
Setelah mendengar pertanyaan Kak Theo itu, Kirana mengangguk, ia agak terkejut Kak Theo tiba-tiba muncul.
"Kalian harusnya lebih hati-hati dong di tempat ramai kayak gini "
Ujar Kak Theo , lantas ia mengambilkan papan clip yang jatuh tadi.
"iya, maaf. Permisii kak ."
Ujar laki-laki itu dengan sopan. Kemudian, ia pergi dari sana.
-"Kamu kesini ngapain?"
Tanya Theo. Ia lamtas memperhatikan isi kertas yang ada di papan clip itu.
" Oh tadi aku disuruh kak Shesil ngurus ini bareng Kak Theo."
Ujar Kirana blak-blakan.
Lantas, Theo langsung menghela nafas panjang dan langsung bergumam
"Sumpah Shesill iniiii... "
.
.
-".. Ini tugas Kak Agus kan harusnya? Tapi aku bisa kok kak. Tenang ajaa."
Ujar Kirana dengan percaya diri.
"Yaa..anggep aja sekalian belajar. Ayok ikut kakak."
Kirana lantas mengikuti Kak Theo memeriksa setiap hal disana agar sesuai dnegan daftar tersebut.
Kala itu, Kirana banyak belajar dari dirinya Rasanya sosok Kak Theo yang saat ini sangat berbeda dari imej saat ia menjadi panitia OSPEK.
Hingga tak terasa tugas yang satu ini sudah selesai.
-"Uwah udah kelar semua ini kak?"
Tanya Kirana
Theo lantas mengangguk sembari mengecek ulang daftar tersebut.
Suasana hening untuk beberapa saat setelahnya. Sampai Kirana teringat satu pertanyaan.
"Kak, ngurus organisasi sama panitiaan itu susah gak sih?"
Tanya Kirana tiba-tiba.
Theo lantas mengalihkan pandangannya kepada Kirana
"Ya mudah asal bisa bagi waktu. Menurutmu gimana kesan ikut panitiaan?"
-" hemmm... Asik banget sih, bisa nambah pengalaman sama punya temen baru."
Lantas, Kak Theo tersenyum
"Berterima kasihlah pas itu temenmu daftarin kamu."
.
.
Sontak, Kirana terdiam beberapa saat.
-"Tunggu, Kak Theo jadi ngerti dari awal dia iseng aja daftarin aku?"
Ujar Kirana dengan agak terkejut.
Lantas, Kak Theo tiba-tiba beranjak pergi dari hadapan Kirana.
-"Kak,kok pergi? Jadi Kak Theo dari awal juga iseng dong?"
__ADS_1
Ujar Kirana sembari mengikuti Kak Theo dari belakang.
".. Kata-kata iseng terlalu jahat kayaknya. Ubah jadi ngasih 'pelajaran berharga'"
Jawab ia tanpa menoleh ke arah Kirana.
-"Aku berdosa apa sampai diberi 'pelajaran berharga'?"
Keluh Kirana.
"Memang harus punya salah dulu baru dapet? Guru sama dosen yang ngajar dikelas itu juga ngasih 'pelajaran berharga' tau gak?"
-"Yaampun, sabar Kirana... Sabarrrr.."
Gumam Kirana sembari menahan rasa kesal.
Sementara, Theo hanya menahan tawa mendengar respon Kirana.
Ketika mereka di luar, saat ini pukul 17.56 WIB, keadaan di luar sudah mulai gelap.
Tiba-tiba, terdengar suara jendela tertutup dengan keras dari lantai atas lab. Hal itu membuat Kirana terkejut sekali.
Padahal, tak ada siapapun disana dan lampunya mati. Suasana menjadi horor seketika.
"Haaa! Suara apa itu kak?"
Ujar Kirana spontan.
Theo lantas menoleh ke arah Kirana, kemudian pandangannya pindah lantai atas.
"Oh, Jendela ketutup sendiri kan?"
Ujar Kak Theo dengan santai.
-"Su sumpah kak? Itu nutup sendiri? Keras banget suaranya!"
Lantas, Kak Theo langsung tersenyum tipis.
