Cat And Wolf

Cat And Wolf
1-0


__ADS_3

Melihat Kirana yang sungguhan terkejut membuat Theo langsung merespon dengan mengangkat sebelah alisnya.


"yang harusnya nanya itu aku, bukan kamu."


-"a, aku kan lagi ada acara komunitas. Lagian kakak ngapain nongkrong sendirian disini coba? Gak serem apa?"


-"Serem sih, karena tadi tiba-tiba denger suara cewek."


Ledek Theo.


Ia ternyata mendengar semuanya yang dikatakan Kirana tadi.


Sontak, wajah Kirana langsung memerah. Ia sendiri tak pernah menunjukkan sisi dirinya yang marah-marah seperti tadi kepada siapapun, kemudian langsung mood swing setelah ada si choco, kucing gendut itu.


" Ngapain sih kamu? Dari pada disitu mending bantu ngerjain ini deh. Kan kamu ahlinya."


Ujar Theo yang tiba-tiba memberikan beberapa lembar kertas yang dijepit penjepit kertas.


"Hahh.. Kak Theo gak liat situasi ? Bukan gak mau bantu, tapi..."


-"Oh udah mau balik ke sana?"


"..."


Kirana langsung terdiam. Rasanya ia masih enggan untuk kembali.


-"Pfft.. Duduk sini. Dari pada berdiri kayak orang mau ngelabrak gitu."


Ledek Theo lagi.


Akhirnya Kirana nurut. Ia akhirnya duduk di samping Kak Theo yang sedang mengerjakan tugas di laptopnya. Tak lama, Choco juga duduk di dekat mereka.


Kirana lantas menjadi penasaran.


"ngerjain apa sih kak? Banyak tugas ya mahasiswa tahun ketiga?"


-"mau tahun berapapun tugasnya tetep aja banyak, cuma beda tingkat kesulitan. Kalo Ini... Tugas survey wawancara. Kebetulan yang lagi di teliti wilayah sekitar kampus. Mau coba jawab beberapa pertanyaannya?"


"Ohh paham, boleh kak."


-"Oke, yang pertama.. Giman kondisi wilayah di sekitar kampus?"


"ehm.. Rame, tapi kurang tertata baik, jadinya kelihatan kumuh, terutama pertokoan di deket gerbang samping."


"Terus, biasanya kamu pulang lewat mana?"


-"Gerbang samping. Gerbang depan kejauhan. Sebenernya tergantung kegiatan lagi gedung mana sih."


Lantas, Theo mencatat setiap jawaban Kirana sebagai bahan datanya.


".. Biasanya pulang jalan kaki atau naik ojek?"


-"Seringnya ojek. Jalan kaki kalo lagi pengen jajan di sepanjang jalan."


"Emang ada makanan enak disekitar jalan pulang?"


Tanya Theo diluar pertanyaan survey.


-"Adaa banyakk.. Makanya kak kalo pulang jangan langsung pulang."


Ledek Kirana.


"Ngapain jajan, kayak bocah kamu ini."


Ujar Theo dengan tersenyum tipis.


"Yahh kayak kakak gak aja kemaren pas festival. Kita sama2 bocah berarti ya? "


Jawab Kirana dengan sarkastik


.


.


.


Lantas, Theo tertawa beberapa saat kemudian setelah mendengar itu.


"pfftt.. Hahahah!"


Ini pertama kalinya Kirana melihat Kak Theo tertawa. Ternyata tidak seperti kata orang-orang kalau Kak Theo tertawa seperti psikopat.


"Ih kenapa kak? Perasaan gak ada yang lucu."


-"Itu kan wajar di acara kuliner. Jangan disamain sama jajan 'di luar sekolah' geh."


"Huft, jadi masih ada pertanyaan lagi gak kak? Kalo gak, aku balik, udah telat 10 menit."

__ADS_1


-"Ada.. Pertanyaan terakhir, kenapa kamu gak pernah tunjukkin langsung perasaan kamu kalau gak suka sesuatu?"


Ekspresi wajah Theo langsung berubah serius.


"hah,kenapa kak tiba-tiba? Hahah. Oh ya, Choco ini kucing yang tinggal di kampus kak? "


Ujar Kirana mencoba mengalihkan topik.


-" oh jadi gitu."


Gumam Theo, ia mulai memahami sikap Kirana dan alur pikirnya. Ia jadi bisa menyimpulkan segala sesuatunya termasuk peristiwa yang lalu terhadap Kirana. Bahwa Kirana sebenarnya sangat peka, hanya saja selalu ia tutupi.


" Kenapa kak? "


Tanya Kirana.


"Na, mau coba liat kucing yang lain? Hari ini belum kakak kasih makan mereka."


-"Loh Kak Theo rutin ngasih makan kucing disini?"


"Ayok kalo mau liat dan nyoba ngasih makan."


Ujar Theo sembari menutup laptopnya kemudian memasukkannya dalam ransel.


-"Tapi kayaknya sebentar lagi pemilihannya dimulai kak."


Ujar Kirana.


"Yakin lah itu bakal mundur waktunya."


-"Tau dari mana?"


Tanya Kirana tak yakin.


"Penasaran ya? Hahah.."


Ledek Theo.


"Nih bawa."


Theo lantas menyerahkan satu plastik berisi makanan kucing dari dry food sampai wet food.


Kemudian, Theo berjalan mendahului Kirana.


-"Kalo aku telat, salah Kak Theo ya.."


Jawab Theo dengan santai.


