
Esoknya, hari kedua ini para panitia masih memberi tugas, seperti membuat rangkuman. Tapi dari acara yang diadakan khusus dari kampus untuk memberi materi kepada para maba.
Pengisi seminarnya adalah para dosen muda.
Apa ada yang visual-able? Tentu saja ada banyak, baik dosen laki-laki maupun perempuan.
Hal ini tergambar jelas di wajah para maba yang gembira sebagai testimoni.
"Cih, dasar maba taunya yang bening!"
Julid salah satu panitia ospek seksi dokumentasi, Dino namanya.
-"Makanya, bening juga biar dilirik! Hohohoho!"
Ledek temannya, cowok tapi rambutnya panjang seperti duta shampoo.
"Yeh, elu mah gak tau rasanya saingan ama dosen! Lagian ini kampus kok visualable sih dosennya? Heran gue! "
Jawab Dino dengan wajah ngenes.
Tak lama, Shesil datang menemui mereka karena mendengar percakapan itu
"Hei, hei! Udahh dokumentasiin itu acaranya cepetan! Ambyarnya belakangan!"
"Iya bu ketuaaaa!"
-"Sil, kok elu mondar-mandir terus sih, mending langsung stay di tempat selanjutnya deh."
Ujar kating 'duta shampoo'
"Kenapa? Takut gue omelin terus?"
Ledek Shesil.
-"Iya , serem bgt sih. Berasa kami yang OSPEK duhhh."
"hei, gue itu gak galak, tapi tegas. Selesai acara juga kalem dan manis lagi kayak biasanya. Iya gak Dino?!"
Ledek Shesil sembari menatap dan tersenyum sarkas ke arah Dino
.
.
-".... I i iya deh. Udah sana balik!"
Jawab Dino tanpa berani menatap Shesil.
"OK, kalau begitu selamat bekerja teman-teman!"
Wajah Shesil lantas berubah jadi lebih ceria seketika. Lalu, ia pergi dari sana tanpa basa-basi lagi.
.
.
.
"pffffttttt... Mantan gebetan lu tuh No!"
-"Lu juga pernah kan gebet dia?"
"Dih, gak pernah ya!"
Ujar ia sembari mengibaskan rambutnya yang indah menawan hingga menyabet wajah Dino.
"Bushet dah!!.. Ngapa sih hobi bgt gitu! Potong rambut sana, mana udah kayak cewek dari belakang! "
-"Wah, gua jadi penasaran, apa ada ya cowok yang sempet ngira gua cewek cantik dari belakang?pfftt"
"dua kata, BODO AMAT! udah sana urusin properti kek."
-"Iye Dinosaurus, iyee!! Byeee.. Gua cau dulu. Jangan panggil kalo butuh bantuan."
Lantas, tanpa lama kating duta shampoo itu pergi dari sana menjalankan tugas negaranya.
"astagfirullah, nasib punya temen absurd! Sabar~"
Ujar Dino sembari menggeleng. Kemudian ia kembali mendokumentasikan acara tersebut dengan kamera yang ia pegang.
Acara tersebut berlangsung kurang lebih satu setengah jam. Setelah itu, mereka diminta menyerahkan hasil rangkuman. Kemudian mencari literatur terkait di perpustakaan untuk kemudian di rangkum.
Hari ini jauh lebih ringan dibandin kemarin. Lalu mereka diberi PR untuk mengerjakan essay.
Esoknya, mereka diminta untuk mengumpulkan essay tersebut.
Namun, tak disangka kelompok Kirana ada anggotanya yang tidak selesai mengerjakan essay walau sudah dibantu anggota lain. Alhasil mereka (Kelompok kuning) mau tidak mau dihukum.
Untung saja ada kelompok lain yang ikut dihukum juga, jadi malunya tidak sendirian .
-"Essay aja masih belum selesai? Apalagi nanti kalau udah mulai aktif kuliah?!."
Ujar wakil ketua panitia OSPEK dengan nada tegas.
