Cat And Wolf

Cat And Wolf
.


__ADS_3

Nyatanya setelah malam penutupan itu, hampir 2 minggu ini Sean tak menemui Kirana dan kegiatan di komunitas botani dihentikan untuk sementara waktu. Bukan karena apa-apa, sebentar lagi akan ada pergantian ketua.


Sedangkan Kak Theo, dalam 2 minggu itu ia hanya berpapasan 2 kali dengan Kirana, yang pertama saat ia tak sengaja bertemu rombongan Kak Shesil, tentu tak jauh dari sana ada Kak Theo, ia sedang duduk dan fokus dengan laptopnya (lagi-lagi).


Namun, tiba-tiba Kak Theo melirik sekali hanya untuk menyapa tanpa ekspresi dan hanya dengan anggukan kepala.


Yaa Kirana tak begitu heran sih, walau sempat ada pertanyaan kenapa Kak Theo pernah terlihat tidak sedingin itu beberapa kali, contohnya saat di acara kuliner kampus, dan yang kedua saat malam penutupan acara.


("yaa mungkin karena makan-makan?")


Pikir Kirana. Ia merasa Kak Theo terlihat saat itu saja.


tapi Kirana tidak seharusnya  asal menyimpulkan, karena kenyataannya Theo selalu perhatian , walau ia tak menampakkannya secara langsung.


Lalu bagaimana dengan pertemuan yang kedua?


Lalu yang kedua.. Hari ini, hari ke 9.


Hari ini ada acara penting pergantian ketua Komunitas Botani Kampus X. Kirana tentu hadir untuk turut memilih ketua dan wakil baru.


Akhirnya, ia dipertemukan dengan Kak Sean ketika baru datang. Saat itu di ruangan belum banyak anggota yang datang, namun pengurus inti sudah berdatangan. Kak Sean sedang duduk di sebaris kursi dengan meja panjang di depan ruangan. Tampaknya ia sedang sibuk memperhatikan selembar kertas yang Kirana tidak tahu isinya apa.


Tak lama, seolah cenayang, Sean menoleh ke arah Kirana tiba-tiba. Mata mereka bertemu untuk beberapa saat.


Tentu Kirana jadi merasa canggung, ia lantas mengarahkan pandangannya ke lantai lalu menyapa Kak Sean.


Tanpa basa-basi, Kirana langsung mencari tempat duduk. Ia memilih duduk dekat jendela yang terang, agar ia bisa melihat bagaimana kondisi di luar . Dari gedung itu ia bisa melihat jalan raya, untungnya jalan tidak sedang ramai. Ia bisa pulang dengan nyaman nanti.


"Na, ini."


Ujar Kak Sean yang tiba-tiba sudah berdiri di depannya sembari menyerahkan secarik kertas.


Kirana langsung menoleh, sebenarnya itu respon dirinya yang agak terkejut.


Ternyata, kertas itu berisi daftar nama ketua dan wakil yang bisa dipilih.


-"ohh, makasih kak.."


Ujar Kirana sembari menerima kertas itu.


"Udah tau mau milih siapa?"


-"wah itu rahasia ."


Ujar Kirana dengan tersenyum tipis.


Rasanya berbicara dengan Kak Sean seperti ini hanya membuatnya canggung sekali. Apalagi saat malam penutupan festival, percakapan diantara Kak Sean dan Kak Theo masih menimbulkan pertanyaan di benaknya.


.


.


Tak lama, teman Sean memanggilnya dari pintu.


"Sean.. Kesini bentar bro.. Ada yang mau gua bicarain!"


Ujar temannya yang berambut gondrong, namun bukan Kak Agus.

__ADS_1


"hahh Iya! (sahut Sean ke temannya) / Kirana,kalo butuh apa-apa bilang aja ya.."


Ujar Sean. Ia nampaknya masih ingin mengobrol dengan Kirana. Walau begitu, ia tetap pergi mendatangi temannya di luar.


Selang beberapa saat kemudian, teman satu komunitas Kirana datang dan langsung duduk di samping Kirana. Ia langsung mengajak Kirana mengobrol, sehingga suasana yang sebelumnya canggung menjadi lebih cair.


.


.


.


Lantas, sekitar setengah jam kemudian, acara dimulai. Nyatanya,  jalannya acara lebih lama ketimbang yang diperkirakan Kirana. Ada sesi intermezzo, tanya jawab, dan setelahnya pemungutan suara.


pukul 16. 40, kegiatan tanya jawab dengan calon ketua dan wakil baru selesai. Lantas istirahat selama 15 menit diberikan.


