
"Eh,kak Theo? Kebetulan kita ketemu~"
Ujar Kirana.
Setelah itu, Akhirnya Theo dan Kirana kembali ke dalam gang tempat kejadian brutal tadi terjadi.
Theo langsung mengikat mereka semua dengan tali. Kemudian, ia mengambil seluruh uang yang tadi di rampas para preman.
Tiba-tiba, ia berjalan ke tempat lain dari gang itu, ada sebuah ruang kosong dan ada tumpukan box kayu disana. Kirana lantas mengintip apa yang dilakukan Kak Theo disana.
-"Udah,gak usah takut. Udah kakak beresin mereka. Ayok sini keluar~"
Ujar Kak Theo dengan nada hangat.
Tak lama, seorang siswa SMA muncul dari sana dengan ekspresi ketakutan. Kedua tangan anak itu terlihat lecet-lecet, pakaiannya kotor, dan rambutnya berantakan.
Melihat itu, Kirana jadi tahu semuanya.
" Ma Makasih Kak.. Maaf, aku ngerepotin hiks.."
-"Hei, anak cowok harus berani. Udah gak apa-apa kok, ini uangmu."
Ujar Theo sembari menepuk-nepuk pundak anak itu.
Lantas, anak itu menerima kembali uang miliknya.
Setelah itu, Theo langsung menelfon polisi sembari menjaga para preman itu agar tidak kabur.
Ketika polisi itu datang, mereka bertiga dimintai keterangan kejadian juga 1 orang yang kabur tadi. Barulah mereka boleh pergi.
Akhirnya, Kak Theo, anak itu, dan Kirana duduk di pinggir trotoar jalan setelah kejadian itu.
-"Lain kali, jangan lewat jalan sepi ya? Banyak preman di sekitar sini."
Ujar Theo.
Lantas, anak itu mengangguk.
Sementara Kirana baru sadar setelah mendengar itu, dirinya sendiri juga suka lewat jalan pintas yang sering sepi orang.
"Dek, tanganmu lecetnya banyak banget. Diobati dulu ya?"
Ujar Kirana dengan memperhatikan baik-baik tangan anak itu.
-"Gak usah Kak. Di rumah aku bisa urus."
"Kalo orang-orang lihat kamu kayak gini bakalan heboh mereka."
Ujar Theo.
-"Nah bener itu!"
Ujar Kirana meyakinkan anak itu.
Lantas anak itu mengangguk.
-"Kirana,kamu jaga anak ini, Kakak mau ke apotek."
Ujar Kak Theo sembari berdiri.
"Iya kak."
Kawab Kirana singkat.
Lantas, Kak Theo langsung berlari ke seberang jalan tempat ia memarkir motor. Kemudian, ia mengendarainya segera ke apotek.
.
.
Sedangkan Kirana melihat anak itu tampak masih shock.
"Tenang aja, setelah ini bakalan baik-baik aja, dijamin! preman-preman itu gak bakalan balik. Kalo ada lagi, kakak yang tadi bakalan hajar mereka abis-abisan!"
Ujar Kirana menyemangati anak itu.
-".. Aku pengecut banget, sementara Kakak tadi ngelawan semua preman itu sendirian. Aku sendiri gak tau dia tadi terluka atau gak."
Ujar anak itu dengan menunduk.
".... Terkadang, suatu situasi mengharuskan kamu lebih baik menyelamatkan diri ketimbang harus 'berperang'. "
Lantas, setelah mendengar itu anak itu baru berani menatap Kirana.
-" Tapi, aku ngerasa bersalah banget. Aku pengen balas budi."
"Bisa, kalo mau balas budi dengan cara kamu jadilah kuat, oke? Oh ya, kakak tadi itu baik loh, berteman baiklah sama dia."
__ADS_1
-"Beneran kak, kayak gitu?"
Kirana lantas tersenyum dan mengangguk
"Tentu! Kalau boleh tau.. Mereka apain kamu kok bisa sampe kayak gini?"
-"Ya kayak yang kakak tau, aku di palak pas lewat gang tadi. Uangku direbut semua, terus pas aku mau ngelawan, aku di dorong sampe tersungkur. Mereka maksa bongkar tasku juga."
Ujar anak laki-laki itu menjelaskan dengan nada lebih tenang.
Setelah mendengar semua itu, Kirana menjadi sedih sekali. Tetapi ia tak ingin membuat perasaan anak itu jadi tambah tak karuan, untuk itu ia bersikap tenang.
"Oh jadi gitu? Wah mereka pantes dikasih bogem mentah iya gak sih? Pantas banget mereka dipenjara. Kamu kapok - kapokin aja mereka!"
Ujar Kirana dengan semangat.
Lantas, anak itu tersenyum.
-"Kak, boleh pinjem hape buat telfon orang rumah gak?"
Tanya anak itu.
Lantas, Kirana langsung meminjamkan handphonenya. Setelah itu, anak tersebut menelfon orang di rumah untuk menjemputnya.
.
.
Tak lama, Kak Theo kembali dari apotek dan langsung memarkir motornya di dekat mereka. Setelah itu, ia langsung turun dan memberikan obat itu kepada Kirana. Ia memintanya untuk mengobati anak itu.
"Kak, biar aku sendiri aja."
Ujar anak itu kepada Kirana.
-"Kamu bisa?"
Lantas, anak itu mengangguk.