"Kalo kamu takut kayak gitu, nanti yang nutup jendela tadi malahh nyamperin."
Ujar Kirana kesal.
Tiba-tiba, terdengar lagi suara jendela itu berdencit, terbuka dan tertutup lagi. Suaranya memang begitu horor ketika itu.
"Ah gak tau deh!"
Kirana lantas menutup telinganya dan langsung bergegas pergi dari sana.
Sementara, Kak Theo masih tersenyum, ia lantas melihat ke arah jendela itu yang memang terbuka dan tertutup walau gerakannya tak kuat.
Jendela disana memang rusak dan kebetulan saja ada angin yang menggerakkannya.
"Hah~ Pak Junaidi kayaknya lupa ngunci jendela. Pfftt.."
Lantas, Theo beranjak pergi dari sana juga.
_______
Dari pukul 18.00-18.30 mereka semua diberi jeda untuk ibadah dan istirahat. Setelah itu kembali bekerja hingga pukul 20.15 WIB
Kirana segera membereskan barang-barangnya dan hendak pulang. Ia masih terbayang jendela bergerak tadi. Untuk itu ia ingin segera pulang.
Tak lama, Kak Shesil menghampiri Kirana
-"Kirana makasih ya udah bantu kakak ~ udah mau pulang kamunya?"
"oh iya sama-sama kak.. Kak Theo kok yang banyak handle tugas tadi. Iya ini mau langsung pulang. Kakak juga?"
Lantas, Kak Shesil mengangguk
"Yuppp.. Bosen jadi penunggu kampus terusss.. Sekali-kali pulang bareng kalian hehhee.."
Ujar Kak Shesil. Memang akhir-akhir ini ia dan beberapa temannya pulang lebih terakhir dibanding yang lain.
__ADS_1
-"Wahh, capek banget ya pasti kakak? Semangat ya kak!"
"Ahh.. Santaii aja~ yaudah kakak pulang ya.. Duh, kamu jangan jalan kaki ya dek! Udah malem, serem!"
Ujar Kak Shesil, ia mengkode 'salah satu temannya' demi Kirana.
Sementara, Kirana mendengar itu justru malah terbayang jendela berayun tadi. Ia langsung merinding terbayang itu lagi.
" i iya, ini mau naik ojek kak.. "
-" Ojek? Kan bisa neb.. "
" Shesil! Ayokk cepett!! Udah ditunggu ama Vira."
Teriak Yuli, teman Shesil. Mereka bertiga berencana pulang bersama.
-"Iya sabar woy! Yaudah.. Byee Kiranaa~~"
Ujar ia agak tergesa-gesa. Kemudian,ia langsung menyusul temannya itu.
.
.
Tak lama, Kak Theo mematikan laptopnya. Kemudian, ia memasukkannya ke dalam tasnya.
"Kamu mau pulang sekarang?"
Tanya ia kepada Kirana.
Kirana lantas agak terkejut, Kak Theo tumben sekali menanyakan hal itu.
"Iyaaa. Yaudah, aku mau langsung pamit pulang kakk.."
Jawab Kirana.
"Kakak anter, soalnya kamu udah.. bantuin seharian ini."
Ujar Theo dengan agak canggung.
-"Santai kakk.. Gak usah balas budi hehehe.."
Jawaban Kirana itu membuat Theo berpikir anak satu ini teramat tidak peka.
"Bukan git.. Hahh.. Udah gak apa-apa, dah malem juga."
Tambah Theo.
"Yakiin kak? Aku ngerasa agak gak enak sih."
Jawab Kirana dengan jujur.
-"Iyaaa!! Kalo ada apa-apa ke kamu entar gak ada asisten lagii. "
"Dihh alesan macam apa ituu??"
Ujar Kirana dengan ekspresi remeh.
Lantas, Kak Theo langsung mengambil tas Kirana dan membawakannya.
"Cepetan jalan!"
Ujar ia dengan tegas.
Lantas, ia pergi duluan mendahului Kirana.
"Ih, iya kak!"
Akhirnya, ia terpaksa mengikutinya.
.
.
__ADS_1
.