Bukan Sebatas Impian

Bukan Sebatas Impian
Bertemu


__ADS_3

Dalam hitungan jam. Jerry bisa menemukan tempat tinggal Renata yang baru. Sebuah kawasan apartemen mewah di pusat kota. Namanya tak asing lagi karena Bagas juga mempunyai satu unit di sana. 


"Kamu yakin, Renata tinggal di sana?" tanya Bagas memastikan, berdiri menghampiri Jerry yang masih sibuk dengan ponselnya. Tak mau mengulur waktu lagi. Harus menyambung hubungannya yang sempat menguar itu secepatnya. 


"Yakin, Pak. Dia membelinya tiga hari yang lalu. Renata juga membeli sebuah cafe dekat kantor kita serta gedung yang akan digunakan untuk membuka galery," jelas Jerry panjang lebar. 


Rasa gelisah dan cemas itu kini berubah menjadi gugup, Bagas bak Abg yang  sedang jatuh cinta, jantungnya berdegup dengan kencang hatinya berdebar-debar saat menatap cincin yang ada di jari kelingkingnya. 


"Apa yang harus aku lakukan sekarang?" tanya Bagas pada Jerry, tak mau salah langkah dan terlihat lebay. 


"Langsung saja temui dia, dan katakan apa yang bapak inginkan." 


Meskipun masalah percintaannya tak semulus jalan tol, Jerry punya banyak trik untuk mempersatukan Bagas dan Renata. 


"Apa ini tidak terlalu menekan, aku takut Renata akan menolakku." 


Dug Dug 


"Aduh, sakit," keluh Bagas mengelus dadanya yang dipukul Jerry dua kali. 


"Percaya pada cinta. Buktikan kalau bapak sangat mencintai Renata. Perempuan butuh bukti, bukan janji. Yakinkan dia, kalau bapak akan membahagiakannya."


Bagas berkacak pinggang. Menatap Jerry dengan kedua bola matanya. 


"Kamu bijak sekali, tapi kenapa kamu tidak melanjutkan hubunganmu dengan Andara."  


Jerry menggaruk alisnya yang tidak gatal. Tak mau menanggapi Bagas yang menurutnya tak penting. 


"Serius, Pak."


Bagas mencerna setiap kata yang meluncur dari sudut bibir Jerry. Ini bukan pertama kali bagi Bagas untuk menyatakan cinta, tapi ini adalah pertama kali ia merasakan gugup yang luar biasa. 


"Kalau begitu kita ke apartemen Renata sekarang, aku ingin mengatakan semuanya."


Bagas keluar dari rumah Bu Nurmala. 


Baru saja membuka pintu depan, mobil sang pemilik rumah datang dari arah gerbang. 


Siap-siap kena omelan, Jer. 


Bagas duduk di kursi teras, menyiapkan hati untuk menerima apapun yang mungkin terjadi padanya. 


"Siang, Tante," sapa Bagas mencium punggung tangan Bu Nurmala. Bersikap ramah untuk merayu wanita itu.


"Siang." Wajah Bu Nurmala sinis, Menatap penampilan Bagas dari atas sampai bawah. 

__ADS_1


"Ngapain kamu di sini? Renata sudah pergi bersama Derya. Nikmati kesendirian kamu, siap-siap kehilangan dia."


Antara luapan amarah dan mengingatkan, itulah yang Bagas tangkap dari ucapan Bu Nurmala. 


"Aku minta maaf, Tante. Tapi aku janji," Bagas mengangkat dua jarinya ke atas. "Aku akan membawa pulang anak perempuan tante, secepatnya." 


"Taruhan," tantang Bu Nurmala. 


Bagas mengerutkan alisnya. Menatap Jerry yang mematung di sampingnya. Sang sekretaris hanya mengangkat bahu tak mengerti. 


"Jika kamu bisa membawanya pulang ke sini, tante akan memberikannya untukmu, tapi jika kamu gagal, kamu harus transfer uang ke tante 1M." 


"Dasar wanita matre," gumamnya kecil. Namun, Bu Nurmala masih bisa mendengarnya dengan jelas. 


"Apa kamu bilang? Tante matre? Dasar anak nggak tahu di untung." 


Memukul Bagas menggunakan tas. Bagas menarik tubuh Jerry ke depan. menjadikannya umpan dan menerima hantaman tas branded milik bu Nurmala. 


"Nggak, Tante. Aku cuma bercanda," kilah Bagas untuk  menutupi kesalahannya. 


Bu Nurmala menghentikan pukulan yang mengatur nafasnya yang sempat tersendat. 


