
Seperti kesepakatan awal pernikahan bahwa mereka tidak akan tinggal di rumah orang tua Keenan maupun orang tua Siska dan memilih tinggal di rumah sendiri demi kelancaran perjanjian yang telah mereka sepakati bersama.
Mereka tidak mau jika kesepakatan yang mereka lakukan akan menyakiti hati kedua keluarga yang saat ini tengah berbahagia.
Rosalie dan Adelia merasa sangat sedih saat Keenan dan Siska meminta ijin untuk tinggal sendiri.
Meski berat, demi kebahagiaan anak - anak mereka akhirnya dua wanita tersebut mengijinkan Siska dan Keenan tinggal sendiri dengan harapan mereka nantinya bisa membina keluarga kecilnya dengan baik dan segera memberikan cucu kepada mereka.
Akhirnya, disinilah mereka tinggal sekarang. Disebuah rumah bergaya minimalis dua lantai dengan halaman belakang yang cukup luas.
Rumah yang didominasi warna putih tersebut mempunyai dua kamar tidur di lantai atas dan tiga kamar tidur di lantai bawah.
Di lantai satu juga terdapat satu buah kamar mandi luar, sebuah dapur minimalis dengan bar mini berada ditengah dapur yang bersatu dengan ruang makan.
Ruang tamu yang tidak terlalu besar disekat dengan sebuah almari tinggi untuk memisahkannya dengan ruang keluarga yang berada disebelahnya.
Dirumah tersebut awalnya Siska menolak adanya ART karena takut seandainya kedua orang tua mereka mengetahui bahwa pernikahan yang mereka jalani hanya sebatas perjanjian diatas kertas.
Namun Keenan tidak setuju akan hal itu, setelah melalui perdebatan yang cukup panjang akhirnya disepakati memperkerjakan satu ART yang membantu bersih - bersih rumah, mencuci dan memasak tapi tidak menginap disana.
Jadi ART tersebut setiap jam empat sore harus sudah pulang kerumahnya dan baru kembali besok paginya.
Begitu juga dengan tukang kebun yang mereka pekerjakan disana.
Hanya security yang diperbolehkan menginap disana untuk berjaga di depan.
Semua ini mereka lakukan agar privasi mereka tetap terjaga tanpa diketahui oleh orang luar.
Rumah yang Keenan beli tersebut berada di daerah yang tidak jauh dari tempat istrinya bekerja.
Semua ini dilakukannya berdasarkan pertimbangan agar sang istri tidak terlalu capek menghadapi kemacetan dijalan dan dapat segera beristirahat setelah pulang bekerja.
Meski Siska tidak terlalu menganggap penting pernikahan ini, namun Keenan ingin selalu memberikan yang terbaik buat istrinya.
Keenan bertekad untuk bisa merebut hati sang istri lewat perhatian dan kelembutan yang dia berikan.
" Aku yakin....sekeras - kerasnya batu, pasti akan hancur juga oleh setitik air yang terus menetesinya ", batin Keenan penuh percaya diri.
__ADS_1
Setelah libur selama empat hari yang digunakan untuk melangsungkan pesta pernikahan dan menggurus perpindahan kerumah baru, akhirnya hari ini mereka mulai beraktivitas seperti biasa.
Bagi karyawan Siska hal tersebut tidaklah terlalu mengherankan karena pada saat hari pernikahannya saja bos mereka tersebut masih saja turun tangan sendiri dalam menghadapi permasalahan yang ada di Malaysia.
Apalagi sekarang, disaat ketujuh proyek barunya yang berada di beberapa pulau sedang berjalan bersamaan, tentunya tidak akan dia lepas begitu saja mengingat masih adanya antek - antek Baskoro yang siap mengacaukan jika dirinya lengah.
Namun hal tersebut tidak berlaku bagi karyawan Keenan.
Mereka cukup terkejut mengetahui bahwa bosnya tersebut sudah kembali bekerja.
" Wah....lembur lagi nih " , ucap salah satu karyawan.
" Padahal akhir pekan ini aku sudah merencanakan untuk berlibur bersama keluargaku ", ucap karyawan dari divisi pemasaran dengan tubuh lemas.
" Padahal baru saja kita bisa bernafas dengan lega...", ucap yang lainnya menimpali.
Dan masih banyak lagi gerutuan yang menyambut hari pertama Keenan bekerja setelah pernikahannya.
