Cat And Wolf

Cat And Wolf
Problem (2)


__ADS_3

Theo langsung mengendarai motor besarnya menuju ke salah satu Cafe terdekat. Tempat pertama baginya yang menenangkan.


.


.


Sesampainya di Cafe tersebut, ia langsung turun dari motornya dan segera masuk .


Lalu, Ia memesan 1 iced mocha dan tiramissu.


Setelah itu, ia langsung duduk di salah satu kursi kosong dekat  jendela besar dan langsung menaruh tas nya di meja.


Kali itu ia tidak sibuk mengerjakan sesuatu di laptop atau mengerjakan tugas lainnya, tetapi memandangi jalanan di luar sana yang agak sepi.


Beberapa pot dengan bunga warna-warni menghiasi halaman cafe tersebut.


Bunganya selalu mekar dengan cantik, tak seperti dirinya yang sudah bertahun-tahun dirundung kesedihan yang sama.


.


.


"Maaf mas, ini pesanannya~"


Ujar karyawan disana sembari menurunkan pesanan Theo dari nampan.


Theo kemudian menoleh ke arahnya dan mengangguk. Setelah itu, karyawan itu pergi dari sana.


Untuk beberapa lama, Theo terdiam seperti memikirkan sesuatu.


Tiba-tiba , ia menghela nafas panjang dan meminum kopinya sembari melihat-lihat sesuatu di ponselnya untuk mengisi kekosongan.


Pikirannya kembali tenggelam dengan ingatan tadi, ketika ia ditelfon ibunya .


Ia memang  jadi lebih sensitif bila itu menyangkut ayahnya.


Tiba-tiba, notifikasi pesan dari Agus dan Shesil muncul. Mereka menanyakan keberadaan dirinya dikarenakan urusan organisasi.


Bahkan, ramai juga notifikasi pesan di grup yang tengah membahas masalah acara.


.


.


Tiba-tiba, senyum muncul di wajahnya.


"Bahkan mau aku ikut semua organisasi sama acara pun gak akan buat aku lupain masalah~ hebat..."


Ujar Theo samar.


Ia benar-benar menyembunyikan perasaannya dibalik senyumnya itu.


___


Setelah menghabiskan dessertnya, akhirnya Theo pergi dari sana. Ia tak mau langsung pulang, tetapi menuju ke suatu tempat yang sangat berarti baginya .


Ke suatu tempat.


Di tempat itu benar-benar sunyi,  hanya terdengar semilir angin yang mengenai dedaunan di pepohonan lalu menggugurkannya.


Theo berdiri di depan salah satu makam yang sudah di keramik berwarna hitam dengan membawa sebuket bunga segar dan juga sebotol air mineral.


Wajahnya datar memandang nisan yang bertuliskan nama


'Hendrick Susanto'


Ayah Theo yang meninggal ketika ia masih dibangku kelas 6 SD, atau lebih tepatnya ketika ia sedang menghadapi kelulusannya.


Lantas, Theo berjongkok di samping makam ayahnya itu lalu menaruh buket bunga itu di depan nisannya.


.


.


.


".. Sekitar 1 tahun lagi, aku janji akan lulus tepat waktu. Aku tahu, ayah gak mungkin hadir di acara wisuda ku. Lagipula, sudah 3 kali ayah tidak hadir dalam acara kelulusan ku... "


Lantas, Theo tiba-tiba terdiam dengan wajah sayu.


Lalu, Senyum muncul lagi di wajahnya. Lagi-lagi untuk menutupi perasaan sedihnya.


" Ibu, baik. Dia merawatku seperti ayah dulu. Tapi, memang tak akan sama.


Hahh~ Aku bingung harus apa. Jadi dewasa itu, gak mudah. Beberapa hal rasanya seperti ancaman untukku. Tapi , aku gak bakal menyerah, itu pesan ayah pas aku kecil kan? Semoga ayah tenang disana."


Lantas, Theo membersihkan makam ayahnya lalu menyiram bagian tanah dan nisannya dengan air mineral. Setelah itu, memanjatkan doa untuk ayahnya di sana.


Setelah usai, ia berbalik pulang.


.


.


Ketika Ia berjalan keluar dari wilayah makam,  wajahnya masih agak sayu.


Tetapi, perasaannya lebih lega. Memang, hanya dengan 'pertemuan' kegelisahannya bisa hilang.


Tiba-tiba, ia teringat sesuatu. Lalu, ia segera mengeluarkan sebuah flashdisk dari sakunya.

__ADS_1


Theo sempat diam sesaat memandangi flashdisk itu. Kemudian, ia masukkan kembali ke kantung celananya. Setelah itu, ia melaju pergi dari sana.


.


.


Saat ini Theo langsung pergi ke sebuah percetakan yang tak jauh dari kampusnya, hanya untuk mencetak tugas yang sudah ia kerjakan.


-"Ada yang bisa dibantu mas?"


Ujar pemilik percetakan kecil-kecilan itu.


"Ini, tolong cetakkin file yang namanya tugas 9. Lalu dijilid warna biru."


Ujar Theo sembari memberikan flashdisk nya.


-"Oke, tunggu sebentar ya mas."


Lantas, orang itu menerima flashdisk Theo kemudian melayani cetakannya.


Selagi menunggu, Theo duduk di kursi depan percetakan itu.


Ia menyenderkan dirinya kemudian memejamkan matanya.


