
Festival hari ketiga berjalan dengan semestinya dan lancar.
Hari ketiga ini Kirana, Shella, dan Hellen bisa nikmati bertiga. Mereka menonton banyak pertunjukkan bakat dan teater musikal. Juga, berburu makanan menjadi agenda utamanya.
Lantass,hari yang ditunggu-tunggu tiba, yaitu hari penutupan festival. Acara puncaknya malam hari dimana dilepaskannya ratusan lentera terbang.
Semua panitia sibuk sekali mengurus lentera-lentera dan membagikannya kepada warga kampus dan tamu undangan di sore harinya.
Dibalik meriahnya malam itu, ada panitia yang sibuk sekali. Sebelumnya pihak kampus sudah meminta izin kepada pemerintah daerah setempat agar pelepasan lentera ini tidak membahayakan sekitar.
Lentera yang digunakan bahkan bisa terurai jadi lebih ramah lingkungan.
.
.
Lapangan terbuka super luas kampus di dekat danau buatan, disulap sangat estetik. Berhiaskan lampu-lampu tumblr warna kuning dan putih di sekelilingnya, juga hiasan-hiasan epik lainnya.
Mata Kirana berkaca-kaca melihat keindahan itu semua. Ditambah, malam ini langit sangat cerah. Jutaan bintang terlihat oleh mata seperti ratusan permata di sebuah kain sutra gelap.
Senyum mengembang di wajah Kirana karena senang melihat itu.
Namun sayang sekali, disaat semua orang ada yang menemani, Kirana masih sendirian sampai sekarang.
Hellen dan Shella sengaja tak menemani Kirana karena mereka tahu Kak Sean mengajak Kirana untuk melepaskan lentera bersama.
Namun, ia tak kunjung terlihat sampai sekarang. pesan Kirana tak kunjung dibalas hingga pukul 7 malam.
Ia lantas memberanikan diri mendatangi Kak Agus yang sedang memantau kesiapan acara.
Dengan segenap hati dan keberaniannya, Kirana mencoba bertanya. Ia bahkan tampak canggung.
.
.
"ehm, permisi Kak Agus.. Maaf mau tanya."
Ujar Kirana agak malu-malu.
Agus lantas menoleh ke arah Kirana. Tinggi badan Kirana hanya selengan Agus, jadi ia agak menunduk untuk melihat Kirana.
-"Eh iya Na, kenapa nihhh? Gak usah sungkan deh.."
Ujar ia Dengan perhatian.
.
.
"Kak Agus ..liat gak, kak..Kak.. "
Kirana agak ragu mengatakannya.
Namun Agus menjadi sangat penasaran. Ia bahkan menunggu lanjutannya dan sempat menerka siapa yang akan disebut. Hal itu membuatnya semakin menunggu-nunggu.
.
.
".. Kak Sean."
Ujar Kirana.
Ekspetasi Agus langsung hancur.
-"Ohh..ada urusan penting ya? Btw Na, loe gak usah ngurus acara lagi. Nikmati aja~"
"..Noo, gak kok kak. kan,kalo mau ada urusan tugas aku bakalan nemuin Kak Shesil."
__ADS_1
Ujar Kirana dengan nada jujur.
.
.
-"Oh iya juga.. Hemm, seinget gueee yaa.. (Agus menunjukkan ekspresi berpikir). Dia lagi ada urusan mendadak sekarang, di luar. Baru aja pergi."
.
Seketika, Kirana menunjukkan ekspresi agak terkejut, namun tersirat kekecewaan.
Agus yang menyadari ekspresi Kirana itu, ia lantas mengernyitkan dahinya.
" Kenapa memangnya Na?"
-" Oh.. Bukan apa-apa hehhee.. Yaudah terimakasih ya kakk~ aku kesana dulu."
Ujar Kirana. Ekspresinya langsung berubah dengan tersenyum. Seolah tidak terjadi apa-apa.
Ia kemudian pergi dari sana.
.
.
Agus terdiam beberapa saat.
Hingga ia menggumam
"Ada apa sih sebenarnya?"
________________________
Kirana pergi ke dekat danau. Di danau dilepaskan lilin-lilin menyala dalam wadah berbentuk bunga teratai maupun hewan.
