BUNGA DIATAS HATI YANG LUKA

BUNGA DIATAS HATI YANG LUKA
SAHABAT SEJATI


__ADS_3

Seharian ini Rosalie menunggu kabar dari Keenan dengan wajah cemas. Dia terlihat berjalan mondar – mandir dengan gelisah, membuat Bagus Aji yang sedang membaca berita di ponselnya ikut merasa tak tenang.


“ Sudahlah mi….Keenan mungkin capek bermain dengan anaknya hingga lupa menghubungi mami. Tunggu hingga besok, jika Keenan masih belum mengabari mami bisa menghubunginya….”, ucap Bagus Aji berusaha menenangkan hati sang istri.


Ucapan Bagus Aji sama sekali tak membuat hati Rosalie merasa tenang karena dia memiliki firasat buruk mengenai sang putra.


“ Pasti ada sesuatu hal buruk terjadi pi….hati mami belum bisa tenang sebelum mendengar suara Keenan….”, ucap Rosalie dengan mata nanar.


Melihat istrinya hendak menangis, Bagus Aji hanya bisa pasrah dan mengijinkan snag istri untuk menghubungi sang anak agar hatinya merasa tenang.


Rosalie yang mencoba menghubungi Keenan  namun tak bisa tersambung menjadi semakin gelisah.


Dia terus saja menekan tombol ponsel putranya meski hanya suara operator yang terus dia dengar dibalik layar.


“ Kenapa ponselnya tak bisa dihubungi pi….”, ucap Rosalie panik.


“ Tenang mi…mungkin ada gangguan provider disana….”, ucap Bagus Aji sambil mengusap bahu sang istri dengan lembut untuk membuatnya tenang.


“ Coba mami hubungi Devian, mungkin dia tahu informasi mengenai Keenan….”, ucap Bagus Aji memberi saran.


Dengan cepat, Rosalie pun menghapus air mata dipipinya dan segera mencari nama Devian didalam ponselnya.


“ Malam tante….”, sapa Devian dari arah seberang.


“ Devian, apa kamu tahu kenapa ponsel Keenan mati ?....”, tanya Rosalie dengan nada penuh kekhawatiran.


“ Mungkin Keenan masih dalam perjalanan pulang dan ponselnya kehabisan daya dijalan…”, ucap Devian berbohong.


FLASH BACK ON


Devian yang mengetahui jika hari ini Keenan akan bertemu anaknya terlihat antusias untuk mendengar kabar tersebut dari sahabatnya.


Siang itu, setelah selesai meeting diapun berinisiatif untuk menghubungi sahabatnya. Sudah lebih dari sepuluh menit pesan yang dikirim oleh Devian tak dibaca oleh Keenan membuat perasaannya sedikit cemas.


Namun cepat – cepat perasaan tersebut dia hilangkan dari dalam hati dan pikirannya dengan menganggap bahwa sahabatnya itu tak membaca pesan yang dikirimnya karena sibuk bermain dengan anaknya.

__ADS_1


Betapa keras usaha Devian untuk mengalihkan pikirannya dengan berbagai macam pekerjaan yang menumpuk dihadapannya, tapi hal tersebut sama sekali tak berhasil.


Dia terus kepikiran dengan sahabatnya tersebut. Perasaan resah dan gelisah yang tak nyaman seperti ini membuatnya tak tenang.


Devian pun segera mengambil ponsel dan mencoba menghubungi sahabatnya tersebut. Satu kali, dua kali, hingga nada dering kelima sambungen teleponnya masih belum juga Keenan angkat.


Membuat perasaan cemas dalam hati Devian semakin meningkat. Diapun kembali menekan nomor ponsel sahabatnya dengan harapan Keenan mengangkatnya.


“ Yaaaa…..”, ucap Keenan dengan suara parau.


Mendengar suara sahabatnya serak dan bergetar, Devianpun merasa jika ada sesuatu hal buruk terjadi disana.


Tak lama kemudian, tangis Keenan pun pecah begitu sahabatnya itu menanyakan kondisinya.


Devian hanya bisa dengan sabar mendengar curahan hati sahabatnya itu sambil sesekali memberinya semangat agar tak langsung menyerah begitu saja.


“ Coba beri putramu waktu….dia pasti syok mengetahui kenyataan ini jadi dia memberi ekspresi seperti itu kepadamu….”, ucap Devian dengan nada menghibur.


“ Kamu tidak tahu bagaimana dia menatapku, sangat tajam dan dingin. Seolah – olah aku hanyalah orang asing yang tak penting untuknya….”, ucap Keenan mengadu.


“ Aku lebih senang dia marah dan berteriak kepadaku daripada dia bersikap seperti itu….”, ucap Keenan dengan suara lemah.