Selama ini memang Keenan sering menyuruh karyawannya untuk bekerja lembur demi menstabilkan dua cabang perusahaan yang baru saja dibukanya.
Untuk itu dia harus turun tangan mengontrol langsung mereka sampai dirasa siap untuk dilepaskan.
Meski pada awalnya dia cukup kecewa karena istrinya tersebut menolak untuk berbulan madu dengan alasan banyak proyek yang membutuhkan perhatian lebih darinya.
Namun sekarang dirinya malah merasa bersyukur karena dengan tidak jadinya mereka berbulan madu maka waktu yang ada dipergunakan sebaik mungkin untuk membenahi beberapa kekurangan yang ada di kantor cabangnya tersebut.
Disaat Keenan sedang fokus menyelesaikan berkas yang menumpuk di mejanya, tiba - tiba Devian datang sambil tersenyum lebar dan berjalan kearahnya.
" Jika tidak ada hal yang penting sebaiknya kamu pergi ", ucap Keenan datar tanpa mengalihkan pandangannya dari berkas yang ada didepannya.
" Wah...aku tak menyangka setelah menikah kamu bertambah galak saja " , ucapnya tersenyum.
" Kudengar kantor cabangmu yang berada dikota H hampir mengalami kebangkrutan. Kenapa tidak kesana dan mengurusnya , ucap Keenan dengan nada datar dan masih tetap fokus pada berkasnya.
" Sudah ada yang mengurusi, jadi aku tinggal terima beresnya saja ", ucapnya santai sambil mencorat - coret kertas yang ada di depannya.
" Justru kamu lah yang sedang kucemaskan sekarang ", ucapnya prihatin.
__ADS_1
" Cihh...aku tidak perlu rasa simpatimu ", ucap Keenan memandang Devian dengan tajam.
" Aku serius...", ucap Devian balik memandang sahabatnya itu dengan tatapan tajam.
" Kuakui malam pertamaku sangat buruk. Begitu juga dengan setelahnya. Namun aku tidak bisa berbuat apa - apa, setidaknya untuk saat ini...", ucap Keenan mengantung ucapannya.
" Lalu kapan kamu akan mulai bergerak ", ucap Devian penasaran.
" Mungkin sebentar lagi, tunggu situasinya membaik ", ucap Keenan sedikit ragu.
" Sampai kapan...jika tidak kamu ciptakan maka kondisi ini akan stagnan, atau bahkan lebih buruk " , ucapnya sedikit sebal dengan sahabatnya yang dinilai sangat lambat dalam bergerak.
" Kamu tidak tahu bagaimana dia...", ucapnya berusaha membela diri.
"Justru karena aku tahu bagaimana itu Siska, makanya aku berbicara seperti ini kepadamu ", ucap Devian sambil menghembuskan nafas dengan kasar karena terlalu jengkel dengan Keenan.
Keenan yang melihat sahabatnya tersebut sedikit kesal terhadapnya pura - pura cuek dan kembali fokus pada sisa berkas yang ada di hadapannya.
Sementara itu di JRF Consultant, Siska yang ingin masalah yang ada di Malaysia segera beres memerintahkan Andrew untuk memesankan tiket pesawat kesana.
Malam ini dia bersama Adrian harus terbang ke negerti Jiran tersebut guna melihat langsung semua yang menjadi kendala disana.
" Apa kamu tidak ijin suamimu dulu ", ucap Adrian mengingatkan.
" Tadi aku sudah menyuruh Andrew untuk memberitahunya ", ucap Siska santai dan masih sibuk dengan laptopnya.
" Kenapa bukan kamu yang mengabarinya ? " , tanya Adrian penasaran.
" Malas...", jawaban Siska yang cukup singkat tersebut mampu membungkam Adrian agar tidak mengajukan pertayaan lagi.
Meski hatinya cukup senang mengetahui bahwa sepupunya tersebut tidak terlalu perduli dengan keberadaan suaminya, tapi disudut hati terdalam Adrian merasa sangat sedih memikirkan perasaan Keenan sebagai suaminya.
Keenan yang mendengar kabar kepergian istrinya dari Andrew terlihat sangat geram.
Bukannya marah, Keenan merasa sangat kecewa kenapa istrinya tidak berbicara langsung kepadanya.
" Kenapa harus melalui asistennya...apa dia benar - benar tidak menganggap keberadaanku sebagai suaminya ", guman Keenan sedih.
__ADS_1