
“ Akhirnya dia bergerak juga setelah lima tahun….”, guman Alexander sambil menautkan kedua alisnya menatap tajam kedepan.
Dihadapannya ada seorang wanita muda dengan perut membuncit sedang bermain dengan seorang anak laki – laki yang tampan dengan riang gembira.
Alexander sudah menduga sebelumnya jika suatu saat hal ini pasti akan terjadi, sejauh manapun dia membawa pergi Siska dan anaknya jika takdir berhendak maka mereka pasti akan bertemu.
Namun dia tak menyangka jika sekarang adalah waktunya. Waktu yang bagi Alexander sangat tidak tepat.
Alexander sama sekali tak takut jika Siska dan Rafelio akan meninggalkannya begitu mereka mengetahui kebenaran yang ada.
Yang Alexander takutkan adalah kondisi psikis Siksa yang akan kembali terguncang jika wanita muda itu kembali mengingat tentang masa lalunya yang kelam.
Apalagi sekarang Siska sedang mengandung buah hatinya dan kondisinya juga tak terlalu baik – baik saja setelah mengalami keguguran dalam kehamilan sebelumnya.
“ Kenapa lagi dia ?...”, batin Siska cemas melihat wajah suaminya sedikit gelap.
Setelah memberikan mainan kepada Rafelio, Siska pun bangkit dari duduknya dan berjalan menghampiri sang suami yang terlihat sedikit kalut saat ini.
Suatu ekspresi yang jarang sekali Siska lihat selama dia hidup dengan lelaki tersebut. Selama ini Alexander selalu bisa menjaga mimik wajahnya agar tetap hangat waktu berdekatan dengan sang istri.
Tapi hari ini tampaknya dia tak bisa menutupi kegundahan hatinya. Tentu saja hal tersebut membuat Siska cemas.
“ Hal apa yang sedang dipikirkannya hingga kehadiranku tak disadarinya….”, batin Siska sambil menghela nafas panjang.
Alexander biasanya selalu waspada dimanapun dan kapanpun itu. Tapi kini, Siska sudah hampir dekat dengannya namun lelaki tersebut sama sekali tak menyadari kehadiran sang istri.
Tentu suatu kondisi yang sangat tak lazim terjadi dan membuat orang bertanya – tanya apa hal yang mengganggu pikiran lelaki tersebut hingga hilang kewaspadaan seperti itu.
“ Ada apa sayang…kenapa alismu berkerut seperti ini ?....”, ucap Siska sambil bergelayut manja dipangkuan sang suami dan mulai menggerakkan jari lentiknya untuk mengusap kedua alis Alexander yang tampak berkerut.
Mendengar ucapan sang istri yang tiba – tiba sudah ada dalam pangkuannya dengan manja, Alexanderpun mulai merubah ekpresinya menjadi normal kembali.
“ Tidak ada apa – apa sayang….”, ucap Alexander sambil tersenyum manis.
Diapun mengalihkan topik pembicaraan agar sang istri tidak terus mengejarnya dengan berbagai macam pertanyaan.
“ Bagaiaman kabar anak dady pagi ini?....apa dia berulah lagi ?....”, ucap Alexander sambil mengelus perut Siska yang membuncit tersebut dengan lembut.
__ADS_1
“ Hanya beberapa kali tendangan saja pagi ini….”, ucap Siska sambil terkekeh.
Alexander pun segera mengecup perut yang sudah membesar tersebut beberapa kali sebelum dia mendaratkan ciuman di bibir sang istri.
“ mmmm….sayang….jangang disini…ada Rafelio….”, desah Siska waktu sang suami mulai menelusupkan kepalanya kedadanya yang semakin berisi tersebut.
Namun, Alexander tampakanya tak perduli dan ambil pusing dengan teguran yang dilayangkan oleh istrinya itu.
Dia tetap melanjutkan aktivitas yang membuat istrinya mengeliat seperti cacing kepanasan tersebut.
“ ck ck ck…..”, Rafelio hanya bisa berdecak sambil menggeleng – gelengkan kepalanya beberapakali melihat tingkah laku sang dady.
Dia sama sekali tak menyangka jika dady nya yang bengis dan kejam itu bisa bersikap manja menjijikkan seperti itu dihadapan sang mommy.
Tak ingin menganggu aktivitas kedua orang tuanya, Rafelip pun segera masuk kedalam rumah bersama pengasuh dan pengawalnya, meninggalkan kedua orang tuanya yang sibuk bermesraan di taman.
Sesampainya didalam rumah, bocah kecil tersebut segera pergi keruang perlengkapan untuk mengambil pistol dan pisau yang akan digunakan untuk menjalankan misinya nanti malam.
Rafelio yang sejak berusia dua tahun sudah diajari memegang pistol dan pisau memang di didik cukup keras oleh Alexander sejak dini agar menjadi pribadi yang tangguh dan kuat.
