
Tidak ada beban berat selain menyangga penyesalan. Bertahun-tahun kakek Liam hidup tenggelam dengan masa lalu yang pahit karena sudah mengusir anak satu-satunya. Kini ia tinggal seorang diri, meskipun harta berlimpah, namun seakan dunia itu hampa.
Hampir seharian penuh Renata dan Bagas berkeliling di area gallery. Memanjakan mata, melihat beberapa lukisan yang menjadi sejarah hidup kakek Liam. Semua yang pernah terjadi dalam hidupnya digambarkan dalam sebuah lukisan yang terpajang di setiap dinding.
Renata berhenti saat melihat sebuah lukisan yang paling menakjubkan. Senyap, itulah ia mengartikan gambar itu.
"Kek, apa ini tentang hidup kakek juga? Apa kakek merasa kesepian?"
Renata meraba bingkai lukisan yang terbuat dari emas. Penasaran arti gambar tersebut. Sebab, ia pun pernah menggambarkannya saat kedua orang tuanya meninggal. Hanya saja sedikit berbeda. Jika Renata menggambar sebuah rumah tanpa penghuni. Gambar yang ada di depannya itu adalah kota besar dengan bangunan yang menjulang tinggi, yang tidak ada satupun orang di dalamnya. Namun, dua-duanya mengarah pada sesuatu yang sama, yaitu kesepian.
Wajah kakek Liam meredup. Membalut dadanya yang bergemuruh dengan senyuman tipis. Menyembunyikan fakta yang pernah ia lakukan.
"Kamu sangat cerdas, itu adalah isi hati kakek selama dua puluh tujuh tahun."
Bagas menggelengkan kepala. Dadanya sesak, membayangkan dalam kurun waktu yang lama menahan rasa hampa di hidupnya, pasti sangat membosankan.
"Kakek kesepian, Apa kakek tidak punya keluarga?"
Kakek Liam menunduk. Sekian lama, ini pertama kali ada seseorang yang bertanya mengenai hidupnya, bahkan seseorang yang paling dekat pun tidak pernah bertanya tentang itu.
Baru saja membuka kedua bibirnya, Suara cempreng menggema dari ambang pintu depan. Seorang gadis cantik berjalan lenggang menghampiri kakek Liam dan Bagas serta Renata.
"Kenapa baru pulang, Gina?" tegur kakek Liam. Menatap jam rolex yang melingkar di tangannya.
"Ya ampun kek, ini masih siang. Tadi aku jalan dulu sama teman-teman kampus."
Gina menatap Bagas dan Renata bergantian, lalu berhenti lagi pada wajah tampan Bagas. Setelah menyapa keduanya, Gina meringsuk berdiri di samping Bagas.
"Dia siapa, Kek?" Renata menunjuk Gina yang terus tersenyum ke arah Bagas.
Renata mencium aroma aneh dengan tatapan gadis itu. Matanya berbinar-binar, senyumnya manis, bak orang jatuh cinta pada pandangan pertama.
"Dia cucu kakek. Tanpa dia, kakek tidak bisa bertahan hidup."
Renata manggut-manggut mengerti. Melihat tingkah Gina yang semakin lebay membuat Renata geram dan ingin menjambak rambut hadis itu.
"Mas, aku lapar. Kita makan, yuk!" Renata bergelayut manja di lengan Bagas. Mendorong tubuh Gina hingga tersentak ke belakang.
__ADS_1
"Sama, aku juga, gara-gara asyik melihat lukisan sampai lupa makan," gumamnya menoel hidung mancung sang kekasih.
Gina berdecak kesal saat Renata nampak manja.
"Kakek juga belum makan, lebih baik kalian makan saja di sini, temani kakek."
Tak ingin mengecewakan kakek Liam, Renata dan Bagas ikut ke ruang makan.
Tak seperti biasanya yang hanya berdua saja, kini ruang makan itu ada empat orang. Suara dentuman sendok dan piring sudah menjelaskan bahwa suasana sangat ramai.
Diam-diam, kakek Liam memperhatikan Renata saat makan. Jika kebanyakan orang akan makan dengan nasi dan lauk yang terpisah, tidak dengan Renata yang campur nasi dan lauk hingga menjadi satu, setelah itu baru dimakan.
