Bukan Sebatas Impian

Bukan Sebatas Impian
Kelakuan pengantin baru


__ADS_3

Derya duduk di samping Gina. Mereka bagaikan maling yang tertangkap basah. Kamar hotel yang dingin itu berubah menjadi panas. Keringat mulai bercucuran saat kakek Liam menatap keduanya dengan tatapan tajam. 


Jangan tanya lagi bagaimana keadaan Derya, pria gagah itu menciut dan tak bisa berbuat apa-apa. 


Wajah keriput kakek Liam dipenuhi dengan amarah yang menggebu. Derya dan Gina belum tahu pasti, tapi mereka sudah membaca jika akan mendapatkan omelan. 


"Apa kalian tahu kenapa kakek menyuruh untuk ke sini?"


Gina yang menundukkan kepala itu menoleh, menatap Derya.


Sepertinya mas Derya takut dengan kakek, aku harus membantunya. 


"Tidak," jawab Gina pelan, sedangkan Derya hanya menggeleng tanpa suara.


"Kakek akan memberi peringatan untuk kalian. Terutama kamu, Derya." Menunjuk Derya yang masih di ambang ketakutan. 


"Memangnya apa salah mas Derya, Kek. Bukankah dia tidak pernah mengusik hidup kakek?"


Hening


Derya dan Gina bergelut dengan otak masing-masing, jantungnya berpacu dengan cepat. Menghadapi kakek Liam ternyata lebih menakutkan daripada harus berhadapan dengan dokumen yang menumpuk. Seandainya bisa, mereka ingin lenyap dari hadapan kakek Liam. 


"Memangnya mas Derya kenapa, Kek?" Lagi-lagi Gina yang buka suara. 


Kasihan melihat Derya yang tak bisa berkutik. Namun, ia juga tak bisa membantu. 


"Kenapa kamu ajak Gina makan di warteg?" tanya Kakek Liam pada Derya. 


Gina mengelus dada, akhirnya ia merasa lega mendengar pertanyaan Kakek Liam. Itu bukan masalah besar yang akan berakhir rumit, dan Gina tak perlu takut. 


"Maaf, Kek. Tadi aku yang minta, bukan mas Derya yang ngajak?" Gina menjelaskan, ia tidak mau Derya tersudut dengan pertanyaan-pertanyaan yang tak penting. 


"Apa!" Kakek Liam terkejut mendengar penjelasan Gina. Seakan tak percaya  jika cucunya sendiri lah yang memintanya. 


"Iya, aku lagi pengen petualang saja saja makanan orang bawah," jawab Gina mulai santai. Menimbulkan banyak tanda tanya di hati kakek Liam. Di Indo satu bulan membuat sikap Gina lebih dewasa. 


Situasi yang sempat mencekam itu mulai reda. Meskipun begitu, tetap saja kakek Liam tidak terima melihat cucunya harus berkerumun dengan orang banyak di tempat yang tidak berkualitas. Berdesak-desakan dengan orang lain, yang mungkin membawa banyak bakteri. 


"Tapi kakek tidak mau ini terjadi lagi," kata kakek Liam menegaskan. 


Gina terharu, tak menyangka jika kakek Liam sangat peduli padanya.


Gina beranjak dari duduknya dan memeluk kakek Liam dengan erat. 

__ADS_1


"Makasih perhatiannya, Kek. Gina tidak bisa membalas apa-apa untuk kakek. Selama ini aku hanya merepotkan saja. Aku janji tidak akan mengulanginya lagi."


Kakek membalas pelukan itu. Meskipun bukan cucu kandung, Sayang kakek Liam untuk Gina sangat besar, bahkan Gina satu-satunya orang yang sangat berpengaruh di kehidupannya. 


"Gina, hadirnya Renata tidak akan mengubah apapun. Kamu tetap cucu kakek, dan apapun yang kamu lakukan di luar, tetap dengan pantauan kakek, jangan menganggap hubungan kita sudah selesai sampai di sini."


Gina tersenyum. Sebuah kepastian yang membuatnya bisa bernafas dengan lega. 


"Derya, aku menitipkan Gina padamu, bukan berarti kamu bebas mengajaknya ke mana saja, jaga dia dengan baik."


Derya mengangguk tanpa suara.


Pintu terbuka 


Bagas dan Renata masuk. Pasangan yang baru saja olahraga siang itu nampak berseri-seri saat menghampiri Kakek Liam. 


Hening lagi 


Gina melewati tubuh Renata lalu kembali duduk di samping Derya. Meskipun kini hubungan mereka sebagai Adik-kakak, Renata masih canggung untuk menyapa Gina, sedangkan hubungan Bagas dan Derya belum seutuhnya membaik. 


