
Tatapan mata Theo langsung tertuju kepada Shesil yang ikut bertepuk tangan, kemudian mengangkat kertas besar bertuliskan
"Semangattt tampilnya Pak Ketua!!"
Ekspresi wajah Theo langsung berubah heran, ternyata Shesil yang merencanakan ini.
Tak lama, Shesil mengangkat kertas lain
"Jangan setengah-setengah, ada 'orang istimewa' yang nontonn!! "
Setelah membaca itu, Theo agak mengangkat kedua tangannya tanda ia tak paham.
Shesil lantas mengambil kertas lain dan menulis kata-kata lain dengan sangat cepat, sehingga tulisannya tampak berantakkan, untungnya tetap terbaca.
"Adek kesayangan kita semua!! Jangan kecewakan dia, okey?!"
Tutup Shesil.
Tak lama, seseorang dari backstage memberikan kursi dan gitar untuk Theo.
Kemudian, ia pergi dari sana.
Theo langsung menghembuskan nafas Panjang karena ia tak menyangka isengnya Shesil direncanakan sematang ini.
Beberapa dosen di kursi depan mengacungkan jempol kepada Theo untuk menyemangatinya. Yaa karena Theo temasuk, anak pintar dan berprestasi yang tentu sangat di kenal.
.
.
Lalu, Mata Theo tertuju ke sebelah kanan pinggir barisan bangku penonton. Disana, berdiri Kirana yang sedang memperhatikannya.
Theo hanya sekilas menoleh ke arahnya. Kemudian, ia memalingkan wajahnya dan langsung tersenyum lelah setelah tahu siapa yang Shesil maksud.
Setelah menarik nafas, Theo lantas menaruh Mic di stand mic, kemudian menyesuaikan tingginya. Lalu, ia duduk di kursi dan memegang gitar yang tadi diberikan.
.
.
" Sebenarnya... saya juga tidak percaya diri untuk bernyanyi, karena 'kesalahan teknis' tadi (Theo menekan kata-katanya) mau tak mau saya harus tampil disini. Tapi baiklahhh Karena itu yang sudah terjadi, saya harap kalian menikmati lagu ini, lagu yang bercerita tentang..."
Mata Theo lantas langsung mengarah ke lantai panggung, tatapannya seperti sendu.
Beberapa detik kemudian , ia mengalihkan pandangannya ke penonton
__ADS_1
"... Perasaan yang saling tak terungkapkan. "
Ujar Theo singkat.
Ia kemudian memetik gitarnya dan mulai melantunkan intro-nya dengan alunan yang lembut.
Orang-orang yang tak tahu Theo bisa bermain gitar, langsung terkesima.
.
.
"I'd like to say we gave it a try
I'd like to blame it all on life
Maybe we just weren't right..."
Suara Theo yang masculine membuat lagu ini jadi lebih terasa klasik dan hangat.
Semua orang tak melepaskan pandangan dari dirinya sama sekali, beberapa terkejut karena bakat Theo yang tak diketahui Banyak orang.
.
.
.
So close to being in love
If I would have known that you wanted me
The way I wanted you..
Then maybe we wouldn't be two worlds apart
But right here in each other's arms~
And we almost, we almost knew what love was
But almost is never enough.. "
Ekspresi wajah dan suara Theo benar-benar menghayati lagu ini. Ia sendiri juga agak 'terbawa' alunannya dan menyanyikannya sepenuh hati.
Seketika, beberapa penonton juga terbawa suasana dan sampai flashback ke kenangan mereka masing-masing.
__ADS_1
Sementara Kirana tetap menonton kating itu. Ia sendiri seperti merasa.. Nyaman. Walau begitu, Kirana tak paham dengan perasaannya sendiri.
Lantas, Selama tiap detik penampilan Theo benar-benar memukau setiap penonton. Seolah Imej Theo yang mereka melekat di kepala luntur seketika.
Teman-teman Theo sendiri seperti Agus, Dino, dan Beni merasa terkesan. Apalagi Agus merasa bangga bahwa keputusannya dan Shesil menunjuknya itu tepat. Lalu, disana juga ada Sean, yang baru bergabung di pertengahan lagu. Ia lantas menunjukkan smirk tipis setelah menyadari siapa yang bernyanyi itu.
Tak lama, ia menyadari keberadaan Kirana yang masih berdiri di samping barisan tempat duduk. Seketika, Sean agak menunduk.
Lagu yang dibawakan Theo entah mengapa seperti relate ke diri Sean saat ini terhadap Kirana. Namun sayang, sepertinya ini hanya perasaan sepihak. Walau begitu, Sean masih berusaha memastikan perasaannya sendiri.
Entah sampai kapan.
.
.
.
"The way i wanted you.. Then maybe we wouldn’t be two worlds apart
But right here in each other’s arms
Yeah we almost, we almost knew what love was
But almost is never enough~"
.
.
Penampilan Theo lantas usai dan langsung disambut riuh tepuk tangan penonton. Bahkan ada yang standing applause karena kagum.
" wohooo Bravooo!! "
Ujar Agus disusul Beni.
Respon senang dari penonton bertebaran,
Tak terkecuali Kirana.
Mata Theo lantas tertuju ke arah Kirana.
Saat itu juga, Kirana tersenyum ke arahnya dan mengacungkan kedua ibu jarinya, tanda ia kagum dengan penampilan kating satu ini.
Untuk sepersekian detik, mata Theo langsung membesar dan entah kenapa ia merasa hatinya berdebar tanpa alasan.
__ADS_1
Hal yang sangat asing baginya ini telah membuatnya menjadi gugup.