"Re, apa kamu biasa makan seperti itu?" tanya kakek Liam menyelidik.
Renata mengunyah makanannya dengan pelan lalu menatap Bagas yang duduk di sisinya.
"Jawab saja," bisik Bagas.
Renata tersenyum malu, ia lupa tempat hingga makan seperti di rumah sendiri.
"Iya, Kek. Dulu ayah juga suka makan seperti ini."
"Sayang, setelah ini kita jalan-jalan, yuk!" pinta Bagas basa-basi. Menyadari tatapan Gina yang membuatnya risih.
"Boleh, asalkan sama kamu, aku mau."
Gina menatap Renata sinis. Seolah-olah ada rasa cemburu saat Renata terus menjadi pusat perhatian Bagas.
Usai makan, Renata dan Bagas pamit pulang untuk melanjutkan petualangannya. Renata memeluk tubuh kakek Liam.
"Kakek jaga diri baik-baik. Selama aku dan mas Bagas masih disini, kami akan sering main ke rumah," ucap Renata yang mampu menyejukkan hati kakek Liam.
"Ingat, Re. Dalam perlombaan harus tenang, pikiran harus jernih. Tetap fokus dengan apa yang ingin kamu lukis. Jangan sampai berambisi untuk menang. Tapi, berusahalah membuat karya yang bisa dinikmati semua orang."
"Siap, Kek. Semoga aku bisa seperti kakek."
Cih, siapa dia sok akrab banget.
__ADS_1
Renata bisa menangkap wajah kesal Gina, dan itu justru membuat dirinya kegirangan.
"Mas, kamu tadi lihat nggak, kayaknya Gina suka sama kamu?" Bagas melirik Renata yang nampak cemburu lalu tertawa.
"Kenapa tertawa, apa ada yang lucu?" imbuhnya semakin kesal.
"Nggak lucu sih, wajah kamu saja yang lucu. Kamu cemburu pada Gina?"
Renata melengos, mengalihkan pandangannya ke arah luar. Menikmati bunga sakura mungkin akan lebih menenangkan hatinya saat ini. Daripada menatap wajah Bagas yang sangat menjengkelkan.
"Tenang saja, aku tidak segampang itu jatuh cinta pada wanita lain. Kamu tidak akan tergantikan walaupun bidadari turun dari langit."
"Semut pun mau muntah mendengar gombalan mu, Mas."
Bagas menghentikan mobilnya di tepi jalan. Renata kaget bukan kepalang, ia menatap sekelilingnya. Tidak ada satu orang pun yang melintas. Setelah itu menatap Bagas yang melepas seat belt.
"Kok berhenti di sini?" tanya Renata antusias. Pasalnya itu bukan tempat wisata atau hotel yang mereka tempati, namun di kanan kiri hanya ada pepohonan dan semak-semak.
Meskipun Bagas tidak akan melakukan sesuatu yang diluar nalar, tetap saja rasa takut itu ada.
"Apa aku boleh mengatakan sesuatu?" tanya Bagas dengan suara pelan.
Renata mengangguk bingung, ada rasa takut yang mengendap, namun juga penasaran dengan apa yang akan meluncur dari bibir Bagas.
"Tentang apa?" tanya Renata kemudian. Ia mencoba santai, menahan dadanya yang mulai bergemuruh. Jantungnya berirama lebih cepat saat Bagas mencondongkan kepalanya ke samping.
Hening
"Kamu bukan yang pertama bagiku, karena sebelumnya aku pernah punya tunangan, tapi aku berharap kamu yang akan menemani sisa hidupku, berjanjilah untuk selalu setia padaku!"
Bagas mengangkat jari kelingkingnya tepat di depan Renata.
Renata menautkan jari kelingkingnya dan tersenyum.
"Aku janji, tidak akan berpaling darimu."
Setelah mendengar ucapan Renata, Bagas melajukan mobilnya kembali. Membelah jalanan hingga mereka berada di sebuah tempat yang sangat indah. Panorama alam bercampur dengan buatan manusia membuat semua mata terpana. Kali ini Bagas dan Renata mengabadikan momen kebersamaannya.
__ADS_1
Sebelum Renata tegang di depan Kanvas, Bagas ingin memanjakan gadis itu dengan berbagai pemandangan yang tersaji di sana.