
Sinar mentari pagi perlahan mulai masuk melalui celah jendela kamar, berusaha untuk membangunkan seorang lelaki yang masih setia bergelung dengan selimut diatas ranjang.
Hangatnya sinar mentari yang menerpa kulit tubuh Keenan membuat sang empuh terlihat beberapa kali mengerjapkan mata.
Hingga kedua retinanya berhasil menyesuai cahaya yang masuk dari celah jendela kamarnya.
“ Sudah pagi ternyata….”, guman Keenan sambil bangkit dari atas ranjang melangkah maju menuju jendela kamar.
Dihempaskannya gorden yang menutupi jendela kamar higga seluruh sinar mentari mulai masuk menyinariu seluruh ruangan.
Keenan tersenyum lebar waktu melihat langit begitu cerah dan hangat, seperti suasana hatinya pagi ini.
Sambil bersenandung riang, Keenan berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri sebelum berangkat menemui sang mantan istri yang sangat dirindukannya itu.
Cukup lama Keenan berada didalam kamar mandi, membersihkan setiap inci bagian tubuhnya dan memastikan tak ada satupun kotoran yang tertinggal disana.
Tak lupa dia juga mencukur kumis dan jenggot diwajahnya yang mulai tumbuh tak beraturan disana agar bersih dan wajahnya terlihat segar kembali.
Setelah semua aktivitasnya dikamar mandi telah selesai, diapun segera menuju ke sisi tempat tidur dan langsung membuka kopernya, mulai mengacak – acak isinya.
Keenan terlihat beberapa kali menganti kemeja yang dikenakannya sambil menatap penampilannya di cermin yang ada dihadapannya.
Dia ingin pertemuan yang sengaja diciptakan hari ini bisa membuat mantan istrinya terkesan.
Meski tak berharap banyak, tapi dalam lubuk hati kecilnya Keenan sangat berharap Siska memiliki kesan yang cukup dalam atas pertemuan mereka tersebut.
“ Perfect…..”, guman Keenan setelah memberikan sentuhan akhir pada rambutnya yang telah diberi pomade.
Diapun bergegas keluar dan memanggil taxi menuju rumah sakit dimana Siska melakukan pemeriksaan rutin kandungannya.
Selama perjalanan, Keenan terlihat bolak – balik melihat jam yang ada dipergelangan tangannya dengan gelisah sambil berguman pelan.
Keenan terlihat berguman sendiri sambil menampilkan beberapa ekspresi wajah yang nantinya akan dia berikan ketika berhadapan dengan Siska.
Namun tindakan aneh Keenan ini justru memancing rasa penasaran pengemudi taxi yang sedari tadi terus mengawasinya dari balik kaca spion.
Keenan yang menyadari jika semua tindakannya sedang diawasi, akhirnya hanya bisa tersenyum kikuk waktu kedua matanya berpapasan dengan sang pengemudi taxi.
Begitu sampai, diapun segera menunggu di loby rumah sakit, menunggu Siska keluar dari dalam ruangan tempat wanita tersebut memeriksakan kandungannya.
Siska yang tidak tahu jika ada seseorang yang sedari tadi menunggunya di loby rumah sakit, terlihat berjalan santai bersama sang suami dan kedua pengawalnya sambil mengelus perutnya yang membuncit.
__ADS_1
“ Aku harap semuanya normal hingga waktu melahirkan nanti….”, ucap Siska tersirat sedikit rasa cemas dalam ucapannya.
“ Ingat kata dokter, tidak boleh stress dan tetap berpositif thinking….”, ucap Alexander lembut.
Rasa cemas dan khawatir yang tadi hinggap dihati Siska perlahan mulai memudar seiring support yang diberikan oleh sang suami kepadanya.
“ Benar kata Alexander, aku harus selalu optimis…..”, batin Siska penuh semangat.
Begitu keluar, Siska pun langsung menuju supermarket perlengkapan baby yang tak jauh dari rumah sakit bersama sang suami dan dua orang pengawal yang setia mendampingi keduanya.
Keenan pun mulai berjalan membuntuti pasangan suami istri tersebut dari belakang dengan perasaan iri.
“ Seharusnya aku yang berada di posisi itu….”, batin Keenan cemburu melihat kemesraan yang ditampilkan oleh Siska dan Alexander.
Tapi apalah daya, nasi sudah menjadi bubur. Semua perbuatannya terdahulu tak bisa ditebus dan ulang kembali.
Dengan lapang dada, diapun berusaha untuk ikhlas menerima semuanya setelah melihat senyum kebahagiaan yang terpancar dari wajah mantan istrinya tersebut.
Kebahagiaan yang seharusnya bisa dia ciptakan namun nyatanya dia rengut dengan kedua tangannya sendiri.
Jantung Keenan berdetak dengan kencang begitu kakinya memasuki bagian dalam supermarket.