"Ini boleh ke toilet bentar kan? Pengen cuci muka."


Tanya Kirana ke temannya.


-"Bolehh..mau ditemenin?"


"Oh gak usah, deket juga. Pergi dulu ya.."


Ujar Kirana sembari beranjak dari kursinya.


-"Okey, gue jagain tempat duduk loe deh. Jangan lama-lama yaa acaranya mulai bentar lagi."


Kirana lantas mengacungkan jempol sebagai tanda setuju. Setelahnya, ia pergi keluar segera.


Tak berapa lama kemudian, ia mendengar suara beberapa perempuan sedang menuju ke toilet yang sama. Obrolan mereka entah kenapa terdengar jelas.


A :"Anak tadi yang disamperin?"


B :"Iya.. Pacarnya bukan sih?"


A :"kalo gak salah namanya Kirana ya?"


Mendengar namanya disebut, mata Kirana langsung membesar, spontan ia masuk ke salah satu wc disana dan menutup pintu. Rasanya aneh bila ia harus menghadapi orang-orang ini langsung.


B :"Iya. Sebenernya ada apa sih dia bisa deket banget sama Kak Sean? Aneh gak, disaat kita semua aja susah deketin dia."


A :"Udah tau gitu, ngapain lu masih nyoba deketin. Aneh."


B :" Heii.. Liat geh, cowok sesempurna itu, siapa yang gak suka? yahh sikap dinginnya bikin dia tambah keren sihh!  Ahh tetep gak suka sama cewek itu, walau kak sean juga fine aja."


A : " dia kan cantik, si  Sean suka! Udah yuk cepetan, touch up mulu lu ini! "


B :" yehh sabar, biar cantik loh. Lu mau gak? "


A :" Gak, udah yuk lah.. "


Ajak ia untuk segera kembali ke ruangan pemilihan.


Akhirnya, mereka berdua pergi segera dari sana.


Kirana hanya terdiam mendengar kata-kata mereka. Rasanya agak menyakitkan bila kecantikkan seseorang dijadikan alasan utama  bisa mendapatkan segala sesuatu yang bagus.

__ADS_1


Sebenarnya Kirana sendiri justru tak pernah sama sekali memikirkan soal wajahnya. Ia tak pernah membandingkan bagaimana kecantikkan wajahnya bila dipandang. Jadi rasanya agak menyakitkan mendengar anak-anak tadi mengatakan itu.


Setelahnya, Kirana keluar dari toilet dan berjalan dengan lambat.


Tatapannya tertunduk ke bawah terus, mau bagaimanapun ia tak bisa melakukan apa-apa.


"Perempuan lenjeh sialan!!"


Kutuk Kirana mengingat hal tadi.


Rasanya makin dengki saja dipikir-pikir. Hingga ia malas rasanya untuk kembali ke ruangan pemilihan.


Tak lama, ada seekor kucing tiba-tiba muncul dari semak-semak. Kucing gendut yang belum pernah ia lihat sebelumnya.


Tentu melihat kucing liar segendut itu rasanya unik sekali dan jarang. Perasaan kesal Kirana langsung hilang seketika.


Warna bulu kucing itu hitam putih, makin membuatnya terlihat seperti..


"Sapii??"


Gumam Kirana.


Ia langsung membelai kucing yang sangat jinak itu.


"Sapi sendirian aja?"


"meww.."


Jawab si kucing.


"Owhh, sini sama akuu sapi!"


.


.


-"Namanya Cocho, bukan Sapi!"


Suara tanpa nampak orangnya tiba-tiba terdengar.


Sontak Kirana langsung merinding. Ia terdiam beberapa saat. Otaknya sedang mencerna dari mana asal suara yang menggema itu diantara lorong.


Hingga, Kirana langsung menoleh ke jalan persimpangan di depan yang tak jauh jaraknya.


sosok asal suara nampak disana.


"HAHH??!"


Ujar Kirana terkejut.


.


.


"Kak Theo ngapain disini?!"


Ujar Kirana dengan nada suara masih kaget. Tak percaya ada orang disekitar sini, padahal ia habis sumpah serapah dan mengobrol dengan seekor kucing. Sungguh detik-detik memalukan dalam hidupnya.

__ADS_1


__ADS_2