
'Hatchiii!! Hatchiii!! "
Saat ini Kirana sedang berada di gazebo depan gedung jurusannya dan terus menerus bersin.
Hidungnya bahkan tampak memerah.
-" Kamu sih maksa ujan2an, coba kalo ibumu tau kamu ujan-ujanan. Udah keluar rotan kali? "
Ujar Hellen bercanda sembari mengecek suhu badan Kirana dengan tangannya.
"kan udah kubilang, pas aku pulang dari acara ulang tahun Yena, ujan deres banget! tumben banget jadi sakit. Tapi, Kalo aku sengaja ujan-ujanan biasa aja tuh. "
Jelas Kirana dengan suara aneh karena hidungnya tersumbat.
-"Hahaha, harusnya sengajain ujan-ujanan kemaren ya?"
"Terus entar dikira orang lagi stress. Inget umur."
-"Yaudah, aku beliin minuman hangat ya di kantin. Anggep aja balas budi karena kamu udah ajarin aku dari kemaren. Tunggu sini oke?"
Ujar Hellen. Ia lantas beranjak dari kursi.
"Eh gak usah, Hel!"
"Udah, tunggu aja disini, aku sekalian mau beli Indie mie cup! "
Jawab Hellen sembari menjauh dari gazebo.
Kirana lantas hanya bisa diam dan nurut saja untuk tunggu di gazebo.
Selama menunggu itu, Kirana iseng membaca materi di buku super tebalnya. Tebalnya mirip kamus 99 miliar.
Tapi, anehnya ia merasa terbiasa membaca buku-buku tebal.
Disaat sedang serius membaca,
Tiba-tiba di kaki Kirana terasa sesuatu bergerak. Lembut dan membuat kakinya geli.
Sontak, Kirana terperanjak dan langsung melihat ada apa di dekat kakinya.
"Meonggg~~~"
Seekor kucing berwarna abu-abu belang hitam ternyata yang ada di dekat kakinya.
Matanya bulat dan berkaca-kaca.
ia meminta makanan dari Kirana. Padahal badannya gempal, seperti obesitas.
"Eh, Manis?? Induknya Kiky."
Ujar Kirana yang ingat namanya.
Lantas, Kirana mengangkat kucing itu dan menaruhnya di meja, samping bukunya.
"Yaampunnn, kamu berat banget~ makan apa kamu setiap hari?"
"Meonggg~"
Jawab Manis.
"Eh?"
Kirana sontak tertawa.
Ia tertawa karena seolah Manis mengerti apa yang ia katakan.
Kemudian, Kirana membelai kucing tersebut karena gemas.
Sementara, si manis bersikap manja.
Tiba-tiba, si manis yang tadinya sedang asyik dibelai, ia mengeong ke arah sesuatu beberapa kali seperti sedang memanggil-manggil. Suaranya juga panjang, berbeda dari saat memanggil Kirana tadi.
__ADS_1
Spontan, Kirana ikut menoleh ke arah yang dilihat si Manis.
Awalnya, Kirana bingung apa yang sedang dilihat kucing ini.
Namun, beberapa saat kemudian ia paham.
Disana ada Kak Theo dan juga... Kak Shesil. Mereka sedang mengobrol, sementara Kak Shesil sedang memegang suatu lembaran kertas.
Obrolan serius diantara mereka tiba-tiba dicairkan dengan tawa lepas Kak Shesil. Disaat tertawa, ia menepuk lengan Kak Theo beberapa kali.
Sementara Theo hanya memasang wajah heran yang tetap menyeramkan.
"Mereka itu... Ada hubungan khusus ya?"
Ujar Kirana samar.
Awalnya ia berpikir begitu hanya karena dugaan tak kuatnya. Tapi sebenarnya, hampir semua teman-teman Shesil dan Theo pun pasti pernah berpikir demikian. Karena hanya Shesil yang sanggup mengobrol akrab dengan Theo.
Tapi, sebenarnya Kirana juga tak tahu isi obrolan mereka. Terlalu jauh untuk tak sengaja kedengaran oleh telinganya.
Padahal, yang mereka bicarakan itu sangat berbeda.
-"Woy lah Theo, ngaco banget! Ya kali acara ginian mau ada lomba antar adek tingkat! Mana lombanya isinya kek lomba antar RT Huwahahahahha!"
Ujar Shesil yang disambut tawa meriah.
"..... Loe ini terlalu terpaku sama sudut pandang orang-orang ke perkuliahan yang kaku deh. "
-" Ya lombanya jangan ginian juga geh... Apa ya? Lomba cerdas cermat atau cepat tepat misalkan, elegant sekalihhh~ hahha gua pengen jadi jurinya biar bisa ngejudge mereka abis-abisan! "
Ujar Shesil yang merupakan mantan anak LCT semasa SMA, apalagi ia pernah beberapa kali menang perlombaaan.
" Outdoor juga perlu, yang gak bikin otak panas. Loe kalo belajar kelamaan juga otaknya nge hang kan?"
Jawab Theo tajam.
