BUNGA DIATAS HATI YANG LUKA

BUNGA DIATAS HATI YANG LUKA
MALU


__ADS_3

        Setelah menempuh perjalanan yang lumayan lama akibat terkena macet akhirnya Keenan dan Siska sampai juga di rumah, meski hari sudah larut.


        Rosalie yang kelelahan menunggu kedatangan anak dan menantunya akhirnya tertidur diatas sofa. Dia baru bangun saat mendengar suara mobil memasuki halaman rumah.


 “ Akhirnya mereka datang juga ”, guman Rosalie yang lansung beranjak bangun untuk membukakan pintu rumah.


         Saat pintu terbuka terlihat Keenan sedang mengendong Siska yang tertidur setelah meminum obat. Pemandangan tersebut membuat hati Rosalie terasa hangat.


             Diapun segera menyuruh Keenan agar segera membawa istrinya masuk kedalam kamar. Dengan sangat hati – hati Keenan membaringkan Siska diatas ranjang agar istrinya itu tidak terbangun.


              Selanjutnya dia segera menuju kearah kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang terasa lengket karena seharian berada di lapangan meninjau proyek yang ada.


“ Perasaan tadi aku tertidur di mobil…kenapa sekarang bisa didalam kamar ”, batin Siska binggung.


            Dalam diam, Siska mulai memutar ingatannya kembali, samar – samar dia mendengar suara mami mertuanya dan merasakan bahwa tubuhnya telah berada dalam gendongan sang suami.


“ Jadi tadi mami melihat Keenan mengendongku…”, guman Siska pelan.


             Seketika wajah Siska berubah merah saat mulai mengingat apa yang telah terjadi. Sebenarnya sejak mobil berhenti, Siska udah bangun. Tapi entah kenapa kedua matanya sulit sekali untuk dibuka.


“ Ohh…malunya…”, gumanya kembali sambil menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya saat ingatan itu muncul kembali.


            Suara gemericik air dari dalam kamar mandi membuatnya mulai melepaskan kedua tangan yang tadi menutupi wajahnya.


“ Untung dia sedang mandi, aku jadi tidak harus berbicara dengannya saat ini ”, ucapnya lega.


            Siska mengurungkan niatnya untuk tidur kembali saat dirasakan badannya sedikit lengket dan bau.


“ Kurasa aku harus mandi ”, gumannya sambil melangkah keluar dari kamar.


            Siska memilih untuk mandi di dalam kamarnya mengingat dia masih malu jika harus bertemu dengan Keenan sekarang.


            Dengan jalan mengendap – endap sambil melirik kiri dan kanan Siska mulai masuk kedalam kamar saat dirasa tidak ada orang yang melihatnya.


“ Akhirnya…aku bisa bebas disini ”, ucapnya sambil melepaskan semua pakaian yang digunakan dan segera masuk kedalam bath up yang telah terisi air hangat.


            Tubuh Siska yang sedikit lelah terasa rileks saat tubuhnya masuk kedalam air hangat. Diapun mulai mendengarkan musik yang berasal dari ponselnya sambil memejamkan mata.


            Sementara itu, Keenan yang baru selesai mandi sedikit terkejut saat melihat ranjangnya telah kosong. Dicarinya Siska disemua tempat didalam kamar namun istrinya tersebut masih belum terlihat.


“ Apa dia turun ke bawah ya ”, guman Keenan pelan.


            Setelah berganti pakaian dan mengeringkan rambutnya diapun mulai merebahkan tubuhnya diatas ranjang sambil memainkan ponselnya.

__ADS_1


            Sepuluh meni berlalu, namun istrinya tersebut masih belum terlihat batang hidungnya. Melihat ada yang janggal, Keenan pun segera keluar kamar dan turun kebawah.


             Semua ruangan sudah dia jelajahi, mulai dari dapur, kamar mandi bawah, kamar tamu sampai halaman belakang rumahpun dia datangi. Namun sosok yang dia cari sama sekali tidak terlihat disana.


“ Apa dia keluar…”, guman Keenan cemas.


            Diapun segera berlari kearah garasi, hatinya cukup lega karena semua mobil masih ditempatnya semula.      Masih penasaran dengan sang istri, Keenanpun mulai berjalan kearah pos security yang berjaga di depan rumahnya.


            Namun lagi – lagi zonk, pak Sugeng tidak melihat siapapun keluar dari rumahnya. Sedikit frustasi, Keenanpun segera masuk kedalam rumahnya dan berjalan cepat menuju kamarnya.


            Diambilnya ponsel yang berada diatas nakas. Sambil mengedarkan pandangannya, Keenan berusaha untuk menghubungi istrinya.


“ Syukurlah ponselnya aktiv…”, guman Keenan lega.


             Sambil menghubungi sang istri, Keenan menajamkan pendengarannya untuk mencari bunyi suara ponsel Siska.


            Diapun mulai keluar kamar saat tidak mendengar bunyi apapun didalam kamar. Dia berjalan berlahan sambil menajamkan pendengarannya.


            Saat berdiri didepan kamar sang istri, tiba – tiba dia mulai ingat bahwa hanya kamar itu yang belum dia


periksa.


             Keenanpun segera masuk kedalam kamar istrinya dan mulai melakukan penggilan. Sayup – sayup dia mendengar suara dari balik kamar mandi.


