Cat And Wolf

Cat And Wolf
Malaikat maut


__ADS_3

Malam hari.


Kirana dan Shella saat itu sedang makan bersama dengan lauk udang asam manis dan sayur asam.


Mereka makan sambil menonton film drama China yang di download Shella di laptopnya.


Mereka berdua menonton dengan sangat serius sekali.


Saat itu adegan yang diputar cenderung menyedihkan.


Salah satu tokohnya kritis lalu pingsan karena sakit yang diderita. Percakapan antar tokoh sudah pasti bisa ditebak.


-"Ah, lama banget peka nya seh hong yi! Tuh kan pinksunnn!!"


Cecar Shella yang terlalu mendalami dramanya.


"Kenapa ya hampir semua drama pasti ada pingsannya segala?"


-"Biar dramatis hehehe.. Terus bisa digendong pangerannya yang tampan membahana itchuuu!!"


Shella menjelaskannya dengan girang.


Sementara Kirana menlontarkan ekspresi geli


"Segitunya?"


-"Yaaa memang kek gitu. Rasanya pingsan gimana ya? Kamu tau gak?"


"Yaa gituu, pusing dan lemas awalnya, lama-lama kok berat kepalanya, terus.. Ya tiba-tiba ilang kesadaran aja."


-"loh kok paham? Pernah ya? "


Tanya Shella.


"Kemaren pas OSPEK. Kamu gak tau ya? oh ya deng, kamu kan kelompoknya gak dihukum. Asiknya~"


Ujar Kirana dengan wajah santai dan mata tetap terpana ke laptop.


-"Lahhh baru cerita ! Ih aku berasa dikhianati! Kenapa pas itu?"


Tanya Shella yang tiba-tiba menaruh piringnya dan langsung memencet tombol pause laptop.


Sontak, Kirana menoleh ke arah Shella.


"hisss lagi asik nonton..


Yaudah, jadi gini.. Pas itu kami dihukum bersih-bersih kan. Panassss nyaaaa kayak di gurun. Ah gara-gara pingsan itu seblak hasil aku jadi ketua kelompok melayang!"


Ujar Kirana yang masih mengingat betul kejadiannya.


-"Yaelah, nih anak masih mikirin seblak! Kamu pasti juga seminggu itu gak makan yang bergizi kan apa begadang ? Dulu pas SMA soalnya hampir kejadian kamu, untung bisa ditangani."


"Wuih tau juga ya ! Hebat!"


Kirana takjuh kepada sahabatnya ini.


-"Yaelah paham lah soal kamu. Btw, kamu pingsan di depan para kating killer dong? OMG! gak tau deh rasanya gimana. Kamu dibawa ke klinik atau dilempar ke sungai?"


"Wah nething mu segitunyaaa ~ ke klinik dong!"


-"Wah alhamdulillah kupikir, hehehe becanda kok~ ngomong-ngomong, siapa ya yang bawa kamu?"


"Aku juga gak tau. Pas pulang dari klinik kampus, aku tanya ibu perawat, tapi dia gak kasih tau namanya. Beliau cuma bilang salah satu panitia penting OSPEK kemarin."


-"Yahh ibunya gak asik! Kenapa ya dirahasia in segala? Tapi.. Hari berikutnya memang gak ada kating yang tiba-tiba nanyain kamu gitu?"


Kirana tiba-tiba terdiam sesaat mencoba mengingat-ingat.


"Hemmm .. Ada gak ya?"


.


.


.


.


Tiba-tiba, ia terdiam seperti membatu. Matanya pun lama-lama membesar karena teringat sesuatu.


"Jangan-jangan!? Aahhh!! gak mungkin! Pasti gak mungkin yang itu!"


Ujar Kirana panik.

__ADS_1


-"Ada?"


Tanya Shella masih penasaran.


"Yaaa adaaa, tapi kan semua kating killer liat, jadi siapapun bisa nanyain kabarku kan? "


Ujar Kirana mencoba mengalihkan pikirannya.


-"Yaaa bisa juga sih, tapi kan bisa jadi aja."


"Udah ya aku mau nonton lagi! Gih diabisin, entar dingin makananmu."


Ujar Kirana sembari memencet tombol play lagi.


-"Huft pengen nanya-nanya lagi jek. Awas kamu Na! "


Ujar Shella agak kecewa.


Kemudian, mereka melanjutkan menonton drama kembali sembari makan.


Namun, Kirana sebenarnya masih memikirkan hal tadi. Kalau benar kating killer yang satu itu, Kirana sampai kapanpun akan sulit untuk berterima kasih. Melihatnya dari kejauhan saja sudah merinding.


______________________


Pagi hari, pukul 9.


Seperti biasa, Kirana sibuk kuliah hari ini.


Kebetulan matkul yang diajarkan hari ini adalah pengenalan botani.


Yaa tentu saja Kirana merasa selangkah lebih jauh di depan karena sudah mengikuti komunitas pecinta botani. Apalagi Kak Sean menjelaskan banyak hal kepada Kirana.


.


Hari itu dosennya semangat sekali, ia mengajak muridnya datang langsung ke taman besar kampusnya. Pembelajaran hari ini malah rasanya seperti sedang jalan-jalan dan dosen sebagai tour guidenya. Apalagi dosennya memang penyuka tanaman, jadi ia sangat antusias setiap mengajar.


"Sementara, tanaman yang ini biasanya di temukan di wilayah subtropis. Tapi berkat rekayasa genetika lebih tepatnya kultur jaringan dan penyesuaian tertentu, tanaman ini bisa hidup di sini. Biasanya hotel bernuansa alam sering pakai tanaman ini "


Tutur Dosen itu.


