Bukan Sebatas Impian

Bukan Sebatas Impian
Kembalinya Andara


__ADS_3

Jerry keluar dari kamarnya setelah mendengar pintu depan diketuk, ia masih memakai handuk yang melilit di pinggang dengan telanjang dada. Jam sudah menunjukkan pukul tujuh malam. Seharusnya itu adalah jam istirahat setelah seharian penuh sibuk bergulat dengan pekerjaan. 


"Lebah pengganggu," gerutunya saat suara ketukan itu semakin memburu. 


Sebelum membuka pintu, ia merapikan rambutnya yang masih basah karena tak sempat mengeringkannya. 


Ceklek


Pintu terbuka sebatas ukuran kepalanya. Ia memastikan siapa yang datang. 


"Ngapain kamu ke sini?" tanya Jerry ketus. 


Seorang gadis cantik, rambut panjang terurai dengan memakai dress selutut serta make up natural itu tersenyum manis. Dia adalah Andara, pacar Jerry yang kembali beberapa bukan yang lalu.  


Wanita itu diam menatap wajah Jerry yang masih dipenuhi dengan buliran air yang semakin menambah ketampanannya. Itu yang membuatnya rindu pada laki-laki khas dengan angkuhnya tersebut. Sangat menantang untuk ditaklukkan.


"Apa kamu tidak mau menyuruhku masuk?" tanya Andara lembut. Bersikap seperti apapun Jerry, ia tetap menanggapinya dengan santai dan ramah. 


Jerry menatap tubuhnya bagian bawah lalu menatap Andara dengan tatapan intimidasi. Otaknya berimajinasi dnegan sesuatu yang belum pernah ia lakukan.


"Aku tidak melayani tamu, jadi sekarang lebih baik kamu pulang saja."


Hampir saja Jerry menutup pintu, tangan Andara segera mendorongnya hingga kini terbuka lebar dan menampakkan tubuh tegak Jerry Permana, sekretaris Bagas Ankara dari PT Ankara grup. 


Andara menelan ludahnya dengan sudah payah membayangkan apa yang ada di dalam kain putih itu. Ia masuk dan duduk tanpa dipersilakan, mengusir jiwa liarnya dan kembali bersikap serius.


Jerry menutup pintu dan mematung, ia melipat kedua tangannya, memamerkan tubuh atletisnya yang sangat mempesona. 


"Andara, sudah berapa kali aku bilang, kita tidak punya hubungan lagi, jadi silahkan keluar sebelum aku melakukan lebih," ujar Jerry kasar. 


Jika ingat kepergian Andara, kelembutan yang ada di dirinya itu lenyap dan berganti dengan kekasaran bak iblis. 


Andara diam, ia menatap foto Jerry yang terpajang di dinding samping pintu kamarnya. Telinganya tak mengindahkan suara Jerry. Baginya saat ini bisa melihat wajah pria itu sudah cukup mengobati rasa rindu yang menggebu. 


"Jer, kamu harus tahu kalau aku cinta sama kamu," ucap Andara meyakinkan. Mencoba membuat Jerry melupakan peristiwa itu.


Jerry menyunggingkan bibirnya. Ia tak percaya ucapan Andara semanis madu. Goresan luka itu masih membekas membuat Jerry tak bisa melupakan rasa sakit yang diciptakan gadis itu. 


Mereka berpacaran selama dua tahun. Namun, harus berpisah saat Andara menghilang bagaikan ditelan bumi. Tanpa pamit dan tanpa kabar. Jerry terpuruk dan memilih melalui waktu dengan bekerja untuk melupakan semuanya. Akhirnya Jerry bisa bangkit. Akan tetapi, Andara muncul kembali tanpa memberi alasan yang jelas.

__ADS_1


"Apa kamu tahu apa itu cinta?" tanya Jerry lantang. 


Hening, Andara menundukkan kepalanya. Ia merasa bersalah pada Jerry, namun juga tak bisa memutar keadaan dan mengulang semuanya. 


"Kalau kamu tahu apa itu apa itu cinta, katakan sekarang!" bentak Jerry. 


Andara memejamkan matanya. Cairan bening luruh membasahi pipi mulusnya. Minta maaf saja tak cukup menebus apa yang pernah ia lakukan. Namun, Andara tak bisa berbuat apa-apa selain menerima amukan dari pria itu. 


"Aku minta maaf." Andara menangkupkan kedua tangannya. Ia mendongak menatap wajah Jerry yang masih nampak pias. 