Akhirnya Kirana malah ikut Kak Theo untuk melihat kucing, tak lupa Kirana juga mengajak Choco pergi bersama.


Sedangkan di ruang pemilihan, teman Kirana tampak gelisah, ia sesekali melihat jam tangan karena istirahat sudah usai.


"Duh, kok lama amat ya. Hapenya ditinggal lagi!"


Gumam ia.


Sementara, Kak Sean menyadari itu dari depan ruangan. Ia berpikir tidak biasanya Kirana begini.


"Oh ya, ini udah mau dimulai?"


Tanya  Sean ke pengurus lain.


-"Iya, 10 menit lagi deh. Kenapa?"


"Oh gak.."


Jawab Sean sealami mungkin.


Mau ia bersikap tenang, tapi sebenarnya di dalam hati ia merasa cukup gelisah.


Sedangkan Kirana saat ini sedang diajari cara memberi makan ke kucing bagi orang asing bagi si kucing.


"Coba pake camilan dulu, biasanya kucing disini langsung nurut."


Ujar Kak Theo.


Kirana lantas memberikan camilan kepada kucing-kucing itu. Tetapi nyatanya, mereka langsung dekat dengan Kirana.


"Eh gak susah tuh kak, langsung deket mereka."


Ujar Kirana dengan ekspresi gembira.


-"Itu kamu lagi beruntung aja."


"Yahh mana ada begitu. Oh ya yang abu belang hitam ini anaknya siapa?"


-"Gak tahu ya, dia dateng sendiri kesini pas masih bocah gitu."

__ADS_1


"wah kasian juga.. Tapi dia makmur banget di kampus ya.. Apa cuma aku yang gak kenal sama kucing-kucing disini?"


-"Kenalan lah kalo gitu , halo saya Kirana, kamu siapa?"


Ujar Theo dengan menirukan mimik perkataannya.


"pfftt.. Apa sih kak? "


Ujar Kirana dengan tersenyum aneh.


Tampaknya perasaan Kirana sudah jauh lebih baik. Theo sendiri tak mau langsung menanyakan ada apa dengan Kirana tadi.


Apalagi Kirana tipikal orang yang lebih suka memendam.


"Ngoming-ngomong, Kak Theo melihara kucing gak?"


-"Di rumah, kalo di kost-an gak. Ada peraturan yang ngelarang."


"Oh ya? Warna apa?"


-"Oranye sama abu belang hitam kayak si bocah satu ini."


Tunjuk Kak Theo ke kucing yang paling muda.


Kirana lantas mengangguk.


.


.


Tak lama, Kirana tersadar tentang sesuatu dan langsung mengecek jam berapa sekarang di jam tangannya.


"Oh.. Kayaknya aku udah telat. Aku harus balik ke sana. Makasih kak udah ngenalin ke kucing-kucing gendutttt iniii!!"


Ujar Kirana sembari memencet pipi salah satu kucing dengan kedua tangan.


-"Body shaming ya~~"


Tutur Theo


"Pfftt.. Kan kenyatan mereka gendut, gemashh.. Tapi, Gak bagus loh kalo obesitas. "


-"Pfftt.. Iyaa, makanya sekarang udah agak dikurangi makannya."


" Ngomong-ngomong  Kakak banyak dana juga buat ngasih makan mereka tiap hari ya."


-"Hei, kamu mau balik kesana atau mau tetep disini?"


Tegas Kak Theo.


"Hehehe maaf.. Duluan kak!"


Ujar Kirana, ia lantas beranjak pergi dari sana.


Lantas, Theo sedikit menggelengkan kepala, lalu tersenyum tipis. Rasanya lucu bila melihat sisi Kirana yang seperti ini, orang yang tak kenal mungkin mengira dirinya adalah gadis yang periang dan kelihatan lemah. Akan tetapi, sesungguhnya ia adalah gadis yang paling dewasa dan pemberani yang Theo kenal. Yaa, perempuan mana lagi yang bisa kebal melawan tampang seram yang sering Theo pasang untuk jaga jarak dengan orang-orang yang tak dekat dengannya.


Walau sebentar hari ini, namun berkesan.


.


.


Namun disisi lain,


Beberapa saat sebelumnya,


Sebenarnya, tak terlalu jauh dari sana, Sean sedang memandangi mereka belum lama ini. Ekspresi wajahnya tentu menunjukkan ia merasa tak senang sama sekali. Namun, Sean hanya bisa diam sampai saat ini.  Kemudian, ia segera kembali ke ruangan sebelum Kirana sampai.


.


.


Sedangkan Theo, ia masih berada di tempat yang sama. Ketika Kirana pergi, sebenarnya Choco hampir mengikutinya.


Namun Theo langsung mencegahnya.


"jangan ngikutin.. Segitu udah ngerasa deketnya ya kamu sama dia?"


Ucap Theo dengan suara kecil sembari membelai kucing itu.


Sementara Choco mengeong.


"Besok aja, datengin dia sendiri ya.."


Jawab Theo.


Ya begitulah kegiatan Theo di sore hari. Ia selalu bermain dengan semua kucing dikampus. Yang sudah paham betul kebiasaan Theo ini adalah pedagang-pedagang di kantin fakultas teknik, satpam kampus, dan petugas kebersihan tetap disana. Serta beberapa teman Theo. Namun temannya tak sampai tahu kalau Theo sering di kampus sampai sore sendirian hanya untuk menunggu semua kucing berkumpul, lalu memberi mereka makan.

__ADS_1


__ADS_2