BUNGA DIATAS HATI YANG LUKA

BUNGA DIATAS HATI YANG LUKA
PERTEMUAN


__ADS_3

Setelah mempertimbangkan banyak hal, akhirnya Keenan mengurungkan niatnya untuk memasuki rumah mewah tersebut dan memilih untuk kembali ke penginapannya.


Feelingnya mengatakan jika dia memaksa masuk sekarang demi memuaskan egonya, maka hasilnya tak akan bagus.


Dengan situasi seperti itu dia tak akan bisa dengan mudah untuk bisa masuk kedalam rumah mewah tersebut karena ketatnya penjagaan yang diberikan oleh Alexander kepada keluarganya.


Tak ingin membuat keributan dan menimbulkan masalah ke depannya, maka diapun memutuskan untuk segera pergi dari sana.


Selama perjalanan kembali kepenginapan, Keenan memutuskan untuk mencoba menemui anaknya terlebih dahulu disekolahan karena menurutnya itu adalah hal yang lebih mudah untuk dilakukan.


Sementara itu, Rafelio yang merasa jika seseorang yang tadi berusaha menemuinya disekolahan dan mengikuti mobilnya terlihat seperti tak asing baginya segera mencari informasi mengenai sosok tersebut.


“ Ternyata dia….”, batin Rafelio sinis.


Dilayar komputernya terpampang jelas wajah Keenan beserta informasi mengenai sosok lelaki yang merupakan papa kandungnya itu.


Meski dalam hatinya memberikan penolakan, namun bocah kecil tersebut sangat tahu bahwa hubungan darah diantara keduanya tak akan pernah terputus apapun yang terjadi.


Untuk itu dia akan bersikap tegas terhadap lelaki tersebut jika nanti papa kandungnya itu datang untuk menemuinya.


Meski tahu jika Keenan Wisnudharta adalah papa kandungnya, tapi Rafelio sama sekali tak pernah tertarik untuk mencari informasi apapun mengenai sosok lelaki tersebut.


Hingga saat ini dia mendapatkan informasi detail mengenai sosok Keenan. Bahkan tentang skandal video panasnya dengan Tasya yang sudah sempat dihapus dari peredaran berhasil Rafelio dapatkan.


Membaca berita tersebut tentu saja membuat Rafelio marah dan kecewa. bocah kecil itu merasa jika papanya memang tak layak untuk bersanding dengan sang mommy dan mendapatkannya.


“ Tak akan ku biarkan dia mendekati dan menyakiti mommy lagi….”, ucap Rafelio geram.


Meski Alexander terlihat bengis dan kejam, tapi dia adalah sosok yang hangat dan penyanyang jika sudah bersama keluarganya.


Dan yang pasti, dady nya itu setia dan sangat menyayangi mommynya dan hal itu yang yang menjadi syarat utama bagi Rafelio yang sama sekali tak akan pernah memaafkan perselingkuhan yang dilakukan papa kandungnya terhadap mommynya dimasa lalu.


Apalagi jika dilihat dari berita yang pernah beredar yang berhasil didapatkannya, papa kandungnya itu terlibat skandal panas tersebut saat sang mommy sedang hamil dirinya.


Itu berarti mommy nya memutuskan bercerai dan membesarkan dirinya seorang diri karena sudah tak tahan dengan semuanya.


Dengan adanya pemikiran seperti itu dalam kepala kecilnya membuat darah dalam tubuh Rafelio perlahan mulai mendidih.


Apalagi dia sempat dengar cerita dari neneknya jika proses kelahirannya tak mudah karena sang mommy hampir saja kehilangan nyawanya.


Kondisi kesehatan mommynya yang memburuk selama kehamilan dirinya dapat Rafelio simpulkan hal tersebut pasti berkaitan dengan sang papa yang selingkuh.


Membuat api dalam tubuh Rafelio semakin membara karena emosi. Diapun bertekad untuk segera membereskan masalah ini hingga tak membuat khawatir sang mommy.


Keesokan harinya, Keenan yang tidak bisa tidur semalaman karena tegang akan bertemu dengan anaknya hari ini terlihat sudah berdandan rapi.


Dia akan menunggu di depan gerbang sekolah anaknya hingga Rafelio selesai belajar dan langsung menemuinya sebelum pengasuh dan pengawalnya membawanya pulang.


“ Tenang Keenan…semua pasti akan baik – baik saja….”, gumannya menyemangati diri sendiri.


Setelah beberapa kali membolak – balikkan badannya didepan cermin, Keenan bergegas pergi setelah mengambil mainan yang telah dibungkus rapi diatas tempat tidur yang sengaja disiapkannya untuk Rafelio.


“ Aku harap dia akan suka dengan mainan ini….”, ucap Keenan bersemangat.


Keenan menunggu Rafelio pulang di sebuah café yang tak jauh dari sekolahan anaknya tersebut.


Kedua matanya awas menatap kearah gerbang sekolahan, menunggu pagar hitamm menjulang tinggi tersebut terbuka. Dia tak mau kehilangan kesempatannya kembali.


