
Malam terasa begitu sunyi, semua makhluk seakan menutup rapat – rapat mulutnya waktu sekelebat bayangan hitam melewati mereka.
Wush….wush….wush…..
Dengan gerakan lincah, Rafelio mulai melompati atap gedung pencakar langit yang satu ke gedung pencakar langit yang lainnya bersama anak buahnya hingga sampai dibanggunan yang menjadi tujuannya.
Bocah kecil tersebut langsung memberikan komando agar anak buahnya segera mengambil posisi yang telah mereka dapatkan.
Setelah mematikan beberapa kamera pengawas gedung, tak membutuhkan waktu yang lama Rafelio sudah berhasil mendapatkan semua data yang menjadi salah satu misinya malam ini.
“ Bagus…data sudah ada ditangan. Sekarang tinggal kita langsung bergerak ketarget…”, ucap Rafelio tajam.
Mereka berlima pun segera bergerak meninggalkan tempat kejadian tanpa meninggalkan jejak sedikitpun.
Target mereka kali ini tak bisa diaggap remeh. Meski sudah tua, namun dia memiliki penjaga yang cukup kuat mendampinginya.
Hingga membuat Rafelio harus memancingnya keluar agar bisa mendapatkan targetnya dengan lebih mudah.
“ Sesuai dugaan…..”, guman Rafelio sinis.
Rafelio dan anak buahnya segera melumpuhkan para penjaga yang berada diluar gedung agar bisa menerobos masuk.
Seperti prediksi, para penjaga tersebut tak mudah dikalahkan. Namun bukan Rafelio namanya jika dia tak mempersiapkan langkah untuk mengantisipasi hal tersebut sejak awal.
Dengan sedikit menguras tenaga akhirnya kelimanya bisa masuk kedalam gedung dan disambut oleh sang pemilik rumah, seorang kakek tua dengan tongkat ditangannya.
Siapapun yang melihat lelaki tua renta tersebut akan merasa iba dan hilang kewaspadaan diri karena dianggap tak berbahaya.
Namun penampilan menipu tersebut lah yang menjadi salah satu senjata andalannya selain tongkat yang berisi jarum beracun jika ditembakkan berada dalam genggamannya.
“ Aku kira sekuat apa musuhku kali ini….ternyata hanya anak ingusan yang datang…..”, ucap lelaki tua tersebut dengan senyum meremehkan.
Rafelio sama sekali tak terpengaruh dengan segala macam ucapan provokatif yang dilontarkan lelaki tua yang menjadi targetnya tersebut.
Dia tetap menampilkan wajah datar dan dingin tanpa ekspresi yang menjadi andalannya, sama seperti Alexander waktu berhadapan dengan musuh – musuhnya.
“ Sialan !!!…wajah itu ?.....”, batin kakek tua tersebut mulai cemas.
__ADS_1
Melihat ekspresi bocah kecil yang ada dihadapannya, kakek tua tersebut tiba – tiba teringat dengan ketua iblis pencabut nyawa, Alexander.
Menyadari jika bocah lelaki kecil yang ada dihadapannya tersebut bukanlah bocah kecil biasa, tak terasa keringat dingin mulai mengucur ditubuhnya.
Dengan satu isyarat, anak buahnya langsung menyerang Rafelio secara membabi buta. Perkelahian sengit pun tak bisa dihindari lagi.
Meski Rafelio dan tim hanya berlima, nyatanya mereka mampu mengimbangi kemampuan anak buah targetnya yang jumlahnya tak sedikit tersebut.
“ Sial !!!...mereka cukup terlatih rupanya….”, gerutu lelaki tua tersebut geram.
Melihat anak buahnya satu persatu mulai tumbang, kakek tua tersebut mulai bergerak dengan panik, berusaha untuk mencari celah agar bisa kabur.
Rafelio yang sedang dikepung lima penjaga sekaligus langsung mengeluarkan pistolnya dan menembak tepat dikening musuh – musuhnya sambil kedua matanya awas menatap targetnya yang hendak melarikan diri.
Dorrrr….
Satu tembakan tepat mengenai kaki lelaki tua tersebut hingga dia jatuh tersungkur kelantai sewaktu dia hampir berhasil mengapai pintu untuk keluar.