Tiba-tiba , suara ponsel berdering tanda panggilan masuk terdengar.


Para mahasiswa spontan saling menatap berpikir itu suara dari mereka.


Namun, kemudian dosen itu mengambil ponselnya dari saku dan mengangkat telfonnya.


Ujar beberapa dari mereka dengan suara kecil.


Tak banyak pembicaraan di telfon tersebut. Ia hanya berkata "Halo... Iya baik, segera."


Tutup ia.


Beliau lantas memasukkan kembali ponselnya kedalam saku.


"Mohon perhatiannya sebentar! Nanti sekitar 40 menit terakhir terpaksa ibu harus selesaikan lebih awal karena ada seminar yang harus ibu hadiri."


Sontak, wajah gembira dari beberapa mahasiswa mageran bermunculan.


Sedangkan yang menikmati pembelajaran matkul ini berwajah datar.


" Baik bu" jawab beberapa dari mereka.


-"Tenang aja, selama 40 menit terakhir itu gak akan kosong, akan ada asisten yang gantiin ibu. Jadi jangan sedih kaliannn~"


Tambah ia dengan wajah sumringah.


Sontak,senyum-senyum mengembang dari wajah mahasiswa mageran langsung pudar seketika.


Tak lama, salah satu diantara teman kelas Kirana mengangkat tangan


" Bu, nanti kan di jam sore ada 1,5 jam matkul yang ibu ajar  gantiin Pak Yohan, itu bagaimana bu?"


-"Oh, kalau ibu bisa kembali tepat waktu, nanti bakalan ibu yang ngajar, kalau gak yaa.. Asisten ibu lagi yang ngajar ya. Siap-siap, bakal ada tugas di matkul itu."


Ujar ia sembari membenarkan posisi kacamatanya dan mengecek jadwalnya hari ini di ponselnya.


-"Yahhhh.."


Ujar para mahasiswa mageran di kelas Kirana.


"Halah, bisanya ngeluh bae, Baru jadi mahasiswa!"


Celetuk dosen itu.

__ADS_1


Untung saja dosen kali ini orangnya lebih easy going.


"Hehe maaf bu.."


Jawab salah satu dari mereka.


Setelah percakapan panjang tadi, akhirnya mereka memulai pembelajaran kembali.


Seperti jadwal, 40 menit terakhir digantikan oleh asisten dosen tersebut. Namun, 10 menit sebelum ia usai, ia meminta salah satu muridnya untuk mengambil buku dari ruangannya.


"Nah, kamu ya nak, tolong bantu ibu ambilkan buku materi sampulnya hijau di meja."


Ia menunjuk Kirana yang sedang asik mencatat.


-"Oh, saya? i iya bu, saya akan segera kesana."


Ujar Kirana. Walau ia tak yakin , karena ia saja tidak hapal dimana ruangan ibu ini.


Tapi ia tetap harus menjalankannya karena perintah.


Kemudian, Kirana segera beranjak dari sana untuk mengambilkan buku tersebut.


Sebelumnya,  Bu Elfi selaku dosennya itu memberi tahu bahwa ruangannya di lantai dua.


Untung saja jarak gedungnya tak terlalu jauh, dekat dengan taman.


Akan tetapi, Kirana tetap bertanya kepada security disana untuk memastikan ruangan Bu Elfiana agar tidak nyasar.


Setelah yakin, ia segera naik ke lantai 2.


.


.


Saat Kirana di lantai 2, suasana disana cukup sepi dari orang yang lalu lalang. Agak seram.


Di kanan dan kiri, ada banyak ruangan lain yang tersekat dinding.


Setiap ruangannya milik dosen yang berbeda atau sekedar ruang untuk menyimpan dokumen penting.


Setelah berjalan lebih jauh. Akhirnya, ia menemukan ruangan Bu Elfiana.


Tak pakai lama, ia langsung masuk ke sana dan mengambil buku tersebut dari atas meja , kemudian bergegas keluar dengan mempercepat langkahnya. Karena ia tak mau ketinggalan pembelajaran yang digantikan asdos nanti.


.


.


Tiba-tiba, saat ia keluar dan berbelok ke kanan, 


Kepala Kirana langsung membentur sesuatu dengan keras di depannya.


"Awww... Aduhh!"


Keluh Kirana sembari memegang kepalanya.


Kepalanya agak pusing sedikit karena benturan itu.


"Apa sih ini?!"


Lantas, ia membenarkan pandangannya dan melihat seseorang berdiri di depannya. Tubuhnya tinggi, bidang, ia mengenakan almamater univ tersebut dan saat ia mendongak melihat wajahnya...


Ekspresi terkejut dari wajah Kirana tak bisa disembunyikan darinya.


-"Kamu kenapa? "


Ujar kating killer a.k.a malaikat maut di depannya yang ternyata ia tabrak.


Kirana Sontak mundur 2 langkah besar tanpa aba-aba.


"Oh Kak, heheh maaf.. Gak sengaja. Maaf, punten.."


-"Hah? Kamu gak apa.."


"Maaf banget kak, permisi!!"


Kirana sontak langsung melarikan diri dari sana.


Entah kenapa tubuhnya langsung merespon dengan menjauh dari kating itu. Padahal dengan kating killer lainnya ia tak sampai segininya. Mungkin karena kating satu ini lebih menyeramkan(?)


Sementara, malaikat maut itu, Theo hanya diam heran melihat tingkah Kirana yang aneh itu.


"kenapa sih? efek sakit pas OSPEK belum kelar ya?"

__ADS_1


Ujar Kak Theo semakin heran.


Setelah melihat Kirana melarikan diri, ia langsung beranjak dari tempatnya berdiri, menganggap seolah tak ada apa-apa untuk sementara.


__ADS_2