Cat And Wolf

Cat And Wolf
Konser


__ADS_3

Sementara saat ini di panggung dalam gedung, Shesil sedang membicarakan show yang akan tampil selanjutnya setelah ini bersama para host.


Host-host itu merupakan mahasiswa dan mahasiswi tahun kedua.


Setelah membaca urutan penampilan, mata mereka langsung membesar.


"Se serius ini Kak?"


Tanya host perempuan bernama Irenne.


Tak lama, host laki-laki tersebut Leo, ikut melihat susunan acara beserta yang tampil tersebut.


-"Gilakk, bisa diacak-acak panggungnya ini sih entar! Wah, aku masih sayang nyawa sih kakk."


Ujar ia sembari mengangkat tangan.


-"Pfftt..kalian berdua kenapa nganggep dia barbar sih?? Dia kan yang ngetua-in panitia."


Jawab Shesil sembari tersenyum heran.


"Ehmm,kak..inget kejadian 1 tahun lalu yang pas kami di acara kampus gak?? Dia kan marah besar di acara itu karena gak sesuai keinginannya."


Jelas Irenne.


-"Meja dibanting sampe ancur berkeping-keping!"


Tambah Leo dengan bersemangat.


.


.


Lantas, Shesil langsung berpikir setelah mendengar semua itu.


-"Nahh..gimana nih Kak? Batalin aja oke? Kan ada kating lain~"


Bujuk Leo.


.


.


"Nahhh,ide baguss!!"


Ujar Shesil.


Lantas,Irenne dan Leo langsung menunjukkan ekspresi lega.


"Ide bagus Shesil! Memang awalnya ini cuma buat ngerjain dia, tapi.. Kayaknya bisa dialihkan ke rencana lain."


Monolog Shesil.


-"Ehm..kakk..maksud kakak??"


Tanya Leo.


"Jangan dibatalin! Gue tau cara buat mencegah kejadian tak diinginkan! Heheh.. Bagaimanapun rencana jailin dia jangan sampe gagal hahaha~"


Ujar Shesil sembari tertawa jahat.


Ia lantas mengambil handphone nya sari saku almamater nya, kemudian ia menelfon seseorang.


" Ehm.. Kamu bisa bantu panitia lain disini gak??.. Nahh iyaa 30 menit lagi kesini oke? Kakak kekurangan orang nih~"


Ujar Shesil kepada orang yang ditelfonnya.


Sementara dibelakangnya, Leo dan Irenne langsung keringat dingin karena Shesil enggan membatalkan rencananya itu.


" Oke.. Kakak tunggu yaa! "


Tutup Shesil. Ia lantas mematikan panggklan telfonnya.


-"Kak..kita kan udah cukup orang."


Ujar Irenne dengan ekspresi wajah khawatir.


"nah bener nih kak~"

__ADS_1


Tambah Leo.


Lantas,Kak Shesil tersenyum.


"oh jelas tidakkk~ nah.. Penggantinya artis kita selama tampil nanti udah dateng tuh~ hoho inilah kenapa kakak seneng ada dia di kelompok kita."


.


.


Lantas, Irenne dan Leo langsung menoleh ke arah yang ditunjuk Kak Shesil. Tepat di pintu masuk, ada salah satu panitia yang masuk.


Perempuan yang tampak ketika masuk juga seperti mencari-cari keberadaan Kak Shesil, yang tak lain Kirana.


Tak lama kemudian, Kak Shesil mengangkat tangan dan memanggilnya sehingga Kirana bisa melihat keberadaan Kirana.


-"Oh Kak Shesil, Kak.. Aku kayaknya gak bisa lama-lama disini, soalnya kerjaan di luar belum selesai."


Ujar Kirana


"Iya gak apa-apa Kirana. Kamu kesini walau 3 menit aja udah kayak penyelamat bagi kamiii~"


Ujar Kak Shesil sembari tersenyum. Walau senyumnya seperti menyembunyikan maksud tertentu.


-"Hahah kak Shesil ini ada-ada aja.. Mana ada yang gituan~"


Ujar Kirana dengan nada agak heran.


Lantas, Kak Shesil langsung merangkulkan tangannya ke tangan Kirana, lalu menggeretnya semakin jauh ke dalam gedung.


Sementara Kirana menurutinya.


Kemudian,acara pun dimulai kembali.


Kedua host naik ke atas panggung dan menyambut para hadirin.


Setelah sambutan, ada penampilan dari band kampus yang membawakan sebuah lagu.


Sementara Kirana membantu panitia lain mengatur acara, walau Kirana sebenarnya agak bingung urusan ini. Akan tetapi Kak Shesil seperti menganggap Kirana bisa mengurus tugas ini.


Sorak sorai dan juga nyanyian penonton yang 80%nya adalah mahasiswa-mahasiswi terdengar memenuhi ruangan mengikuri band yang tampil.


Apalagi 2 vocalist nya famous di kampus.


Sementara Kirana tak bisa ikut menikmati pertunjukkan karena disuruh banyak hal.


Setelah pertunjukkan berakhir, band tersebut mengucapkan terimakasih dan kemudian undur diri dari panggung.


