
Bagas menatap layar ponsel. Berkali-kali melihat foto kebersamaannya dengan Renata. Kangen, mungkin itu kata yang tepat untuk dirinya saat ini. Dadanya sesak hingga harus mensuplai oksigen untuk bernapas. Sosok Renata mengalihkan hatinya dan tak bisa untuk beraktivitas. Batinnya tersiksa karena selalu memikirkan Renata yang jauh di sana.
Apa kamu merindukanku, seperti aku merindukanmu, Re. Apa kamu akan memaafkanku. Aku menyesal membiarkanmu pergi sendiri.
"Tuan tidak apa-apa?" tanya Akio membuat Bagas terkejut, dengan sigap memasukkan ponselnya ke saku celana. Takut, semua orang tahu apa yang terjadi padanya.
"Tidak, kapan kita berangkat?" tanya Bagas pada beberapa bodyguard Kakek Liam. Memastikan, ingin secepatnya tiba di tanah kelahiran dan bertemu dengan sang kekasih. Ralat, lebih tepatnya sang mantan tunangan.
Keberangkatan Kakek Liam ke Indo diundur karena kesehatannya yang kurang baik, bahkan kakek Liam harus dirawat selama dua hari untuk memulihkan kondisinya. Umurnya yang sudah terlalu tua membuat daya tahan tubuhnya lemah dan sering sakit-sakitan. Apalagi Kakek Liam mempunyai riwayat penyakit asam lambung yang sering kumat.
"Sebentar lagi. Tuan, kami sudah menyiapkan jet pribadi, menunggu Tuan besar."
Mendengar itu, Bagas beranjak dan masuk ke ruangan Kakek Liam.
Pria tua dengan kulit yang khas keriput serta rambut memutih itu duduk di depan jendela. Matanya fokus ke arah luar. Orang yang hidupnya penuh teka-teki. Semenjak kepergian Putranya dan meninggalnya sang istri, kakek Liam tidak pernah menceritakan masa kehidupannya pada siapapun, termasuk Gina.
Bagas berjalan pelan mendekati kakek Liam. Berlutut di sampingnya. Menatap sorot mata yang begitu sayu dan berkaca.
"Apa yang kakek pikirkan?" tanya Bagas tanpa ragu. Ingin membantu kakek Liam, memikul sedikit beban yang menimpa.
"Kebahagiaan Gina." Kakek Liam menggenggam tangan Bagas dengan erat. "Berjanjilah! Jika suatu saat nanti aku meninggal, jaga Gina dengan baik," pinta Kakek Liam memohon.
Bagas menundukkan kepala. Permintaan itu sangat berat untuk langsung diterima olehnya.
Banyak hal yang harus dipikirkan Bagas untuk mengangguk. Tak mau berbohong dan memberi harapan yang belum bisa dipastikan, saat ini hatinya masih terpahat untuk Renata.
"Kakek… " seru Gina dari ambang pintu.
Kedatangan gadis itu menyelamatkan Bagas dari pertanyaan kakek Liam yang belum dijawab, Bagas lega, setidaknya ia masih punya waktu untuk berpikir lagi.
Tak hanya Gina, Akio dan Mondi pun datang dan memberi tahu jika pesawat nya sudah siap.
Tidak ada pembahasan apapun, meskipun penasaran dengan tujuan kakek Liam datang ke Indo, Bagas tidak berani bertanya, ia hanya mengikuti apa yang dikatakan para bodyguard untuk terus berada di samping Tuannya.
Selama perjalanan, Gina duduk di depan kakek Liam, saling berhadapan dengan Bagas yang berada di sisi sang kakek, sedikit membicarakan bisnis yang baru dirancang.
Pesawat dengan kapasitas penumpang enam belas orang itu sangat nyaman, tempat tidur yang luas dan mewah, namun tetap saja hati Bagas terasa sempit dan gelisah karena memikirkan Renata.
Setibanya di bandara internasional, Bagas langsung menghubungi Jerry yang memang sudah ada di parkiran. Hanya butuh beberapa menit, mereka bertemu.
Bagas menghampiri Jerry dan dua supir yang sibuk memasukkan barang bawaan Akio.
__ADS_1
"Kamu antar kakek dan yang lain ke hotel, aku dan Jerry mau pergi sebentar," ucap Bagas pelan.
"Baik, Pak," jawab kedua sopir itu serempak.
Kembali menghampiri kakek Liam yang sudah duduk di salah satu mobil jemputan.
