Bukan Sebatas Impian

Bukan Sebatas Impian
Luluh


__ADS_3

"Aku tidak ingin bertemu kakek?" tolak Renata ketus. Entah berapa kali Bagas membujuknya, tapi tetap saja tak bisa melunakkan hati seorang Renata Nicholas. 


"Tapi, Sayang, dia itu kakek kamu. Dia sudah meminta maaf. Orang lain saja kamu maafkan, masa kakek sendiri tidak?" 


Untuk yang kesekian kali Renata menyeka air matanya. Dari lubuk hati yang terdalam, ia pun tak ingin membenci sang kakek, tapi kenyataannya kakek Liam adalah penjahat yang terselubung. 


"Tapi kakek sudah jahat sama kita. Dia ingin menghancurkan kita. Aku nggak tahu apa yang terjadi kalau sampai aku ini bukan cucunya, pasti dia akan melakukan lebih parah, Mas." 


Renata bergetar menahan tangis. Jika mengingat gedung yang terbakar dan  cafenya yang hampir hancur, rasa sakit itu tak akan hilang, tapi tak sepantasnya juga Renata memenangkan egonya. 


"Tolong buka hati kamu, kakek Liam sudah tua, mungkin itu adalah kesalahan terakhirnya, jangan sampai kamu menyesal," tutur Bagas dari hati. 


Renata mencerna kalimat yang meluncur dari bibir Bagas. 


"Baiklah, aku akan bertemu kakek dan memaafkannya kalau Akio dan Mondi menjemputku." 


Renata meredakan hatinya yang masih diselimuti rasa emosi. Bagas memeluknya, memberikan kehangatan yang tidak akan diberikan oleh orang lain.


Setelah pulang dari rumah kakek Liam, jantung Renata terus berdetak dengan kencang. Ia tak bisa melakukan aktivitas apapun. Entah kenapa, saat ini bayangannya hanya ada wajah kakek Liam. 


Jika kakek benar-benar minta maaf, kenapa dia tidak menghubungi ku? Kenapa dia tidak menyuruh Akio dan Mondi untuk menjemputku, atau dia hanya pura-pura menyayangiku? tanya Renata dalam hati. 


Hampir dua jam berbaring di atas ranjang, mata Renata tak bisa terpejam, malam semakin larut, namun hati Renata semakin gelisah. Turun dari ranjang dan membuka gorden kamarnya. Menatap lampu berkelip menghiasi beberapa gedung yang terlihat dari balkon. 


Aku tidak menyangka, kenapa Kakek setega itu, meskipun waktu itu belum tahu kalau aku cucunya, seharusnya dia punya hati nurani. 


Otak Renata tak henti-hentinya memikirkan keadaan kakek Liam. dengan aku saja dia seperti itu, apalagi dengan lawan bisnisnya, pasti lebih parah. 

__ADS_1


Renata mengelus perutnya yang mulai membuncit. "Anak mama, meskipun kamu keturunan keluarga Nicholas, tapi sifatmu tidak boleh seperti kakek, kamu harus seperti papa. Dia sangat baik. Maafkan mama." 


Sebuah permintaan yang sederhana, kaya raya dan berkuasa tidak sepenuhnya membersihkan hati, bahkan terkadang itu adalah jalan seseorang yang ingin meruntuhkan lawan. Renata menutup gorden kembali. Menatap Bagas yang terlelap. Wajahnya yang teduh, seorang laki-laki yang langsung menerima dirinya tanpa ingin tahu latar belakangnya. Seorang lelaki yang begitu baik menerimanya hanya karena sebuah cinta. Bukan karena kekayaan semata. 


Akhirnya Renata ikut memejamkan mata di samping Bagas. 


Jam sudah menunjukkan pukul 03.00. Namun, Renata masih belum bisa tidur, hatinya semakin gelisah dan cemas. Seakan ada sesuatu yang menjanggal, tapi ia pun tak mengerti. 


Saking kesalnya, Renata meraih ponsel yang ada di nakas. Ia melihat layar, hanya ada beberapa pesan dari Sena yang mengatakan ingin bertemu Dengannya. Ingin menjalin hubungan yang lebih dekat lagi dan ingin belajar dari Renata. Selain itu, tidak ada lagi pesan atau telepon dari orang lain. 