-"Ngapain aja ini dari kemarin yang belum ngerjain? Tidur?! Atau malah main?! "
Tambah ia sembari mondar-mandir di hadapan kelompok yang dihukum.
Semua anggota tak ada yang berani menjawab, bahkan yang salah juga tidak berani.
__ADS_1
-"Jawab!! Kenapa diam aja? Angkat tangan terus maju kesini yang belum selesai! Hitungan ketiga kalau belum ada, hukuman kelompok akan lebih berat, 1! 2!.."
Tanpa lama, mereka yang belum mengerjakan tugas langsung maju tanpa bersuara.
Ternyata dari kelompok lain ada 5 orang yang belum selesai. Mereka ber-6 langsung berbaris memanjang kesamping menghadap kating.
-" Berdiri yang tegap, sikap sempurna kalian yang lalai ini! "
Perintah ia.
Sontak, para maba yang dihukum langsung nurut.
.
.
-" Kemarin sudah diberi tahu kan oleh kakak yang lain? Apa ada yang gak tau tugasnya bakal dikumpulkan?"
Tanya ia sembari melipat tangan di dada dengan tatapan mata yang tajam.
"Siap, sudah diberi tahu kak.."
Jawab beberapa dari mereka dengan menunduk.
-"Terus kenapa belum ngerjain? Ini juga Parah banget!! Dari kelompok biru ini paling banyak! Sebutin alasan kalian satu-satu!"
Suaranya yang kuat membuat para maba tak ada yang berani berkata-kata kecuali mereka yang maju kedepan karena terpaksa.
Dengan sedikit terbata-bata, mereka semua menyebutkan alasan sebenarnya. Tak ada yang berani berbohong.
-" Kamu, yang semalem ketiduran, push up 15 kali sekarang! "
Tunjuk ia tiba-tiba.
Sontak, anak itu langsung nurut dengan wajah tegang.
-"Bagus baru jadi maba udah kayak gini? Kalian tahu kan Kak Shesil dan Rektor pernah nekanin disiplin itu penting, kerja sama kelompok juga harus ditekankan! Kerja sama kalian itu 0 besar! Kacau!!! Sekarang kalian kembali ke kelompok masing-masing! "
Perintah ia.
Tanpa lama, mereka ber-6 langsung kembali ke kelompok masing-masing setelah introgasi dan hukuman tadi.
-" Habis ini, yang kelompoknya tak bermasalah silahkan ke gedung kuliah umum. Untuk yang bermasalah, kakak mau kalian bersihin halaman. Ketua kelompok harap temui kakak!"
Setelah mendengar hal itu, Anggota kelompok kuning dan biru menghela nafas karena tegang.
.
.
-"Na, kirana!"
Bisik salah satu laki-laki di kanan Kirana yang membuat Kirana lantas menoleh ke arahnya.
Tambah ia dengan wajah panik.
"Yaudah kamu aja yang pantes ~"
Jawab Kirana berbisik.
-"Gak bisa, please banget. Nanti kalau ada tugas kelompok biar aku yang atur semuanya deh."
Rayu ia dengan wajah memohon.
"Iya Na, kamu ya? Kamu kan kemaren yang nyelametin kita pas jawab soal dari kating."
Sahut anak perempuan di kirinya.
"Emoh ah.."
Tolak Kirana karena ia malas berurusan dengan kating killer.
.
.
-"Hitungan ketiga, kalau kalian semua gak langsung bersiap bersih-bersih akan ada hukuman tambahan! 1!... 2!.. 3!"
Teriak kating killer itu dengan mengangkat jarinya ke atas.
Sontak, kelompok biru dan kuning langsung berpencar untuk membersihkan halaman. Sementara kelompok lain sudah di arahkan ke gedung. Saat itu, kelompok yg dihukum belum diminta untuk datang ketua kelompoknya, jadi kelompok kuning masih aman.
.
.
.
