
Selama tiga hari setelah kepergian Siska besetta calon bayi yang sedang dikandungnya keluar negeri, Keenan menggurung diri didalam kamarnya.
Makanan yang diletakkan didepan pintu kamarnya juga sama sekali tak disentuh olehnya dan dibiarkan begitu saja hingga diambil kembali oleh pembantu rumahnya.
Hanya botol minuma keras yang selalu habis dan menemani hari – hari terburuk dalam hidupnya saat ini.
Keenan terlihat terduduk lesu diatas sofa dengan botol whisky ditangannya. Wajahnya terlihat sangat kusut dan rambutnya acak – acakan.
Kantong matanya terlihat sangat lebar dan gelap karena selama tiga hari ini dia selalu terjaga tanpa bisa menutup matanya.
Devian yang sudah bersabar dan menahan diri selama tiga hari ini akhirnya tak tahan juga dengan kelakuan sahabatnya itu.
Diapun segera menerobos masuk kedalam kamar menggunakan kunci cadangan yang diberikan Bagus Aji kepadanya.
Melihat sahabatnya itu termenung diatas sofa sambil mengenggam sebotol minuman keras, Devianpun lagsung mendatanginya dengan marah.
“ Sampai kapan kamu akan seperti ini ?.....”, tanya Devian dengan nada agak tinggi.
“ Apa kamu pikir semua permasalahan akan selesai jika kamu menjadi pemabuk seperti sekarang !!!....”, ucapnya lagi masih dengan nada tinggi dan ketus.
Melihat sahabatnya masih terdiam di sofa sambil meneguk sebotol whisky, Devianpun berusaha untuk memprovokasinya.
“ Ku pikir, kamu layak untuk Siska hingga aku mendukungmu selama ini….”
“ Tapi sekarang, melihatmu semenyedihkan ini….”
“ Aku jadi berpikir ulang….”
“ Kurasa, keputusan Siska untuk meninggalkanmu sudah tepat….”
“ Dia tak layak menghabiskan hidupnya dengan lelaki lemah sepertimu….”
Devian terus saja membual untuk memprovokasi Keenan. Melihat sahabatnya itu memberikan respon, Devianpun semakin mengebu - gebu melanjutkan omong kosongnya.
“ Siska sangat dewasa, dia pasti sudah mempertimbangkan semua hal sebelumnya hingga memutuskan untuk pergi. Dan aku rasa, Alexander atau Adrian layak untuk menjadi papa bagi calon bayimu dibandingkan kamu…..”, ucap Devian dengan senyum mengejek.
Mendengar jika bayinya akan mendapatkan papa baru, darah dalam tubuh Keenan mulai mendidih.
Prangggg…..
Keenan membanting botol whisky yang ada ditangannya hinggga hancur berkeping - keping dilantai dan langsung berdiri dab mencengkeram kemeja Devian dengan kasar.
__ADS_1
“ Apa katamu ?!!!...”
“ Aku tak layak jadi papa untuk anakku !!!...”
“ Apa kau ingin mati ?!!!....”,
teriak Keenan berapi – api
Bukannya takut, Devian justru tersenyum mengejek kearah sahabatnya itu dan kembali menuang bensin dalam kobaran api didalam tubuh Keenan.
“ Kamu memang tak layak !!!...”
“ Lihatlah dirimu sekarang !!!....”
“ Apa kamu pikir kamu pantas !!!....”
Ucap Devian dengan nada tinggi dan tatapan nyalang kearah Keenan.
“ Anakmu layak memiliki papa yang jauh lebih baik dari pada kamu !!!...”, Devian kembali berucap dengan kasar.
Membuat cengkeraman Keenan semakin kuat dan tatapan matanya seolah mengeluarkan api yang akan membakar tubuh Devian saat ini juga.
Melihat reaksi sahabatnya Devian kembali memprovokasi Keenan. Devian ingin sahabatnya tersebut cepat bangkit dari keterpurukan yang perlahan menghancurkannya.
Perlahan cengkeraman di kemeja Devian mulai melonggar dan Keenan mulai berjalan mundur sambil mengacak – acak rambutnya dengan frustasi dan berteriak kencang.
“ Benar apa yang dikatakan Devian !!!…”
“ Aku tak bisa hanya diam seperti ini !!!....”
“ Aku harus menyelesaikan urusanku dengan para k*****t itu !!!....”
Batin Keenan bermonolog.