Dengan sigap, Rafelio segera melompat dan menancapkan pisau pada kaki satunya yang tidak terkena luka tembak berkali - kali hingga mengeluarkan darah segar cukup banyak.
“ Arghhh…..”, rintih lelaki tua tersebut kesakitan waktu pisau kecil Rafelio beberapakali menancap di lukanya yang sudah berdarah tersebut.
Namun belum juga tubuh mereka mendekat, rentetan peluru panas memberondong tubuh mereka hingga jatuh tersungkur ketanah dan langsung meninggal.
Dorrrr….
Dorrrr….
Dorrr….
Rafelio membunuh semua musuh yang berusaha untuk mendekat kearahnya. Selanjutnya, diapun segera mengikat lelaki tua tersebut dan menyeretnya kepinggir ruangan.
Setelah seluruh musuh habis terbunuh, Rafelio bersama tim segera membawa lelaki tua tersebut kemarkas untuk dimintai informasi.
Jika saja dady nya tidak membutuhkan informasi penting dari lelaki tua tersebut, kemungkinan besar Rafelio sudah membunuhnya sedari tadi.
“Ckkk….cukup merepotkan saja….”, ucap Rafelio berdecak kesal waktu melihat masih ada beberapa orang yang berusaha untuk mengejarnya.
__ADS_1
Settthhhh….
Settthhhh….
Settthhhh….
Rafelio pun segera melemparkan pisau kearah musuh yang mengejarnya dan tepat mengenai jantung mereka.
Musuhpun langsung berjatuhan setelah pisau kecilnya menancap tepat sasaran hingga habis tak bersisa.
Setelah meletakkan musuh di markas rahasia, Rafeliopun bergegas pulang kerumah untuk membersihkan diri dan beristirahat sejenak sebelum pagi menjelang.
Begitu matahari sudah bersinar cerah, Siska dengan lembut membangunkan sang putra setelah sebelumnya menyiapkan sarapan bersama sang koki dan membangunkan sang suami.
Dia sama sekali tak mengetahui jika sang putra habis melakukan pembunuhan tadi malam dan mengira putra kecilnya itu hanya masih mengantuk waktu kedua mata Rafelio tak kunjung terbuka.
“ Bangun sayang…sudah pagi. Waktunya sekolah….”, ucap Siska lembut sambil mengecup seluruh wajah Rafelio dengan lembut dan penuh cinta.
Jika sudah begini, mau tidak mau Rafeliopun akhirnya membuka kedua matanya sambil menguap kesal.
“ Mommy…jangan lakukan ini lagi. Aku sudah besar…..”, ucap Rafelio dengan wajah cemberut.
“ Makanya cepat bangun dan mandi jika tidak, mommy akan kembali menciumi seluruh wajahmu….”, ucap Siska dengan nada penuh ancaman.
Begitu wajah wajah sang mommy mulai mendekat, Rafelio buru – buru meloncat dari tempat tidur dan langsung berlari menuju kedalam kamar mandi.
Melihat aksi putra pertamanya itu, Siska hanya bisa terkekeh sambil menggeleng – gelengkan kepalanya beberapa kali.
Setelah menyiapkan seragam Rafelio, Siskapun segera meninggalkan kamar putranya menuju meja makan untuk menunggu suami dan anaknya turun.
Begitu selesai berpakaian, ayah dan anak tersebut langsung turun dan bergabung dengan sang mommy yang sudah terlihat duduk manis di meja makan.
Keluarga kecil ini segera menyantap sarapan pagi sambil ngobrol ringan tentang agenda mereka hari ini.
Dalam obrolan yang mereka lakukan tak jarang diselingi gelak tawa jika ada hal yang menurut mereka lucu.
Hal sederhana yang selalu mereka lakukan setiap berkumpul untuk makan bersama yang tanpa sadar membuat keluarga kecil mereka menjadi harmonis dan bahagia.
__ADS_1
Setelah selesai sarapan Alexander segera berangkat kekantor sedangkan Rafelio berangkat ke sekolah bersama pengasuh dan pengawalnya.
Itulah rutinitas harian Rafelio, jika pagi harinya dia adalah pelajar yang rajin maka dimalam hari dia akan menjadi pembunuh yang tangguh.