"Maaf, aku tidak bisa mengantar kakek ke hotel," ucap Bagas dari luar mobil.
"Aku mau ikut kamu." Gina mengucap dengan manja. Menarik tangan Bagas kencang hingga membuat sang empu meringis.
"Aku ada urusan penting. Ini masalah pekerjaan." Bagas meyakinkan, ia berharap Gina tak menjadi penghalang urusannya kali ini.
Terpaksa Gina mengangguk dan menutup kaca mobilnya. Setelah mobil yang membawa rombongan kakek Liam berlalu, Bagas naik mobil bersama dengan Jerry.
"Kita ke rumah tante Nurmala, aku ingin bertemu Renata."
Bagas menggigit jarinya, rasa sesal kembali menyeruak memenuhi dadanya.
Maafkan aku, Re. Aku egois, seharusnya aku lebih mementingkan kamu daripada pekerjaan.
Aarrgghh
Tanpa sadar Bagas mengerang membuat Jerry kaget. Ia menatap Bagas dari pantulan spion yang menggantung.
Terdengar helaan napas panjang, Bagas membalas tatapan Jerry secara langsung.
"Apa kamu tahu Renata sudah pulang?"
"Tidak, setelah pengumuman lomba itu aku kira bapak dan Renata masih bersama menikmati musim semi."
"Dia langsung pulang bersama Derya," sergah Bagas dengan cepat.
"Apa? Kok bisa?" pekiknya.
Selama Bagas pergi, ia terlalu fokus dengan pekerjaan di kantor dan tak ada waktu untuk bersantai di luar.
"Bisa, dia, kan punya kaki. Ini semua salahku. Aku yang membuatnya pergi."
Wajah Bagas tampak suram. Memendam penyesalan yang tiada tepi. Rasa ingin bertemu begitu besar. Bagas sudah tak sabar dan ingin cepat sampai tujuan.
"Apa menurutmu dia akan memaafkan aku? Cincin yang aku beri sudah dilepas," ungkapnya. Akhirnya ia meluapkan masalah yang selama ini bersemayam di dada.
__ADS_1
Bagas tidak cerita pada siapapun dan memilih memendamnya sendiri, baginya cukup Jerry yang tahu. Sebab, hanya pria itu yang bisa membantunya.
"Lalu, cincin nya di mana?" tanya Jerry kemudian, tangannya masih fokus pada setir.
Bagas merogoh saku celana. Mengambil cincin berlian yang sempat dilempar. Menggenggamnya dengan erat.
"Aku yakin Renata akan memaafkan bapak, tapi __"
Ucapan Jerry berhenti, ia menatap lekat wajah Bagas yang semakin gusar.
"Tapi apa?"
"Tapi bapak harus janji tidak akan mengulangi kesalahan yang sama. Jika itu sampai terjadi, mungkin Renata juga tidak mau memaafkan bapak."
Jika itu bisa membuat kita bersatu, aku berjanji tidak akan mendengarkan permintaan siapapun selain kamu.
Mobil berhenti didepan rumah Bu Nurmala. Bagas turun dan berlari. Masuk ke dalam tanpa mengetuk pintu, tempat satu-satunya yang dituju adalah kamar Renata.
"Re, buka pintunya!" seru Bagas sembari mengetuk.
Suasana rumah sepi, Bu Nurmala pun tak terlihat. Beberapa kali Bagas terus mengetuk dan memanggil nama Renata. Tak ada sahutan dari dalam. Bagas berlari kecil menuju dapur mencari pembantu.
"Bi, bibi," teriak Bagas.
"Ada pa, Den?" Bibi mengelap tangannya, menghampiri Bagas yang nampak cemas.
"Bi, Renata ada?" tanya Bagas antusias.
"Anu, anu Den, Non Renata pergi dari rumah."
"Maksud, Bibi?" Bagas memastikan ucapan bibi yang belum sepenuhnya jelas.
"Non Renata pergi dari sini, katanya ingin tinggal sendiri di apartemen."
Kaki Bagas lentur. Lelah hati, lelah jiwa. Menyandarkan punggungnya di dinding putih yang kokoh.
"Kapan perginya, Bi?"
Suara Bagas lirih. Melepas jaket yang membalut tubuhnya selama beberapa jam.
"Kemarin, bersama Den Derya."
__ADS_1
Kenapa harus Derya, aku cemburu melihat kamu dengannya. Apa kamu tidak sadar saat aku menunjukkan fhoto itu. Aku cemburu melihat kamu dengannya.