Devian terlihat bernafas lega waktu melihat sahabatnya itu bergegas menuju kamar mandi dan tak lama kemudian terdengar suara gemericik air menandakan jika Keenan sudah tersadar dan bangkit kembali.
Sebenarnya tadi Devian sempat ketar – ketir waktu Keenan sama sekali tak merespon ucapan provokasinya.
Dia lebih senang melihat Keenan marah dan memukulinya daripada melihatnya hanya diam tak bertenaga seperti itu.
Setelah selesai mandi dan berganti pakaian, Keenanpun turun dan langsung mengajak Devian pergi ke tempat pengacaranya.
__ADS_1
Dia ingin melihat sudah sejauh mana perkembangan kasus yang telah dilaporkannya beberapa hari yang lalu.
Karena terlalu sedih, Keenan lupa jika masih ada hal penting yang harus segera dia selesaikan saat ini.
Meski merasa tak nyaman, tapi dia bisa tenang untuk sementara waktu karena Siska dan anaknya pasti aman dibawah lindungan Alexander.
Setidaknya, keputusan istrinya untuk pergi keluar negeri sangat tepat karena dia tak tahu apa yang akan dilakukan oleh Baskoro dan Tasya kepada istri dan anaknya begitu keduanya tahu jika Keenan telah melaporkannya ke polisi.
Kali ini Keenan tak akan lagi memberi ampunan pada ayah dan anak tersebut. Dia akan berupaya agar keduanya mebusuk didalam jeruji besi akibat perbuatan yang telah mereka lakukan.
Sementara itu, Siska yang sudah sampai di perkebunan anggur di Tuscany, Italia tersebut terlihat mulai beradaptasi dengan lingkungan sekitarnya.
Setiap pagi dia akan meluangkan waktu untuk berjalan – jalan disepanjang perkebunan anggur sambil menghirup udara pagi yang segar.
Jika senggang, Alexander akan menemaninya jalan – jalan. Tapi jika sedang sibuk maka Flo keponakannya yang akan menemani Siska untuk jalan – jalan.
Hal ini dilakukannya rutin agar kondisi tubuhnya lebih fresh dan bertenang dan juga cukup baik bagi perkembangan janin yang ada dalam perutnya.
Pada saat melewati rumah penduduk, tanpa sengaja Siska melihat sepasang suami istri yang sudah berusia lanjut terlihat bercanda mesra diteras depan rumah sambil menikmati secangkir teh hangat dan kue yang tersaji diatas meja.
Melihat pemandangan tersebut hati Siska kembali sakit waktu mengingat jika rumah tangganya tidak bisa seharmonis itu.
“ Apakah aku terlalu egois ?....”, batin Siska sedih.
“ Tapi dia sudah membohongiku berkali – kali. Dan kali ini kesalahannya sangat fatal. Aku tak ingin anakku tumbuh dalam lingkungan keluarga seperti itu dimana kedua orang tuanya selalu berselisih paham….”, batin Siska bermonolog.
Cukup lama Siska terdiam dan berkutat dengan pemikirannya sendiri. Ada rasa penyesalan dalam dirinya memilih jalan perceraian dan melarikan diri seperti ini.
" Kuharap keputusan ini memang yang terbaik saat ini....", Siska berusaha untuk berpikiran positif.
Dia harus kuat demi anak yang masih dalam kandungannya tersebut. Tidak memiliki suami bukanlah hal yang serius karena masih banyak orang disekelilingnya yang menyayaginya.
Flo yang melihat raut wajah sedih Siska segera mengenggam tangannya sambil tersenyum manis.
“ Jika kamu sudah capek, kita bisa sudahi jalan – jalan pagi ini….”, ucap Flo hangat.
Tak ingin larut dalam perasaannya, Siska pun memilih mengikuti keputusan Flo untuk membawanya kembali pulang kerumah.
Setidaknya dirumah, dia bisa berbincang dengan Michele, ibunda Flo tentang banyak hal sehingga bisa mengalihkan pikirannya sejenak.
Keduanya pun bergegas melangkah meninggalkan area perkebunan dengan hati riang. Berkat Flo, kegelisahan dan kecemasan yang tadi dirasakan Siska perahan mulai menghilang.
__ADS_1
Flo adalah gadis energik dan ceria. Dia selalu bisa membawa orang lain untuk bisa larut dalam kebahagiaan yang dibawanya.
Untuk itulah Alexander menitipkan Siska kepada Michele dan Flo agar gadis tersebut bisa kebali ceria dan meluopakan semua permasalahan yang melanda hidupnya.