
Malam sekitar pukul 9.
Kirana saat itu terpaksa keluar karena tiba-tiba merasa lapar ditengah belajar persiapan tes besok. Lantas, Ia pergi menuju ke kios nasi goreng langganannya yang disarankan oleh Shella saat mereka baru nge kost disana.
Saat itu Kirana mengenakan hoodie abu-abunya yang oversize. Kedua tangannya ia masukkan ke saku di hoodienya agar hangat di malam yang terasa dingin itu.
"Haih nyesel hari ini gak masak, lagi mager keluar padahal. "
Gerutu Kirana.
Untuk sampai ke kios tersebut, hanya butuh 5 menit. Jaraknya juga dekat dengan kampus. Ia bisa melihat gelapnya suasana gedung kampus ketika malam hari. Walau dari kejauhan hanya terlihat bagian lantai atas gedung perkuliahan.
Tapi ia bisa mengira-ngira seperti apa visual kampusnya pada malam hari.
Sampai terlintas pertanyaan setiap ia melihatnya
" apa penjaga nya gak pernah liat penampakan? Kayakmana caranya mereka jaga kampus seluasss itu? Wah hebat banget ya bapak penjaganya~"
Namun tiba-tiba, terdengar suara di tengah pertanyaan-pertanyaan random Kirana
'kretekkk. '
Suara ranting kayu diinjak. Suara tersebut jelas sekali terdengar di belakang Kirana.
Tetapi, Kirana tak terlalu menghiraukan. Ia tetap berjalan santai.
Akan tetapi, suara langkah kaki itu semakin lama, semakin dekat.
Aura mencekam benar-benar terasa di sekujur badan Kirana. Apalagi suasana cukup sepi.
Lantas, ia langsung mengambil ponselnya dan melihat pantulan bayangan siapa yang berjalan di belakangnya.
Sedikit demi sedikit, ia memberanikan diri melihat sosoknya melalui layar.
Betapa terkejutnya Kirana melihat sosok yang mengenakan pakaian serba hitam di bekakangnya. Jalannya juga cepat.
Spontan,Kirana mempercepat langkahnya juga.
"Aihhh, kenapa ini harus terjadi padaku?!
Aku gak mau liat sosok apapun! Ya Tuhan, bantulah hambamu ini, hamba baru aja jadi mahasiswi. "
Ujar Kirana dalam hati sembari tetap berjalan cepat.
Sosok itu tetap berjalan dibekakang Kirana. Suara derap kakinya membuat tiap detiknya terasa mengerikan.
Saking paniknya, Kirana bahkan tidak sadar dengan jalan di depannya hingga tiba-tiba ia tersungkur oleh lubang kecil di jalan.
Suara 'Gedubrak' yang cukup keras sampai terdengar saking sepinya.
"Aww! Sakit bangett! Aduhh!"
Keluh Kirana sembari menahan sakit.
Namun, keluhannya itu tak berlangsung lama, ia ingat kembali dengan sosok yang mengikutinya.
Saat ia jatuh tadi suara derap kaki sosok itu sempat berhenti. Namun, tak lama suara itu mulai mendekat dengan cepat.
Spontan, Kirana langsung berdiri dan berlari dari sana.
"Hei, kamu!"
Teriakan dengan suara serak dan berat tiba-tiba terdengar memanggil Kirana.
"Apa? Mungkinkah penculik? Atau rampok?!"
Ujar Kirana dalam hati. Suara asing itu tentu menakutkan baginya.
Kirana terus berlari hingga ia bisa melihat mamang nasgor yang ada di depan gang.
"Syukurlah, udah mau sampai! Aku bisa lapor ke dia! Cepat pergilah wahai rampok! "
Suara hati Kirana dengan ekspresi wajah terharu muncul.
Namun, tiba-tiba Kirana merasakan tangannya ditarik dengan cukup kuat dari belakang.
Hal itu membuatnya spontan berteriak lalu melayangkan pukulan ke wajah orang itu.
__ADS_1
Sontak, orang tersebut langsung melepas tangan Kirana dan terkejut.
"Arghh! kamu kenapa sih? Ini aku, tenanglah!"
Ujar sosok mengerikan itu yang wajahnya tak nampak karena mengenakan masker.
-"Hah siapa?!"
Teriak Kirana panik.
"Sean! Masa gak tau?"
Lantas, ia melepas maskernya dan topinya, sehingga Kirana bisa melihat wajahnya.
-"OMG, Kak Sean?!.. Gak mungkin...Kak.. "
Ucap Kirana terkejut dan lemas karena sudah memukul katingnya itu.
Wah, rasanya nyawanya baru saja lepas dari raganya.
Pikiran Kirana selanjutnya adalah ia akan ditendang keluar dari komunitas pecinta botani itu habis ini.
Apalagi ia langsung berurusan dengan ketuanya.
"Kamu kenapa ? Kok lari?"
Tanya ia sembari memegang wajahnya dengan tangan kanan.
-"Hah, aku gak tau itu kakak, terus, suaranya beda?"
"Iya, kakak lagi flu berat. Memang kamu ngiranya aku siapa tadi? Mukulnya sakit loh ini."
Ujar ia mencoba lebih tenang. Ia lantas melepaskan tangannya dari wajahnya.
"aku kira awalnya makhluk astral, terus pas kakak manggil, karena suaranya beda, kupikir perampok atau penculik! Kenapa kakak gak panggil namaku tadi?"
