
Malam pukul 20.30 WIB.
Di rooftop Cafe bergaya minimalist serba putih.
Sekeliling tempat itu diberi lampu tumblr berwarna kuning, menambah kesan estetik. Apalagi langit sedang cerah, jadi jutaan bintang nampak di langit malam.
Saat ini Theo, Sean, Beni, dan Agus berkumpul bersama.
Mereka semua habis dari kampus, lembur.
Kecuali Sean yang baru datang karena ada keperluan mendadak.
Beni memainkan gitar dan menyanyikan sebuah lagu bertema 'ambyar' bersama Agus, si anak indie.
Sedangkan Theo, sejak awal sibuk membaca sebuah buku lalu menggarisi setiap bagian penting. Tetapi sesekali ia menyeruput americanno pesanannya.
Menyadari hal itu, Agus lantas berhenti bernyanyi.
"Cuy, udahan dulu belajarnya, lagi santai diluar juga, rajin bet dah."
Ujar Agus.
-"... Memang ini lagi santai kok."
Jawab Theo datar tanpa memalingkan wajah dari buku.
"buset, serius loe Theo?!"
Ujar Agus terkejut.
-"Pffft.. Gua juga gak ngerti, ngambis banget sejak masuk kuliah."
Ujar Sean.
Tak lama, Beni lantas berhenti memetik senar gitarnya.
"Ayok, nyanyi, request lagu apa aja ke gue bisa deh~ pop oke, rock oke, dangdut apalagiii.. "
Ujar Beni sembari menaik-turunkan alisnya.
-"gua gak bisa nyanyi, makanya mending baca buku. Bentar lagi juga ujian akhir semester."
Lantas, Agus dan Beni langsung menoleh ke arah Sean untuk mengklarifikasi pernyataan Theo.
Kemudian, Sean langsung menggeleng.
Tanda bahwa pernyataan Theo tadi itu bohong.
-"hmm gituu.. Kasih tau gak yang rencana acara besok itu?"
Bisik Agus kepada Beni.
"Jangan dulu, biar surprise!"
Jawab Beni.
Tetapi, suara mereka terdengar jelas oleh Theo.
-"Rencama apaan ?!"
Tanya Theo dengan tatapan tajam seperti biasanya.
-"bukan apa-apa, santaiiii ajaa.. Oh ya, sayang banget Dino gak bisa dateng sekarang! "
Ujar Beni .
"Tau, susah banget diajak nongki. Btw, pas acara festival ini beneran panitia tetep kerja gak bisa bebas keliling?"
-"Cuma pas acara formalnya aja. Sisanya bebas."
Jawab Sean.
"Asekkk.. Bisa berburu makanan nih~"
Ujar Agus girang. Ia bahkan sudah membayangkan ada jajanan apa saja nantinya di festival.
-"Yee, loe mah makanan mulu. Oh ya, Kali ini pengen gitu nonton festival bareng gebetan, asik kayaknya deh."
Ucap Beni sembari memainkan gitar dengan tempo lambat.
"Emang dianya mau jalan ama loe? Pfftt"
__ADS_1
Ledek Agus.
-"Wehhh semangatin kek, ini mah kagak!"
Jawab Beni dengan ketus.
Setelah itu, tiba-tiba Beni lantas menoleh ke arah dua teman lainnya, Theo dan Sean
-"Oh ya, kalian sendiri gimana? Jalan sama gebetan juga gehhh~"
Sontak, Sean yang sedang meminum lemon tea langsung tersedak. Ia kaget dengan pernyataan Beni.
Sedangkan Theo tak bergeming, masih tetap dengan bukunya.
Sean langsung mengambil tisu di meja lalu mengeringkan mulutnya.
"wuihh, Kayaknya udah ada ya?"
Ledek Beni kepada Sean setelah melihat responnya.
-"Hah, apa sih?"
Tanya Sean.
"Nanya lah~ serius kan ada? Wehh.. Kasih tau dong cuy!"
Jawab Beni dengan nada menjengkelkan.
Lantas, Theo langsung menutup bukunya setelah mendengar kata-kata membosankan itu.
-"Hahh~ percintaan terus. Gak ada bosennya kah?"
.
.
"ehmm kalo menurut gue sih... gak."
Jawab Beni sembari tersenyum.
