
Hari-hari selanjutnya di kampus, Kirana lalui dengan belajar seperti biasa, mengikuti forum komunitas, berkumpul bersama Shella dan Hellen selama istirahat maupun saat senggang.
Juga, terkadang Hellen dan Shella memberi saran dan info bagaimana agar selama Kirana jadi panitia ketika bertemu kating killer itu bisa menghadapinya.
Disaat-saat kesibukkannya itu, Kirana refreshing dengan berburu seblak atau sekedar membaca novel yang sudah ia beli bersama Kak Sean.
Ah, soal Kak Sean, dia jadi lebih sering mengirim pesan kepada Kirana sekedar menanyakan kabar atau memberitahu kalau ada forum dan lain sebagainya.
"Hah.. Kayaknya dia gak mau aku bolos lagi..padahal aku udah bilang gak bakal gitu lagi. "
Ujar Kirana sembari memandangi pesan dari Kak Sean saat di kampus.
Entah kenapa rasanya jadi seperti di teror 2 kating sekaligus.
Tapi, terkadang Kak Sean menghampiri Kirana untuk memberi biskuit , coklat, atau.. Ice cream.
" Ah.. kakak beli lebih tadi, gak ada kembalian bapaknya. untuk kamu aja."
"tadi ada diskon, beli 2 gratis satu dari ibu kantin."
"Kakak pengen ngasih aja~"
Ya begitulah kata-kata Kak Sean kalau ia memberi sesuatu.
Tapi, rasanya terkadang deja vu. Seperti pernah Kirana alami sebelumnya.
Tapi, Kirana berpikir
"ya tentu deja vu, karena Kak Sean ngasih berulang kali. Duh, gimana caranya balas budi ya?"
Pikir Kirana
.
.
Semua hal itu terjadi sampai tak terasa sudah datang hari menjadi panitia.
Ya,hari yang menegangkan bagi Kirana.
Tapi, Kirana hanya mau fokus terhadap tanggung jawabnya sebagai panitia membantu mengurus acara.
Rapat diadakan seminggu 2 kali membahas bagaimana rancangan acara selama kurang lebih 3 minggu pertama.
Terkadang diluar itu, ada kegiatan mengurus proposal, mencari sponsor, dan lain sebagainya untuk penunjang festival besar awal tahun nanti.
Selama kegiatan itu, memang mengharuskan ia bertemu banyak sekali kating.
Tentu, juga dengan Kak Theo.
Benar kata Kak Sean, dia tidak seperti yang dibicarakan orang-orang.
Kirana benar-benar terbantu sekali olehnya.
Kating killer itu, terkadang berkeliling meninjau tugas panitia lainnya.
Kirana juga terbantu olehnya.
Yaa, walau dengan gaya khasnya yang tegas dan nada dingin. Tapi Kirana paham.
Ia jadi tidak enak dan berpikir selama beberapa hari itu ia seperti menambah beban pekerjaan Kak Theo, walau Kak Theo tak menunjukkan ekspresi demikian.
Tetapi,disamping itu, Kirana juga berusaha keras agar tidak perlu merepotkan orang lain.
Terkadang, Kak Sean menanyakan bagaimana pekerjaannya, apakah sulit atau tidak, ia juga memberi saran dan informasi tentang festival itu bagaimana diadakannya lebih jauh lagi.
Padahal, Kak Sean jauh lebih berat tugasnya dibanding Kirana. Apalagi, ia harus mengurus forum komunitas juga, dan di sela-sela itu semua ada tugas dan skripsi.
.
.
"Udah kak, gak usah khawatir soal aku. Kak Sean kan lebih berat tugasnya. Harusnya khawatir soal kesehatan Kakak aja."
Balas Kirana lewat chat saat rapat berlangsung.
Padahal, Kak Sean ada di depan ruangan duduk disana. Di ruang yang sama, walau jaraknya berjauhan.
Ia memang terlihat membalas pesan Kirana, tapi juga sembari memberi saran atau pendapat selama rapat. Benar-benar orang yang multitasking.