Kenapa Kakek tidak menghubungi ku. seharusnya dia bilang lewat telepon, pasti aku akan memaafkannya, Kenapa hanya tadi saja. Kalau aku menelponnya, nggak ah.


Renata meletakkan ponselnya. Mengurungkan niat ingin bicara dengan sang kakek. Ia menarik selimut hingga menutupi separuh tubuhnya, lagi-lagi wajah Kakek Liam melintas membuatnya tak bisa terlelap. 


"Aku harus ke rumah kakek. Aku harus memastikannya kalau dia tidak apa-apa." Rasa khawatir menyeruak membuat Renata panik.


Renata menggoyang-goyangkan lengan Bagas, membangunkan pria itu dengan lembut. "Ada apa, Sayang? Apa kamu butuh sesuatu?" tanya Bagas dengan suara berat. Matanya masih menyipit saat terkena silau lampu. 


"Mungkin kamu terlalu memikirkan kakek saja. Tidak apa-apa kok, dia pasti akan sadar menunggu maaf dari kamu.".


"Tapi aku ingin ketemu kakek, Mas. Aku ingin ke rumahnya."


Menjaga Renata tak semudah menjaga dirinya sendiri, bahkan Renata adalah harta yang paling berharga di mata kakek Liam. Bagas membuka lemari. Mengambil dua jaket yang sama. 


Memakaikannya di tubuh Renata. Keduanya keluar dari rumah tanpa pamit pada Bu Amara. 


Langit masih sangat gelap. Beberapa bintang berkelip menghiasi langit, bagaikan menenangkan binatang yang nampak gelisah. Wanita itu tak bisa diam. Sorot matanya sangat nanar. Menunjukkan kalau hatinya sedang sedih memikirkan. 

__ADS_1


"Kamu jangan khawatir, aku yakin Kakek Liam baik-baik saja. Mungkin saja dia memberimu waktu untuk berpikir. Tidak mau mengganggumu."


"Tapi ini bukan sikap Kakak Liam, Mas. Semarah apapun, dia tidak mungkin mendiamkan aku. Seharusnya dia menghubungi ku, paling tidak menyuruh om Akio dan om Mondi ke sini, tidak seperti ini?


Bagas mengelus pucuk kepala Renata dengan lembut. "Tenang Sayang aku yakin kakek baik-baik saja." 


setelah mobil berhenti di depan rumah kakek Liam, Renata langsung turun tanpa menunggu Bagas. Ia berlari masuk rumah. Ruangan satu-satunya yang ia tuju adalah kamar Kakek Liam yang ada di lantai satu. 


"Kakek…" teriak Renata sambil mengetuk-ngetuk pintu kamar yang tertutup rapat. Lampu menyala remang, tidak ada siapapun di sana. Beberapa pengawal pun sepi, hanya ada satpam yang tertidur di pos. Renata pergi ke belakang. Seorang pembantu sedang sibuk merapikan beberapa piring. 


"Kakek di mana? Apa dia belum bangun?" tanya Renata mulai menangis. Menggeleng, Iya Bu memegang sebuah amanat besar yang tidak bisa dikatakan sembarangan.


"Kenapa bibi menggeleng. Kakek di mana? Bukankah dia ada di kamar?"


"Maaf, Nona. Saya tidak bisa mengatakannya. 


"Ada apa ini? Ayolah, Bi. Aku ingin bertemu dengan kakek. Aku ingin minta maaf karena kemarin sudah pergi tanpa pamit."


tak tak tak 


Dentuman sepatu dan lantai semakin menggema. Renata berlari keluar. Ternyata itu adalah Akio yang baru turun dari lantai dua. 


"Om, Kakek di mana?" tanya Renata menghampiri Akio yang sudah berada di tangga paling bawah. Pria itu menunduk seolah-olah ada sesuatu yang disembunyikannya. 


"Ayolah, Kakek di mana, apa diam aja di kamar."


"Apa Nona mau memaafkan kakek Liam jika saya mengatakan keberadaannya?" Renata mengangguk cepat lalu menghela nafas panjang. Berat, antara menyimpan amanah dan membantu Renata, kini Akio nampak kebingungan.  

__ADS_1


"Tuan Liam ada di rumah sakit." 


Bak petir menyambar, tubuh Renata lemas seketika. Dari arah pintu, Bagas berlari dengan cepat, menopang tubuh istrinya yang hampir ambruk. 


__ADS_2