
Setelah usai, mereka segera membayar semuanya.
Tetapi, disaat Kirana mau membayar, Kak Sean langsung menjauhkan tangan Kirana dan langsung membayarkan semuanya.
.
.
"Terimakasih mas."
Ujar pedagang itu sembari menerima pembayarannya dari Kak Sean.
-"Kak ini gak apa-apa?"
Ujar Kirana tak enak.
"Kamu aja pas itu traktir kakak. Udah yok balik."
Lantas, Kak Sean beranjak dari sana menuju ke tempat parkir motornya.
Tak lama, Kirana mengikuti.
-"Padahal pas itu aku traktir kakak karena minta maaf. Tapi.. Yaudah Terimakasih banyak ya kak~"
Ujar Kirana sembari tersenyum.
tiba-tiba ingatan masa lalu Sean kembali Muncul setelah melihat Kirana. Rasanya deja vu.
Dimana saat itu masa kecilnya, seorang anak perempuan berkuncir 2 mengatakan hal yang sama kepada dirinya, anak dengan senyum yang manis .
("memang beneran kamu orangnya~")
Ujar Sean dalam hati.
.
.
"Ini mau langsung Kakak antar pulang atau mampir ke suatu tempat mumpung di luar?"
Ujar Kak Sean sembari mengenakan helm.
-"Langsung pulang aja kali kak."
"Oke. Ayok naik."
Ujar Kak Sean sembari mengulurkan tangan kepada Kirana.
Kirana lantas mengangguk dan naik motornya dengan dibantu lagi.
Setelah itu, mereka melaju pergi dari sana.
.
.
__ADS_1
Selama perjalanan, Kirana kembali teringat ketika dirinya didaftarkan Hellen tiba-tiba jadi panitia. Apalagi langsung dihadapkan oleh kating Killer.
Hal ini membuat Kirana jadi bertanya-tanya.
"Ehm, kak Sean. Tau.. Kak Theo gak? "
Tanya Kirana dengan ragu.
-"Iya, kenal kenapa?"
"Begini, dia seperti apa orangnya?"
-"... Kenapa kamu tanya?"
"Gak kenapa-kenapa. Cuma penasaran kalau diluar kepanitiaan OSPEK kayak mana gitu kak."
-"Ahh gituu~ Gimana ya jelasinnya? Baik kok dia dan termasuk mahasiswa unggulan sampai sekarang. Kamu.. dengar rumor tentang dia itu kating yang suka menindas ya?"
"Ehm.. Gak sih, cuma sekedar denger dia itu serem, super tegas, dan galak aja. "
Jawab Kirana blak-blakan.
-"Mereka salah, kalau mau melihat seseorang jangan dari satu sisi, tapi lihat dari berbagai sisi juga. Baru bisa menyimpulkan. Terkadang, orang mudah menyimpulkan tanpa tahu kebenarannya sihh."
Ujar Kak Sean dengan nada datar.
"Iya, Aku mengerti kak."
Ujar Kirana singkat.
Namun, jarang Kirana bisa mendengar tanggapan baik tentang Kak Theo . Hal ini membuat Kirana agak penasaran.
Yang jelas, tentulah Kak Sean lebih tau ketimbang para maba atau kating yang tak dekat dengannya.
____________
Sesampainya di depan kostan Kirana.
Kirana lantas turun dari motor Kak Sean.
Lalu, ia berdiri di dekatnya.
"Terimakasih banyak kak hari ini~"
Ujar Kirana sembari tersenyum.
-"Iya, bukan apa-apa. Oh iya, sebelumnya... kalau boleh tahu dulu saat kamu di kelas 3 SD tinggal dimana?"
"Eh, 3 SD? hem.. Di Bandung, tepatnya di daerah bojongloa. Kenapa kak?"
-"Ah begitu. Setelahnya kamu pindah rumah?"
"I iya. Kok kakak tau sih? Kenal aku kah kakak?"
Tiba-tiba, Kak Sean tersenyum.
__ADS_1
-"Yasudah kakak pulang ya."
" Kak Sean belum jawab pertanyaanku."
Tegas Kirana.
-"Menurutmu sendiri gimana?"
Lalu, Kak Sean menutup kaca helmnya dan memutar balik arah motornya.
"Yah.. Yaudah kak hati-hati."
Ujar Kirana agak kecewa.
Lantas, kak Sean melaju pergi dari sana.
Lagi-lagi, Kak Sean membuat Kirana bertanya-tanya.
"Ah, sebel banget! Apa sih yang gak aku ketahui sebenarnya? ."
Gumam Ia agak kesal , Kak Sean selalu membuatnya bertanya-tanya seperti itu.
"Apa dia kenal aku? Pernah ke rumahku kah? Tapi.. Aku gak ngerasa pernah.."
Gumam Kirana lagi sembari membuka gerbang kost-annya
.
.
Sementara, saat Kak Sean sampai kost-annya, ia langsung masuk ke kamar dan menaruh tasnya diatas meja.
Diatas meja itu juga ada sebuah buku tulis usang. Karena itu buku dari masa kecilnya.
Ketika buku itu dibuka, untuk 6 halaman pertama isinya adalah tugas-tugas Zaman SD.
Akan tetapi, ketika hslaman selanjutnya dibuka, nampaklah foto dirinya ketika masih kelas 5 SD dengan seorang teman masa kecilnya yang kala itu kelas 2 SD. anak perempuan manis dengan kuncir dua di kepala.
Saat halaman lain dibuka, nampaklah sepucuk kertas kecil yang ditempel di buku itu.
"Kalau sudah gede aku mau jadi Peri dan Kak Nata pengen jadi ksatria. Kita mau menyelamatkan dunia!"
Usai membaca itu, Sean langsung tersenyum. Kata-kata polos itu selalu berhasil membuatnya senang.
Kemudian, ia langsung menutup buku itu. Untuk beberapa saat, ia kembali teringat kenangan-kenangan lain.
Sean lantas sedikit mengusap buku itu, kemudian beranjak keluar dari kamar kost-annya.
.
.
Sebenarnya, Anak Laki-laki dengan panggilan Nata itu, adalah dirinya. Arsean Dinata dengan teman masa kecilnya, Kirana Dian larasati, yang telah lupa dengan dirinya dan mungkin juga kenangan mereka bersama.
__ADS_1