suka seperti ini." Menunjuk berbagai hiasan yang khas dengan wanita. 


"Apa kamu nggak risih?" 


"Dulu risih, sekarang nggak. Apalagi kalau kamu __" 


Renata membungkam mulut Bagas. Dari sorot matanya yang melirik bagian dada, ia tahu jika omongan Bagas akan menjalar kemana-mana. 


"Sayang, aku mau lagi," bisik Bagas penuh harap. Menggenggam tangan Renata dan menurunkannya. 


"Tapi aku capek," keluh Renata, mengingat pergulatannya tadi pagi yang sangat lama hingga membuatnya kewalahan. 


"Aku janji, kali ini tidak akan lama." Bagas memohon dengan wajah memelas. 


Terpaksa Renata mengangguk setuju. Sebab, tak ada salahnya melayani suami yang menginginkan dirinya. 


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Jam sudah menunjukkan pukul delapan malam. Bu Amara dan Bu Nurmala sudah duduk di ruang makan, sesekali kedua wanita itu menatap ke arah lantai dua. 


"Mereka ngapain sih? Jangan-jangan tidur?" tebak Bu Nurmala. Pasalnya, sudah hampir tiga jam ia datang, namun tak mendapati pengantin baru itu. 


"Mungkin saja, Mbak. Tadi pulangnya sudah sore. Kayaknya Renata juga kelelahan," timpal bu Amara, mengingat wajah lesu Renata saat datang. 

__ADS_1


"Kita tungguin sebentar, kalau mereka tidak turun, kita tinggalin saja, perutku sudah lapar." 


Baru lima menit saling diam, Bagas dan Renata muncul dari balik tangga. Masih sama, hanya ada pancaran kebahagiaan, keduanya berjalan dengan tangan yang saling terpaut. 


Renata dan Bagas sudah memakai piyama couple, menunjukkan kekompakan sebagai pasangan yang romantis. 


"Malam, Ma, Tan," sapa Bagas, mencium pipi sang mama dan bu Nurmala bergantian. Diikuti Renata, ia pun melakukan hal yang sama. 


"Malam, tante sampai jamuran nungguin. Kalian di kamar ngapain aja?" tanya Bu Nurmala ketus. 


Renata menundukkan kepala. Lagi-lagi ia harus mendapatkan pertanyaan tentang apa yang dilakukannya di kamar. 


"Biasa, masa harus aku jelasin, si." Bagas menaik turunkan alisnya. 


Bu Nurmala hanya tersenyum kecil melihat wajah Renata yang semakin bersemu. 


"Sekarang makan yang banyak, pasti tenaga kalian terkuras habis," celetuk bu Nurmala.


Renata mencubit pinggang Bagas hingga membuat sang empu meringis kesakitan. Itu adalah kode supaya Bagas tak memperpanjang pembahasannya, bisa kacau semuanya. 


Suara dentuman piring  dan sendok terus beriringan. Makan malam berjalan dengan hikmat. Renata mencoba berbagai menu makanan yang tersaji. Semuanya enak dan tak kalah dari masakan restoran. 


"Ini semua yang masak siapa, Ma?" tanya Renata di sela sela makannya. Ia kagum dengan tekstur daging ikan yang sangat lembut. 


"Ma, aku juga ingin belajar masak yang ginian, dulu aku cuma bisa memasak yang sederhana saja tak sampai semewah ini." 


"Mulai besok kamu harus bantuin mama. Biar bisa menyiapkan makanan untuk suamimu."


Bagas meletakkan sendok. Mengingat rencana yang tadi siang dirancang bersama Renata. 


"Ma, apa aku dan Renata boleh tinggal di rumah kakek? Maksud aku gini, Ma. Kita akan bergilir, sebulan di rumah Kakek, dan sebulan di rumah mama, sebulannya lagi di rumah tante, gimana menurut kalian?" 


Bu Amara menatap Bagas dan Renata bergantian. Berat untuk menjawab, bukan itu yang ia inginkan. Sebagai seorang ibu, Bu Amara ingin sepenuhnya Bagas tinggal di rumah sebagai pengganti papanya, menjadi kepala keluarga. Namun, ia juga harus memikirkan kakek Liam yang sudah sangat tua


"Baiklah, Mama setuju dengan ide kalian, tapi janji sebulan di rumah kakek Liam, jangan lebih."


"Makasih, Ma. Mama baik banget," puji Bagas. 


Aku tidak mungkin mempersulit Renata untuk tinggal bersama kakeknya. 

__ADS_1


"Permisi…" sapaan dari depan diiringi ketukan. 


Semua yang ada di meja makan menoleh ke arah sumber suara. Bagas beranjak dan menghampirinya, sosok yang ada di ambang pintu tak asing lagi baginya. 


"Andara, kamu ngapain ke sini?" tanya Bagas sembari mengusap tangannya dengan tisu. 


Andara memanyunkan bibirnya.


Ternyata Jerry juga tak ada di rumah Bagas, lalu dia di mana. 


"Aku mau cari Mas Jerry. Dia tidak ada di apartemennya." 


"Apa?" 


Bagas terkejut. Semenjak ia mengambil cuti untuk beberapa hari, Jerry memang lembur dan tak pernah bisa keluar dari kantor, sedetikpun. 


"Apa mungkin dia di kantor? Apa kamu sudah makan malam?" Andara menggeleng. 


"Kalau begitu makan malam dulu, ada Renata juga." 


Andara tetap menggeleng malas.


"Ya udah, kalau gitu kita bicara di ruang tamu." 


Bagas dan Andara duduk saling berhadapan. Keduanya mulai serius membicarakan Jerry yang terlalu sibuk. "Besok aku akan bantu kamu bicara pada Jerry, aku akan memastikan status kamu." 


"Telponin dulu sekarang? Tanyain dia ada di mana. Tadi telponku nggak diangkat," pinta Andara mendesak. 


Bagas mengangkat jempolnya tanda setuju. Renata yang sudah selesai makan pun ikut duduk disamping Bagas. Meskipun baru sekali bertemu, ia merasa jika Andara adalah wanita yang baik dan cocok untuk Jerry


Setelah tersambung, Bagas langsung menanyakan keberadaan sang asisten. 


"Memangnya kenapa, Pak?" tanya Jerry dari balik telepon. 


"Andara mencarimu, katanya kamu tidak ada di apartemen." Terdengar tawa renyah dari bibir Jerry, seakan ia tak bersalah sudah membuat Andara cemas. 


"Maaf, Pak. Hari ini aku lembur. Kemungkinan akan tidur di kantor."


Bagas merasa bersalah pada Jerry yang tidak punya waktu untuk santai. Setelah semuanya jelas, Bagas memutuskan sambungannya, kembali menatap Andara dengan tatapan kasihan. 

__ADS_1


"Maaf ya, Ra. Gara-gara pekerjaan dia mengabaikanmu. Tapi aku janji, mulai besok Jerry akan lebih mementingkan kamu lagi." 


Andara berterima kasih pada Bagas. 


__ADS_2