Ia berpikir bahwa ia bisa saja kembali ke kampus setelah ini dan mengurus persiapan, tetapi untuk saat ini dengan perasaan dan pikiran tak karuan seperti itu, itu tidak mungkin baginya . Bisa-bisa dirinya akan tidak fokus.


.


.


Lalu, ia menarik nafas panjang dan menghembuskannya kembali.


Kemudian, ia membuka matanya perlahan.


Bukan birunya langit yg ia lihat, tapi sebotol


Kopi kemasan.


Sontak, Theo langsung mengerutkan dahinya, kemudian menoleh ke kanan.


.


.


Ia melihat adik tingkatnya itu, Kirana dengan wajah seperti memiliki banyak pertanyaan kepadanya. Ia agak terkejut melihat Kirana disampingnya.


"Ini, untuk kakak."


Ujar Kirana singkat.


Theo lantas menunjukkan sikap seperti agak menghindar.


"Pfffttt.. Harusnya kan aku sama kating lain yang bilang kayak gini ke Kak Theo. Kabur tiba-tiba. Ini loh kak diambil, pegel tanganku!"


Ujar Kirana sembari menyodorkan sebotol kopi tadi.


Lantas, Theo menerimanya, walau masih agak heran.


-"Hah~ Kabur? Keliatannya gitu ya?"


Ujar ia sembari memandangi sebotol kopi itu dan tersenyum agak sinis.


Walau sebenarnya perasaannya tak demikian.


Ia agak merasa lucu, padahal tadi ia sudah minum kopi, tapi diberi lagi.


.


.


Kirana terdiam beberapa saat memandang Kak Theo.


".... Kalau ada masalah cerita aja kak. Ke orang-orang terdekat Kak Theo."


Lantas, Theo langsung mengalihkan pandangannya kepada Kirana .


Ternyata Kirana peka terhadap apa yang ia alami.


.


.


.


"Emm, Sebenarnya bukan maksud aku ikut campur sih , cuma... ah, aku gak tau mau bilang apa. "


Ujar Kirana dengan wajah polos di akhir kalimat.


.


.


-" Memang tau apa Kamu, huh?"


Kirana lantas menggeleng


"yahh..gak ada. Aku cuma ngerasa Kak Theo lagi kesulitan aja. Keliatannya juga gitu sih."


Ujar Kirana tanpa memandangnya.

__ADS_1


Theo lantas terdiam.


.


.


-"Tadinya kamu ada urusan apa kemari?"


Kemudian, Kirana langsung menunjukkan plastik putih yang ia bawa. Lalu, ia membukanya dan terlihat ada peralatan menggambar.


"Beli ini tadi terus pas beli jajan di warung samping liat kakak. Ah, sebenarnya aku mau balikkin barang. Sebentar~"


Kirana langsung merogoh tote bagnya lalu mengambil sebuah jam tangan yang ia simpan, setelah itu ia memberikannya.


Theo terkejut ternyata jam  mendiang ayahnya ditemukan oleh Kirana.


Kemudian, ia langsung menerima jam tangan itu.


.


.


.


" aku nemu di deket perpustakaan, pas itu aku panggil kakak tapi kakak malah gak denger. Teruss.. Pas ngurus acara, aku malah lupa ngasiin saking sibuknya~ Maaf agak telat."


Jelas Kirana.


Theo tak menyangka gadis satu ini yang selalu menghindarinya. Tiba-tiba sekarang membantunya dan berbicara banyak kepadanya.


.


.


.


" Makasih banyak ya, Kalo gak ketemu bakalan susah, juga... Untuk minumannya. "


Ujar Theo dengan nada suara canggung sembari memandang jam tangan ayahnya itu.


.


.


Tak lama, orang percetakan tiba-tiba memanggil Theo.


"Mas, ini sudah selesai."


Theo kemudian menoleh ke arahnya.


"Sebentar ya."


Ujar ia kepada Kirana.


ia langsung beranjak dari kursi kemudian membayar.


Seusainya, ia kembali ke depan percetakan.


Ia melihat Kirana sudah berdiri dari kursi.


"Yasudah kak, aku mau balik ke kampus. Kakak mau gimana?"


.


.


Theo lantas menggeleng pelan.


-"Tolong jangan cerita apapun ke mereka."


Lantas, Kirana mengangguk dan tersenyum.


"Oke Kak. Sebelumnya, aku mau bilang, makasih ya kak selama panitiaan berminggu-minggu kemaren udah sabar ngarahin aku. Maaf aku nyusahin."


-"Hahhhh~  Siapa yang bilang nyusahin? Kamu cepet ngertinya kok."


Ujar Theo datar.


"makasih kak,  kedepannya aku bakalan terus nyoba biar lebih bisa diandelin. Yaudah, aku permisi mau balik kampus lagi kak~"


Pamit Kirana.


Theo hanya mengangguk untuk merespon,


Karena ia masih merasa agak canggung kepada Kirana.


Suasana diantara mereka menjadi awkward untuk sesaat.


Kemudian, Kirana segera beranjak pergi dari sana.


.


.


Sementara, Theo terdiam di depan percetakan memandangi jam tangan mendiang ayahnya lagi.


Jam tangan klasik berwarna silver yang sering digunakan ayahnya.


Awalnya Theo hendak menyalahkan dirinya atas hilangnya jam tangan itu, tetapi.. Untung sudah ditemukan.

__ADS_1


Senyum lembut tulus langsung tergambar di wajah Theo.


__ADS_2