
Bau cairan disinfektan yang cukup menyengat perlahan mulai masuk kedalam indera penciuman Siska.
Membuat gadis itu membuka mata sambil mengernyitkan dahinya cukup dalam, cukup terganggu dengan aroma obat – obatan yang ada dalam ruangan tersebut.
Beberapa kali Siska terlihat mengerjapkan kedua matanya, berusaha untuk menyesuaikan sinar yang masuk kedalam retinanya.
Setelah terbiasa, perlahan kedua bola matanya mulai menyisir seluruh isi ruangan yang hampir seluruhnya berwarna putih tersebut.
Suasana yang tidak asing baginya. Suatu tempat yang paling Siska benci sejak dulu, rumah sakit yang selalu membawa trauma tersendiri untuknya.
Banyak kenangan pahit yang dia lalui dalam gedung serba putih tersebut membuatnya sangat benci dengan yang namanya rumah sakit.
Bahkan jika sakitpun, Siska lebih memilih untuk pergi ke tempat praktek pribadi sang dokter dibandingkan dengan mendatangi rumah sakit.
Jika saja kondisi tubuhnya tak lemas dan kepalanya tak terasa sakit seperti saat ini, mungkin dia akan segera mencabut infuse yang menancap dipergelangan tangannya dan kabur meninggalkan rumah sakit untuk ke,bali ke rumah.
“ Kenapa aku berada dirumah sakit ? apa yang terjadi ?....”, batin Siska penuh tanda tanya.
" Ahhh...aku sangat benci situasi seperti.....", Siska kembali mengerutu tak senang dengan keadaan yang ada.
Pada saat Siska sedang sibuk dengan pikirannya, tiba – tiba pintu ruang rawatnya terbuka dari luar dan ada seorang wanita dengan pakaian serba putih masuk kedalam ruangan.
Seorang perawat yang baru masuk kedalam ruangan langsung berlari keluar sambil memanggil dokter jaga begitu melihat Siska sudah sadarkan diri.
“ Kenapa dia berteriak dan lari panik seperti itu ?...”, guman Siska binggung.
Kebinggungan Siska semakin bertambah saat banyak orang berseragam putih yang tiba - tiba masuk kedalam ruangan secara serentak.
Orang - orang tersebut segera memasangkan banyak alat ke tubuhnya dan mulai mengobservasinya sambil mencatat hasil yang ada.
“ Syukurlah….semua kondisinya normal….”, ucap dokter tersebut setelah melihat hasil seluruh test yang dijalankannya.
Frans dan Adelia merasa sangat lega mengetahui jika Siska dalam kondisi baik – baik saja setelah tak sadarkan diri hampir satu minggu lamanya.
Setelah dokter selesai memeriksa, Adelia pun menghampiri sang putri dengan penuh kerinduan dan memegang tangannya dengan lembut.
__ADS_1
“ Bagaimana perasaanmu sayang ?...apa ada yang sakit ?....”, tanya Adelia penuh perhatian.
Melihat Siska tak menjawab dan hanya mengamatinya saja membuat Adelia merasa sedikit was – was.
Adelia pun terlihat melirik sang dokter yang masih berdiri disamping ranjang dengan wajah cemas hingga suara Siska membuatnya seperti tersambar petir.
“ Anda siapa ?...anda mengenal saya nyonya ?....”, ucap Siska lugu.
Semua orang terlihat terkejut dengan ucapan yang terlontar dari mulut Siska, terlebih lagi Adelia yang kedua matanya mulai terlihat berkaca – kaca.
Sang dokterpun mulai memberikan beberapa kepada gadis itu, namun Siska hanya menggeleng – gelengkan kepala saja tanpa bisa menjawab.
“ Putri ibu sepertinya hilang ingatan. Ini mungkin akibat tekanan darah yang naik secara drastis di tubuhnya. Untuk seberapa parahnya, kami masih harus melakukan observasi terhadap pasien lebih lanjut….”, ucap sang dokter menjelaskan sebelum beranjak pergi meninggalkan ruangan untuk pergi memeriksa pasien yang lainnya.
Badan Adelia langsung lemas seketika mendengar semua hal tersebut. Baru saja dia merasa lega karena putrinya sudah sadarkan diri.
Namun sekarang, dia harus dihadapkan dengan kenyataan pahit jika putrinya hilang ingatan setelah berhasil bangun dari komanya.
