
Saat sampai kost-an, Kirana langsung menghempaskan dirinya ke atas kasur. Kejadian tadi membuatnya lelah. Walau sebenarnya yang lelah fikirannya.
"Hah~ padahal tadi kayaknya kuat banget aku mukulnya. Masa iya responnya baik banget? Duh.. Kayak mana biar gak... Eh, tapi kan Kak Sean udah minta aku gak over thinking. Cukup, mending belajar aja lagi sampe mampus! Besok lagi aja mikirin itu!"
Ujar Kirana dengan tekad kuat.
Lantas, ia beranjak dari kasur dan kembali duduk menghadap catatannya.
Malam itu terasa syahdu sekali di kamar Kirana, hal itu membuat Kirana jadi rileks belajar sampai larut malam.
___________
Esoknya setelah tes usai, Kirana dan teman kelasnya Hellen pergi menuju ke kantin fakultasnya.
Rasanya lega sekali akhirnya tes itu selesai juga.
"Hufttt.. Syukur kelar tesnya! Mana tiba-tiba ada tambahan suruh gambar juga dan waktunya cuma ditambah 30 menit ! Parah!"
Ujar Hellen
-"Yaaa namanya juga kuliahan, suka mendadak. Kata kakel yang aku kenal saat SMA, katanya semester 3 keatas mulai gila-gilaan."
Jelas Kirana.
"Serius?? Arghhh.. Hah, gak apa-apa. Setidaknya aku sekarang dijurusan yang memang cocok. Jadi gak berat pasti! Pasti bisaaa!!"
Ujar Hellen sembari menyemangati dirinya walau wajahnya terlihat stress.
-"Eh udah sampe nih di Kantin, pesen apa ya?"
"Aku lagi pengen yang pedas. Pengen seblak aja deh~"
-"Seblak? Aku ikut!!"
Ujar Kirana senang.
"Haha dasar pecinta seblak!"
Lantas, mereka memesan menu yang sama dan duduk di kursi yang dekat kipas angin. Untung saja disana disediakan kipas angin, jadi tak terlalu panas hawanya.
Saat pesanan sampai, mereka segera memakannya.
Suasana hening sekali selama beberapa lama karena mereka fokus makan.
Lalu, tak lama sekelompok kating datang ke kantin yang sama juga.
Gaya mereka terlihat bossy dan seolah-olah ketika melihat mereka ada kata-kata
"jangan macam-macam sama kami!"
Kirana dan Hellen sempat terpana beberapa saat.
"Eh, itu kan ketua OSPEK kemarin, kak Shesil ya?"
Tanya Kirana.
-"Hooh, wah tumben banget liat dia disini. Temen-temennya aja cowok semua, pasti orangnya swag dan tomboy super! Daebak pokoknya."
Ujar Hellen, ia lantas menyeruput kuah seblaknya.
Sementara, para kating itu lantas mendatangi kios-kios pedagang yang mereka tuju.
Sempat terlihat ada obrolan asik diantara mereka, sepertinya candaan.
Lalu, walau mereka kating diantara maba, mereka tetap mengantri dibekakang, tidak mau di utamakan oleh mereka.
__ADS_1
Sekelompok kating itu rata-rata panitia ospek kemarin, ada Shesil, Agus, Dino, Beni, dan sisa 2 orang lainnya bukan panitia.
"Kok mereka kemari ya, apa mereka fakultasnya sama dengan kita?"
Tanya Kirana penasaran.
-"Hooh, sama. Kak Shesil dan Kak Agus yang ngajar kita kemaren itu. Sisanya setahuku beda. Tapi mungkin ikut nimbrung."
Ujar Hellen yang lebih tahu soal seluk beluk kampusnya dan kating-katingnya, ia bahkan seperti tour guide di minggu-minggu awal mereka jadi maba.
"Ohh begitu, kita sapa gak ya?"
-"eits mana berani aku hehehe . Kecuali kalo di dekat kita, baru nanti sapa."
Ujar Hellen yang kemudian menaik turunkan alisnya.
Kirana lantas mengangguk, walah ia sedikit berharap mereka tak di dekat mereka berdua, karena pasti canggung sekali. Apalagi ingat ia pernah pingsan di hadapan panitia, ia merasa malu.
Tak lama, tiba-tiba beberapa maba yang akan menuju kantin itu langsung mempercepat langkah.
"Eh jangan di jalan."
Ujar salah satu maba yang baru datang kepada maba lain yang berada di jalan masuk.
Kirana heran dengan apa yang terjadi.
Beberapa saat kemudian, orang yang membuat mereka melakukan itu datang. Ya siapa lagi, kating killer itu, Theo.
Mata Kirana langsung melebar menyadari ia datang juga.
Ini juga pertama kalinya Kirana melihat dirinya dengan jelas berpenampilan necis. Ia mengenakan kaus putih dengan outter kemeja jeans warna hitam.
