
Keenan menatap Siska dengan tatapan mata penuh cinta.
Hatinya saat ini dipenuhi oleh kupu - kupu dan bunga - bunga yang bermekaran.
" Sampai kapan kamu ingin menatapku seperti itu ", ucap Siska datar.
" Hari ini aku bahagia banget....akhirnya kamu mau menerima lamaranku " , ucap Keenan dengan tatapan memuja.
" Aku menerimamu hanya demi mamiku. Jangan konyol ", ucap Siska sinis.
" Tidak masalah, yang jelas sebentar lagi kamu akan menjadi istriku " , ucap Keenan bahagia.
" Cepat habiskan makananmu, masih banyak hal yang harus kita bicarakan " , ucapnya masih dengan raut muka datar.
" Ok sayang....", ucap Keenan yang langsung melahap makanan yang ada didepannya.
" Untung saja makanan disini enak, jika tidak, sudah aku tinggalkan kamu sejak tadi " , batin Siska kesal.
Pandangan mata Siska yang tajam terhadapnya tidak menghentikan Keenan untuk berhenti tersenyum.
Semakin Siska marah, semakin dia kesal, Keenan semakin sayang kepadanya.
Siska pun mulai berpikir bagaimana bisa waktu kecil dulu dia begitu memuji makhluk absurd yang ada didepannya itu, meski diakuinya bahwa Keenan itu tampan dan gagah.
Tapi untuk sikapnya....sangat tidak bagi Siska.
Mereka makan tanpa kata, hanya kesunyian yang menyelimuti.
Jika Keenan bisa makan dengan santai dan tenang sambil terus melancarkan senyum mautnya yang tak berarti apa - apa itu.
Namun tidak dengan sahabatnya. Devian yang mengamati dan melihat gerak - gerik mereka dibuat spot jantung setiap kali Keenan bersuara.
Dia selalu berharap semoga sahabatnya itu tidak berkata dan melakukan hal bodoh yang dapat membuat Siska marah.
Siska yang sudah menghabiskan makanannya lebih dulu memilih untuk memgecek emailnya sambil menunggu Keenan selesai makan.
Tidak ingin memperburuk susana, Keenan pun segera menghabiskan makanannya.
Sebenarnya dia cukup penasaran dengan tujuan Siska mengajaknya bertemu malam ini.
" Bagus....tidak ada kendala " , batin Siska senang.
Dia cukup bangga dengan anggota timnya yang bisa diandalkan dalam menyelesaikan semua permasalahan yang ada diperusahaan.
Apalagi sekarang ada Adrian yang membantunya, tentu hal tersebut membuat hati Siska semakin tenang.
Menyadari bahwa Keenan sudah menyelesaikan makanannya dan sedang menatapnya dengan tatapan memuja, Siska segera meletakkan ponselnya diatas meja.
Tidak ingin membuang waktu lagi, Siskapun segera mengutarakan maksud dan tujuannya mengajak Keenan bertemu malam ini.
Keenan sedikit terkejut dengan ucapan yang keluar dari mulut gadis itu.
__ADS_1
Meski dia tahu bahwa gadis itu mau menikah dengannya karena demi menyelamatkan maminya, tapi dia sama sekali tidak menyangka kalau Siska akan mengajukan beberapa syarat yang sangat tidak masuk akal baginya.
Lelaki tersebut diam sebentar sambil berusaha untuk mencerna kembali semua perkataan Siska dengan kepala dingin agar apa yang nantinya diputuskannya tidak akan merugikannya.
" Baiklah..., aku menerima semua persyaratanmu ", ucap Keenan tenang setelah sejenak berpikir.
" Tapi aku juga punya satu syarat ", ucapnya tersenyum licik.
" Apa ? ", tanya Siska datar.
" Jika dalam waktu dua tahun aku bisa membuatmu jatuh cinta, maka kamu harus berjanji untuk tidak akan pernah meninggalkanku dan bersedia menjadi ibu dari anak anakku seutuhnya ", ucap Keenan tersenyum puas.
Siska sempat terdiam dan berpikir sejenak mengenai persyaratan yang Keenan ajukan terhadapnya.
" Cukup percaya diri juga dia " , batin Siska sinis.
Setelah ditimbang sana - sini dan dirasa bahwa hal tersebut tidak merugikan dirinya maka disanggupinya persyaratan tersebut.
" Deal....", ucap Siska langsung menjabat tangan Keenan yang terlihat tersenyum lebar.
" Satu permasalahan telah teratasi, sekarang tinggal persiapan pernikahan " , batin Keenan bahagia.
Setelah menyelesaikan makan malam itu mereka segera meninggalkan restoran dan pulang dengan mobil masing - masing.
Jika Siska malam ini bisa tidur nyenyak karena semuanya sudah bisa teratasi, namun lain hal nya dengan Keenan yang malam ini sepertinya akan sulit untuk tidur karena luapan kebahagiaan yang dia rasakan.
Apa yang dirasakan oleh Keenan juga dirasakan oleh Rosalie dan Bagus malam ini saat melihat rekaman video lamaran yang dikirimkan Devian kepadanya.