Kemudian Kirana mengabulkannya.
Setelah anak itu selesai membersihkan dan mengolesi lukanya dengan obat, Kirana lantas mengambil perban.
"Pake ini aja ya, lukamu lebar soalnya. Sini kakak pasangin."
Lantas, Kirana langsung memperban tangan anak itu.
"Kamu pulangnya mau gimana sekarang?"
Tanya Theo.
-"Aku udah telfon, ayahku bakalan jemput."
Theo lantas mengangguk.
Mereka bertiga lantas menunggu sampai ayah dari anak itu menjemput.
Ketika ayahnya datang, ia menggunakan sepeda motor dan langsung memarkir motornya.
Ia terkejut melihat anaknya yang terluka seperti itu.
-" Astagfirullah, nak. Kamu diapain sampe kayak gini?"
Ujar ia sembari memperhatkan anaknya dari ujung kaki sampai ujung kepala.
"Bapak, ceritanya panjang, kakak-kakak ini nolongin aku."
Ujar anak itu.
Theo lantas maju selangkah
-" ehm, begini, biar saya ceritakan pak kejadiannya."
Ujar Theo. Ia kemudian menceritakan segalanya.
Setelah itu, Ayah dari anak itu menunjukkan ekspresi lega.
" syukur alhamdulillah. Makasih ya nak semua. Untung aja ada kalian!"
Ujar bapak itu.
-"Ehm, aku gak ngapa-ngapain kok pak, dia sendirian yang ngelawan preman itu."
Ujar Kirana sembari tersenyum.
Lantas, Bapak anak itu langsung menggenggam tangan Theo dengan mata berkaca-kaca.
Sontak, Theo agak terkejut dan canggung. Ia lantas menatap Kirana mempertanyakan kenapa ia mengatakan hal itu.
__ADS_1
Kirana hanya tersenyum.
"Makasih banyak ya nak.. Maaf, bapak gak bisa ngasih apa-apa."
-"...Gak apa-apa pak. Ngapain ngasih segala. Cukup jaga anak bapak aja."
-"Iya, setiap pulang sekolah biar bapak sempetin jemput. Makasih sekali udah jaga anak bapak.."
Lantas, setelah kejadian panjang itu, anak itu akhirnya pulang ke rumah bersama ayahnya.
Mereka berdua lega sekali melihat itu.
Disaat bersamaan, Kirana baru ingat teman-temannya sudah menunggunya dari tadi.
Ia lantas melihat jam di hapenya, ternyata sudah 35 menitan ia tidak kembali.
" Ahh aku lupa! Kak, permisi aku udah di tunggu temen-temenku di kost-an! Duh mana belum beli jajanannya."
Ujar Kirana dengan agak panik.
-"Ayok,cepet naik ke motor, biar kakak anter."
Ujar Theo datar.
"Gak us.."
-"Cepetan naik."
Tegas Theo.
Akhirnya, Kirana nurut kepadanya. Lalu, ia diantar membeli jajanan. Bahkan Kak Theo malah membayarkan semuanya. Saat Kirana mau mengganti, ia menolak mentah-mentah.
Setelah itu, Kirana diantar pulang ke kost-an.
Saat ini keadaan Shella dan Hellen mengenaskan menunggu lama di depan kamar Kirana. Mereka bosan sekali.
Kirana langsung panik melihat teman-temannya di lantai atas.
"Kak, ayok kita mundur sedikit sampe sana! Please banget kak!"
Mohon Kirana.
Lantas, Theo menurutinya lalu bertanya
-"Kenapa memangnya?"
"huft.. Selamat! Ehm, ada temen-temenku, takut mereka liat."
Ujar Kirana dengan canggung.
-"Pffft.. Temenmu tukang gossip?"
Tanya Theo.
"Yaaa.. Begitulah. Makasih ya kak udah nolongin."
Ujar Kirana canggung.
-"aaku ehm maksudnya kakak yang harus terimakasih. Kalo gak ada.. sepatumu, mungkin udah kena pukul tadi."
"Ah.. Iya sepatuku ini penolong banget, iya iya."
Ujar Kirana agak kesal disaat seperti itu malah bahas sepatu.
-"Yaudah masuk sana, kasian mereka nunggu temennya yang pelupa satu ini."
Ujar Kak Theo sembari melempar smirk mengejek.
"Apa? huftt.. Sabar Kirana.. Udah ditolong juga."
Ujar Kirana sembari mengelus dada.
-"Bilang apa Kamu?"
"gak Kak hehhee.Yaudah, aku pamit kak. Permisi~"
-"Bentar , besok selama sisa persiapan kakak butuh asisten. Kayaknya kamu yang cocok. Oh ya, Kerjanya bakalan lebih berat dari sebelumnya."
Ujar Kak Theo sembari menghidupkan motor.
"Kak, Tapi tugas divisi ku aja masih belum.."
-"Udah selesai. Kata siapa belum? Kerjamu bagus, makanya kakak tunjuk. Udah ya, kakak sibuk."
Lantas, Kak Theo langsung melaju pergi dari sana.
Sementara Kirana lagi-lagi menghela nafas panjang. Heran dengan kating satu ini.
__ADS_1
Setelah itu, ia segera kembali kost-an sembari mempersiapkan diri harus mengatakan apa nantinya kepada Hellen dan Shella yang menunggu lamaaa sekali.