
Setelah wajah Siska sudah kembali cerah dan berwarna, pihak rumah sakit akhirnya memperbolehkannya keluar dengan syarat obat dan vitamin yang sudah diresepkan harus diminum secara rutin.
Setelah berkemas dan menyelesaikan administrasi, Alexander segera mendorong kursi roda yang dinaiki Siska kearah lobi sambil menunggu mobil keluar dari parkiran baseman rumah sakit.
Pada saat Siska keluar dari lift tanpa sengaja dia berpapasn dengan anak buah Keenan yang baru saja selesai menjenguk saudaranya dirumah sakit.
“ Itu seperti nyonya Siska…”, gumannya sambil menatap kearah Siska intens.
Siska sama sekali tak menyadari jika sedari sedari tadi ada seseorang yang mengawasinya karena sibuk dengan [onsel yang ada ditangannya.
Setelah memastikan bahwa itu adalah istri bosnya, diapun segera menghubungi Keenan untuk melaporkan jika dirinya melihat istri bosnya itu keluar dari rumah sakit.
“ Rumah sakit ?...”, tanya Keenan penuh selidik.
“ Benar bos. Dan saat ini nyonya sepertinya akan meninggalkan rumah sakit dengan seorang laki - laki…”, ucapnya sambil mulai masuk kedalam mobil.
Keenan tanpa sadar rahangnya mulai mengeras waktu anak buahnya menyebutkan ciri laki - laki yang sangat diyakini adalah orang yang sama dengan yang ada diatas kapal pesiar tempo hari.
“ Buntuti dia…jangan sampai lepas…”, perintah Keenan tegas.
Anak buah Keenan tersebut terus membuntuti mobil yang dinaiki Siska hingga masuk kedalam kediaman Fransisco.
Roy dan Devian yang berada di depan hanya bisa mengamati sahabatnya itu dengan wajah penasaran dari kaca spion mobil.
“ Ada apa ?...”, tanya Devian penasaran.
“ Cepat !!!...langsung kerumah Frans !!!…”, perintah Keenan tajam.
Mendengar ucapan Keenan, Devianpun segera menginjak gas mobil yang dikendarainya dan melajukan mobil dengan kecepatan tinggi.
Sambil melirik GPS di mobilnya, dia mencari jalur yang tidak padat agar bisa sampai ke kediaman mertua sahabatnya itu dengan cepat.
Tampaknya nasib baik hari ini mengikutinya, mobil yang ditumpangi Keenan melalui jalur tikus dengan lancar tanpa hambatan apapun.
Sementara itu dikediaman Fransisco terlihat semua orang duduk dengan wajah tegang setelah mendengar penuturan putri semata wayang mereka.
“ Jadi, apa keputusan yang akan kamu ambil sekarang ?...”, tanya Frans pasrah.
“ Aku akan mengajukam cerai…”, ucap Siska santai.
“ Tidak !!!...aku tidak akan pernah menceraikanmu !!!...”, teriak Keenan yang tiba – tiba sudah masuk kedalam ruang keluarga dengan penuh amarah.
Bagaimana tidak marah, Keenan yang baru saja masuk kedalam rumah sayup – sayup mendengar jika Siska akan menceraikannya, suatu hal yang tidak akan pernah Keenan terima.
__ADS_1
“ Sebaiknya kamu langsung bicara dengan pengacarku karena aku sudah tak mau berurusan denganmu lagi….”, ucap Siska datar.
Tidak ingin berdebat dengan Keenan, Siskapun bangkit dari tempat duduknya. Saat dia hendak pergi, pergelangan tangannya dicekal oleh Keenan.
“ Aku ingin bicara empat mata denganmu…”, ucap Keenan lembut.
Meski saat ini dirinya diliputi amarah, namun sebisa mungkin dia menunjukkan sikap tenang dihadapan sang istri agar wanita itu mau berbicara dengannya.
Alexander yang melihat Keenan mencekal tangan Siska bersiap untuk maju, namun langkahnya dihadang oleh Roy dan Devian.
“ Biarkan mereka menyelesaikan permasalahan mereka sendiri…”, ucap Devian tajam.
Tidak ingin membuat keributan, Siskapun mengangguk kepada Alexander agar membiarkannya untuk berbicara dengan sang suami.
Siska sadar jika dirinya tidak bisa terus lari saat ini. Setiap permasalahan harus dibicarakan secara rinci dan jelas, agar hatinya juga tenang.
Melihat istrinya sudah mulai melunak, Keenanpun mengikuti langkah Siska menuju ruang kerja Frans.Disana dia berusaha untuk menjelaskan semuanya dan memberikan bukti – bukti yang telah didapatkannya.
Namun tampaknya, bukti yang ditunjukkan kepada Siska tak mempengaruhi keputusannya untuk bercerai dengannya.
“ Semua bukti sudah ada…aku dijebak…kenapa kamu masih ingin bercerai denganku?…”, ucap Keenan sambil mengacak – acak rambutnya frustasi.