" Siapa dulu dong papinya ", ucap Bagus bangga.
" Memang kapan papi romantis sama mami ?" , ucap Rosalie sinis.
" Waktu pertama kali bertemu kamu kan aku juga ngasih bunga mawar kekamu " , ucap Bagus mengingatkan.
" Oh....bunga mawar yang nemu di jalan itu " , ucap Rosalie sebal saat mengingat pertama kali dia bertemu dengan Bagus dan memberinya bunga mawar yang baru saja dia buang ketempat sampah.
" Masih ingat ternyata...",ucap Bagus sambil mengaruk kepalanya yang tidak gatal.
Melihat istrinya melotot Bagus mengaruk tekuknya dengan canggung dan langsung menarik selimut untuk tidur.
Rosalie yang sebal dengan tingkah laku Bagus akhirnya ikut tidur dengan membelakangi suaminya.
Pagi itu semua orang terlihat cukup cemas menunggu Adelia selesai dioperasi.
Frans yang sangat khawatir dengan kondisi sang istri terlihat berjalan mondar - mandir di depan ruangan menunggu pintu ruang operasi tersebut terbuka.
Begitu juga dengan Bagus dan Keenan yang hari ini juga sedang menunggu maminya dioperasi bersama Adelia.
Sedangkan Siska yang terlihat khawatir dan sedih berusaha ditenangkan oleh Adrian dengan cara mengenggam erat kedua tangannya.
Melihat pemandangan itu, Keenan yang duduk didepan Siska hanya bisa mengepalkan kedua tangannya.
__ADS_1
Rahangnya terlihat mulai mengeras menahan amarah saat tanpa sadar Siska mulai menyandarkan kepalanya dibahu Adrian.
Api cemburu mulai berkobar dimatanya, ingin rasanya dia berdiri dan menghajar Adrian sekarang juga.
Namun dalam kondisi seperti sekarang ini, hal tersebut tidaklah mungkin untuk dilakukannya.
Devian yang melihat sahabatnya itu dipenuhi oleh api cemburu menepuk pelan pundak sahabatnya berusaha untuk menenangkannya.
Setelah hampir lima jam menunggu, akhirnya ruang operasi terbuka.
Semua orang segera berdiri dan menunggu dengan cemas perkataan dokter yang ada didepan mereka.
" Operasi berjalan dengan lancar, sekarang kondisi pasien dan pendonor lagi dalam taraf pemulihan pasca operasi " , ucap dokter tersebut ramah.
Semua orang akhirnya bisa bernafas dengan lega setelah mendengar kabar baik itu.
Keenan yang mendengar kabar maminya baik - baiknya segera beranjak dari ruangan yang seakan menyesakkan dada.
Diapun berjalan dengan cepat untuk mereda hatinya yang cukup panas melihat Adrian memeluk Siska dengan erat.
Devian yang melihat kepergian Keenan dengan amarah segera berjalan menyusulnya.
"Kamu harus bisa menahan emosimu...", ucap Devian berusaha menenangkan Keenan setibanya diluar rumah sakit.
" Sudah dari tadi aku menahan diri, jika tidak...sudah habis dia ", ucap Keenan marah.
Melihat api cemburu yang berkobar dimata sahabatnya tersebut belum redup, Devian segera mengajak Keenan untuk pergi membeli minuman agar kepala sahabatnya tersebut kembali dingin.
Dan disinilah mereka berdua berada, disebuah café yang tidak jauh dari rumah sakit sambil menyeruput kopi yang ada didepannya.
" Bagaimana persiapan pernikahanmu ", tanya Devian untuk mencairkan situasi yang ada.
" Semua diurus sama mami. Siska sama sekali tidak mau direpotkan untuk mengurusi acara tersebut ", ucap Keenan sedih waktu mengingat bahwa Siska memasrahkan semuanya kepada keluarga Keenan.
" Aku membuat perjanjian dengannya, jika dalam waktu dua tahun aku bisa membuatnya jatuh cinta kepadaku, maka kita tidak akan berpisah. Namun jika tidak, maka kita sepakat untuk bercerai " , ucap Keenan sedih.
" Dan kamu menyanggupinya ", tanya Devian penasaran.
" Ya...aku tidak punya pilihan lain malam itu " , ucapnya dengan wajah murung.
" Mudah saja kalau begitu, buat dia hamil, selesai urusan " , ucap Devian tersenyum.
" Masalahnya, selama aku belum bisa membuatnya jatuh cinta maka tidak ada kontak fisik diantara kita " , ucapnya dengan lesu.
" Kalau begitu ciptakan ", ucap Devian memberi ide.
" Bagaimana...", ucap Keenang penasaran.
" Nanti aku pikirkan caranya. Kamu tenang saja ", ucapnya sambil menepuk pundak sahabatnya agar sedikit rileks.
" Sekarang persiapkan pesta pernikahanmu sebagus dan semeriah mungkin. Karena kalian adalah raja dan ratu malam itu. Jadi jangan sampai buat dia kecewa ", ucap Devian memberi semangat.
__ADS_1