
Setelah keluar dari kamar mandi, Keenan kembali mencari istrinya diseluruh penjuru ruangan.
Berharap wanita cantik tersebut sudah duduk manis di meja makan seperti biasanya.
Tapi harapannya tersebut sirna saat sosok yang dicarinya tak kunjung terlihat.
Dengan gontai dia mulai berjalan menuju garasi sambil melihat sisi mobilnya yang terlihat kosong.
" Kemana dia...kenapa dia sama sekali tidak memberi kabar " , batin Keenan sedih.
Bukan hanya makan malam yang telah disiapkannya batal, namun istrinya tersebut semalam tidak pulang kerumah dan semua orang terdekatnya tidak ada yang mengetahui keberadaannya membuat Keenan tidak bisa tidur.
Alhasil pagi ini dia berangkat kekantor dengan muka kusut dan mood yang sangat buruk.
Semua karyawannya terkena imbas akan kekesalan dan kebimbangan hatinya.
Sekecil apapun kesalahan yang mereka perbuat langsung mendapatkan amarah dari Keenan.
Dasar b***h !!!!
"Bikin laporan seperti ini saja kalian tidak b***s !!!!
"Apa untungnya aku membayar kalian jika melakukan hal sekecil ini saja kalian tidak b***s !!!!"
.
Beberapa kata kasar dan makian yang keluar dari mulut Keenan membuat semua orang yang berada diluar menunggu giliran masuk saling berpandangan.
" Fan....aku nanti aja deh masuknya, tampaknya ada beberapa laporanku yang masih salah. Aku perbaiki dulu ya" , ucap kepala bagian pemasaran kepada Fani, Sekretaris Keenan.
" Ya ampun...aku lupa kalau sekarang ada janji dengan bagian penerbitan " , ucap staf promosi sambil melihat ponselnya dan berlalu pergi.
Begitu juga dengan yang lainnya, satu persatu staf yang ingin menghadap Keenan pagi itu mengurungkan niatnya setelah mendengar amarah sang bos.
Bukan hanya karyawannya saja yang terkena amarahnya, Andrew yang pagi ini juga masih belum mendapatkan kabar mengenai keberadaan Siska ikut terkena imbasnya.
Amarah Keenan membuat Andrew terpaksa harus berada di ruangan Adrian sepagi ini untuk mengkonsultasikan mengenai masalah apa yang kira - kira bos cantik dan suaminya itu alami hingga harus kabur dari rumah.
Adrian yang mendengar penuturan dari Andrew terlihat sangat terkejut, pasalnya adik sepupunya itu sama sekali tidak memberikan tanda - tanda bahwa dirinya sedang dalam masalah.
" Perasaan kemarin baik -baik saja...", batin Adrian sedikit cemas.
" Apa kamu sudah cek ke apartemennya, siapa tahu dia ada disana...", ucap Adrian memberikan solusi.
__ADS_1
" Sudah pak, tapi tidak ada. Tadi pagi sebelum berangkat kekantor aku menyempatkan pergi ke apartemen bu Siska, tapi posisinya kosong. Bahkan dari tata letak semuanya tidak ada yang berubah posisi, sama seperti terakhir ibu tinggal ", cerocos Andrew menjelaskan.
" Kemana dia....tumben - tumbennya tidak memberi kabar apapun padaku " , guman Adrian sambil menarik nafas dengan berat.
Pandangannya menerawang dengan wajah bertanya - tanya masalah apa yang membuat sepupunya tersebut menghilang seperti ini.
Karena bagi Adrian hal ini sangat tidak wajar, sebab Siska selama ini tidak pernah berbuat seperti ini.
Serumit apapun permasalahn yang ada, dia tidak akan melarikan diri seperti ini.
Apalagi pagi ini mereka ada meeting penting dengan klien dari Jepang.
Diambilnya ponsel yang ada diatas meja dan coba mengirim pesan kesepupunya itu untuk mengingatkan perihal meeting pagi ini.
" Ponselnya masih belum aktiv...", guman Adrian pelan saat melihat tanda centang satu di pesan yang dikirimnya.
Andrew yang melihat kegelisahan di raut muka Adrian merasa sangat bersalah karena telah membuat pria tampan itu cemas.
Tapi mau bagaimana lagi, dia sendiri juga dalam kondisi binggung dengan menghilangnya si bos.
Ditambah lagi mulai semalam Keenan terus menerornya, dan pagi ini dia juga sarapan makian dari suami bosnya itu.