-" Yeeee.. GAK, dasar Sok tahu, beda kelas juga! Yaudah ini dibahas lagi aja rapat-rapat selanjutnya. Lagian masih lamaaa bingiittt acaranya. Kita aja terlalu nge ambis.
Yaudah deh, gue duluan ya, mau ke kelasnya si Duta shampoo!"
lantas, ia memberikan lembaran kertas tadi kepada Theo dan lalu pergi.
Theo juga ikut pergi dari sana tak lama kemudian.
Namun tiba-tiba, Manis mengeong lagi dengan suara yang panjang dan nyaring.
Kirana spontan terkejut mendengar hal itu.
"Eh, manis! Kenapa kamu?"
Ujar Kirana.
Ia tampak panik melihatnya.
Saat Kirana menoleh ke arah Kak Theo lagi,
Disaat itu juga ia menyadari Kak Theo sedang menatap ke arah mereka.
Kirana sontak terkejut dan spontan menyapa dengan suara samar, yang tentu tak terdengar oleh kak Theo, tapi ia bisa paham dari mimik wajah Kirana.
Tak lama, si Manis beranjak pergi dari tempat itu dan langsung berlari ke arah Theo dengan cepat. Badan gempalnya tampak seperti bantal bergerak atau bahkan gumpalan kapas abu-abu.
Setelah kucing tersebut sampai di dekat Theo. Theo lantas seperti mengajak berbicara singkat kucing tersebut.
Kemudian, ia mengeluarkan dry food sachetan dari sakunya lalu memberikannya kepada si Manis.
Kirana tak menyangka Kating itu sudah siap sedia makanan kucing kemanapun ia pergi.
Seolah kucing tersebut milik dirinya.
Setelah memberi makan, Theo lantas berdiri dan menatap Kirana kembali selama beberapa saat, tatapan yang dimengerti Kirana.
__ADS_1
Hingga, ia pergi dari sana tanpa mengatakan apapun.
"Eh, apa sih barusan?"
Ujar Kirana bingung.
Tak lama kemudian, Hellen datang.
-"Kiranaaa!! Minuman dan makanan datangg!"
Hellen lantas menaruh semua jajanan yang dibelinya di meja. Termasuk indie mie cupnya yang asapnya mengebul dan juga sebotol teh hangat.
"Wah makasih, repot-repot loh!"
-"Wahh sumpah deh ngantrinya, lama banget! Oh ya, tadi kamu ngomong ama siapa?"
Tanya Hellen. Ia lantas duduk di samping Kirana.
"Oh, gak.. Bukan apa-apa."
-"Oh, yaudah. Selamat makann!"
Hellen segera memakan indie mie cupnya. Makanan kesukaan dia saat kuliah.
Sementara Kirana, ia terdiam beberapa saat memikirkan yang tadi.
"Hel, tadi tuh... Sebenarnya kak Theo natep aku dari kejauhan tau, setelah ngasih makan si Manis. Terus pergi gitu aja. Yaampun, kenapa sihh aku ketemu dia terus? Heran deh. "
Ujar Kirana. Ia lantas menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
Sontak, Hellen menghentikan makannya padahal masih belum selesai mengunyah.
"selesaiin dulu makannya."
Perintah Kirana.
Hellen lantas nurut.
-"Ih, itu.. Kamu jangan-jangan lagi ditandain sama dia! Waduh Na hati-hati kalau udah ketemu dia! Bisa kena OSPEK kedua kamu!"
Ujar Hellen dengan heboh.
" Tapi aku gak ngapa-ngapain kok~"
-"Inget-inget, pernah ngelakuin sesuatu yang bikin jengkel gak?"
"Entah .. Terakhir kali ketemu di depan ruang bu Elfi, setelah itu.. Aku cepat-cepat lari dari hadapannya. Aku juga gak sengaja nabrak dia pas itu! Tapi aku gak sengajaaa, huwaaa kayak mana ini? "
-"Parah.. Nabrak si kating killer. Hahahahha! Cuma kamu sih kayaknya adek tingkat yang kayak gitu."
"malah ngejek! Hais harusnya kemaren aku gak buru-buru keluar ruangan ya? Kenapa aku harus berurusan sama dia? Duh.. "
Ujar Kirana frustasi.
-"Udah santai kalo ada apa-apa cerita aja, Ok? Aku akan memberikan pertolongan berupa motivasi hidup."
Ujar Hellen sembari mengacungkan jempol dengan wajah serius.
"Gak guna Hellen!! Kukira mau ngadepin orangnya dirimu."
-"Hehehe aku sih juga gak berani berhadapan ama dia, pas OSPEK juga pernah kena marah ama dia aja rasanya raga ama jiwa berpisah!"
"Nah kan, rasanya memang kayak gituu.. Hah.. Yaudahlah, urusan itu gampang, makan dulu aja sekarang ."
Ujar Kirana.
Lantas, ia membuka sebungkus roti lalu memakannya.
-"Hati-hatilah Kiranaaa~"
Goda Hellen kembali dengan nada menakut-nakuti.
__ADS_1
Kirana langsung menatap tajam Hellen.
Sementara, Hellen mengalihkan pandangannya dan langsung menyantap indie mienya kembali.