“ Coba kamu pikir – pikir lagi, bukankan sikap Rafelio itu mirip denganmu sewaktu kecil. Sangat – sangat menyebalkan…..”, ucap Devian berusaha untuk mencairkan suasana.


Mendengar hal tersebut, Keenanpun terdiam untuk sesaat sambil mengingat masa kecilnya dahulu sebelum akhirnya dia kembali bersuara.


“ Apa aku semenyebalkan itu bagimu….”, tanya Keenan penasaran.


“ Tentu saja….jika bukan karena kedua orang tua kita yang sudah bersahabat sejak lama, mungkin aku tak akan sudi untuk berteman dengamu….”, ucap Devian lugas.


“ Jadi kamu menyesal telah berteman denganku selama ini….”, ucap Keenan sedih.


“ Tidak…justru aku bersyukur telah berteman denganmu karena kamu adalah satu – satunya orang yang selalu jujur dan tak pernah bermuka dua dihadapanku…..”, ucap Devian apa adanya.


“ Kurasa sifat Rafelio sama sepertimu. Dia sulit untuk bisa mengekspresikan perasaannya kepada orang lain jadi kadang kala sering membuat orang lain salah paham terhadap dirinya….. ”, ucap Devian menjelaskan.

__ADS_1


“ Coba kamu instropeksi diri, jika kamu bisa dengan gamblang menyampaikan semua hal yang kamu rasakan tentunya Siska tak akan meninggalkanmu dan keluarga kecil kalian bisa hidup bahagia sekarang….”, ucap Devian mengungkapkan semuanya.


Berharap sahabatnya itu tidak mengulangi kesalahan yang sama hingga akhirnya dia akan kehilangan semuanya.


Keenan cukup tertohok mendengar ucapan gamblang Devian tersebut. Tak ingin sahabatnya semakin khawatir dengan dirinya, Keenanpun segera mengakhiri pembicaraan.


“ Untuk sementara, jangan hubungi aku dulu. Aku ingin sendiri saat ini….”, ucap Keenan lemah.


“ *Baiklah…kuharap kamu bisa memutuskan semuanya setelah kepala dan hatimu telah dingin kembali*….”, ucap Devian lega.


Setelah itu, ponsel Keenan pun tak bisa lagi dihubungi. Dan sebagai sahabat yang baik, Devian berusaha untuk menghandle semua hal yang ada ditanah air hingga sahabatnya itu tenang kembali.


FLASH BACK OFF


Mendengar ucapan Devian, hati Rosalie sedikit lega meski ada secuil kekhawatiran masih ada dalam hatinya.


“ Apa kata Devian mi ?….”, tanya Bagus Aji penasaran.


“ Kata Devian, Keenan sedang dalam perjalanan pulang dan ponselnya kehabisan daya….”, ucap Rosalie dengan nada lesu.


“ Ya sudah…sekarang mami istirahat dulu agar tubuh mami bisa fresh sehingga hati dan pikiran mami bisa kembali tenang. Kita hanya bisa mendoakan semoga yang terbaik buat Keenan….”, ucap Bagus Aji sambil merangkul sang istri dan membawanya kedalam kamar untuk beristirahat.


Dilain tempat, Keenan terlihat memikirkan semua hal yang Devian katakan kepadanya. Dia pun mulai memutar kembali memori masa kecilnya dulu.


Berusaha untuk memposisikan dirinya sebagai orang lain dan Keenan cukup terkejut dengan hasil yang dia dapatkan tersebut.


“ Aku tak menyangka jika aku sangat menyebalkan seperti itu….”, gumannya terkekeh.


Dalam ingatannya terlihat seorang bocah kecil laki –laki dengan tatapan angkuh dan mengintimidasi terlihat sedang bermain dengan teman – teman sebayanya.


Karena sikap dan ucapan pedas yang keluar dari mulutnya tidak ada seorangpun yang mau bermain dengannya.


Disana hanya ada seorang bocah laki – laki kecil yang sering menatapnya sinis, meski begitu dia mau menemaninya untuk bermain.


Ya…bocah kecil itu adalah Devian. Meski dia sebal dengan dirinya, tapi sahabatnya itu sama sekali tak pernah meninggalkannya.

__ADS_1


Tak jarang juga keduanya terlibat adu mulut dan saling tak tegur sapa. Meski begitu, keduanya tetap bersama – sama.


Jika mengingat akan hal tersebut, hati Keenan tiba – tiba terasa hangat. ”Seharusnya aku yang bayak bersyukur karena memiliki sahabat sepertimu….”, ucap Keenan sambil memandang fotonya dengan Devian semasa kecil dulu yang tersimpan rapi didalam dompetnya.


__ADS_2