" Ya sudah...meeting pagi ini aku handle. Kamu terus coba hubungi Siska. Jika sudah ada kabar, segera beritahu aku " , ucap Adrian sambil mulai menyiapkan bahan yang akan digunakan buat meeting pagi ini.
Sementara itu di rumah mewah Alexander terlihat seorang gadis cantik masih melilit tubuhnya dengan selimut tebal.
" Hmmm....lima menit lagi ya ", ucap Siska tanpa membuka matanya.
Melihat gadis didepannya tidak mau membuka matanya, Alexander dengan sigap langsung melepaskan selimut yang melilit tubuhnya dan mengendong tubuh gadis itu kekamar mandi.
" Hey...apa yang kamu lakukan...turunkan aku....", teriak Siska saat mendapati tubuhnya diangkat paksa oleh Alexander.
" Sekarang cepat mandi, jam sepuluh kamu ada meeting penting ", ucap Alexander yang langsung memasukkan tubuh Siska kedalam bath up.
Byuurr.....
" Kenapa kau kasar sekali...", ucap Siska sebal saat mendapati tubuhnya sudah mendarat sempurna di dalam bath up.
" Mau mandi sendiri atau aku mandikan ", ucap Alexander dengan senyum mengoda.
" Keluar kamu...", teriak Siska marah.
" Aku tunggu di bawah untuk sarapan " , ucap Alexander sambil terkekeh dan segera menutup pintu kamar mandi.
__ADS_1
Siska yang masih kesal dengan tingkah Alexander segera melepaskan bajunya yang sudah basah kuyup dan segera membersihkan badannya.
Setelah bersih dan wangi, Siska segera keluar dari kamar mandi dengan memakai kimono Alexander yang sedikit kebesaran untuknya. Diliriknya paper bag yang ada diatas ranjang.
" Bagaimana dia bisa tahu ukuranku ", batin Siska penasaran saat dia memakai semua yang ada didalam paper bag tersebut dan ternyata semuanya pas ditubuhnya.
Setelah memakai make up tipis dan menyisir rambutnya, Siska segera turun ke ruang makan untuk sarapan.
Di meja makan yang tidak terlalu besar itu terlihat Alexander sedang menunggunya sambil memainkan ponsel yang ada ditangannya.
Masih sebal dengan tingkah Alexander, Siska duduk dimeja makan tanpa menyapa tuan rumah yang dari tadi melirik kedatangannya di balik ponsel yang sedang dipegangnya.
Tanpa aba- aba Siska segera menyantap hidangan yang ada di depannya.
Alexander yang melihat hal tersebut hanya bisa tersenyum tipis.
" Jangan dimonyongin trus tu bibir itu jika tidak ingin aku cium ", ucap Alexander yang mulai mendekat kearah Siska.
Siska pun spontan menutup mulutnya dengan satu tangannya saat Alexander sudah ada didepannya.
" Mau apa kamu...", ucap Siska dengan tatapan tajam dan mulut masih ditutupi tangan.
" Mau membersihkan saos yang ada dihidungmu ", ucapnya sambil mengusap saos yang bertengger manis di hidung Siska dengan tisu.
Mendengar penuturan Alexander, Siska langsung merona karena malu dengan pemikirannya.
Sedangkan Alexander yang melihat rona merah diwajah Siska tersenyum bahagia.
Dia sangat menyukai saat Siska merona seperti itu karena terlihat sangat mengemaskan.
Setelah menyelesaikan sarapan yang ada didepannya, dia segera undur diri.
Tak lupa Siska mengucapkan banyak terimakasih kepada Alexander karena selama ini selalu ada saat dirinya membutuhkan seseorang untuk bersandar.
Mendengar perkataan Siska membuat hati Alexander menghangat.
Dia sama sekali tidak menyangka bahwa gadis kecil ini akhirnya meluluhkan hatinya.
" Tentu saja honey, kapanpun kamu membutuhkanku....aku selalu siap ", ucap Alexander sambil mengelus kepala Siska dengan lembut.
" Aku juga bisa memuaskanmu jika suamimu tidak bisa melaksanakan tugasnya " , bisiknya pelan.
Melihat mata cantik Siska membulat karena terkejut dengan ucapannya, Alexander tertawa terbahak - bahak.
__ADS_1
" Dasar gila....", umpat Siska kesal.
Tapi dia juga tidak bisa memungkiri dirinya sendiri bahwa dia selalu merasa nyaman saat berada didekat Alexander.