Kak Sean lalu mengirim sticker tertawa.
"Hah, udah bisa diandalkan ya sekarang~"
-"wah,jangan remehkan aku kak. Kak Shesil dan Kak Joan (Kating di divisi Kirana) juga memuji kinerjaku."
Balas Kirana.
Tampak Kak Sean setelah membaca pesan Kirana seperti agak menahan tawa.
"Iyaa.. Kakak percaya."
Tutup ia.
_________________
Sampai, akhirnya masa-masa sangat sibuk pun tiba. Sebulan lebih beberapa hari sebelum tahun baru.
Masa di mana mereka pulang benar-benar sore, bahkan malam.
Sesuai rencana, mereka diberi kelonggaran untuk persiapan test akhir semester nantinya.
.
.
Saat itu pukul 7 malam dan Kirana habis keluar sebentar untuk mencetak beberapa file penting dan membeli banyak kertas marmer beraneka warna bersama teman barunya dari jurusan Ekonomi dan bisnis, Erika. Uniknya, teman barunya ini pendiam sekali. Tetapi, terkadang saat kating melemparkan candaan, ia terlihat ikut tertawa.
__ADS_1
.
.
"Wah, kita ini serasa balik ke TK gak sih? Bikin-bikin kerajinan untuk hiasan~"
Ujar Kirana.
-"Iya~ tapi asik sih. Katingnya juga ramah."
Jelas Erika sembari tersenyum.
"Hooh, lelah tapi asyik!"
.
.
.
Tiba-tiba
"Dek Kirana!! Bentar dongg!"
Teriak seseorang dari belakang mereka.
Sontak, Kirana dan Erika langsung menoleh.
Ternyata yang memanggil adalah Kak Shesil yang langsung menghampiri mereka.
-"Eh, tolong dong kasiin ini ke si Theo! Kakak sibuk mau nunggu delivery makan malem kita semua~ duh mana banyak banget~"
Ujar ia.
"Kak Theo.. Kak?"
Ujar Kirana kaget.
-"Iya.. Terus tolong jelasin kalo.. Bla bla bla bla.."
Kak Shesil lantas menjelaskan banyak hal dengan cepat sembari menunjuk beberapa poin di berkas itu dan menambahkan hal-hal lain.
Sontak, Kirana agak kewalahan karena banyak yang harus diingat, akhirnya ia inisiatif mencatat di app note ponselnya.
Bahkan Erika sampai geleng-geleng melihat Kak Shesil begitu.
.
.
"Nah.. Okehh... Itu aja yah. Tolong sampein ke dia. Mantab! Makasih ya dek~ kakak nunggu delivery dulu~"
Ujar Kak Shesil sembari mengacungkan jempol.
Ia menjelaskannya sampai ngos-ngosan begitu tapi dia bilang 'itu aja'.
-"Iya Kak, nanti aku sampein."
"sippp!"
Lantas, Kak Shesil berlari pergi dari sana menuju ke Kak Dino yang menunggunya dengan motor.
Ya mereka dan mamang delivery nya janjian di depan kampus. Tapi dari pada capek, pakai motor akhirnya untuk mengangkut semua makanan nanti.
Untung saja gedung tempat mereka rapat tak jauh dari gerbang luar.
"Wah.. Kamu yakin bisa Kirana?"
Ujar Erika dengan suara lembutnya.
-"Hahahahah.. Yakin, Teparnya!~"
Ujar Kirana dengan wajah sedih.
-"Huwaa.. Banyak banget, mana tugas kita aja belum kelar!!"
Tambah Kirana
"Pfft.. Yaudah urusan kita biar aku yang urus, aku bisa kok. Kamu kesana aja langsung."
-"Beneran nih?"
"Iyaa.."
Ujar Erika dengan nada lembutnya.
-"Wah, makasih yaaa. Tapi.. Kok rasanya kayak senam jantung ya mau kesana."
Ujar Kirana tiba-tiba merasakan aura mencekam.