Tak lama, ia menjentikkan jarinya, teringat sesuatu.
Theo lantas merespon dengan menahan tawa
-"Pffftt.."
Ia kemudian mengetuk-ngetukkan jarinya di meja.
-"Kemungkinannya kecil. Hampir mustahil."
Jawab Theo.
"Mustahil gimana tuh menurut loe?"
Tanya Agus. Ia lantas memakan nugget pisang aneka topping pesanannya.
-"Yahhhh... Kalo takdir menghendaki, jalan di depan sana masih terlalu panjang. Banyak orang yang bakalan bertemu sama doi loe maupun loe sendiri. Kemungkinan bertahan satu sama lain sampe akhir, bener-bener kecil."
Jelas Theo.
Agus lantas menaruh kedua tangannya di meja dan berkata
" Ya itu kalo gak bisa saling setia. Bisa beda ceritanya. Kalo udah takdir gak ada yang gak mungkin. Ya gak ben? Eh lu kan jones.. Pffftt.. "
Canda Agus.
-" Sempet-sempetnya loe ledek gue! Tapi bener sih kata Agus, bisa aja loh!! ..hemm, Wah jangan-jangan sih jodoh gue di fakultas lain~ iya gak gaes??"
"Menghayal aja loe, udah nyanyi aja lu!"
Ujar Agus yang malas mendengar ekspetasi Beni.
-"Nah bener tuhhh.. "
Tambah Theo sembari tersenyum.
Sementara Sean merespon dengan tertawa kecil.
"Yahhh.. Gak asik loe orang! Ck, Yaudah lanjut deh, nyanyi gus!"
Ujar Beni dengan tangan siap memainkan gitar.
__ADS_1
Kemudian, mereka melanjutkan kegiatan 'nge-ambyar' kembali.
.
.
.
Sedangkan Theo, ia lantas menyandarkan kepalanya di kursi kemudian mendongak menatap langit. Bintang-bintang kala itu bersinar sangat terang dan terlihat jelas karena langit sedang cerah hari ini. Walau bintang-bintang tersebut sudah terlihat 'tidak seterang' saat dulu ia dan ayahnya pergi camping bersama.
Rindu sekali rasanya melakukan banyak kegiatan menarik seperti saat ia lakukan bersama ayahnya.
Theo lantas menghela nafas panjang.
"Yaa.. Mungkin lain kali, dengan orang-orang yang bisa menggantikan 'ayah'."
Pikir Theo.
______
Pukul 21:30 WIB.
Mereka lantas bersiap pulang ke kost-an masing-masing dan saat ini sudah berada di tempat mereka memarkir motor.
-"Ben,anter gua ke tempat nasduk bentar gih, tiba-tiba gua ngidam."
Ujar Agus sembari memegang perutnya.
"Dih, loe kira gua supir lu? Apaan dah tuh ngidam?"
Ujar Beni sembari memakai helmnya.
-"Yaelahh.. Gua traktir sebungkus, mau?"
"Gassss.. Yok berangkat!"
Jawab Beni dengan semangat.
Sean lantas tersenyum melihat tingkah lucu teman-temannya itu.
-"Cuy, kita pamit ye.. Jangan lupa besok tanggal Merah, entar berangkat ngampus lagi lo orang si tukang ngambis hehehe."
Ujar Agus kepada Theo dan Sean.
"Yaa gua juga tau kali. Bisa santai ya besok."
Jawab Sean sembari menaiki motornya.
-"Benerr."
Tambah Theo.
-"Sean, mau bareng sekalian gak? Kan searah."
Ujar Beni.
"Yaudah boleh. Theo, Gua cabut duluan ya."
Theo kemudian mengangguk.
Setelah itu, Mereka bertiga melaju pergi bersama.
.
.
Tak lama, Theo penasaran sudah jam berapa saat ini. Jarum jam di jam tangan ayahnya menunjukkan pukul 21:34 WIB
Padahal tadinya ia pikir sudah larut malam.
Tak lama kemudian, ia jadi teringat kejadian hari ini. Tepatnya ketika ia sudah putus asa dengan hilangnya jam tangan tersebut, Kirana justru datang dan menolongnya.
.
.
.
"takdir yaa....."
Ujar Theo samar karena mengingat kata-kata Agus sebelumnya.
__ADS_1