Bukan Sebatas Impian

Bukan Sebatas Impian
Jahilnya ibu hamil


__ADS_3

Apa yang ditakutkan Akio dan mondi akhirnya terjadi juga. Kehamilan Renata membawa berkah, tapi juga membawa musibah bagi dua pengawal itu. Cucu sang konglomerat tak henti-hentinya memberi mereka pelajaran. Bukan sengaja, Renata memang sangat menginginkannya. Jika tidak kesampaian pasti mual dan muntah. 


"Ayo dong, Om," pinta Renata yang terus mendorong Akio dan Mondi untuk senam ala ibu-ibu. Semenjak hamil, Kakek Liam meminta Renata memanggil bodyguardnya dengan sebutan itu. 


Renata menyalakan musik dj dengan keras. Bersiap untuk menyaksikan aksi kedua pengawal itu. Hatinya tak sabar melihat Akio dan Mondi lenggak-lenggok di depannya. 


"Bagaimana cara menggerakkan tubuh seperti di tv itu? Derajat kita benar-benar dijatuhkan oleh Cicit marga Nicholas," gumam Akio yang masih bisa didengar Mondi. 


Wajah keduanya menciut, ia bagaikan topeng monyet yang di tampilkan di depan umum. 


"Tapi Nona, kami tidak bisa senam," ucap Akio ragu. Sebab, ia sudah yakin itu pun tidak akan menyurutkan keinginan Renata. 


Mondi berlutut di depan Renata. 


"Tuan muda, ampuni kami. Kami berjanji akan melindungi ibu Anda dengan baik, tapi hentikan hal konyol ini. Jika Anda ingin membalaskan dendam atas apa yang kami perbuat, kami siap melakukan apapun, kecuali berjoget."


Bagas menahan tawa. Jangankan Mondi dan Akio, dirinya pun mulai merasakan imbasnya ngidam Renata yang di luar ekspektasi. 


Jika kebanyakan ibu hamil itu menginginkan makanan yang aneh, tidak bagi Renata yang malah menyuruh orang di sekelilingnya melakukan hal yang konyol seperti saat ini. 


Renata mengetuk-ngetukkan dagu seperti memikirkan sesuatu. Entah itu apa, Mondi dan Akio hanya berdoa semoga Renata membatalkan perintahnya. 


"Sayang, kita masuk yuk! Cuaca diluar panas." Bagas merayu sang istri dengan lembut, berharap mengurungkan niatnya. 


Renata menatap langit yang sedikit redup. Ia bukan anak kecil yang mudah ditipu, namun ibu hamil yang lagi ngidam. 


"Mau sampai kapan kamu terus membohongiku, ini mendung." Renata menunjukkan jarinya ke atas, tak hanya Bagas, semua orang pun ikut mendongak.


"Ayo dong, Om. Sekali saja, setelah ini aku nggak akan minta lagi." Renata terus mendesak sang bodyguard untuk melakukan perintahnya. Ralat, permintaan anaknya. 


Musik kembali diputar. Akio dan Mondi berdiri bersejajar menghadap ke arah Renata. Menatap layar yang diperlihatkan gaya senam aerobik yang diperagakan oleh ibu-ibu. 


Berawal dari gerakan kaki berjalan di tempat, kemudian disusul gerakan tangan dan kepala, tak lupa menggerakan pinggul yang membuat Renata terbahak. Sangat lucu, gerakannya yang kaku membuat Renata tak berhenti menertawakannya. Apalagi Akio, tubuhnya yang terlalu kekar membuat gerakannya sedikit lambat dan Tertinggal. Meskipun begitu, mereka tetap menirukan seperti yang ada di layar.


Meskipun sedikit tak sesuai, Mereka menyelesaikan misi dengan baik dan lancar. Setelah musik berhenti, Akio menghempaskan tubuhnya di lantai. 

__ADS_1


"Terima kasih, Om," ucap Renata diiringi senyum kecil. Tanpa merasa bersalah wanita itu langsung masuk rumah tanpa permisi. 


Baru beberapa menit duduk di ruang keluarga, Akio datang menghampirinya. 


"Ada apa lagi?" tanya Bagas


 Akio mengatur napasnya yang sedikit tersendat karena kelelahan. 


"Maaf, Tuan. Ada wanita yang bernama Karin ingin bertemu dengan Nona Renata." 


"Suruh saja dia masuk." Renata yang menjawabnya dengan antusias. Semenjak akur, ini pertama kali Karin datang ke rumahnya. Saat ini Renata tinggal di rumah Bagas. Namun, kakek Liam maupun Bu Nurmala sering datang untuk menjenguknya dan membawakan banyak oleh-oleh, khususnya yang menyangkut kehamilannya. 