Fransisco berjalan mendekat ke sisi ranjang dan mencengkeram lembut bahu sang istri untuk menguatkannya.
Meski sedikit binggung, namun Siska mulai mengerti jika sepasang pasutri yang sedari tadi menatapnya dengan p[enuh rasa khawatir adalah kedua orang tuanya.
" Papi...mami.....", ucap Siska dengan suara bergetar.
Ketiganya pun langsung berpelukan dengan hangat, menyalurkan semua rasa yang ada dalam hati mereka saat ini.
Sementara itu, Alexander yang saat ini sedang berada dalam ruangan Rafelio segera bangkit dan mengendong bayi laki – laki munggil tersebut keluar ruangan menuju ruangan Siska begitu mendengar kabar jika gadis tersebut telah sadarkan diri.
Dengan penuh semangat tanpa mengetahui jika Siska hilang ingatan, Alexanderpun segera masuk kedalam ruang rawat sambil mengendong Rafelio dengan senyum lebar.
“ Sayang…lihatlah….bukankah Rafelio sangat tampan….”, ucap Alexander bersemangat.
Melihat Siska hanya diam sambil memandangnya, Alexander yang menyangka jika gadisnya tak jelas memandang wajah sang putra segera berjalan menghampiri dan menunjukkan wajah sang bayi kepada mamanya.
Adelia yang melihat Siska hanya terdiam kebinggungan pun berusaha untuk menjelaskan siapa keduanya.
__ADS_1
“ Ini suami dan anakmu, Siska….”, ucap Adelia sambil tersenyum lembut.
Meski terkejut dengan ucapan Adelia, namun melihat respon Siska yang sangat aneh membuat Alexander hanya bisa mengikuti perkataan wanita paruh baya yang sudah dianggap sebagai orang tuanya itu.
“ Anak?…suami?…..”, ucap Siska sambil menatap Alexander dan Rafelio secara bergantian.
Meski sedikit binggung, Alexander yang mulai mengerti dengan kondisi yang ada akhirnya turut serta dalam drama yang Adelia ciptakan.
“ Iya sayang…ini anak kita. Bukankah dia sangat tampan ?....”, ucap Alexander dengan senyum mengembang diwajahnya.
“ Iya, dia tampan seperti papanya….”, ucap Siska sambil melirik Alexander sekilas.
Meski Alexander bukan papanya Rafelio, tapi melihat jika Siska tampaknya telah menganggap jika dia adalah suaminya membuat hati laki – laki tersebut menghangat.
Setelah Siska bisa menerima bayi tersebut sebagai anaknya dan mulai mengendongnya, perlahan Alexanderpun berjalan mundur dan mendekat kearah Fransico untuk menanyakan apa yang telah terjadi.
Dengan wajah sedih Fransisco pun menjelaskan semua hal yang tadi diucapkan oleh dokter kepada mereka.
Meski merasa sangat terkejut, namun Alexander juga tak bisa membohongi hati kecilnya jika dia sangat bahagia saat ini.
Meski hanya menjadi suami pura – pura karena Siska hilang ingatan, tapi hal itu sama sekali tak mengganggu Alexander.
Dia sudah cukup puas dengan kedua orang tua Siska yang mengakuinya sebagai menantu mereka.
Meski Alexander yakin jika semua itu dilakukan oleh mereka hanya karena tidak ingin mental Siska kembali terguncang.
“ Om dan tante tenang saja…saya berjanji akan menjaga Siska dan Rafelio dengan sebaik – baiknya….”, ucap Alexander berjanji.
“ Kuharap Siska bisa lebih bahagia dengan kondisinya saat ini dan tidak kembali mengingat semua masa lalunya yang menyakitkan itu….”, ucap Fransisco sedih.
Melihat Siska memanggilnya, Alexander pun segera berjalan mendekat. Keduanya terlihat tersenyum lebar melihat bocah kecil yang tertidur pulas dalam dekapan sang mama.
“ Kuharap kali ini kita tidak salah ambil keputusan ya pi….”, guman Adelia setengah berbisik.
“ Siska pantas bahagia…dan aku harap, Alexander bisa mengabulkannya….”, ucap Fransisco lirih.
__ADS_1
Sepasang pasutri tersebut segera pamit untuk pulang sebentar berganti pakaian dan beristirahat di rumah dan memberikan ruang bagi Siska dan Alexander untuk menghabiskan waktu bersama.