Cat And Wolf

Cat And Wolf
His other side


__ADS_3

Saat dalam perjalanan kembali ke kampus..


Kirana terus teringat kata-katanya terhadap Kak Theo tadi, hal itu membuatnya jadi gelisah


"Huwaa nyawaku!!..kok bisa aku tenang banget tadi ngomongnya?! Terus kenapa aku sok ngasih saran segala?! Duh.. Dipikir-pikir canggung banget! "


Ujar Kirana lemas.


.


.


.


(-"Tapi..kenapa pas liat jam itu Kak Theo keliatan seneng banget ya? Apa ada yang buat jam tangan itu berarti banget bagi dia?")


Pikir Kirana lagi.


.


.


Sesampainya di kampus, Kirana segera kembali ke ruangan panitiaan.


Ketika ia akan masuk, ia melihat Kak Sean disaat bersamaan datang mendekat setelah ia keluar dari ruangan sebelah.


Sean lantas tersenyum ke arahnya.


Sedangkan Kirana langsung melambaikan tangan  untuk menyapa.


.


.


Namun, tak lama dari itu, ekspresi Sean  berubah datar seketika . Pandangannya juga mengarah ke arah lain.


Hal itu membuat Kirana penasaran dan langsung menoleh ke belakang.


.


.


.


Tubuh tinggi, bidang, dan selalu berpakaian necis itu, Kak Theo.. Ia menatap Kirana yang baru saja menoleh ke arahnya.


Pertemuan yang tak disangka-sangka oleh Kirana itu membuatnya terkejut.


__________


Kirana terkejut menyadari Kak Theo justru saat ini ada di dekatnya, padahal ia bilang tak akan kembali hari ini.


"Loh, Kak..."


Ujar Kirana samar yang bingung melihatnya.


Lantas, Theo mengalihkan Pandangannya kepada Sean yang terlihat agak bingung melihat mereka berdua datang bersamaan.


Tiba-tiba,


Theo memegang kedua bahu Kirana.


Sontak, Kirana terkejut merasakan kedua tangan malaikat maut itu ada di bahunya , disaat bersamaan Sean juga demikian terkejut.


"Hei!.. "


Respon spontan Sean, namun tak ia lanjutkan karena Tak lama,


Theo mendorong Kirana masuk ke dalam ruang panitiaan secara paksa dengan kedua tangannya tetap di bahu Kirana .


Seolah ingin menyingkirkannya dari depan jalan.

__ADS_1


Lantas, Kirana langsung melempar tatapan tajam kepada Theo .


Sementara, Sean bingung harus berkata apa melihat itu.


-"Udah sana, pergi urus tugasmu."


Perintah Theo dengan nada agak tegas kepada Kirana.


.


.


Setelah mendengar kata-kata itu, Kirana merasa kesal dan langsung maju ke depan menghampiri nya.


"Hahhh~ Aku yang harusnya bilang kayak gitu ke Kak Theo! Dasar mentang-mentang kating semaunya, Hishh! Biar apa coba?!"


Sontak, Sean dan Theo yang mendengar Kirana marah itu terdiam karena terkejut dengan responnya.


.


.


.


Tiba-tiba,


suasana menjadi awkward dan hening sekali.


Kedua kating itu menatap Kirana dengan ekspresi agak terkejut bercampur heran. Apalagi beberapa orang di sekitar juga ikut terdiam karena melihat tindakan Kirana.


Hal itu langsung membuat Kirana menjadi canggung dan harus menahan diri lagi, apalagi ia malu sekali saat ini.


.


.


("Haishhh kelepasan lagii.. Duh!"


Dalam suasana canggung itu, lantas Kirana berkata


"Ehem! ... ehmm, okee. Ma Maaf banget, Permisi kak.."


Ujar Kirana dengan nada rendah dan lebih sopan.


Kemudian,ia langsung menyingkir dan masuk ke ruangan tersebut .


.


.


.


Sementara, Theo merespon dengan menahan tawanya. Ia terlihat senang Kirana menunjukkan respon emosinya dengan jujur, ketimbang harus pura-pura nurut padahal benci di dalam.


Tak lama, Ekspresi wajah Theo langsung berubah datar, dan kembali cool saat ia mengalihkan pandangannya kepada Sean.


Ia langsung berjalan ke depan bukan untuk menghampirinya, tetapi kembali ke ruangannya untuk mengurus persiapan acara.


Ketika  berpapasan,


Theo tiba-tiba berkata


"Kenapa loe diem berdiri disini?"


Kemudian, ia langsung melangkah pergi dari sana.


Sedangkan Sean hanya memilih diam.


Ia merasa seperti habis melihat opera di dunia nyata.


___________

__ADS_1


Kirana saat ini langsung duduk di samping teman-teman barunya dengan wajah frustasi dan seolah separuh nyawanya sudah hilang.


Erika yang disampingnya langsung menoleh ke arahnya.


" Kirana, tadi ada keributan apa diluar? Kedengerannya ada suaramu juga?"


Ujar Erika jujur.


Lantas, Kirana langsung terdiam untuk beberapa saat bingung harus menjawab apa.


-"..... Ehm, gak ada apa-apa kok."


Jawab Kirana dengan mencoba tak berekspresi.


.


.


" Oh ya, soal keributan,  beberapa hari lalu aku gak sengaja denger dari kating, katanya ada angkatan kita yang pernah bentak Kak Theo! Wah, keren dia selangkah lebih di depan maut~"


Ujar Novan, tiba-tiba.


Kirana langsung menelan ludah mendengar kata-kata ekstrem itu dari Novan. Tetapi ia tetap bersikap cool, seolah tidak terjadi apa-apa.


-" Ah, Kakaknya gak seperti yang kalian pikirkan kok~ "


.


.


" NAHHHH!! Itu artinya.. "


Ujar Tia, yang tiba-tiba berbicara dari belakang mereka dengan suara agak lantang.


Hal itu membuat teman-temannya terkejut.


-"apaan dah?!"


Tanya Novan.


"... Hohohohoooo, dia lebih galak dan lebih killer ketimbang Kak Theo! "


Ujar Tia.


'Jeng Jeng Jeng'


Seolah terdengar backsound  itu kepada Kirana diiringi ekspresinya yang terkejut.


.


.


-"Ah, ga.. gak mungkin kayak gitu! Bisa aja dia kelepasan bentak karena kakaknya... Ngeselin kann??"


Ujar Kirana.


Tia lantas menjentikkan jarinya mendengar itu.


"Itu artinya, dia pemberani! Tempramen juga mungkin?"


-"sudah-sudah..gak baik gossipin orang. Kan gak tau cerita lengkapnya gimana."


Ujar Erika dengan nada tenang.


"Nah, Bener tuh~"


Tambah Kirana.


Lantas, Tia dan Novan mengangguk meng-iyakan pernyataan Erika.


Akhirnya, mereka semua berhenti membahas hal tadi dan hal ini membuat Kirana agak lega.

__ADS_1


__ADS_2