Cat And Wolf

Cat And Wolf
Sean vs Theo


__ADS_3

Esok harinya..


Seperti permintaan dari Kak Theo kemarin, Kirana terpaksa harus jadi asistennya setelah selesai kuliah.


Satu hal yang benar-benar Kirana tak sangka adalah..


(-"Ini kerjaan Kak Theo memang sebanyak ini kahh?!!")


Keluh hati Kirana melihat banyak sekali hal yang harus diselesaikan. Bahkan saat ini ia memegang dokumen super tebal mengenai semua yang telah dipersiapkan selama ini. Ia ditugaskan membantu Kak Theo mengevaluasinya sekali lagi.


Seharian itu ia mengikuti Kak Theo bolak-balik.


Bahkan ia terpaksa ikut nimbrung para kating lainnya berdiskusi.  mereka berdiskusi sudah seperti mendengar perlombaan debat, tapi untung selalu ada yang menengahi.


Setelah itu, ia diminta mendiktekan dan membantu mengoreksi surat permohonan pengajuan dana lagi.


.


.


Tak lama, tiba-tiba Kak Sean datang dan duduk di samping Kirana. Kemudian, ia langsung merebut kertas yang dipegang Kirana dan hendak mengambil alih tugasnya.


Sontak, Theo langsung menatap tajam Sean, begitu juga dengan Sean menatap balik Theo.


Mereka seolah sedang perang batin.


Sementara Kirana bingung dengan apa yang terjadi.


Tak lama, Kak Theo memberikan sekotak susu rasa stroberi kepada Kirana kemudian mengambil lagi kertas itu dari Sean.


Lalu Sean merebutnya lagi. Hal ini terulang 2 kali. Suasana menjadi menegangkan seketika.


.


.


Alhasil, Kirana langsung mencari cara untuk kabur dari situasi ini.


"Wah apa ini?.. Tiba-tiba Erika ngirim chat. Katanya aku harus kesana. Permisi bentar Kak~"


Ujar Kirana dengan canggung kepada mereka yang masih perang batin.


Ia lantas beranjak dari kursinya. Kemudian, ia mengambil sekotak susu pemberian Kak Theo.


"Makasih kak!"


Ujar Kirana dengan suara kecil.


Kemudian, ia langsung melarikan diri dari mereka.


.


.


Setelah Kirana Pergi, Theo dan Sean lantas berekspresi merasa tidak enak.


"Ini gara-gara loe."


Ujar Theo.


Lantas, Sean melirik Theo dengan ekspresi kesal


-" nyalahin gua. Loe gak kasian apa ke dia?"


".. Bentar, kenapa loe peduli banget? Tumben."


Lantas, Sean memejamkan matanya sesaat menahan emosi. Kemudian ia menatap Theo kembali.


-"Pokoknya gua mau loe baik-baik ke dia."


".. Hahh~ Tau apa sih loe memangnya?"

__ADS_1


Ujar Theo dengan ekspresi agak kesal.


Mereka berdua berdebat dengan suara kecil, akan tetapi tetap saja teman-teman lainnya yang memperhatikan tahu mereka sedang bertengkar.


Untuk itu tiba-tiba mereka menghentikan perdebat tersebut.


.


.


Sedangkan Kirana, ia sekarang bingung sendiri mau kemana. Memang sudah waktunya istirahat, tapi semua teman-teman di divisinya terlihat lebih sibuk. Padahal awalnya ia mengira dirinya mendapatkan tugas lebih banyak, ternyata tidak seperti itu.


Tak lama, seseorang menyentuh pundak Kirana tiba-tiba. Hal itu membuat Kirana terperanjak.


Kirana sontak menoleh ke belakang.


Ternyata ada Hellen.


"Wei,kayak orang ilang neng?"


Ujar Hellen sembari tertawa kecil.


-"Duh,kaget tau. Loh kamu gak pulang?"


"Belom hehhe.. Aku tadi abis nonton klub basket. Sumpah keren bangett!! Ahh hatiku rasanya pindah ke Kak Leo sama Verrel!"


Ujar Hellen dengan wajah berseri-seri.


-"Pfftt..kamu mah setiap ada yang ganteng gercep. Abis ini kamu mau ngapain?"


"kayaknya kali ini aku ke mereka aja. Aku bahkan temenan sama Verrel sekarang. Oh ya, laper nih, kamu udah istirahat belum?"


Kirana lantas mengangguk.


"Sebenarnya udah, tapi kok yang lain belum ada yang keluar. Kayaknya masih pada sibuk."