Sempat ada jeda sekitar 5 menit setelahnya.


Hingga akhirnya kedua host itu naik ke panggung. Saat mereka naik, mereka tampak agak berdebat. Namun setelah diatas panggung, mereka langsung memasang wajag ceria kembali.


-"Nahh..bagaimana pertunjukkan Infinite Band? Bagus kan?"


Tanya Irenne kepada penonton.


Pertanyaannya langsung dijawab banyak suara yang meng-iyakan.


"Wahh..bener banget dong! Gua aja sampe terkesima gitu loh Ren! Keren banget gak sih?!"


Tanya Leo.


-"Ih bener banget! Apalagi besok mereka bakalan bawain lagu terbaru buatan mereka sendiri. Pasti kalian semua udah gak sabar kannn?? Aku tahu ituu hehehe.."


Ujar Irenne.


"Keren,udah gak sabar buat besok deh~"


-"Besok kalian harus hadir lagi nihh biar gak ketinggalan! Hehehe.."


Balas Irenne.


"Nahh..."


Tak lama, mata Leo langsung tertuju ke arah pinggir bangku-bangku penonton. Dimana Kak Shesil berdiri dengan tatapan tajam dan gerakan tangan mengibas-ngibas di depan lehernya seolah mengatakan


"kalo gak cepet, tamat riwayatmu!"

__ADS_1


Sontak, Leo langsung menyenggol Irenne. Beberapa saat setelahnya, Irenne langsung menyadari situasinya.


"Ehmm, jadii.. Kitaa..."


Tiba-tiba, mic Irenne mati. Wajahnya langsung berubah bingung.


Lalu,Leo mengambil Mic Irenne dan mencoba test mic nya. Ternyata tidak bisa.


-"Wah, sepertinya ada kendala, sebentar ya teman-teman.."


Jawab Leo. Walau wajahnya tersirat rasa 'terpaksa'


Lalu, tak lama ada teknisi yang datang, namun ia tak bisa juga memperbaikinya.


"Gak ada mic lain cuy. Gimana nih?"


Ujar Teknisi itu.


Jalannya acara jadi teehambat karena itu. Hal itu membuat Kirana langsung melihat ke arah panggung dan berjalan mendekat setelah melihat masalah itu. Mata Kirana langsung tertuju ke meja kecil di samping panggung yang tertutupi properti lampu-lampu. Disana ada mic cadangan, namun saat Kirana hampiri, tak ada satupun mic disana.


.


.


Lantas,tak lama Theo langsung naik panggung dari backstage. Sontak, Leo dan Irenne langsung agak menjauh setelah melihat keberadaannya.


.


-"Ck, bisa-bisanya lagi acara ada masalah? Mic cadangan kemana juga?! "


Ujar Theo dengan agak berbisik sembari mengambil Mic nya dari mahasiswa divisi teknisi itu.


Melihat ekspresi Theo sedang tak baik itu langsung membuat Irenne dan Leo merinding.


"Maaf bro.."


Ujar Teknisi itu kepada Theo. Ia lantas pergi dari panggung ke backstage.


Tak lama dari itu , tiba-tiba terdengar suara 'ngiinggg' setelah Theo mengotak-atik micnya. Theo langsung terdiam setelah menekan tombol on mic dan ternyata dari awal mic nya hanya dimatikan tombolnya.


Ia terdiam beberapa saat dengan aura yang mencekam sembari memandang mic tersebut.


Ekspresi datarnya langsung berubah menjadi smirk tajam.


.


.


"Eh, Le Le Leo! Gimana tuh?!"


Bisik Irenne dengan wajah panik.


-"Sstt.. Udah-udah.."


Ujar Leo, menenangkan Irenne.


.


.


Tak lama, Leo langsung angkat bicara


-"Okey, maaf atas kendala sebelumnya. Kita langsung saja ke pertunjukan selanjutnya, penampilan solo dari mahasiswa kampus X yang akan membawakan lagu 'almost is never enough' , kita sambut.. Mahasiswa tahun ketiga kita, Kak Theo Rafaellino!"


Lantas, lampu sorot panggung langsung dihidupkan dan mengarah kepada Theo.


Theo lantas menoleh ke arah 2 mc yang langsung beranjak pergi dari tempat. Lalu, pandangannya mengarah kepada penonton.


Theo  terdiam dengan ekspresi sadar dirinya telah dijebak oleh mereka.


Beberapa penonton berekspresi tegang setelah tahu yang di panggil tampil adalah Kak Theo. Kalau kata mereka, rasanya seperti sedang ada adegan thriller saat ini.


Diantara ketegangan itu, Theo lantas tersenyum. Ia kemudian mengangkat mic dan berbicara


"Ah, sebelumnya.. Terimakasih atas kesabaran para hadirin menunggu kesalahan teknis tadi. Saya.... Merasa ini .."


Ucapan Theo langsung terpotong setelah mendengar riuh tepuk tangan para hadirin disana. Mereka seperti menunggu Theo bernyanyi. Namun Theo merasa sebagian dari mereka hanya meramaikan acara yang menegangkan tiba-tiba karena dirinya yang di panggung saat ini.

__ADS_1


__ADS_2