BUNGA DIATAS HATI YANG LUKA

BUNGA DIATAS HATI YANG LUKA
OPNAME


__ADS_3

Akhirnya kapal pesiar yang sudah mengarungi lautan selama tiga hari tersebut berhenti disebuah dermaga disalah satu negara tetangga.


Para penumpangpun satu persatu mulai turun dari kapal mewah tersebut dengan wajah ceria karena selama berada diatas laut mereka melakukan berbagai macam transaksi besar yang hanya bisa dilakukan setahun sekali.


Keenan, Devian, dan Roy terlihat buru – buru turun untuk dan menunggu dibawah sambil menatap satu persatu penumpang yang turun dari kapal dengan wajah tegang.


“ Bagaimana ?...”, Keenan bertanya kepada dua temannya yang terlihat masih fokus menatap wajah penumpang yang turun.


Roy dan Devian hanya bisa menggelengkan kepala dengan raut sedih sambil terus fokus mencari keberadaan Siska.


Mereka sangat berharap bisa menemukan sosok wanita itu diantara kerumunan penumpang yang turun dari kapal mewah itu.


Wajah Keenan terlihat sangat kecewa begitu penumpang terakhir turun dan perlahan tangga kapal tersebut mulai dimasukkan.


“ Apa semuanya sudah turun ?….”, Keenan bertanya dengan cemas waktu jangkar kapal tersebut mulai ditarik dan kapal kembali berjalan.


“ Kurasa dia sudah pergi, mungkin semalam….”, ucap Roy menerawang.


“ Apa maksudmu ?...”, tanya Keenan dan Devian berbarengan dengan pandangan penuh selidik.


“ Ini hanya tebakanku saja, mungkin dia sudah pergi menggunakan helikopter semalam…”, ucap Roy tak enak hati.


Melihat dua temannya menuntut jawaban yang lebih,  Roypun kemudian menceritakan semua kejadian yang dilihatnya tadi malam kepada Keenan dan Devian.


FLASH BACK ON


Malam itu, saat Keenan sibuk dengan memikirkan cara untuk bisa mendapatkan istrinya kembali dan Devian sudah masuk kedalam alam mimpinya, Roy yang tak bisa tertidur memilih keluar untuk mencari angin mendinginkan kepalanya yang mulai panas.

__ADS_1


Dibalik sikap ceria dan tenang yang ditunjukkan Roy dipermukaan, lelaki itu menyimpan segudang permasalahan hidup yang hampir tidak ada satupun yang tahu.


Roy sangat pintar menutup rapat – rapat semua permasalahan yang menderanya dari semua orang dan berusaha untuk menyelesaikannya sendiri.


Saat sudah berada di dek kapal, Roy terdiam sambil menikmati hembusan angin malam yang datang menyapanya.


Perlahan, udara dingin mulai masuk kedalam paru – parunya, mengisi kekosongan disana. Melihat bintang – bintang bertaburan di langit, rasa penat yang tadi melanda berangsur mulai hilang digantikan kelegaan.


Satu tangannya merogoh saku, mengeluarkan sebungkus  rokok  dan mulai mengambil sebatang, menyesapnya dalam – dalam dan menghembuskan asapnya secara perlahan.


Hal tersebut terus dilakukannya hingga tak terasa sudah hampir setengah bungkus habis terbakar malam ini.


Roy mendongakkan kepalanya saat merasa angin malam semakin kencang berhembus dan sedetik kemudian dia mendengar suara helikopter terbang mendekat menuju kapal.


Dia hanya menatap datar helikopter yang baru saja mendarat diatas kapal mewah tersebut sambil menyesap rokoknya dalam – dalam.


“ Sungguh enak jadi orang kaya, bisa datang dan pergi sesuka hati mereka kemanapun itu…”, batin Roy tersenyum miris saat melihat ada tiga orang berjalan mendekat menuju helikopter dan sedetik kemudian heli tersebut terbang meninggalkan kapal mewah itu.


Merasa udara semakin dingin, Roy yang hanya menggunakan kaos singlet dan celana pendek tersebut pun memutuskan untuk kembali masuk kedalam kamarnya.


Saat melihat Keenan sudah tidur, Roypun mulai membaringkan tubuhnya diatas ranjang disamping Devian dan mulai masuk kedalam alam mimpi.


FLASH BACK OFF


“ Jadi, kamu pikir Siska pergi bersama pria itu semalam menggunakan helikopter ?....”, Devian bertanya dengan tatapan penuh selidik.


“ Bisa jadi…karena aku sendiri tidak bisa melihat dengan jelas karena jarak yang cukup jauh dan ketiganya memakai tudung hitam saat naik kedalam helikopter…..”, Roypun berusaha untuk menjelaskan kembali apa yang sudah dilihatnya semalam.

__ADS_1


“ Jika seperti itu, rivalmu kali ini bukan orang sembarangan bro….”, ucap Devian cemas.


Tanpa sadar Keenan mengepalkan kedua tangannya hingga buku – buku jarinya memutih waktu mendengar ucapan sahabatnya itu.


Jika dia memiliki ruangan khusus yang dijaga sangat ketat dalam kapal pesiar tersebut serta tidak bisa dilacaknya sang istri selama menghilang tentunya apa yang Devian katakan adalah kebenaran yang sulit untuk Keenan terima.


“ Sebaiknya kita mencari penginapan dan memikirkan langkah selanjutnya…”, ucap Roy yang sudah mulai kepanasan karena sejak turun mereka tetap berdiri di samping dermaga tanpa ada benda apapun yang memayungi tubuh mereka.


“ Ayo…”, Devianpun segera merangkul bahu Keenan dan mengajaknya pergi.


Mereka bertiga memutuskan untuk pulang keesokan harinya mengingat tubuh mereka sangat lelah saat ini. Ketiganya memasuki penginapan yang tak jauh dari dermaga sambil memikirkan rencana selanjutnya.


Tak lupa, Keenan juga menghubungi anak buahnya untuk mencari informasi mengenai laki – laki yang berasama sang istri berbekal gambar wajah yang ada dalam ingatannya.


Sementara itu, Crystal yang berada dirumah saat ini sedang tergolek lemah tak berdaya dengan selang infuse yang menancap di lengannya.


Alexander terpaksa membawa Siska kerumah sakit dengan helikopter malam itu juga saat melihat wanita itu terus saja memuntahkan seluruh isi perutnya tanpa henti meski obat dari dokter sudah diminumnya.


Tindakan Alexander ini dinilai tepat oleh dokter karena Siska sudah mengalami dehidrasi akut akibat terus memuntahkan isi dalam perutnya.


" Apa aku perlu memberitahu orang tuamu...", Alexander bertanya dengan lembut.


" Tidak perlu...besok aku juga sudah keluar dari rumah sakit...", ucap Siska lemas.


" Lalu...apa rencanamu selanjutnya ?...", ucap Alexander penasaran.


" Aku ingin berkonsultasi dulu dengan mama gimana baiknya ...", ucap Siska sambil menutup mata karena rasa mual itu kembali hadir dan kepalanya terasa sangat sakit.

__ADS_1


Melihat Siska menutup mata dengan keringat dingin yang mulai mengucur ditubuhnya, Alexander kembali cemas. Diapun segera memanggil perawat untuk memeriksa kondisi Siska yang terlihat semakin pucat


Setelah mendapatkan suntikan obat, perlahan kesadaran Siska mulai menghilang dan tidur dengan nyenyak. Alexander yang mendengar suara dengkuran halus yang keluar dari bibir munggil Siska akhirnya bisa bernafas dengan lega.


__ADS_2