
Hati Keenan sejak kemarin terus merasa gelisah dan tidak tenang. Seakan ada sesuatu hal yang buruk akan datang menghampiri.
Dalam kegundahan hatinya itu, bayangan wajah mantan istrinya terus hadir dalam benaknya.
Bahkan semalam Keenan bermimpi melihat istrinya dengan perut membuncit berjalan terseok – seok dengan wajah kesakitan.
Dalam mimpi tersebut Keenan hanya bisa memandang istrinya tanpa bisa melakukan apapun seakan badannya sulit untuk dia gerakkan.
Dan akhirnya dia terbangun dengan nafas tersenggal – sengagal dan keringat dingin membasahi sekujur tubuhnya.
“ Pertanda apa ini ?....”, batin Keenan penuh tanda tanya.
Setelah nyawanya terkumpul diapun segera masuk kedalam kamar mandi dan mulai mengguyur tubuhnya dengan air.
Dinginnya air shower ternyata mampu menjernihkan hati dan pikirannya kembali. Pikiran negative yang sempat hadir perlahan mulai menghilang dan berganti dengan semua hal positif.
“ Ada Alexander dan kedua orang tuanya disana. Mereka pasti aman….”, Keenan berusaha untuk berpositif thinking.
Pagi ini Keenan hanya membuat sarapan sederhana, sepoting sandwich untuk menganjal perutnya pagi ini.
Saat sandwich yang ada ditangannya sudah habis, bayangan wajah Siska yang kesakitan kembali hadir dalam ingatannya.
Membuat Keenan semakin sedih dan meruntuki kebodohannya hingga istri dan calon anaknya pergi menjauh darinya.
“ Kurasa kandungannya sekarang sudah memasuki usia tujuh bulan. Dua bulan lagi bayi munggil itu akan lahir kedunia….”, guman Keenan mendesah pelan.
Mengingat jika dalam dua bulan lagi anak yang ada dalam kandungan istrinya akan segera lahir kedunia membuat semangat dalam diri Keenan kembali tumbuh.
“ Ya…aku tak boleh lemah. Aku harus kuat agar bisa segera menemui anakku….”, Keenan terlihat berupaya untuk menyemangati diriya sendiri.
Setelah selesai dengan sarapannya, Keenan segera mengambil tas kerjanya dan berangkat kekantor untuk menyiapkan presentasi yang akan dia lakukan pagi ini.
Sementara itu dikediaman Wisnudharta, Bagus Aji yang baru saja mendengar kabar jika Siska sudah melahirkan secara prematur tanpa sadar langsung memeluk istrinya dengan penuh kebahagiaan.
__ADS_1
“ Cucu kita sudah lahir mi…laki – laki….kita sudah menjadi kakek dan nenek sekarang….”, teriak Bagus Aji sambil memeluk erat istrinya dengan penuh kebahagiaan.
Rosalie yang terkejut tampak diam beberapa saat sambil berusaha untuk mencerna setiap kata yang baru saja keluar dari mulut suaminya.
Bagus Aji yang tidak sadar dengan apa yang dia lakukan masih saja terus berceloteh dengan wajah penuh kegembiraan.
Dia baru tersadar setelah istrinya melepas pelukannya dengan kasar dan menatap Bagus Aji dengan tajam.
“ Jadi papi selama ini sudah mengetahui keberadaan Siska !!!!....”, hardik Rosalie penuh emosi.
“ Kenapa papi sembunyiin hal itu dari mami ?....”, ucap Rosalie penuh rasa kekecewaan yang dalam.
Bagus Aji langsung terdiam dan terlihat kesulitan menelan ludah waktu mendengar ucapan istrinya.
Dia merasa sangat bersalah karena selama ini telah menyembunyikan rapat – rapat keberadaan Siska dari istri dan anaknya.
Rosalie yang geram langsung saja memukul – mukul tubuh suaminya dengan bantalan kursi yang ada disampingnya hingga membuat Bagus Aji langsung berlari menghindar.
“ Ampun mi….ampun…..papi bukanya sengaja menyembunyikan semua ini dari mami. Hanya saja, papi masih menunggu waktu yang tepat…..”, ucap Bagus Aji beralibi.
“ Tenang mi…tenang….”, Bagus Aji berusaha untuk menenangkan sang istri agar tak mengejar dan memukulnya lgi.
