
Mata Theo lantas tertuju ke arah Kirana.
Saat itu juga, Kirana tersenyum ke arahnya dan mengacungkan kedua ibu jarinya, tanda ia kagum dengan penampilan kating satu ini.
Namun, Theo berpura-pura mengabaikannya dan tersenyum ke arah penonton.
Orang yang paham pasti tahu itu hanya pengalihan.
Beberapa saat kemudian, Theo berdiri dan mengambil mic nya.
"Terimakasih atas perhatian para hadirin. Saya mohon maaf bila masih ada kekurangan, karena ini juga.. Penampilan mendadak saya. Sekian, dan terimakasih kembali."
.
.
-"Wahhh.. Kami yang harusnya terimakasih!!~ "
"OMG, manis banget gak sih kating ituu?!"
"Siapa namanya tadi?"
Ujar beberapa perempuan yang merupakan peserta lomba. Sontak, para mahasiswa/i yang mendengar itu langsung memperhatikan mereka.
Terkejut karena mereka tidak tahu sosok Theo yang cenderung savage itu, apalagi Theo tak suka dianggap... Manis ataupun semacamnya yang menilai fisik walau itu pujian.
Namun Theo tak menghiraukan itu kali ini. Ia bersikap profesional.
"Dan.. Satu lagi. Saya sebagai ketua panitia disini, ingin mengatakan terimakasih kepada para peserta lomba yang hadir untuk memeriahkan acara hari ini juga kepada para teman-teman dan para staf serta dosen sekalian. Saya harap kalian menikmati acara hari ini."
Ujar Theo. Ia lantas tersenyum tipis.
Setelahnya,ia undur diri dari atas panggung dan digantikan oleh 2 mc tadi.
Lalu, apa yang Theo lakukan selanjutnya?
Tentu bukan Theo namanya kalau tidak mencari orang-orang mencari masalah dengannya.
Theo langsung mencari keberadaan teman-teman 'laknat' nya itu setelah ia turun dari panggung.
Namun,tampaknya mereka semua yang merencanakan aksi itu sudah pergi saat Theo menutup penampilannya.
"Ckk...Ohh ginii yaa?!.. Sebentar, Kalian ada yang liat Shesil atau Agus dkk gak??"
Tanya Theo kepada panitia lain.
-"Kayaknya tadi juga ikut nonton."
-"Wah gak tau cuy, btw keren juga lu! Hehhee.."
Sahut yang lain.
Lantas, Theo terdiam. Ia kemudian mencoba menelfon mereka satu-satu.
Tapi tak ada yang mengangkat.
("Gini amat punya temen?! Sumpahhh...")
Ujar Theo dalam hati.
Tak lama, ia langsung terpikir satu ide.
"Oh ya, abis ini kan ada jeda untuk kita sejam, gua pesenin martabak telor ya untuk kalian. Coba kumpulin panitia inti yang laen~"
-"Wuihh, serius? Ini kita semua ditraktir?"
__ADS_1
Ujar panitia lain dengan ekspresi agak terkejut.
Theo lantas mengangguk dan tersenyum tipis.
"Yaa.. Anggap aja untuk hadiah kalian semua udah kerja sportif. Btw, jangan kasih tau anak lain gua yang beliin ya?"
.
.
Benar saja, dalam waktu setengah jam semua panitia inti terkumpul. Theo juga sudah memesan dari 3 pedagang yang berjualan di festival sehingga waktunya tepat.
" Wuihh, mantabb!! Hasil danusan kah ini? "
Ujar Agus bercanda. Ia lantas mengambil sepotong martabak telurnya.
-"Kok tiba-tiba ada ginian? Tumben banget."
Ujar Shesil yang masih heran.
Tak lama, salah satu panitia menunjuk Theo yang berdiri dekat tembok.
Shesil, Dino, Agus, dan Beni langsung keringat dingin melihat Theo yang jarang tersenyum itu tiba-tiba tersenyum ke arah mereka.
Senyuman yang mengandung makna tersirat itu.
.
.
Setelah festival hari kedua usai, mereka semua berkumpul di ruang rapat karena ada sesuatu yang harus dibahas. Namun setelahnya, ketika semua panitia lain pergi, acara berganti menjadi introgasi tersangka.
Mau tak mau, mereka yang merencanakan aksi tadi harus diam di ruangan itu.
.
.
"Ada dari kalian yang mau coba jelasin, kenapa.. Gua bisa ada di list acara Dan... Kenapa loe orang... Ughhh, kenapa harus lagu itu?!"
Ujar Theo dengan ekspresi greget an
.
.
Agus lantas menyenggol lengan Shesil dengan sikunya.
Lalu Shesil gantian melakukan hal serupa.
Begitu beberapa kali mereka melakukannya, saling lempar.
.
.
-"itu karena..kita tau bakat tersembunyi loe!!"
Ujar Dino tiba-tiba.
-"ehm,gua.. Cuma.. Bilang setuju aja sih kemaren. Sisanya tanyakan pada kanjeng Ratu Shesilia dwi korani."
Ujar Beni mempersilahkan Shesil berbicara.
"Ck,awas Beni loe ya!.."
__ADS_1
Ancam Shesil dengan suara kecil.
.
.
Tak lama, pandangan Shesil mengarah ke Theo.
"Theo, gue cuma mau bilang.."
Shesil lantas bertepuk tangan. Ia kemudian maju beberapa langkah mendekat kepada Theo.
"Loee kerenn abiss!! Serius! Btw, thanks yaa udah mau tampil maksimal. Kalo gue pribadi.. Gak bisa kayak loe tadi. Bravo boy!"
Lantas, Shesil menepuk-nepuk pundak Theo.
.
Dengan segenap keberanian dan waktu serta kesempatan yang tepat, Shesil lantas pergi melipir dari ruangan itu. Saat ia sampai diambang pintu, ia lantas melambaikan tangan dan mengacungkan ibu jari kepada mereka. Lalu ia benar-benar pergi dan berpikir Theo tak menyadari aksinya itu.
Sontak Agus, beni, dan Dino langsung bereaksi tak percaya dengan sikap Shesil.
"Wah.. i itu.."
Tunjuk Beni tak percaya.
.
.
"Okey, kalo ada yang mau pulang lagi silahkan.. Ya gua harap besok kalian bisa jelasin kenapaaaa kalian bikin gua tampil dipanggung?!
Santai, ajaa Jangan tegang kayak gitu~~"
Ujar Theo dengan senyuman mengintrogasinya lagi.
Ia lantas pergi juga dari sana.
.
.
Ketiga temannya itu lantas menghela nafas berat.
"huwaa.... Btw, gua tau ini bakal terjadi, tapi kenapa.. Tetep rasanya kayak nyawa gua.."
Ujar Agus
-"Lagi di jemput ama dia?"
Tambah Dino.
Agus lantas menjentikkan jari
"Benerrrr.."
-"Udah broo, siapin aja kata-kata buat setor deklarasi ke Theo besok-besok.. Gua cau yaa, byee.."
Ujar Beni. Ia lantas mengambil tasnya lalu pergi dari sana tanpa beban.
"Wahh curang lu Benn, awas lu yee!"
Ujar Dino.
Tak lama, Agus berlari mengejar Beni, diikuti oleh Dino.
__ADS_1
Akhirnya mereka bertiga hari itu menginap bersama untuk menyusun rencana.