Ujar Kirana dengan nada masih panik.
-"Owalah kamu inii~ hadeh, kakak aja baru tau itu kamu setelah kamu jatuh, hapemu ikut jatuh nih, untuk ketemunya sama kakak. Tadinya mau teriak manggil lagi, tapi kan kamu tau sendiri."
Lantas, Sean langsung mengembalikan handphone milik Kirana yang jatuh.
" Ah.. Maaf kak, sumpah aku minta maaf! Memar gak kak? Coba lihat sebentar! "
Ujar Kirana sembari mengulurkan tangan untuk melihat wajah Sean.
Tetapi, Sean menahan tangan Kirana segera.
-" Gak, udah gak apa-apa. Gak sakit banget kok aslinya, cuma bercanda tadi. Lagian, kayaknya tanganmu yang harusnya diobati."
Ujar ia sembari membalik tangan Kirana dan memperlihatkan telapak tangan Kirana yang lecet parah.
Saat jatuh tadi, Kirana menahan tubuhnya dengan kedua tangannya, namun malah tergores akhirnya.
" Oh , gak apa-apa sih ini. Serius kak gak apa-apa muka kakak?"
-" Iyaa adekk! Lagian over thinking kamunya, lihat sekarang kamu luka-luka."
Ujar Kak Sean lebih tegas.
Rasanya sekarang Kirana sedang dimarahi olehnya.
"Maaf kak."
-"Sebentar, kayaknya harus cari tempat dulu deh."
Ujar ia sambil berpikir.
Akhirnya, Kirana menunggu Kak Sean di warung kaki lima nasgor langganannya.
Kak Sean lantas kembali dari apotek dengan membawa plester dan obat merah, juga kapas.
-" Tadi kakak cari Alkohol buat bersihin gak ada. Pakai air bisa gak ya?"
" Bisa . Makasih kak, sampe repot. sebagai gantinya aku traktir nasi goreng sepuasnya."
-"Udah gak usah. Santai aja. "
__ADS_1
"Gak mas, udah dipesenin tadi sama mbanya."
Sahut mamang nasgor sembari menyajikan nasi goreng 2 porsi untuk mereka.
-"Ah.. Duh seharusnya kamu gak usah kayak gini."
Ujar Kak Sean merasa tak enak karena ditraktir adik tingkatnya, apalagi perempuan.
"Ini permintaan maafku. Besok kalo mau lagi aku.."
"Udah udah, obatin dulu itu luka kamu, pasti lututmu juga parah lecetnya."
Perintah Kak Sean.
-" i iya kak! "
Akhirnya Kirana nurut dan segera mengobati luka-lukanya.
Untung saja ia memakai celana panjang jadi kakinya tidak lecet, namun memar. Tapi Kirana bilang baik-baik saja. Hanya tangannya yang luka.
___________
Setelah selesai makan, Kirana dan Kak Sean langsung pergi dari sana.
Lalu, mereka berjalan pulang bersama karena arahnya sama.
.
.
.
"Pfftt.. Dipikir-pikir lucu juga ya kejadian tadi? Gak nyangka kamu mikir segitunya."
Ujar Kak Sean menahan tawa.
-"Loh kakak gak marah sama aku? Padahal tadi aku keterlaluan banget!"
"Maklumlah sama posisimu tadi. Kamu kan perempuan, jalan sendirian. Ya salahku juga malam-malam pakai baju serba hitam, siapa yang gak paranoid liatnya kan?"
Ujar Kak Sean sembari tersenyum.
Kirana hanya terdiam masih merasa bersalah. Diposisi itu malah Kak Sean yang minta maaf.
" Kakak tadi habis dari mana memangnya? "
Tambah Kirana untuk memecah keheningan.
-" Apotek. Beli obat flu. Terus mau ke kampus bentar ambil barang ketinggalan. "
" Barang? Terus gimana kak sekarang? Apa kampus masih buka malam begini?"
-"Gak apa-apa, besok lagi aja ambilnya. Udah lewat satu jam juga."
"Kampus ternyata buka sampai Jam 9?"
-"Gak,karena tadi ada rapat aja. Oh ya, yang tadi gak usah dipikirkan berlarut-larut OK?"
" Ah, jadi makin merasa bersalah aku. Apalagi kakak ketua di organisasi yang aku masukkin!"
Kirana tak berani menatap wajah Kak Sean ketika mengatakannya.
-"Takut dikeluarin? Hahaha.. Ada-ada aja kamu ini. Gak lah. Segitunya."
"Heheh ini rahasia antara kita aja ya kak? Aku malu juga sih inget yang tadi."
-"Iya~. Ehm, tiba-tiba kakak teringat sesuatu. Menurut kamu, antara chrysan dan mawar, bagus yang mana?"
"Ehm..Chrysan? Lebih segar keliatannya. Kenpa kak?"
"Gak apa-apa. Oh ya, jalannya udah beda sampai persimpangan ini. Kita berpisah disini atau mau kakak antar?"
-"Gak usah terimakasih kak, sudah dekat soalnya."
"Yasudah, hati-hatilah."
-"Iya, terimakasih dan maaf soal tadi ya kak!"
__ADS_1
Kak Sean tersenyum sebagai respon kepada Kirana. Lantas, mereka berpisah di sana dan pulang ke kost-an masing-masing.