"Kakek, maaf aku telat datangnya." 


Kakek Liam melihat jam yang melingkar di tangannya. Ternyata Renata tak hanya terlambat dalam hitungan menit, akan tetapi 2 jam, dan itu adalah waktu yang sangat lama bagi kakek Liam, sungguh keterlaluan. 


Kakek Liam melirik leher Renata yang penuh dengan tanda merah, lalu menatap Bagas dengan tatapan intimidasi. Tak rela cucunya diperlakukan seperti itu. 


Bagas menautkan kedua tangannya. Malu untuk menjawab jujur. 


"Tadi mas Bagas mengurus pekerjaannya, jadi aku menemaninya." Akhirnya Renata yang menjawab, meskipun ucapannya terdengar ambigu, setidaknya menghilangkan kecurigaan sang kakek. 


Dua jam yang lalu di kamar Renata dan Bagas. 


Usai makan, Renata kembali ke ranjang, rasa nyeri yang belum hilang membuatnya malas melakukan apapun dan memilih berbaring sambil memainkan ponsel. 


Bagas pun menyudahi makannya. Meskipun itu hari bahagianya, sebagai seorang atasan, ia tetap mengecek perkembangan kantor yang beberapa hari ini diurus oleh sang asisten. 


Lelah berbaring, Renata pindah posisi memiringkan tubuhnya ke arah Bagas. Tanpa sengaja tangannya menyentuh sesuatu yang ada di balik celana pendek sang suami. 


"Maaf, aku tidak sengaja," ucap Renata jujur, namun itu adalah kesempatan bagi Bagas untuk menggoda Renata. 


"Tapi dia menuntut, dia meminta pertanggung jawaban dari kamu." 


Bagas memelas. Meletakkan tangan Renata di dadanya yang tertutup kaos berwarna putih. 

__ADS_1


"Masa sih, cuma gitu aja minta pertanggung jawaban, memangnya dia sangat penting?"


Bagas mendekatkan wajahnya di ceruk leher Renata. Mulai mencium, memberikan tanda lagi di bagian sana. 


"Itu senjata satu-satunya yang paling ampuh, Sayang. Jangan remehkan dia." 


Bagas tak berhenti, tangannya mulai terampil menyentuh bagian tubuh Renata yang ia suka. 


"Tapi, kan __" 


Ucapan Renata mengambang saat Bagas mendaratkan bibirnya di bibir sang istri. 


Ponsel yang ada di tangannya kini sudah teronggok di atas sprei, mengenaskan dan tak ada artinya lagi. 


Hanya praktek sekali saja Bagas sudah lihai membawa Renata terbang melayang. Meskipun masih merasakan nyeri, nyatanya seluruh tubuh Renata merespon sentuhan dari Bagas. 


Bagas semakin menggila, ia tak perlu lagi persetujuan dari Renata. Tubuh yang kini ada di bawahnya adalah miliknya sendiri. Lagi-lagi mereka menghentikan aktivitasnya. Bukan karena ketukan pintu, melainkan dering ponsel milik sang istri. 


Renata mengambil ponsel yang ada di sampingnya lalu membukanya, itu adalah pesan dari kakek Liam yang ingin bertemu dengannya. 


"Siapa?" tanya Bagas. 


"Dari kakek, dia ingin kita ke kamarnya sekarang," jawab Renata. 


Bagas mengambil alih ponsel Renata. 


Sebentar Kek. Kami lagi duel.


Bagas membalas pesan dari kakek Liam yang membuat pria tua itu geleng-geleng. 


"Dasar cucu nggak ada akhlak." Mengira jika Renata lah yang membalas pesannya. 


Di kamar Kakek Liam saat ini


 


Kenapa harus ada mas Derya dan Gina di sini. Kalau tahu begini, mendingan aku nggak datang sekalian. 


"Ada apa kakek memanggil aku dan mas Bagas ke sini?" tanya Renata, wajahnya sedikit memerah karena malu. 


Kakek Liam menepuk sofa kosong. Memberi kode Renata untuk mendekat. 


Pengantin baru itu duduk bersanding berhadapan dengan Derya dan Gina yang ada di seberang meja. 

__ADS_1


"Kakek ingin kamu," menatap Renata yang ada di samping nya. "dan Gina akur. Kalian itu saudara, tidak baik jika saling berselisih."


Renata melirik ke arah Gina. Tak seperti biasanya yang nampak ketus, kali ini Gina terlihat lebih santai. 


__ADS_2