
Akhirnya hari yang ditunggu – tunggu datang juga. Malam ini ketiga pria tampan tersebut sudah berada didepan kapal pesiar yang sangat mewah yang hanya setahun sekali singgah dinegeri ini.
Dari bawah kita bisa mrelihat betapa mewahnya kapal pesiar tersebut, seakan seperti memiliki pulau pribadi sendiri. selain ada landasan pesawat, diatas kapal pesiar tersebut ada banggunan tiga lantai yang mirip dengan kastil. kolam renang dua lantai yang berada ditengah banggunan menambah kesan mewah.
“ Pantas saja hanya orang terpilih saja yang bisa masuk ”, ucap Devian berdecak kagum.
Roy yang mendengar hal tersebut tersenyum bangga karena bisa membawa seorang Devian berlayar bersamanya. Jika kedua pria tersebut sangat kagum dengan pemandangan yang ada didepannya, namun hal tersebut lain dengan Keenan.
Baginya naik kapal pesiar seperti ini bukanlah suatu hal yang baru. Yang membuatnya tertarik adalah beberapa pria ber jas hitam yang terlihat hampir berada disetiap sisi kapal.
Sejak masuk ke dermaga, dia sudah mulai mengawasi setiap sisi kapal yang mendapatkan penjagaan super ketat tersebut.
Hal itu dapat diihat dari banyaknya pria berjas hitam dengan peralatan lengkap plus senjata yang diselipkan dicelananya. Jika dilihat, para penjaga tersebut merupakan sekelompok professional yang terorganisasi secara rapi.
Keenan masih terus menyisir setiap bagian kapal yang bisa dilihatnya dari luar dimana per masing – masing area dijaga sekitar dua sampai tiga petugas dengan persenjataan cangih dan lengkap.
“ Tidak semua orang bisa masuk kesini, lihat... ”, bisik Devian kepada Keenan sambil mengarahkan pandangannya kepada para tamu yang akan masuk ke dalam.
Semua orang diperiksa secara detail, bukan hanya bagian tubuh saja yang digeledah, termasuk juga barang bawaan mereka. Semua barang yang dibawa harus ditinggalkan, tanpa terkecuali, bahkan perhiasan yang mereka kenakan juga harus dilepas dan disimpan dalam brankas yang telah disiapkan buat masing – masing pengunjung.
Hal tersebut bertujuan agar tidak ada yang bisa mengambil gambar dalam bentuk apapun pada saat acara berlangsung, karena sifat acara yang privasi dan rahasia.
“ Keamanan dua lapis…”, ucap Devian menambahkan.
Setelah melalui proses pemeriksaan undangan dan lain – lain lolos, akhirnya mereka bertiga diperbolehkan masuk kedalam.
“ Ikuti aku…jangan sampai berpencar jika tidak ingin diusir ”, ucap Roy dengan senyum devilnya.
“ Maksudnya…”, ucap Devian tak mengerti.
“ Disini kita tidak bisa sembarang masuk ruangan, karena undangan yang kita bawa ada kode masuk dalam ruangan tersebut. Jika saat undangan discan barcodenya dan tidak sesuai dengan undangan yang kita bawa, maka kamu langsung disuruh turun saat itu juga karena dianggap penyusup ”, ucap Roy menjelaskan panjang lebar berharap kedua temannya tersebut tidak salah langkah dan mengacaukan semuanya.
“ Apa disini hanya menjual wanita…”, tanya Keenan penasaran.
“ Bukan hanya wanita, ada pelelangan barang kuno, senjata, penemuan – penemuan ilmiah, hingga informasi paling sulit kamu dapatkan bisa didapatkan disini ”, bisik Roy sambil melihat keadaan sekitarnya yang sudah penuh dengan para pebisnis dan pengusaha kelas kakap.
Bukan hanya para pengusaha dalam negeri yang hadir, banyak diantara mereka para pengusaha besar dari luar ikut andil.
Keduanya hanya menganguk mendengar penjelasan dari Roy. Keenan kembali mengedarkan pandangannya, menyapu setiap detail sisi kapal yang dia lewati bersama dua orang rekannya.
Banyak pilar – pilar tinggi yang menghiasi bagian dalam banggunan yang ada dalam kapal membuat kita seperti sedang berada dalam sebuah kastil megah yang cukup luas.
“ Ruangan kita ada di lantai tiga gedung paling ujung…”, ucap Roy sambil menunjuk kearah tangga putar yang akan membawa kita ke tujuan.
Belum sempat naik, tiba – tiba Keenan melihat salah satu rival Devian berada disana. Seorang yang hampir saja membuat perusahaan sahabatnya itu gulung tikar.
“ Bukannya itu Mr. Kyoto…”, bisik Keenan kepada Devian.
__ADS_1
“ Dia salah satu pendukung Tasya, kabarnya juga keponakan Mr. Kyoto inilah yang dulu membeli keperawanan Tasya ”, bisik Roy sambil melirik Keenan penuh arti.
Ya…bagi Roy bisa mendapatkan perhatian dari penerus Wisnudharta adalah hal yang baik, setidaknya dia bisa mendapatkan dukungan dari mereka. Maka dari itu dalam kesempatan kali ini dia akan memberikan informasi yang Keenan inginkan.
Ruangan lantai tiga ternyata lebih mewah jika dibandingkan dengan ruangan – ruangan yang berada dilantai sebelumnya.
Saat sedang mengedarkan pandangan, tiba – tiba mata Keenan menangkap sesosok wanita yang sangat dia rindukan terlihat sedang bercanda mesra dengan seorang pria tampan.
“ Siska…”, batin Keenan terkejut.
Diapun menghentikan langkah kakinya dan langsung berjalan menuju dimana wanita yang dia yakini sebagai istrinya tersebut berada.