“ Papi jahat !!!....”, tiba – tiba Rosalie menangis kencang, membuat Bagus Aji semakin kelimpungan.
“ Maafin papi mi…papi sama sekali tidak ada maksud untuk membohongi mami…”, ucap Bagus Aji sambil memeluk tubuh istrinya dengan erat.
Mendengar ucapan suaminya membuat tangis Rosalie semakin kencang. Dia meluapkan rasa kecewa dan amarah dalam dekapan suaminya.
Bagus Aji yang merasa bersalah dengan sabar berusaha untuk membujuk sang istri agar tenang.
Setalah berhasil membuat istrinya sedikit tenang dan membawanya duduk disofa, Bagus Ajipun mulai menceritakan semuanya.
“ Lalu, bagaimana kondisi menantu dan cucuku sekarang ?....”, tanya Rosalie sesenggukan.
__ADS_1
“ Kondisi Siska cukup baik dan untuk cucu kita, karena terlahir premature maka dia masih mebutuhkan perwatan khusus dari rumah sakit. Tapi mami tenang saja, ada Farnsisco dan Adelia disana. Mereka pasti mengusahakan yang terbaik buat cucunya. Aku tadi sudah minta Giafanco untuk terus mengabari setiap ada perkembangan pada menantu dan cucu kita….”, Bagus Aji pun berusaha untuk menjelaskan semua informasi yang didapatkannya kepada sang istri.
Setelah mendengar penjelasan sang suami, hati Rosalie merasa lebih tenang sekarang. Dia sama sekali tak menyangka jika sekarang dirinya sudah menjadi seorang nenek.
“ Lalu, siapa nama cucu kita pi ?....”, tanya Rosalie dengan sorot mata penuh kebahagiaan.
“ Nanti coba aku tanya ke Giafanco jika dia menghubungiku lagi….”, ucap Bagus Aji lembut.
Sama seperti perasaan Rosalie, saat ini hati Bagus Aji diselimuti kegembiraan yang tak terkira mendengar jika cucunya lahir dengan selamat, meski premature.
Keenan yang kembali merintis usahanya terlihat fokus pada presentasi demi presentasi yang dilakukannya untuk kembali menarik para investor dan klien agar mau bekerja sama dengan perusahaannya.
Meski langkah tersebut tak mudah, namun semuanya dilakukan oleh Keenan dengan penuh kesabaran dan ketekunan.
Mimpi buruknya semalam membuat dirinya terpacu untuk segera bisa kembali membangkitkan WD Group.
Setidaknya hal inilah yang bisa dia lakukan sebelum dia kembali berjuang untuk mendapatkan istri dan anaknya agar kembali ke sisinya.
Sementara itu, Siska yang pada awalnya dalam kondisi baik – baik saja tiba – tiba saja mengalami masa kriris pada saat tekanan darahnya naik secara drastis tak terkontrol.
Tentu saja hal tersebut membuat semua keluarganya panik. Adrian yang baru saja tiba terlihat berusaha untuk menenangkan Adelia yang beberapakali terlihat pingsan pada saat mengingat kondisi Siska.
Untung saja dokter dapat mengatasi hal buruk tersebut tepat waktu sehingga tidak sampai mengakibatkan hal yang lebih buruk lagi.
Meski begitu, Siska masih ditempatkan dalam ruangan khusus agar bisa dipantau secara intensif oleh pihak tenaga medis agar kejadian serupa tak terulang lagi.
Hati Adelia merasa sedikit tenang waktu dokter mengatakan jika masa kritis Siska telah berakhir.
Meski putri semata wayangnya tersebut masih belum sadarkan diri setidaknya saat ini kondisinya sudah stabil.
Sambil berlinang air mata Adelia terlihat menatap Siska yang terbaring lemas dari balik kaca dengan penuh kesedihan.
“ Mami yang kuat ya…papi yakin, Siska sebentar lagi akan sadar karena Rafelio sudah menunggunya….”, ucap Frans menguatkan hati sang istri.
__ADS_1
Mengingat jika dia masih memiliki cucu yang juga masih membutuhkan perhatiannya, perlahan Adelia pun bangkit dari kesedihannya.
“ Siska…kamu harus secepatnya sadar. Rafelio sedang menunggumu….”, guman Adelia sebelum meninggalkan ruang perawatan sang putri untuk beristirahat sejenak.