-" Na, plisss bgtt ya. Mau gehh~"
Mohon anak laki-laki tadi dengan berbisik sembari menyapu halaman.
" Gak mau."
Jawab Kirana singkat.
-"Aku beliin seblak deh nanti~"
Mendengar kata 'seblak', Kirana langsung tertegun. Itu adalah kelemahan dirinya yang sesungguhnya.
__ADS_1
"Ehem,.. Beneran nih?"
Tanya Kirana dengan mengangkat alis kanannya.
-"Iya, janji seorang pria deh, gak akan dilanggar!"
"Yaudah deal! Bantuin loh ya entar kalo ada masalah!"
Ujar Kirana dengan sedikit tersenyum.
-"iya tenang aja~"
Ujar ia dengan wajah lega
-"Yang deket pohon ngapain ngobrol aja? Gak ada rasa bersalah ya?!"
Teriak kating lain tiba-tiba. Suaranya sudah seperti panggilan maut.
.
.
"M. ma. Maaf kak.."
Ujar teman Kirana.
Sontak, Kirana dan temannya itu langsung saling menjauh dan fokus membersihkan halaman yang sudah seluas separuh lapangan bola tingkat internasional itu.
Hari itu cuacanya cerah berangin.
Benar-benar cerah sampai rasanya sinar matahari menusuk kalbu. Kirana terus membersihkan daun-daun dan sampah berserakan dengan ulet.
Tetapi..
.
.
"Ini kenapa daunnya jatoh terusss sihh?!!. Kapan kelarnya woyy!! "
(Teriakan hati Kirana)
Tak ada habisnya daun-daunnya berguguran karena diterpa angin. Ia menyapu sekuat tenaga karena kesal. Mana angin hanya menerpa dedaunan diatas pohon tidak menerpa dirinya, jadi panas siang itu tak tertolong.
Kalau ia menghindar, langsung kena omel kating.
Rasanya usahanya seperti mengeringkan lautan.
-"Pokoknya sampai bersih, jangan ada sampah yang berserak!"
Teriak wakil ketua itu, yang namanya tak diingat Kirana.
Saat itu hampir pukul 1 siang, sinar matahari benar-benar terasa panas sekali diatas kepala. Mereka dibolehkan kembali saat jam 1 nanti.
Sedangkan rasanya waktu berjalan dengan lambat tak seperti biasanya.
" Kok panasnya kebangetan ya? Berat banget kepalaku!"
Gerutu Kirana dalam hati.
Namun, ia tetap menjalankan hukuman dengan benar.
Hingga, jam satu siang tiba. Tepat di detik-detik kelompok mereka sudah lelah sekali.
-"Bagus, kalian semua sudah menjalankan hukumannya. Ketua kelompok harap maju sekarang!"
Ujar kating killer sembari menatap layar ponsel untuk melihat jam.
Kirana spontan menghela nafas dan berjalan ke depan setelah mengembalikan sapu dan serokan. Ia sudah membayangkan ditraktir seblak ketika berjalan menuju wakil ketua panitia itu, alias kating killer.
Tetapi,
lama kelamaan langkah kakinya terasa berat dan pandangannya agak kabur.
Ia kira karena ia tak fokus.
"Ini kenapa ya?..ayok fokus! Seblak, demi itu! "
Ujar Kirana samar dengan langkah kaki mulai sempoyongan.
Tiba-tiba..
.
.
'Gedubrakk!! '
Kirana jatuh pingsan dihadapan banyak orang.
Keringatnya tampak banyak bercucuran dan wajahnya merah sekali , karena tidak tahan di bawah terik matahari terlalu lama.
Selama beberapa saat, ia sempat mendengar samar-samar suara orang-orang yang terdengar panik.
Terutama para kating di hadapannya.
"bagaimana ini? Tandu mana?!"
-"Tandu! Cepat!"
__ADS_1
"Udah gak usah, aku.."
Itu percakapan terakhir yang ia dengar.