Senyum tipis tergambar di wajahnya.
Begitu juga para tamu undangan dan mahasiswa/i lain. Mereka tampak gembira dengan acara malam ini.
"Hah.. Ternyata seneng juga ya jadi bagian dari acara besar kayak gini ~"
.
.
-"Permisi, maaf mba.. Boleh minta bantuan?"
Ujar seseorang dari belakang.
Kirana lantas menoleh dan melihat ada tamu yang sepertinya kebingungan.
"Oh iya, ada apa bu?"
-"Wc di dekat sini mana ya?"
"agak jauh sih bu, tapi mari saya antarkan~"
Ujar Kirana dengan ramah.
Ia langsung mengantar ibu itu kesana.
.
.
.
Sementara, saat ini disebuah ruangan milik seorang pengusaha.
__ADS_1
Duduk seorang laki-laki yang berumur 50 tahunan. Ia memakai pakaian rapih namun tanpa tuxedo.
Sementara, di kursi sebrang, ada Sean.
Ekspresi wajahnya sudah tampak tidak nyaman sejak awal.
.
.
.
"Kakakmu itu kabur ke luar negeri. Sekarang kondisi rumah bener-bener kacau. Perusahaan juga bakalan terancam. Kamu tahu sendiri Sea.."
-"Apa? Kabur? Ada masalah apa lagi ini?"
Ujar Sean dengan wajah serius dan terkejut.
"Hahh..urusan hati. Dia, memang punya bakat mengurus perusahaan, tapi 'jiwanya' entah berada dimana. Hahhh~~ sudah gak bisa diharapkan. Sean, ayah cuma punya harapan saat ini ke kamu."
Sean mendengar itu benar-benar menjadi kalut. Ia mengepalkan tangannya dengan kuat.
" Tolong pikirkan baik-baik. "
Ujar Ayahnya.
.
.
-".. Maaf ayah, Aku punya mimpi sendiri yang ingin aku wujudkan. Aku.. bakalan bujuk Bang Reynold balik. "
" Sean!.. Untuk apa kamu masih mikirin hal lain disaat kamu bisa ngelanjutin perusahaan ayahmu sendiri?? Ibumu bener-bener sedih, dia cuma punya kamu sekarang."
-"..."
Sean lantas menoleh ke arah lain. Ia tak sanggup melihat wajah ayahnya lagi.
Ia ingin mengeluarkan segala unek-uneknya, namun rasanya akan sia-sia.
Setelah pertemuan itu dan berita tak mengenakkan tersebut, Sean akhirnya keluar dari sana. Wajahnya menjadi murung seketika.
Sebenarnya ia masih tak terbiasa hingga saat ini untuk berbicara dengan ayahnya lagi, terlebih sejak ia menyadari kakaknya itu lebih di elu-elukan keluarga.
Dulu ia sering dibanding-bandingkan dengan kakaknya yang memiliki jiwa wirausahawan dan lebih pemberani dalam mengambil keputusan.
Pemikirannya kritis dan perkataannya mampu membuat orang lain menjadi mempercayainya.
Berbeda dengan Sean yang lebih menutup diri dan menyampaikan hampir segala sesuatu dengan cara tersirat.
"... perusahaan sementara. Kalau pun dia kembali, pasti akan langsung dipindah tangankan."
Gumam Sean sembari menatap jalanan.
Ia sendiri tak mau mengganggu tujuan masa depannya yang sudah ia susun rapih dan pikirkan sejak lama hanya demi mengurus perusahaan.
Tak lama, ia baru teringat sesuatu. Ketika ia mengecek jam, saat ini sudah pukul 19.30 WIB.
Ia kemudian menyadari Kirana sudah mengirim 3 pesan kepadanya untuk menanyakan keberadaan dirinya.
Tanpa lama, Sean langsung mengendarai motornya menuju ke kampus. Jarak yang ditempuh cukup jauh, sehingga Sean sesekali menaikkan kecepatan.
Ia menyesal sekali karena telah membuat Kirana menunggu.
"Ck...sialll.. Kenapa disaat bersamaan sih ini semua?!"
Cecar Sean.
Ia memacu motornya lebih cepat lagi.
__ADS_1