BUNGA DIATAS HATI YANG LUKA

BUNGA DIATAS HATI YANG LUKA
KEGALAUAN KEENAN


__ADS_3

Adrian cukup terkejut dengan kehadiran Siska di tempat meeting pagi ini.


Namun hatinya juga lega, kedatangan sepupunya untuk bertemu klien penting tersebut membuktikan bahwa masalah yang dihadapinya tidaklah seserius seperti penuturan Andrew.


Meski sempat menghilang semalaman dan lost kontak dengan asistennya, namun sikap profesionalisme yang ditunjukkan sepupunya pagi ini membuatnya sangat bangga.


" Ayo siapkan dirimu...tahun ini kita harus bisa menguasai Asia ", ucap Siska optimis.


" Akhirnya...satu persatu impianmu mulai tercapai " , ucap Adrian sambil berjalan cepat mengikuti langkah Siska.


" Kita harus segera membentuk tim khusus, jangan sampai si tua itu mengacau lagi ", ucap Siska tersenyum lebar.


" Sampai bertemu dikantor...", lambai Adrian saat berpisah di parkiran dengan Siska.


Kehadiran Siska di kantor membawa angin segar bagi Andrew.


Mukanya yang ditekuk mulai pagi akhirnya bisa kembali ceria seiring langkah kaki sang bos memasuki ruangannya.


Dengan sigap dia segera menghubungi Keenan lewat ponselnya.


Setelah itu dia langsung masuk kedalam ruangan Siska untuk memberikan beberapa berkas yang perlu ditandatangani oleh bosnya itu.


" Semalaman ibu kemana aja....kenapa nggak pulang ke rumah....saya pusing diteror terus sama bapak ", cerocos Andrew panjang kali lebar.


" Beritahu tim delapan, sebentar lagi kita akan meeting. Semua wajib hadir ", perintah Siska mengacuhkan pertanyaan asistennya itu.


" Sekarang...", ucapnya penuh penekanan dengan mata melotot saat Andrew hendak membuka mulut.


Melihat tatapan tajam sang bos membuat nyalinya menciut.


Tanpa bersuara dia segera beranjak dari ruang kerja Siska dan segera mengkondisikan tim delapan untuk meeting sekarang.


Keenan yang baru saja selesai meeting segera menghubungi istrinya saat melihat pesan yang dikirim Andrew kepadanya.


Kenapa ponselnya masih belum aktiv ?" , guman Keenan pelan.


Tidak bisa menghubungi sang istri membuatnya langsung menghubungi Andrew, namun nada sibuk terdengar disana.


Dengan sedikit geram, Keenan akhirnya memutuskan untuk menuju kantor tempat istrinya bekerja.


Dia ingin mendengar penjelasan langsung dari sang istri perihal ketidak pulangannya tadi malam.


Saat ini Keenan masih meraba - raba apa hal yang membuat istrinya berubah hanya dalam hitungan jam, mengingat hubungannya yang sempat membaik selama mereka berada di Malaysia.


Saat tiba di kantor sang istri, Keenan terpaksa harus menunggu di ruangan Siska sampai istrinya tersebut selesai meeting dengan timnya.


Sambil menunggu istrinya, Keenan menghubungi sang mami yang sejak tadi terlihat khawatir kepada dirinya setelah mendapatkan kabar dari Fani mengenai dirinya yang sejak pagi marah - marah tidak jelas terhadap karyawannya.


" Apa kamu bertengkar dengan Siska ", todong Rosalie saat putranya tersebut menghubunginya.

__ADS_1


" Aku tidak ada masalah dengan Siska mi..


ini juga aku lagi dikantor istriku " , ucap Keenan santai.


" Tapi kata Fani kamu mulai pagi sudah marah - marah tidak jelas " , ucap sang mami khawatir.


" Aku hanya ingin mendisiplinkan karyawanku, itu saja. Aku tidak mau kalau perusahaan yang kupimpin hanya stagnan, sedangkan perusahaan istriku semakin melejit ", ucap Keenan beralibi.


Mendengar penuturan putranya, Rosalie mulai paham dengan apa yang dirasakan Keenan saat ini.


Mengingat pernikahan anaknya dengan Siska karena adanya paksaan, tentunya putranya itu tidak ingin berada dibawah istrinya.


Jika tidak, maka Rosalie bisa memastikan bahwa menantunya tersebut tidak akan menganggap Keenan ada, karena dia bisa melakukan semuanya sendiri.


Dan hal ini tentunya tidak diinginkan oleh Rosalie.


Mengingat Keenan sangat mencintai Siska dengan sangat dalam.


" Syukurlah jika hubunganmu dengan Siska baik - baik saja ", ucap Rosalie lega.


" Mami harus tenang....sebentar lagi aku akan memberikan penerus keluarga Wisnudharta...jadi mami tidak perlu khawatir lagi sekarang ya...", ucap Keenan menenangkan maminya.