Karin berjalan pelan menghampiri Renata. Wanita itu membawa rantang di tangannya. Keangkuhan yang pernah ditanam kini musnah. Seperti halnya Renata yang hamil, perut Karin kian membuncit. Kandungan yang berumur dua puluh delapan minggu membuatnya lebih semangat beraktivitas. 


"Kak Karin datang dengan siapa?" tanya Renata mendekati sang sepupu yang masih mematung di samping sofa. 


"Sendiri, aku naik ojek," jawabnya menatap setiap sudut ruangan yang sangat mewah. Hiasan-hiasan dinding yang sangat indah, perabot rumah tangga yang serba mahal yang membuatnya kagum.


"Aku bawa makanan untuk kamu." Menyodorkan rantang yang ada di tangannya. Akio dan Mondi kembali mendekat. Kali ini mereka nampak serius merebut rantang yang ada di tangan Renata. 


"Maaf Nona, Anda tidak boleh memakan sembarangan," ucap Akio dengan tegas. 


"Maaf, tidak bisa. Makanan yang anda makan harus dari kami atau keluarga Tuan Bagas, bukan yang lain." 


Renata berdecak kesal, tak henti-hentinya Akio dan Mondi terus mengganggunya seperti anak kecil. 


Renata berjalan menuju belakang. Menghampiri kakek Liam yang santai di teras samping rumah.


"Maaf Kek mengganggu," kata Renata dengan lugas.


"Ada apa? Apa cicit Kakek juga ingin membalas kakek?" 


"Tidak, Kek. Aku hanya mau minta izin makan masakan Kak Karin."


"Karin, siapa dia?" tanya kakek Liam. Lupa-lupa ingat dengan nama yang pernah disebut Akio. 

__ADS_1


"Dia sepupu aku. Anak saudaranya Ibu." 


Kakek Liam pikir-pikir, tak mau gegabah dalam mengambil keputusan. Keselamatan Renata menjadi nomor satu di antara urusan lainnya. 


"Apa dia baik padamu?" tanya kakek menyelidik. 


"Dulu nggak, tapi sekarang dia sangat baik kek. dia menyayangiku seperti kakek."  


"Tapi, Re. Makanan di sini banyak, ngapain harus dari luar?" 


"Kek, aku harus menghargai pemberian Kak Karin. Dia itu hamil besar loh, dan masih sempat-sempatnya bawain makanan untuk aku, kasihan kan kalau disuruh bawa pulang." 


Kakek menghela napas panjang. Ia tak bisa menolak permintaan sang cucu. 


"Baiklah, Kamu boleh makan, tapi biar dicoba Akio dan Mondi dulu." 


Ya ampun kakek, nggak mungkin kan kak Karin ngeracunin aku, ngapain pake dicoba mereka segala, membingungkan. 


Renata masuk. Membuka rantang pemberian Karin. Seperti perintah sang kakek, ia mengambil sedikit nasi serta lauknya dan diberikan pada Akio dan Mondi, setelah terbukti aman, Renata langsung menyantapnya  bersama Bagas. Ada senyum yang terbit di bibir Karin. Meskipun sedikit tersinggung dengan sikap keluarga Renata, setidaknya makanan itu dimakan. 


"Kakak nggak ikut makan?" tanya Renata saat menyuapi Bagas. 


"Nggak usah, tadi aku sudah makan di rumah." 


"Maaf atas kejadian tadi, kakek tidak bermaksud menyinggung kakak. Dia hanya khawatir." 


Karin tersenyum. "Nggak papa, maklum kamu kan orang kaya.c


"Oh iya Kak, gimana dengan bayi kakak, apa dia baik-baik saja?" 


Karin mengelus perutnya yang terus bergerak. "Iya, dia baik-baik saja, setelah bayiku lahir, rencananya aku mau menikah." 


"Sama siapa? Apa dia mencintai Kakak dengan tulus? Mencintai keadaan kakak apa adanya? Apa dia mau merawat anak Kakak?" 


"Sebenarnya aku tidak mencintainya, tapi dia terlihat tulus padaku. Dia selalu menemaniku kemanapun aku pergi. Dia juga menjagaku dan merawatku. Aku akan berusaha mencintainya seperti dia mencintaiku." 

__ADS_1


Kasihan dia, laki-laki macam apa yang sudah tega meninggalkannya. Bagas hanya bisa mengucap dalam hati. 


"Selamat ya, Kak. Semoga persalinan Kakak lancar, dan bayi kakak mendapatkan ayah yang baik."


__ADS_2