Cat And Wolf

Cat And Wolf
With him (2)


__ADS_3

Kirana akhirnya diantar oleh Kak Theo.


Ini kedua kalinya ia diantar olehnya pulang.


Walau, Kirana agak merasa rikuh sebenarnya.


Suasana hening sekali diantara mereka untuk beberapa lama. Hingha terasa awkward bagi Kirana.


.


.


-"Kok diem aja?"


Ujar Kak Theo tiba-tiba.


"... terus suruh ngapain? Salto gitu di motor?"


Ujar Kirana dengan suara agak keras karena mereka sedang di jalan.


-"Pfftt..  berbakat juga jadi pelawak. Biasanya juga banyak nanya atau ngomong. Lagi kesambet kah?"


"Diem salah, berisik salah."


Jawab Kirana dengan nada makin heran.


-"Berisik aja gak apa-apa sih. Jadi kayak denger radio."


Canda Kak Theo.


"Dih.."


Tutup Kirana


.


.


.


"Oh ya, kakak belajar berantem dari mana?"


Tanya Kirana random.


-"Berantem? Apa itu? Gak pernah."


Ujar Theo dengan nada cuek.


"Yang kemaren itu lohh ama preman."


Tegas Kirana


-"Itu bela diriii.. Bedain sama berantem. Kalo bela diri sih udah dari SMP."


"tapi kata-kata 'berantem' lebih pas sama kakak loh, imejnya memang.. Wuihh demikian gitu. Tapi keren juga Kak Theo udah sering ikut banyak organisasi sejak dini."


Balas Kirana dengan candaan tajam.

__ADS_1


-"Mau kamu kakak turunin disini?"


"Satu lagi kak, inget pas OSPEK aku jadi ketua kelompok sementara? Kenapa langsung kakak ganti?"


Tanya Kirana part 2 tanpa peduli respon Kak Theo tadi.


-"masih gak paham juga?"


"... Bukan gitu sih, aku cuma takut mengartikan tindakan orang, jadi ada 2 jawaban yang mungkin di kepalaku."


-"Oh gitu.. Salah satu alesannya kamu udah denger sendiri di lapangan, alesan lainnya.. Jadi ketua kelompok itu berat, harus bertanggung jawab atas kesalahan anggota."


Ujar Kak Theo secara implisit.


Intinya ia khawatir dengan keadaan Kirana yang kemarinnya habis pingsan langsung berangkat ikut OSPEK lagi.


Namun,dari sini Kirana sudah mengerti maksudnya.


"Wah, kakak ternyata baik hati dan budiman."


Ledek Kirana.


-"udah gak usah ngelantur!"


Tegas Kak Theo.


Ia tidak terbiasa mendengar kata 'baik' disematkan padanya. (Bukan berarti ia jahat sih)


Setelah percakapan yang merujuk kepada perdebatan itu, akhirnya mereka sampai di depan kost-an Kirana.


Lantas, Kirana langsung turun dari motor.


Ujar Kirana blak-blakan.


-"Bukan tuh. Memang kakak mau anter kamu aja. Siapa juga yang peduli omongan orang."


Ujar ia dengan nada cuek.


"Pfftt.. Iya deh."


.


.


.


.


.


"Kak, sebenernya tuh..."


Ujar Kirana agak ragu, sementara Kak Theo diam menunggu lanjutannya.


Ekspresi wajah Kirana lantas menunjukkan rasa penasaran tapi juga ragu.


-"Kenapa?"

__ADS_1


Tanya Kak Theo.


"...kampus kita beneran berhantu ya?!"


Ujar Kirana tiba-tiba.


Mendengar hal itu, Theo terdiam beberapa saat. Pertanyaan Kirana random sekali baginya.


-"Pfft.. Masih kepikiran? Kapan-kapan kalo pulang malem kakak ajak jurit malem di kampus, siapa tau beneran ada kan."


Ujar ia iseng lagi kepada Kirana.


"Ih, BIG NO!! yaudah kak udah malem. Hati-hati pas di jalann.."


Ujar Kirana dengan ekspresi menakut-nakuti.


-"pfft.. Yaudah masuk sana."


Kirana lantas mengangguk, kemudian ia melambaikan tangan kepadanya.


lantas, Kak Theo melaju pergi dari sana.


Sementara Kirana masuk ke kamar kost nya.


Ketika di dalam, ia langsung menaruh tasnya di kursi kemudian merebahkan badannya di kasur.


Rasa lelahnya seharian benar-benar terasa sekali ketika menyentuh kasur.


Hari ini benar-benar terasa panjang.


Lantas, Kirana terdiam beberapa saat karena memikirkan kejadian hari ini.


Sebenarnya, tadi ia ingin sekali bertanya mengenai kondisi Kak Sean dengan Kak Theo. Tetapi, baginya kalau ia tanyakan terlalu ikut campur. Akhirnya, ia langsung mengganti pertanyaan yang hendak ia tanyakan kepada Kak Theo tadi.


.


.


"sebenarnya.. Mereka berantem kah? Apa karena beda pendapat sampe kayak gitu? Hahhh.. Mau bodo amat tapi udah 2 kali aku ada di tengah-tengah konflik mereka. Tahan Kirana, jangan lewati batas. Pasti suatu saat bakalan terungkap dengan sendirinya."


Gumam Kirana.


_______


Sementara saat ini di tempat lain,


Saat ini Sean sedang menyendiri di Rooftop kost-an sembari membaca sebuah buku novel.


Akhir-akhir ini ia menyempatkan diri membaca novel di waktu senggang. Alasannya, karena Kirana sendiri yang menyarankannya dulu saat di toko buku. Ia bahkan membeli judul yang disarankan Kirana.


Ceritanya memang menarik, tetapi pikiran Sean tak bisa fokus kepada ceritanya. Ia justru merasa gelisah tak lain karena rasanya tidak ada kemajuan dengan dirinya, malah ia akhir-akhir ini melihat Kirana sering berinteraksi dengan Theo.


Karena pikiran kalutnya itu, Sean langsung menutup novelnya dan melemparnya ke meja di depannya.


"Hahhhh~ kenapa kepikiran lagi sih? Gua sendiri tahu itu cuma karena panitiaan, tapi kenapa malah kepikiran terus?!"


Keluh ia pada dirinya sendiri.

__ADS_1


Lantas, ia menyandarkan kepalanya ke kursi lalu memejamkan matanya.


-"...gak boleh gini Sean.. Loe sendiri bingung ini karena Kirana agak mirip sama 'dia' atau memang.. Beneran Punya perasaan ke Kirana."


__ADS_2