Cat And Wolf

Cat And Wolf
Arsean's POV


__ADS_3

Kak Sean yang tadi membalas sapaan Kirana, selama beberapa saat matanya tetap tertuju kepada Kirana yang berjalan pergi dari sana bersama Hellen.


"Sean! Doi Siapa ?"


Tanya Beni, teman Sean yang tadi ikut menoleh ke arah Kirana.


-"Adek tingkat sejurusan sama sekomunitas."


Jawab Sean singkat.


"Iya gua juga tahu, siapanya lu gitu. Jangan-jangan..."


-"Ck,  kenalan lama gua. Tapi, kayaknya dia gak inget.."


Tatapan mata Sean menatap kembali ke arah tempat Kirana berdiri tadi, tatapannya seperti mengandung arti.


"Serius? Loe gak coba tanyain keorangnya? Siapanya elu dulu? Teman? Tetangga? Pacar? "


Ujar Beni kambuh keponya.


-"Udah-udah woy, gak usah diperpanjang. Ayok cepet balik ke kelas!"


Sean lantas sedikit mendorong-dorong Beni untuk berputar arah kembali ke kelas.


"Iye iye, sabar. gak usah dorong-dorong cuy."


Jawab Beni.


.


.


.


.


.


"Eh, jurusan kita kan beda. Lu kan masih setengah jam lagi masuknya."


Tambah Beni yang tiba-tiba ingat.


-"Masuk kelas itu gak boleh mepet-mepet waktu. Jangan kayak lu, entar dosen dah masuk, baru dateng lu nya."


"Wah, penghinaan. Dosennya aja yang kecepetan masuknya."


Lalu, mereka berdua  kembali ke kelas masing-masing.


Disisi lain Arsean tak ingin temannya Beni ini membahas hal pribadi tadi. Karena Beni itu tipe teman kompor nan kepo.


_________________


Pukul 17.00 WIB

__ADS_1


Sean saat ini sedang dalam perjalanan pulang. Saat itu ia mengenakan jaket hoodienya yang berwarna hitam dengan kedua tangannya ia masukkan kedalam kantong.


Seharusnya ia sudah pulang dari pukul 2 tadi, tapi ada urusan organisasi mendadak dan teman-temannya yang tiba-tiba menggeretnya untuk nongkrong bareng di cafe terdekat.


Alhasil, ia tambah telat untuk pulang.


Sean Lantas mengecek pukul berapa sekarang di jam tangannya yang berwarna senada dengan hoodienya.


Lalu, ia menghela nafas panjang dan kembali memasukkan tangannya ke kantong hoodie.


Matanya lantas tertuju ke langit sore yang nampaknya akan turun hujan sebentar lagi.


"wah tumben."


Ujar Sean samar.


Saat ia melewati minimarket, Sean langsung berbalik arah dan menyambanginya untuk membeli sekotak susu dan spaghetti instan.


Setelahnya, ia langsung pergi dari sana.


Namun, langkahnya tiba-tiba terhenti saat


Ia melihat seorang perempuan yang tak asing baginya. Perempuan itu memakai gaun panjang berwarna coklat susu dan sedang membelai kucing jalanan. Tampaknya ia sedang memberi makan kucing itu.


"Dara?.. Mirip sekali. Tapi.."


Ucap Sean ragu.


Wajahnya langsung terlihat jelas.


Mata Sean langsung membesar karena terkejut.


Kirana yang disana. Sedang apa dia dan akan kemana?


-"Kira.."


Ia tiba-tiba mengurungkan niat untuk memanggilnya.


Sean hanya bisa  menggaruk kepalanya dan diam saja disana.


Selama beberapa lama, Sean duduk mengamati Kirana dari depan minimarket.


Cukup lama Kirana berada disana, padahal langit sedang mendung.


Hingga, akhirnya Kirana beranjak dari tempat itu setelah mengucapkan selamat tinggal kepada kucingnya.


Sean spontan ikut beranjak dari tempatnya dan tanpa sadar ia akhirnya ikut berjalan dibelakang Kirana.


Jarak diantara mereka agak jauh, karena Sean  ingin pulang tanpa disadari keberadaannya oleh Kirana.


Jalan searah tersebut membuatnya bisa berjalan bersama Kirana untuk beberapa lama.


-"Habis dari mana dia ya?"

__ADS_1


Ujar ia samar. Tak biasanya ia melihat Kirana memakai gaun setelah pulang kuliah.


-"Apa.. Ketemu Doinya? Sore-sore gini?"


Pikir Sean,dirinya mulai over thinking karena penasaran.


Tapi Tiba-tiba, Kirana menghentikan langkah kakinya. Spontan Sean juga berhenti mendadak.


Lebih mengejutkannya lagi, Kirana menengok kebelakang karena merasa ada yang berjalan dibekakangnya.


Tapi,


Sesaat kemudian Kirana menunjukkan ekspresi bingung karena tak ada siapapun disana.


lantas, ia menggeleng dan kembali melanjutkan perjalanan.


Ternyata, Sean saat itu sigap bersembunyi dibelakang tiang listrik besar di pinggir jalan.


Ia menghela nafas panjang.


-"huffttt, kenapa gua jadi kayak penguntit kayak gini sih?! Tapi kalo diem aja, terus ketemu mau ngomong apa?"


Gerutu Sean dengan suara kecil.


Akhirnya, setelah menunggu beberapa saat, Sean pergi dari sana. Kini, jarak antara Kirana dan dirinya lebih jauh lagi karena ia sempat berdiam diri.


Sean saat ini lebih menjaga jarak dan berhati-hati agar Kirana tak menyadari keberadaannya.


Tampak sesekali Kirana melihat pemandangan dan kirinya dengan kedua tangan diayunkan kedepan dan kebelakang.


Sean agak khawatir ketahuan, tapi disisi lain ia agak gemas melihat Kirana yang seperti anak kecil berjalan sendirian.


Sudah beberapa lama mereka berjalan berjauhan dan tinggal sedikit lagi untuk sampai di persimpangan jalan. Jalan yang memisahkan Kirana dan Sean nantinya.


Angin pun berhembus semakin kuat saat itu.


Tak lama, rintik-rintik hujan mulai turun yang lama-kelamaan semakin deras.


Spontan Sean langsung mengeluarkan payung dari tasnya dan hendak membantu Kirana.


Tetapi, Kirana langsung berlari pergi dari sana agar cepat sampai Kost-an.


-"Kirana!"


Panggil Sean.


Namun, Kirana tak mendengarnya dan tetap berlari. Bahkan ia sudah jauh sekali.


"Hahhh... Duh Semoga dia gak sakit."


Ujar Sean khawatir.


Lantas, ia beranjak pulang menuju Kost-an nya.

__ADS_1


__ADS_2