“ Kenapa aku bisa segugup ini….”
Keenan terus meracau dalam hati, rasa tak percaya diri mulai muncul didalam hatinya begitu langkah kakinya sudah terarah menuju tempat dimana Siska dan Alexander berada.
" Tenang Keenan…kamu pasti bisa….”, batinnya penuh semangat.
Setelah menetralkan detak jantungnya, Keenan melangkah mendekat kearah Siska yang terlihat sedang asyik memilih perlengkapan bayi.
Melihat Keenan berjalan mendekat, diam – diam Alexander berjalan mundur untuk memberikan ruang bagi mantan suami istrinya tersebut berinteraksi.
“ Jadi calon anak dalam kandungannya itu perempuan…baguslah, keluarga mereka akan semakin lengkap dengan
satu anak laki – laki dan satu anak perempuan….”, batin Keenan bermonolog dengan hati sedih.
Melihat Alexander sudah memberinya ruang untuk bertemu dan mengobrol langsung dengan Siska, maka kesempatan tersebut tak lagi disia – siakan oleh Keenan yang langsung menjalankan aksinya.
Disamping Siska, Keenan terlihat sedikit kebinggungan untuk memilih baju anak perempuan.
Dengan kening berkerut dia beberapa kali mengambil baju, merentangkannya, kemudian mengembalikannya kembali.
__ADS_1
Semua gerak – gerik Keenan tentu saja mengundang perhatian Siska yang juga sedang memilih baju untuk calon buah hatinya.
“ Maaf tuan, apa ada yang bisa saya bantu ?....”, tanya Siska ramah.
Keenan yang mendengar suara lembut mantan istrinya tersebut, spontan langsung menoleh dan menatap wajah cantik Siska yang sudah sangat lama tidak dia lihat.
Melihat lelaki yang ada dihadapannya terdiam terpaku membuat Siska kembali bertanya sambil tersenyum manis.
“ Saya lihat anda sedang kebinggungan untuk memilih pakaian. Kalau boleh saya tahu, anda ingin membeli pakaian untuk bayi usia berapa ?....”, ucap Siska masih dengan nada yang sangat ramah.
“ I…itu, sa…saya mau membeli pakaian untuk bayi perempuan usia lima bulan…”, ucap Keenan gugup.
“ Teman saya sempat curhat kalau dia baru saja membeli pakaian untuk bayinya. Tapi, baru saja dipakai beberapakali pakaian tersebut sudah tak cukup lagi….”, ucap Keenan menjelaskan.
Keenan terlihat bernafas lega setelah bisa mengatasi rasa gugup yang tiba – tiba saja datang mendera dan kembali bisa berbicara dengan lancar.
“ Bayi usia segitu memang cepat tumbuh besar. Saya sarankan anda membeli pakaian dengan ukuran satu atau dua diatas usia bayi saat ini agar bisa dipakai untuk waktu yang agak lama…..”, ucap Siska sambil mengambil pakaian bayi perempuan dengan usia yang dimaksud.
“ Seperti ini contohnya….”, Siska kembali berkata sambil merentangkan dress bayi perempuan berwarna pink yang sangat cantik.
Keenan lagi – lagi terdiam terpana oleh kecantikan Siska waktu wanita tersebut tersenyum ramah kepadanya.
Setelah itu, Siska pun pamit undur diri karena keperluan bayi yang diinginkannya sudah didapatkannya.
Sementara Keenan, masih terdiam terpaku ditempatnya hingga salah satu pengunjung tanpa sengaja menyenggol tubuhnya hingga kesadarannya pun kembali.
Keenan segera meletakkan telapak tangannya di dada, merasakan detak jantungnya yang berdebar cukup kencang.
Dia seperti seorang anak remaja yang sedang jatuh cinta dengan seorang gadis cantik yang baru saja ditemuinya.
Meski cuma sebentar, namun Keenan merasa perjuangannya tak sia – sia walaupun Siska sama sekali tak mengenalinya.
Itu tak mengapa, karena Siska telah memberikan sikap ramah dan senyum manis yang selama ini sangat dia rindukan.
Seandainya Siska tidak hilang ingatan, mungkin waktu bertemu dengannya kembali wanita tersebut akan menampilkan tatapan penuh kebencian kepadanya.
Entahlah…..,
Keenan merasa sungguh beruntung dengan hilangnya ingatan masa lalu Siska atau tidak. Yang jelas saat ini hatinya penuh dengan kebahagiaan.
Dan sekarang diapun bisa kembali ketanah air dengan tenang. Meski dia tak bisa mendapatkan hati mantan istri dan anaknya kembali.
__ADS_1
Setidaknya, Keenan sudah bisa melihat jika kedua orang yang sangat disayanginya tersebut mendapatkan kebahagiaan disini, meski bukan bersamanya.