Setelah dua jam menunggu, begitu pintu pagar mulai bergerak terbuka, Keenan buru – buru bangkit dari tempat duduknya dan membayar tagihannya.

__ADS_1


Dia ikut berkerumun dengan para pengasuh atau orang tua yang hendak menjemput anak mereka pulang dari sekolah.


Karena Keenan tak memiliki akses untuk menjemput Rafelio, dia hanya bisa berdiri di depan dan menunggu pengasuh anaknya datang.


Begitu melihat wanita yang menjadi pengasuh anaknya berjalan mendekat kearah kelas, Keenanpun mulai membutuntutinya dibelakang.


Pengawal Rafelio yang melihat ada sosok asing yang berusaha untuk mendekati majikannyapun terlihat untuk menghalangi Keenan mendekati anaknya.


“ Biarkan saja….”, perintah Rafelio sambil menatap Keenan tajam.


Sang pengawal pun melepaskan cekalannya kepada Keenan begitu Rafelio memerintahkan. Tanpa merubah ekspresi wajahnya, bocah kecil tersebut kembali berkata kepada sosok asing yang ada dihadapannya.


“ Mari kita bicara dimobil….”, ucap Rafelio datar.


Keenan hanya bisa mengikuti langkah kaki sang anak dengan tatapan mengintimidasi yang dilayangkan oleh pengasuh dan pengawal Rafelio kepadanya.


“ Kalian tunggu diluar….”, perintah Rafelio tegas.


Dengan sopan, Rafelio pun segera mempersilahkan Keenan masuk kedalam mobil untuk bisa berbicara dengannya.


Meski dia tak menyukai papa kandungnya itu, tapi dia tetap menjaga sopan santun terhadap orang yang lebih tua darinya seperti apa yang telah kedua orang tuanya ajarkan kepadanya selama ini.


Begitu keduanya sudah masuk kedalam mobil, Rafelio yang ingin segera menyelesaikan semuanya segera memulai pembicaraan.


“ Baik, katakan tujuan anda ingin bertemu dengan saya hari ini….”, ucao Rafelio to the point.


Keenan sangat terkejut dengan ucapan Rafelio yang lugas tersebut. Dia tak menyangka jika bocah kecil tersebut akan bersikap dingin kepadanya dipertemuan mereka yang pertama.


Meski terkejut, Keenan juga memaklumi penolakan yang diberikan oleh Rafelio kepadnya.  Dia sangat menyadari jika dirinya adalah orang asing bagianak kecil yang ada disampingnya itu.


“ Mungkin Siska dan Alexander mengajarkan kepadanya agar tak mudah untuk percaya dan mengikuti orang asing yang ditemuinya, jadi dia menjaga jarak denganku….”, batin Keenan menghibur diri.


Untuk mencairkan ketegangan yang ada Keenan pun memperkenalkan dirinya dengan sopan kepada Rafelio sambil tersenyum hangat.


Keenan kembali dibuat terdiam dengan ucapan yang keluar dari mulut bocah kecil tersebut yang terkesan sangat dingin dan tegas.


“ Jika dilihat dari ucapanmu sepertinya kamu sudah tahu siapa aku….”, ucap Keenan dengan tatapan penuh selidik.


“ Lalu….”, ucap Rafelio acuh.


Keenan terlihat membulatkan kedua bola matanya tak percaya dengan nada acuh yang dilontarkan putranya itu.


Bukan ini yang Keenan harapkan dalam pertemuan pertama mereka. Dia lebih suka jika Rafelio marah - marah kepadanya karena telah meninggalkannya sewaktu masih bayi.


Atau meminta penjelasan dengan tegas kenapa sang papa baru datang sekarang. Bukan ekspresi acuh seperti dia sama sekali  tak perduli dengan semuanya.


" Mungkin aku terlalu banyak berpikir.....", batin Keenan bermonolog.


Setelah menarik nafas dalam beberapa kali, Keenan berusaha untuk mencairkan suasana yang ada sekalian ingin mencoba kembali lebih dekat dengan sang anak.


“ Apa kamu tidak penasaran denganku ?....”, tanya Keenan berusaha untuk memancing emosi Rafelio.


“ Tidak….”, ucap Rafelio singkat.


Ingin rasanya Keenan mencubit pipi cubby Rafelio dan mengacak – acak rambutnya karena gemas dengan nada datar dan sikap dingin yang ditunjukkan putranya tersebut.


“ Oh Tuhan…dosa apa yang sudah kubuat hingga aku memiliki anak seperti ini….”, batin Keenan miris.


Rafelio hanya menjawab singkat terhadap pertanyaan yang dilontarkan oleh Keenan, membuat putra semata wayang Wisnudharta tersebut mulai frustasi terhadap sikap sang anak kepadanya.

__ADS_1


Wuuush....krikkk...krikkkk....