-"Yaudah makan disini. Oh ya, kok kamu keluar duluan kalo yang lain aja masih..."


"Oh itu hehehhe.. Panjang ceritanya. Yaudah yuk ke kantin, kayaknya masih buka jam segini."


-"Hayoo ada apaa hayoo.."


Goda Hellen.


"Ih napa lagi dah."


Lantas Hellen tertawa mendengar Kirana kesal seperti itu.


________


Setelah Kirana dan Hellen makan, Kirana lantas segera kembali ke ruang panitiaan. Sedangkan Hellen, ia mau langsung pulang.


Baru saja ia akan masuk, ia langsung bertemu Kak Shesil.


"Eh Kirana dicariin dari tadi. Tolong kakak dong, coba ke gedung serba guna, cek disana persiapannya. Nah, ini daftarnya, kalo udah sesuai, berarti udah beres. Kasih aja ini ke Theo. Oke?"


Ujar Kak Shesil dengan cepat. Kemudian ia memberikan papan clip dengan beberapa lembar kertas diatasnya.


-"E eh iya kak. Memang Kak Theo disana?"


"Iya baru kesana. Sana susul. Makasih yaaa.."


Ia lantas mengacungkan jempol.


Tak lama, Kak Agus ikut nimbrung


-"Loh, ini kan tugas gue. Kenapa jadii ...


Tunggu, asik! tugas gue berkurang. Makasih ya dek.."


"Yakin kak aku yang ngurus? Aku kan masih baru."

__ADS_1


-"Kan ngurusnya bareng-bareng."


Ujar Shesil


"Iya santai aja. Gampang kok tugasnya."


Agus lantas nyengir.


Kemudian, Kirana mengangguk walau agak ragu. Akhirnya, ia mengikuti arahan Kak Shesil dan segera pergi kesana.


-"Sil, dasar akal-akalan loe aja ini. Tapi gue suka sih~"


Ujar Agus yang merasa diuntungkan.


"Gue? Bukan tuhhh~~Theo sendiri bilang 'Kalo ada sesuatu tapi gua gak disini, kasiin ke Kirana dulu.' gitu."


-"sebenarnya sil, maksud dia itu kalo urusannya Theo sendiri, bukan.."


"syudahh tjukup omong kosongmu Agus. Ayok mending ngerjain yang lain. Masih banyak banget yang lain menanti!"


Ujar Shesil sembari mendorong Agus masuk ke dalam ruang panitiaan lagi.


.


.


Sementara Kirana saat ini sudah sampai di depan gedung serba guna. Ia tak menyangka persiapannya secepat ini. Dekorasi di luar dan di dalam sudah banyak. Nanti gedung ini akan digunakan sebagai acara pembukaan dan penyambutan tamu-tamu penting.


Ia melihat ke sekeliling, gedung yang sebelumnya jadi tempat ia dan maba lain di OSPEK, kini jadi sebagus ini.


Para panitia bagian setting panggung bekerja dengan sangat baik.


Tak lama, ia baru ingat harusnya sekarang ia menemui Kak Theo.


Mata Kirana lantas menelusuri sekelilingnya, mencari keberadaannya.


Lantas, ia mencari ke sekitar bangku penonton.


Ia ingin sekali bertanya kepada yang lain, tetapi mereka tampak sibuk sekali menggotong properti dan mengarahkan panitia lain, tampak juga mereka memanggil tukang untuk membangun panggung tambahan juga untuk membenarkan pendingin ruangan yang rusak.


Tiba-tiba, Kirana tak sengaja bersenggolan dengan seseorang yang membawa banyak barang. Papan clip yang Kirana bawa langsung jatuh.


.


.


-"maaf banget aku gak sengaja."


Ujar Kirana. Ia merasa ia yang salah.


Lantas orang itu menoleh ke arah Kirana dengan wajah terkejut. Ia tampaknya kating juga, tetapi tampak seperti tahun kedua.


Ia memiliki visual yang terbilang flower boy.


"Tadi kayaknya aku nabrak kamu keras banget. Maaf ya gak keliatan, banyak bawaan. Ada yang sakit gak?"


-"Gak apa-apa kok."


"Serius kan?"


Kirana lantas mengangguk.


Tak lama, tiba-tiba ia merasakan kedua pundaknya disentuh.


Kirana sontak menoleh ke bekakang.


Ia melihat Kak Theo di belakangnya


.


-"Kamu gak apa-apa kan?"

__ADS_1


Ujar ia kepada Kirana.


Untuk beberapa saat, mata mereka bertemu.


__ADS_2