"Sekarang lebih baik kamu keluar, jangan pernah kesini lagi." Jerry membuka pintu depan. 


"Kau mengusirku?" 


"Iya," Jawab Jerry singkat, ia tak mau menatap wajah Andara yang memelas. Takut tergoda dengan kepolosan yang menurutnya penuh kepalsuan. 


Andara beranjak mendekati Jerry, tanpa izin ia memeluk tubuh kekar sang pacar yang mematung di samping sofa, aroma sabun menyeruak masuk ke rongga hidungnya hingga membuat rasa nyaman. 


"Andara, lepaskan!" sergah Jerry pelan, namun tegas. 


Andara menggeleng, ia menautkan kedua tangan di punggung Jerry, menyandarkan kepala di dada bidangnya. 


Jantung kamu berdetak lebih cepat, itu artinya kamu kamu masih cinta sama aku.


Meskipun dingin dan angkuh, Andara selalu bisa melunakkan hati Jerry yang sekeras batu. Namun, kini ia harus berjuang untuk mendapatkan cinta pria itu kembali setelah sekian lama berpisah. 


"Ra, sekarang kamu pulang atau kamu bakal tidak perawan lagi," ancam Jerry, juniornya hidup dengan sempurna. Entah, setiap bersama Andara, ia tak bisa menahan hasratnya. 


Andara tersenyum kecil. 


"Bagaimana kalau aku pilih yang kedua," jawab Andara yakin, "Jika itu bisa membuatmu memaafkan aku. Kenapa tidak?" lanjutnya yang semakin membuat Jerry kehabisan kata-kata. 


Jerry mendengus, ia tak tahu lagi harus dengan apa membujuk Andara untuk pergi darinya. Pasalnya sudah beberapa cara ia lakukan namun terus saja gagal, bahkan sepertinya Andara semakin mendekat padanya. 


"Ra, kalau ada yang lihat gimana? Nanti orang mengira aku apa-apain kamu," imbuh Jerry.


"Nggak apa-apa. Itu bagus dong, paling kita digerebek terus dinikahkan," balas Andara santai. 


Terpaksa Jerry membalas pelukan gadis itu. Dari lubuk hati yang terdalam, Jerry juga masih mencintainya, hanya saja kesalahan Andara sangat besar untuk bisa dimaafkan. 

__ADS_1


Ceklek 


Pintu depan dibuka dari luar. Jerry dan Andara menoleh ke arah sumber suara, keduanya membulatkan mata saat melihat siapa yang datang. 


"Pak Bagas," seru Jerry mendorong tubuh Andara ke arah sofa hingga gadis itu terhempas. 


Bagas menatap Jerry dengan tatapan selidik. Lalu beralih menatap Andara yang mengelus punggungnya. Melihat kasarnya Jerry saat mendorong, pasti rasanya  sakit sekali. 


"Ini tidak seperti yang bapak lihat, aku dan Andara __"


Bagas mengangkat tangan memotong ucapan Jerry yang nampak gugup dan takut. 


Kenapa bisa begini si. Ngapain juga pak Bagas datang malam-malam.  


"Pak, biar aku jelaskan dulu, ini __" 


Bagas menatap Jerry dengan tatapan intens memberi kode untuk diam. Otaknya terus berputar menerka-nerka kejadian belum dirinya datang.


"Ra, kamu nggak papa, kan?" tanya Bagas menyelidik. 


Andara menggeleng tanpa suara. Tangannya masih sibuk mengelus pinggangnya yang nyeri. 


"Aku pakai baju dulu."


Jerry masuk ke kamarnya, ia menutup pintu dengan keras sehingga menimbulkan suara. 


Andara beralih duduk di sisi Bagas. 


"Bagas, tolongin aku," pinta Andara memohon. 


"Tolong apa?" 


"Tolong bujuk Jerry untuk menerimaku lagi, katakan padanya kalau aku tidak pernah selingkuh darinya. Katakan juga kalau kepergianku itu bukan karena laki-laki lain, tapi karena urusan keluarga." 


"Kenapa kamu tidak bilang sendiri?" 


Andara menunduk.


"Aku tidak berani, Jerry terlanjur marah padaku, cuma kamu satu-satunya orang yang bisa membuatnya bertekuk lutut." 

__ADS_1


"Baiklah, aku akan coba bicara padanya, sekarang kamu pulang."


Andara segera angkat kaki dari apartemen Jerry dan berharap mendapat kabar baik dari Bagas. 


__ADS_2