"Semangat Kirana.. Kamu pasti bisa!"
-"Hiks, Iyaaa.. Makasih lagi~
ngomong-ngomong, Kak Shesil ternyata aslinya ramah dan kocak ya, beda pas jadi panitia OSPEK."
Ujar Kirana
"hehehe iya. Beda banget pokoknya."
Jawab Erika yang tertawa, tapi hemat.
____
Lalu, akhirnya Kirana menyerahkan barang-baranga yang ia bawa kepada Erika.
Kemudian, mereka berpisah karena ruangan yang mereka tuju berbeda.
__ADS_1
Disaat inilah ia agak senam jantung, karena ia tahu, pasti isinya kating semua di ruangan itu.
Tampak beberapa orang keluar masuk ruangan tersebut.
Sementara, Kirana melangkah dengan hati-hati.
"Ada Kak Sean gak ya?"
Gumam kirana mencari pertolongan.
Ia pelan-pelan melongo lewat kaca jendela memperhatikan situasi di dalam.
.
.
("... Yah gak ada Kak Sean! Tapi untung di dalam gak banyak orang."
Ujar Kirana dalam hati)
.
.
.
-"Ada apa Dek?"
Ujar seseorang di belakang Kirana.
Sontak, Kirana agak terperanjat karena terkejut.
Ia langsung menoleh ke belakang.
"Eh, kak.. Mau.. Ngasiin berkas ini ke.. Kak Theo, titipan Kak Shesil."
-"Oh ya langsung aja dek masuk. Kakak panggilin ya.."
"Eh gak usah kak!"
Tapi, sudah telat, kakak yang tak dikenal Kirana itu masuk ke ruangan dan langsung berkata
"Theo, ada yang nyariin lu nih, ada titipan dari Shesil!"
.
.
Kak Theo yang tengah serius mengetik sesuatu di depan laptopnya, langsung menoleh ke arah temannya itu.
"Yaudah suruh masuk aja."
Jawab Theo datar.
Kemudian, ia kembali mengalihkan pandangannya ke laptop.
Lalu, kakak tadi melongo ke luar ruangan untuk berbicara kepada Kirana yang masih ragu masuk.
"Tuh dek, suruh masuk. Gak usah sungkan, gak dimakan sama kami kok~"
Canda ia.
-" i iya kak."
Jawab Kirana agak ragu. Lantas, ia masuk ke dalam ruangan, sedangkan kakak tadi keluar.
Setelah Kirana masuk ke ruangan itu, ia memang melihat Kak Theo sedang sibuk.
Wajahnya yang sedang serius mengerjakan sesuatu, membuatnya makin terlihat seram. Seolah ekspresi itu berkata
"Jangan ganggu , kalo ganggu gua Kirim lu ke neraka! "
Begitu visualisasi Kirana terhadapnya.
Kirana merasa aneh, walau ia tahu Kak Theo gak se-buruk yang dibicarakan teman-temannya, tapi ia tetap ragu dan takut bertemu dengannya langsung .
Namun, akhirnya ia tetap mencoba memberanikan diri mendatangi Kak Theo.
.
.
.
"Anu, Permisi Kak.. Ini ada titipan dari Kak Shesil."
Ujar Kirana sopan.
Ia bahkan sudah berhasil menguasai rasa takutnya.
Namun, Kak Theo hanya diam masih sibuk mengetik, tak menjawab apapun.
"maaf Kak ini, ada beberapa hal yang aku mau sampein dari Kak Shesil ."
Ujar Kirana lagi.
Tapi masih tak ada respon juga.
.
.
.
"Kak.. Kak Theo! Ada pesan dari Kak Shesil!"
Tegas Kirana agak kesal.
__ADS_1
Sontak, Theo langsung menoleh ke arahnya dengan ekspresi agak kaget bercampur heran dengan nada bicara Kirana tadi.
Sementara Kirana yang baru menyadari hal yang ia lakukan tadi, langsung tak kalah terkejut.