Namun, tak lama kemudian Kirana mengalihkan pandangannya kembali ke semangkuk seblaknya.
-"Ngantri cuy, sabar ya!"
Ujar Agus.
"Yaudah, santai. Gua kesana ya."
Ujar Theo yang ternyata ingin pesan makanan di kios lain.
-"Duduk nya mau bareng gak? Nimbrung aja disitu entar."
Tambah Agus sembari menunjuk tempat mereka akan duduk.
Sementara Theo hanya mengangguk kemudian pergi.
Lalu tak lama kemudian, rombongan Shesil langsung mencari tempat duduk. Mereka jaraknya ternyata berjauhan dari Kirana dan Hellen.
Kirana yang tak lama menyadari itu, sedikit lega.
Setelah selesai membeli, Theo langsung menghampiri teman-temannya dan duduk di pinggir. Sehingga terlihat jelas oleh Kirana.
.
.
-"Na, Hei.. nanti jadi ke perpus gak nyari jurnal buat ngerjain tugas?"
"eh, Jadi. Sekalian ngadem hehhe."
-" Wah kita sepemikiran, jangan-jangan!"
"Iya, aku anak indihome, bisa nebak pikiranmu."
__ADS_1
Canda Kirana.
-"Pfftt.. Heran aku, kalo ngobrol ama kamu pasti ada aja lawakannya."
"Aku bukan pelawak loh ya, mungkin bakat dari lahir."
-"Iya, bakat jadi pelawak hehheh,yaudah cepetan diabisin, kan mau langsung ke sana."
"Iya sabar, makannya harus dinikmati dong ."
Ujar Kirana. Mereka menghabiskan makanan mereka segera.
Namun, di sela-sela makan, terkadang mata Kirana tertuju ke sekeliling kantin, juga ke rombongan para kating yang sedari datang obrolan diantara mereka terlihat asyik sekali .
Di saat itu juga, ia tak menyangka melihat Kak Theo tertawa kecil menanggapi obrolan para temannya. Seolah-olah imej seramnya luntur untuk sesaat.
Tiba-tiba, Theo mengambil sepotong daging dari mangkuknya lalu menaruhnya di bawah .
Ia terlihat seperti memanggil-manggil sesuatu.
Tak lama, seekor kucing berwarna abu-abu datang. Uniknya, kucing itu tak seperti kucing liar umumnya, ia terlihat sehat dan sejahterah.
Lantas, kucing itu memakan daging yang diberikan oleh Theo dengan lahap.
Kemudian, Theo langsung membelai kucing itu dengan lembut. Senyum tipis lantas muncul di wajahnya.
Orang bisa langsung menebak dirinya adalah catlover dari caranya yang secara khusus memperlakukan kucing.
Itu perdana Kirana melihat sisi seperti ini dari Theo. Padahal para maba menilai Theo itu sosok yang dingin dan kejam.
Hellen yang menyadari Kirana sedang terpana ke arah lain langsung mengalihkan pandangannya ke apa yang dilihat Kirana.
-"Kucingnya ya? Itu salah satu kucing kesayangan disini."
Ujar Hellen.
Kirana sedikit terkejut Hellen tiba-tiba melihat ke arah sana juga, tapi disisi lain ia lega Hellen tak membahas kating itu.
"O.. Oh iya? Ada berapa kucing memangnya?"
-"Hemm berapa ya? 5 kalo gak salah. Yang abu-abu besar itu, anak dari kucing abu-abu belang hitam disini, nama induknya Manis, sedangkan yang abu itu kiky."
"owalah, gemuk banget! Aku herann, kamu itu tau segalanya soal kampus ini ya? Sampe kucingnya aja tau? Apalagi hal unik yang kamu tau nih?"
Ujar Kirana sembari memangku wajahnya dengan dua tangan.
-"Ehem banyakkk, mitos di kampus ini, spot nongkrong di fakultas lain, tempat nyari wifi gratis, tempat kabur dari matkul saran kating, dll."
"Pfttt!! Serius? Wahhh~~ tau dari mana dirimu ini Hellen?"
-"Kakak sepupuku kan alumni sini, dulu pas SMA aku sering diajakin kesini kalo nginep dirumahnya. Wah dia ceriwis banget deh, sampe segala hal disini dia ceritain! "
Ujar Hellen antusias.
"whoah, asik banget punya sodara alumni . Ayok nanti setelah minjem buku langsung ngerjain tugas di spot nongkrong yang bagus!"
-"Wuih, langsung yaaa, Okeyy deh!"
Ujar Hellen, ia lantas mengacungkan jempol.
Saat mereka sedang asyik mengobrol,
Ternyata Theo memperhatikan mereka dari kejauhan selama beberapa saat sembari memangku kucing tadi.
Namun, tak lama kemudian ia mengalihkan pandangannya dari mereka.
__ADS_1