“ Itu tidak akan terjadi jika kamu tidak memberikan dia kesempatan…”, ucap Siska dengan nada kecewa.
Tapi kenyataannya, suaminya itu masih saja bersikap lunak kepada Tasya. Dan hal itulah yang tidak bisa ditolerir oleh Siksa terhadap Keenan.
“ Dia yang terus mengejarku !!!...bukan aku yang mengejarnya !!!. ”, ucap Keenan penuh penekanan.
“ Jika kamu tak menanggapi, tidak akan begini jadinya…”, Siska sambil mengertakkan giginya, menahan emosi yang mulai berkobar dalam dirinya.
“ Jadi, kamu menyalahkanku…”, ucap Keenan dengan mata sedikit menyipit, tak senang.
“ Tentu saja…hanya orang bodoh yang masuk kedalam lubang yang sama beberapa kali…”, ucap Siska dengan nada mengejek.
Mendengar ucapan sang istri yang sarat nada sindiran tak bisa membuat hati Keenan tenang. Diapun mengusap mukanya dengan kasar, mencari cara bagaimana untuk menyakinkan sang istri yang ada dihadapannya itu.
Cukup lama keduanya terdiam dengan raut wajah menegang. Hingga suara Keenan menmecah kesunyian yang ada.
“ Apa kamu menceraikanku karena dia ?...”, Keenan bertanya dengan pandangan penuh selidik.
Dia masih belum bisa mencari alasan lain kenapa sang istri berniat menceraikannya setelah semua penjelasan dan bukti sudah dia berikan, jika bukan karena ada pihak lain.
“ Jangan alihkan topik pembicaraan…”, Siska berbicara dengan wajah sinis.
__ADS_1
“ Lalu apa lagi…aku sudah menjelaskan semuanya kepadamu….”, ucap Keenan dengan nada frustasi
“ Keputusanku sudah bulat…”, Siska mengatakannya dengan tatapan tajam yang menusuk.
“ Jika masih ada yang kurang jelas, kamu bisa langsung berkonsultasi dengan pengacarku…”, ucap Siska sambil melangkah keluar ruang kerja.
Keenan yang masih belum puas dengan jawaban sang istripun kembali mencekal pergelangan tangannya, menahannya agar tidak pergi waktu melihat pintu sudah terbuka.
“ Lepaskan !!!...”, ucap Siska marah.
Bukannya melepaskan tangan Siska, Keenan malah semakin mempererat pegangannya hingga tanpa sadar pergelangan tangan Siska membiru karena suaminya itu terlalu kuat memeganginya.
“ Keenan !!!....”, Siska mengeram marah.
Alexander yang mendengar suara Siska segera bergegas menuju ruang kerja Frans yang pintunya sedikit terbuka tersebut.
Roy dan Devian yang seklai lagi mencoba untuk menghalangi langkah Alexander kali ini tak beruntuk karena keduanya langsung mendapatkan bogeman mentah darinya.
Setelah kedua sahabat Keenan tersebut tumbang, Alexanderpun bergegas menuju tempat dimana Siska berada.
Melihat Keenan memegang pergelangan tangan Siska dengan erat, Alexanderpun segera menghempaskan tangan Keenan dengan kasar dan langsung membawa Siska keluar ruangan.
Tak terima dengan tindakan Alexander, Keenanpun segera menyusul langkah keduanya dan langsung memukul Alexander dengan keras.
Alexander yang tidak terima dipukul langsung balas memukul Keenan sehingga perkelahian diantara keduanyapun tidak bisa dihindari.
Semua orang berusaha untuk melerai keduanya, tapi yang ada tubuh mereka terpental kebelakang karena kuatnya tubuh dua orang tersebut hingga membuat Siska yang menyaksikan semuanya tersebut merasa geram.
“ STOP !!!...BERHENTI !!!....”, Teriak Siska penuh amarah.
Namun teriakan Siska tampaknya juga tak mampu menghentikan perkelahian yang ada. Karena teriakannya sama sekali tidak dianggap oleh keduanya, Siskapun langsung masuk diantara keduanya sambil merenggangkan kedua tangannya.
Brukk….
Siskapun ambruk begitu pukulan Keenan yang dilayangkan kepada Alexander mengenai wajahnya.
“ Siska !!!...”, Adelia berteriak histeris melihat putrinya tersungkur dengan luka lebab diwajahnya akibat pukulan Keenan.
“ Maaf….”, hanya itu yang bisa Keenan ucapkan sambil menangkup wajah istrinya dengan cemas.
“ Singkirkan tangan kotormu !!!...”, Alexander segera menampis tangan Keenan dengan kasar dan membopong Siska naik kedalam kamarnya.
Keenan yang berusaha untuk mengejar, dihalangi Fransisco dan Adrian yang sudah geram dengan semua tingkah pola laki – laki itu.
__ADS_1
" Sebaiknya segera angkat kaki dari sini !!!....jika tidak...aku tak akan segan - segan untuk menyeretmu keluar dari sini !!!....", ucap Fransisco penuh amarah.