Dengan tatapan tajam Keenan berjalan mendekat kearah mereka. Saat langkanya sudah semakin dekat, tiba – tiba Siska dan pria tersebut berjalan meninggalkan aula.
Keenan terus membuntuti langkah keduanya hingga dia tiba dilorong yang menuju kesebuah ruangan. Saat dirinya hendak masuk, tiba – tiba ada dua orang bertubuh besar besar menghadangnya.
“ Maaf tuan, ini area pribadi ”, ucapnya sambil mengarahkan Keenan untuk keluar dari lorong tersebut.
“ Aku hanya ingin menemui istriku…”, ucap Keenan mencoba memaksa masuk.
Tapi kedua pengawal tersebut langsung mencekal kedua tangannya dan menyeretnya untuk menjauh dari pintu masuk ruangan itu.
“ Maaf bung…dia temanku…”, ucap Roy yang tiba – tiba saja sudah berada disamping Keenan.
“ Sebaiknya kamu segera ikut aku jika tidak ingin diusir dari kapal ini sekarang juga ”, ancam Roy sambil menarik tubuh Keenan agar menjauhi area terlarang itu
“ Nanti saja…ingat misimu…”, ucap Roy mengingatkan.
Dengan langkah enggan, Keenanpun akhirnya mengikuti langkah Roy menuju kesebuah ruangan kecil dengan banyak poster Tasya disana.
Bahkan ada patung dan beberapa Foto fulgar wanita yang telah menjebaknya itu tercetak dan tergantung didinding lorong sepanjang jalan masuk menuju ruangan.
“ Gila…apa – apaan ini…”, guman Devian tak percaya dengan semua pemandangan yang dilihatnya.
“ Hust…jaga ucapanmu. Disini boleh dibilang merupakan markas garis keras pendukung Tasya, jadi kalian diam dan ikuti aku jika tidak ingin kehilangan kepala ”, bisik Roy mengingatkan.
Keenan terlihat mengepalkan kedua telapak tangannya melihat pemandangan sepanjang jalan masuk.Dia sama sekali tidak menyangka bahwa dulu sempat ingin menjadikan Tasya sebagai pendamping hidupnya jika saja kelakuan licik mereka tidak terekspos secara cepat.
“ Hay T137…gimana kabarmu man….”, sapa seseorang saat melihat Roy masuk.
Pria memakai jas berwarna merah marron dengan kemeja putih tersebut terlihat sangat akrab dengan Roy, hal tersebut terlihat betapa santainya pria tersebut berbicara.
“ seperti yang kau lihat….”, ucap Roy dengan smirk devilnya.
“ Kudengar ada yang baru…”, ucapnya lagi.
“ Bukannya kamu sudah punya semua yang terbaru…”, ucapnya sambil mengerutkan keningnya.
__ADS_1
“ Aku dengar bulan ini keluar yang terbaru, makanya aku kesini…”, ucap Roy sambil menaikkan alisnya beberapakali.
“ ohhh…video sampah itu…”, ucapnya kemudian setelah berpikir sejenak.
“ sampah…”, tanya Roy penasaran.
“ kalau kamu mau, cari ditumpukkan sampah itu…”, ucapnya sambil menunjuk kearah sebuah computer yang ada diujung ruangan.
“ Berapa…”, tanya Roy sambil mulai menyalakan computer tersebut.
“ Gratis…”, ucapnya tersenyum.
“ Jangan lupa….sepuluh menit lagi acaranya dimulai…”, ucapnya sebelum berlaku.
“ Ok…thank’s man…”, ucap Roy berusaha mencari rekaman video Keenan diantara file computer yang cukup banyak video tanpa nama tersebut.
“ Kita hanya punya waktu sepuluh menit sebelum sambungan computer ini terputus otomatis saat acara dimulai…”, ucap Roy mengingatkan.
Roy pun mulai mengutak atik computer dan membuka beberapa video terupdate satu bulan terakhir.
“ Shittt…banyak banget…”, ucapnya mengumpat.
“ Keenan…apa kamu tahu kode apa yang biasanya Tasya gunakan…”, tanya Roy sambil matanya tidak lepas dari layar computer yang ada didepannya.
“ kode…”, guman Keenan mencoba mengingat.
“ iya…angka atau huruf apapun yang sering Tasya gunakan…”, ucap Roy menjelaskan.
“ coba KT…”, ucap Keenan saat mengingat desain undangan yang sempat Tasya buat dulu.
“ Nggak ada…coba ingat lagi ”, ucap Roy lagi.
Keenanpun mulai menyebutkan deretan angka dan huruf yang berhubungan antara dirinya dan Tasya namun hal tersebut juga gagal. Dan waktu yang tersisa hanya kurang tiga menit sebelum computer tersebut mati.
“ Coba ini KT 200220 ”, ucap Keenan penuh harap.
“ Ahirnya…”, ucapnya saat menemukan tiga video dengan nama yang Keenan sebutkan.
Semua bernafas dengan lega saat computer mati, data sudah berhasil di pindahkan kedalam flashdisk.
“ Gimana…aman….”, tanya Devian cemas.
“ sip…”, ucap Roy sambil mengacungkan kedua jempol tangannya.
“ Ayo kita ke acara sekarang dan melanjutkan misi selanjutnya…”, ucapnya sambil mengajak Keenan dan Devian kedalam sebuah ruangan tertutup dengan layar besar didepan, seperti ruangan bioskop.
“ Sudah duduk…dan ingat, jangan berkomentar apapun atas apa yang kalian lihat dilayar nanti…”, ucap Roy kembali mengingatkan dua rekannya.
__ADS_1
Akhirnya mereka bertiga tiba di tempat duduk sesuai dengan nomor urut yang ada dalam undangan.