            Dengan wajah panik, Keenanpun mengangkat tubuh sang istri dan menutupinya dengan handuk. Perlahan dia membaringkan tubuh Siska diatas ranjang dan menepuk – nepuk kedua pipinya agar terbangun.


“ Bangun sayang…jangan buat aku panik seperti ini…”, ucap Keenan cemas.


            Saat tidak melihat reaksi apapun dari tubuh sang istri, Keenan segera memghubungi Ignatius, dokter keluarganya agar segera datang kerumahnya.


            Sebelum dokter Ignatius datang,Keenan memindahkan tubuh Siska ke dalam kamarnya agar sang mami tidak curiga.


            Keenan berjalan menuju walk in closet untuk mengambilkan baju sang istri. Dia cukup terkejut melihat almari Siska penuh dengan lingery yang super sexy.


“ Ini pasti ulah mami…”, ucap Keenan sambil mengeleng – gelengkan kepala dengan tingkah sang mami yang dinilainya mulai mencamouri urusan rumah tangganya.


            Meski dirinya cukup berterimakasih atas tindakan sang mami yang memberinya obat perangsang sehingga dia akhirnya bisa memiliki Siska seutuhnya.


            Namun dirinya juga cukup takut jika tindakan maminya yang terlalu mencampuri urusan rumah tangganya akan berakibat fatal nantinya, mengingat masih belum ada cinta dihati sang istri.


            Karena tidak ada piyama, akhirnya Keenan mengambil kaos lengan pendek berwarna kuning dengan celana panjang warna hitam.


             Dengan lembut Keenan mulai memasangkan pakaian ketubuh sang istri. Tak lama kemudian dokter Ignatius datang diantar pak Sugeng.

__ADS_1


“ Istri anda hanya kelelahan dan perutnya kosong, sebentar lagi juga sadar ”, ucap Ignatius sambil tersenyum.


            Setelah memberikan vitamin, dokter Ignatiuspun segera keluar diantar Keenan. Dia sama sekali tidak menyangka bahwa istrinya  bisa pingsan karena kelaparan.


“ Apa kamu sudah miskin sekarang, sampai membiarkan istrimu kelaparan dan pingsan…”, ledek Ignatius.


            Selama ini Ignatius jarangmberkomentar, tetapi sekali membuka suara langsung menancam dihati. Keenan yang mendengar ucapan laki – laki paruh baya itu hanya tersenyum masam.


            Jika tidak mengingat semua jasa Ignatius terhadap keluarganya, Keenan mungkin sudah menghajarnya hingga babak belur akibat ucapannya.


            Setelah Ignatius sudah tidak tampak lagi, Keenan segera menyuruh pak Sugeng untuk membeli makanan dipujasera depan kompleks dan langsung berjalan menuju kamar untuk melihat kondisi sang istri.


            Siska sempat membuka mata saat suaminya turun mengantar dokter yang memeriksanya, namun dia dengan cepat kembali menutup mata saat melihat suaminya masuk dan pura – pura tidur.


“ Aku tahu kamu sudah bangun…”, ucap Keenan datar sambil menutup pintu.


            Siskapun berlahan mulai membuka matanya sambil menunduk karena malu. Dia meruntuki dirinya kenapa bisa sampai pingsan karena kelaparan.


“ Kamu itu ya…bikin cemas orang saja ”, ucap Keenan geregetan.


“ Kenapa tadi sepulang kantor tidak bilang kalau lapar ”, ucap Keenan sambil mengacak – ngacak rambut Siska karena gemas.


“Aku  tadi ngantuk jadi ketiduran di mobil ”, cicit Siska membela diri.


“ Lalu kenapa kamu mandi di kamar sebelah tanpa ngasih kabar. Kamu tahu tidak kalau tadi aku cemas mencarimu kemana – mana. Untung saja ketemu, kalau tidak…bisa mati kedinginan kamu di bak mandi ”, ucapnya lagi sedikit geram dengan tingkah sang istri.


“ Maaf…”, hanya itu yang bisa Siska ucapkan.


            Muka Siska langsung merona saat perutnya berbunyi cukup keras hingga membuat Keenan tersenyum.


“ Uhuk…uhuk…”, Siska berpura – pura batuk untuk menyamarkan suara perutnya.


            Bukan berhenti, akibat pura – pura batuk perutnya kembali berbunyi dengan keras. Sontak hal tersebut membuat wajah Siska kembaki memerah seperti kepiting rebus karena malu.


“ Ayo turun…aku rasa makanannya sudah datang…”, ucap Keenan berusaha untuk menahan agar tidak tertawa.


“ Kalau kamu ingin tertawa…tertawa saja tidak usah ditahan ”, ucap Siska antara sebal dan malu.


            Kemudian dia segera berjalan cepat mendahului Keenan saat perutnya kembali bernyanyi.


“Kenapa sih nih perut malu – maluin aja…”, batin Siska sebal.


             Namun rasa sebalnya berkurang saat melihat aneka seafood tersedia di atas meja makan. Tanpa suara diapun langsung mengambil piring kosong dan segera menyantap makanan yang ada didepannya.

__ADS_1


            Keenan yang melihat istrinya makan dengan lahap hanya bisa tersenyum tipis. Dia sama sekali tidak menyangka bahwa istrinya bisa memiliki sisi yang mengemaskan seperti ini.


__ADS_2