"Maaf, Tante. Bagas berhamburan memeluk tante Nurmala, se marah apapun, ia tak bisa membalas dan tetap mengutamakan hubungan antara ibu dan anak. 


"Jika berhasil, aku pun akan memberikan uang ke tante, 2M." 


"Kalau begitu sekarang kamu pergi, tante akan berdoa yang kenceng, supaya Tuhan mengabulkan." Mendorong Bagas menuju mobil. Melambaikan tangan ke arah mobil yang mulai melaju. 


"Dasar perempuan, kalau dengar uang pasti semangat," gerutu Bagas seraya  memasang seat belt. 


"Bapak nggak pulang dulu? Tante Amara juga kangen."


"Pulang lah, doa mama lebih penting, aku juga belum ngasih uang bulanan ke dia." 


Bukan hanya janji pada Bu Nurmala, Bagas juga janji akan memberikan uang untuk Renata. Namun, semua itu belum terlaksana mengingat hubungannya yang kurang sehat, takut Renata akan tersinggung. 


Pulang ke rumah. Selain bertujuan meminta doa restu pada sang mama, Bagas pun harus mengganti bajunya yang sudah kusut.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Tak perlu instruksi lagi, Jerry langsung melajukan mobilnya menuju apartemen. Harapan besar semakin membuncah mengingat wejangan sang mama. 


Berjuang itu harus, tetap berpikir positif. Jodoh tidak akan tertukar, sejauh apapun menghindar dan dengan cara apapun menolak, jika Tuhan menghendaki pasti akan terjadi, seperti kamu dan Renata. Menjalin hubungan memang tidak mudah. Banyak ujian yang harus dilewati, anggap saja ini adalah bumbu cinta kalian. Semangat, doa mama menyertaimu. 


Tak terasa, mobil yang ditumpangi berhenti di depan apartemen. 

__ADS_1


"Tenang, Pak. Aku yakin Renata akan memaafkan, Bapak," pesan Jerry sebelum turun. 


"Selamat siang, Mas Bagas, tumben kesini," sapa salah satu penjaga. 


Bagas hanya tersenyum tipis dan mengangguk. 


Jerry menekan tombol lift. Tak henti-hentinya mengingatkan Bagas untuk tetap tenang dan santai. 


Ting 


Lift terbuka di lantai lima belas, di mana itu adalah tempat baru milik Renata, sedangkan milik Bagas ada di lantai sepuluh. 


"Yang mana?" tanya Bagas sebelum melanjutkan langkahnya. 


Jerry kembali menatap layar ponsel. Menoleh ke kanan kiri, lalu menunjuk ke arah depan. Sampai di depan pintu nomor sekian, mereka berhenti. 


"Ini, Pak." 


"Kamu yakin?" tanya Bagas serius. 


"Yakin." Jerry menunjukkan alamat yang tertera di layar ponsel. 


Aku datang, Re. Maafkan aku karena sudah membuatmu kecewa. 


Bagas merapikan rambutnya, memastikan tampilannya sudah oke. Mengetuk pintu pelan. Hatinya sudah tak sabar ingin minta maaf pada Renata. Entah, diterima atau tidak, yang pasti ia ingin berusaha memperbaiki hubungannya. 


"Apa mungkin Renata pergi?"


Sudah tiga kali ketukan, namun tidak ada yang membuka pintu. 


Kali ini Jerry yang mencoba. 


Ceklek 


Pintu terbuka lebar. 


Bagas terpaku melihat sosok yang dirindukan berdiri di depannya. Tangannya bergerak mengulur ke depan, memegang lengan wanita itu. Bukan bermaksud lancang. Hanya memastikan jika ia tidak bermimpi. 


"Ini beneran kamu, Re?"  tanya Bagas dengan bibir bergetar. 


Renata mengangguk tanpa suara. Melihat ekspresi Bagas yang sangat aneh membuat Renata geli. Kalau bukan karena Bu Nurmala, Renata pun sudah memeluk tubuh tegap itu dan menciumnya.


Aku harus bisa, aku tidak boleh terlihat lemah dan menginginkan dia. Tahan, ini ujian.


"Iya. Ini aku, masa di Jepang sepuluh hari tidak bisa membedakan mana Renata dan mana Gina," sindir Renata ketus. Melipat kedua tangannya dan mengalihkan pandangannya ke arah Jerry. 

__ADS_1


"Siapa, Re?" Lagi-lagi suara berat dari belakang Renata mengejutkan Bagas. 


__ADS_2