Tanpa Keenan sadari, Siska sudah sedari tadi berdiri didekat pintu mendengar semua percakapan ibu dan anak tersebut.


" Ternyata benar semua yang dikatakan Alexander ", batin Siska semakin waspada.


" Kalau begitu aku akan ikuti permainan mereka.." , batin Siska sinis.


Meski dia sangat marah tapi semuanya berusaha dia tahan agar keaadaan tidak semakin rumit.


Di kecupnya pipi sang istri dengan lembut sambil mengusap kelapa Siska yang terlihat sedikit lelah tersebut.


" Ada proyek baru lagi...", tanya Keenan lembut.


Diapun kemudian duduk diatas meja kerja Siska, memperhatikan istrinya yang terlihat sibuk dengan laptop yang ada didepannya.


Cup....dia kembali mengecup pipi istrinya berkali - kali hingga membuat Siska sedikit geram.


" Apaan sih....", ucap Siska melotot karena kesal.


" Habisnya....aku kamu cuekin gitu " , ucap Keenan merajuk.


" Jika tidak ada yang mau dikatakan sebaiknya kamu segera balik kekantormu ", usir Siska .


Keenan yang diusir oleh istrinya bukannya marah malah mengangkat tubuh istrinya dari kursi yang didudukinya.


" Apa - apaan kamu...cepat turunkan aku ", ucap Siska meronta dalam dekapan Keenan.


Bukannya menurunkan, Keenan malah semakin memeluk erat tubuh sang istri yang terus memukulinya agar diturunkan.

__ADS_1


" Jika tenagamu seperti itu, bukannya sakit aku malah terangsang....", bisik Keenan di telingga Siska.


Mendengar perkataan suaminya, Siska segera menghentikan aksinya dan diam menurut dengan apa yang diperbuat oleh Keenan kepadanya.


" Ternyata cara ini ampuh juga " , batin Keenan geli.


Kemudian diapun segera duduk di sofa dengan Siska berada dipangkuannya.


Dengan lembut Keenanpun mulai mencerca istrinya dengan berbagai pertanyaan yang sejak semalam dia pendam.


Semua alasan yang diberikan oleeh istrinya cukup masuk akal bagi Keenan sehingga sekarang dia sudah tidak mempermasalahkan lagi hal tersebut.


" Tapi lain kali, tolong kabari aku jika memang tidak bisa pulang ya...", ucap Keenan lembut.


Wajah mereka yang cukup dekat membuat sesuatu yang ada ditubuh Keenan mulai berontak.


Meski belum pernah bercinta dengan siapapun namun Siska juga bukanlah gadis yang polos.


Dia cukup paham dengan apa yang terjadi dengan suaminya saat ini.


Meski dia tahu kalau menolak suami adalah sebuah dosa, namun bagaimanapun juga dia ingin melakukan hal tersebut saat sudah ada cinta dalam hatinya.


Bukannya keraguan dan rasa sakit seperti saat ini yang dia rasakan.


Dengan perlahan namun pasti Keenan mulai m*****t bibir istrinya dengan lembut dan penuh cinta.


Saat keduanya sudah larut dalam rasa tiba - tiba dari arah pintu Andrew datang dengan raut pucat.


" Ma....maaf bu...", ucapnya gelagapan saat melihat adegan yang terhenti karena kedatangannya.


Melihat raut wajah Keenan yang mulai menggelap, dia cukup tahu bahwa sebentar lagi dia akan habis oleh suami bosnya itu.


" Ada apa...", ucap Siska datar sambil berdiri dari pangkuan sang suami dan membenahi bajunya yang sedikit berantakan akibat ulah Keenan.


" Didepan ada tuan Baskoro....dia memaksa masuk meski sudah dilarang " , ucap Andrew takut.


"Apa kamu sudah menghubungi Adrian ", tanya Siska santai.


" Sudah bu...", ucap Andrew dengan wajah pucat karena Keenan masih menatapnya dengan tajam.


" Ok. Bawa dia keruang tamu yang ada di lantai satu. Sebentar lagi aku turun ", ucapnya sambil mematikan laptop yang ada didepannya.


" Akhirnya permainan ini bisa dimulai ", batin Siska tersenyum sinis.


" Kamu mau menungguku atau balik kekantor ", tanya Siska sebelum meninggalkan ruangan.


" Aku balik kekantor dulu ya....sampai ketemu di rumah" , ucap Keenan lembut sambil mengecup kening istrinya cukup lama sebelum melangkah pergi.


" Ada apa kakek tua itu menemui Siska...", batin Keenan penasaran.

__ADS_1


" Aku harus mencari tahu sebelum dia melukai istriku ", gumannya pelan.


Kemudian dia mulai menghubungi anak buahnya yang sudah disusupkan diperusahaan istrinya tersebut untuk mengetahui maksud kedatangan Baskoro hari ini.


__ADS_2