Kesunyian kembali terjadi, keduanya terlihat sibuk dengan pemikiran yang ada dikepala masing - masing membuat Rafelio mengambil inisiatif untuk mengakhiri pertemuan tersebut.


“ Jika tak ada lagi yang ingin anda katakan. Silahkan anda pergi dan jangan pernah berniat untuk menemui saya kembali….”, ucap Rafelio tajam.


Keenan hanya bisa terbelalak dengan mulut terbuka lebar mendengar putranya tersebut mengusirnya secara halus.


“ Oh Tuhan…apakah ini benar bocah berusia lima tahun. Kenapa sikapnya tegas dan lidahnya sangat tajam….”, batin Keenan frustasi.


Tak ingin kehilangan kesempatan baik ini, Keenan terlihat beberapa kali mengambil nafas panjang sebelum akhirnya dia kembali bersuara.


“ Papa sangat rindu denganmu dan juga mamamu….”, ucap Keenan mulai melankolis.


Rafelio hanya mendengarkan semua curahan hati Keenan kepadanya tanpa sedikitpun ada perubahan ekspresi diwajahnya.


Meski merasa sedih namun Keenan bersyukur Rafelio masih mau mendengarkan semua hal yang dia ceritakan.


“ Anda adalah papa kandung saya dan saya mengakuinya. Karena bagaiamana kerasnya saya berusaha untuk menolak, itu tak akan pernah bisa karena darah anda mengalir dalam tubuh saya. Namun hanya itu status anda….jadi, anda jangan berharap lebih dari itu….”, ucap Rafelio tajam.


“ Dan untuk mommy, sebaiknya anda jangan pernah berharap untuk bisa menemuinya karena saya tak akan pernah mengijinkannya. Tapi jika anda tetap memaksa, maka jangan salahkan saya jika tak lagi menghormati anda…..”, ucap Rafelio penuh ancaman.


Dia mengatakan semua hal tersebut dengan tatapan tajam dan tanpa mengedipkan mata, membuat bulu kudu Keenan langsung meremang seketika.


Hawa dingin seakan menyelimuti tubuh Keenan waktu menatap tatapan tajam Rafelio yang penuh intimidasi kepadanya.


Hal yang sangat langkah dan belum pernah dia temui di anak kecil berusia lima tahun seperti putranya tersebut.


" Hal apa yang telah Rafelio lalui hingga dia bisa sangat tegas dan menakutkan seperti ini....", batin Keenan sedih dan cemas dalam waktu bersamaan.


Meski berat namun dia berusaha untuk menghormati setiap keputusan yang dibuat oleh Rafelio saat ini dan berharap suatu saat nanti keputusan tersebut dapat beruabah seiring waktu berjalan.


“ Saya dan mommy sudah bahagia sekarang. Sebaiknya anda juga mencari kebahagiaan anda sendiri….”, Rafelio kembali berucap dengan nada datar dan dingin.


Dengan satu isyarat yang diberikan, pengawal di luar segera membukakan pintu untuk Keenan agar bisa keluar.


“ Karena sudah tidak ada hal yang kita bicarakan, sebaiknya anda segera pergi….”, ucap Rafelio mengusir secara halus.


Tak ingin berkonfrontasi dengan sang anak, Keenanpun keluar dari dalam mobil dengan tubuh lunglai.


Namun sebelum pergi, dia meninggalkan bingkisan mainan yang dibawahnya untuk sang anak di samping kursi Rafelio.


Rafelio hanya menatap kedepan acuh dan sama sekali tak menoleh kearah Keenan, membuat hati lelaki tersebut hancur tercabik – cabik.


Rasanya diacuhkan oleh Siska tak sesakit waktu dia diacuhkan oleh putra semata wayangnya tersebut.


Meski Rafelio tak menampik dan mengakuinya sebagai papa kandungnya. Namun hanya sebatas itu statusnya, tidak lebih.


Bahkan anaknya tersebut sudah tak ingin lagi bertemu dengannya bahkan mengancamnya agar tak menemui mamanya.


Sungguh kenyataan yang pahit dan menyakitkan bagi Keenan. Dia sama sekali tak menyangka jika kecerobohan yang dilakukannya akan berimbas sedalam ini.


Sesampainya didalam mobil Keenan hanya bisa menundukkan kepalanya dan menyandarkannya di stir mobil sambil terisak.


Dia merasa perjuangan yang telah dia lakukan selama ini sia – sia belaka. Semangat hidup Keenan tiba – tiba saja mulai meredup.


Diapun kembali terisak, menumpahkan semua rasa sakit dan sesak yang sedari tadi menganjal didadanya.


Berharap semua kesedihannya bisa mengalir keluar seiring dengan derasnya air mata yang mengalir dipipinya.

__ADS_1


Sementara itu, Rafelio yang melihat seki;las bingkisan dari sang papa yang sedikit terbuka hanya bisa berdecak sinis.


" Cihhh.....Dia pikir aku bocah apa....", ucap Rafelio sambil menatap mainan yang ada dalam bingkisan yang Keenan bawa untuknya.


__ADS_2