Alexander mendidik Rafelio seperti itu bukan tanpa sebab. Dan bocah laki – laki tersebut juga tampak tak keberatan dan malah senang telah diajari oleh sang Dady melakukan banyak hal yang bagi banyak orang cukup membahayakan tersebut.
Hal tersebut bermula pada suatu malam yang sunyi. Saat itu Rafelio baru menginjak usia satu tahun.
Bayi laki – laki yang sedang mulai berlatih berjalan tersebut lepas dari pengawasan sang mommy dan pengasuhnya hingga dia berjalan ke halaman belakang, tempat di mana Alexander sedang mengeksekusi musuhnya saat itu.
Kehadiran bayi munggil tersebut tak disadari semua orang hingga suara tepukan dan tawa bayi lelaki tersebut membuat atensi semua orang teralihkan.
Mendengar suara tembakan dan darah yang mengalir ditubuh musuh, bukannya ketakutan Rafelio malah bersorak kegirangan sambil bertepuk tangan seolah dia sedang melihat pertunjukkan yang menarik.
Tentu saja Alexander dan anak buahnya sangat terkejut melihat bayi munggil tersebut sudah berdiri dengan terhuyung – huyung dibelakang mereka sambil tertawa terbahak - bahak.
“ Maaf tuan, saya akan membawa tuan muda masuk kedalam….”, ucap salah satu pengawal dengan wajah cemas.
“ Tidak…biarkan dia disini bersamaku….”, ucap Alexander yang langsung bergerak maju dan menggendong Rafelio yang terlihat mengulurkan tangan kepada sang Dady.
Meski ragu namun anak buah Alexander terus melanjutkan eksekusi mereka dihadapan anak sang majikan yang baru berusia satu tahun tersebut.
__ADS_1
Setiap tembakan yang dilepaskan dan mendengar teriakan kesakitan dari mulut korban dady nya, Rafelio langsung bersorak kegirangan.
Darah segar yang mengalir di tubuh para korban tak membuat bayi laki – laki tersebut jijik ataupun takut.
Justru dia tersenyum lebar memerkan dua giginya yang baru tumbuh setengah tersebut dengan sorot mata berbinar.
Dari situlah Alexander merasa jika Rafelio akan menjadi penerusnya. Meski bukan anak kandungnya, tapi Alexander sudah menganggap bayi kecil tersebut sebagai buah hati yang sangat disayanginya.
Apalagi waktu menyadari jika sang bayi memiliki minat yang sama dengan apa yang dikerjakannya selama ini membuat hati Alexander merasa sangat bahagia.
Pada awalnya Siska menentang keras keputusan sang suami yang mulai memperkenalkan senjata tajam tersebut kepada bayinya.
Tapi melihat sang buah hati begitu menikmatinya bahkan bisa menggunakan pisau dan pistol dengan benar diusianya yang terbilang balita tersebut membuat Siska akhirnya menyerah dan mengijinkan sang suami untuk melatih anaknya.
FLASH BACK OFF
Rafeliopun yang sudah berada dilantai dua segera masuk kedalam ruang bermainnya yang sekaligus merupakan ruang kerjanya.
“ Perintah sudah dijalankan sesuai dengan istruksi tuan muda….”, tiba –tiba ada seseorang lelaki tegap berpakaian hitam – hitam menghadap kepadanya.
“ Bagus….kita hanya tinggal mengeksekusinya nanti malam….”, ucap Rafelio menyeringai tajam.
Diapun segera berlalu dan kembali menatap layar monitor dihadapannya untuk memantau setiap misi yang diberikan oleh sang dady kepadanya.
Bagi yang tidak tahu, mungkin Rafelio akan terlihat sebagai tuan muda kaya yang sombong dan manja karena kemana – mana harus ditemani oleh pengasuh dan pengawalnya.
Tapi bagi yang tahu, orang – orang yang berada disekeliling Rafelio bukanlah orang sembarangan.
Terutama pengasuhnya yang merupakan salah satu pembunuh bayaran wanita yang paling ditakuti di benua ini.
Dan untuk mengembangkan kemampuan Rafelio, Alexander sudah memberikannya misi – misi kecil yang nantinya akan berkembang menjadi misi besar sesuai dengan peningkatan kemampuan yang dimiliki sang anak.
Tentu saja mengenai hal ini, Siska sama sekali tak mengetahui. Ayah dan anak itu sepakat untuk merahasiakannya.
Sementara itu kedua orang tuanya yang baru saja melakukan olahraga yang cukup menguras tenang didalam kamar akhirnya membenahi diri dan bersiap untuk makan siang bersama.
“ Ini sudah ketiga kalinya dalam minggu….”, ucap Siska sambil menatap tajam sang suami.
__ADS_1
“ Kata dokter, semakin sering dijenguk akan semakin memperlancar proses persalinan nantinya….”, ucap Alexander beralibi.
Siska terlihat sangat kesal melihat suaminya terkekeh sambil keluar dari dalam kamar dengan santainya tanpa memperdulikan sang istri yang sudah mengerucutkan bibirnya dengan tajam.